ARINDA

ARINDA
Salah paham


__ADS_3

Ricko memilih memeluk erat Arinda. Ia tak mau merusak gadisnya sebelum pernikahan itu datang. Ujian cinta kedua insan yang belum menikah salah satunya adalah menahan nafsu berahi. Oleh karena itu, akal sehat harus bermain. Agar tidak ada penyesalan di kemudian hari.


Tubuh molek dipelukan pun belum menjadi hak milik. Ricko menyadari hal tersebut. Jadi, ia harus bersabar.


“Jangan pernah menyerahkan tubuhmu kepada siapa pun termasuk aku. Kamu wanita berharga dan terhormat, Arinda.”


Arinda mengernyit bingung. Kemudian, melepas pelukan Ricko. “Kamu bicara apa?”


Hah! Pertanyaan macam apa itu? Dia amnesiakah? batin Ricko.


“Bukankah tadi kamu meminta aku untuk tidur denganmu?”


“Iya. Lalu?”


“Aku tidak mau making love sebelum kita resmi menikah. Nanti takutnya kamu hamil duluan.”


“Siapa yang mau buat anak sama kamu?”


“Kamulah.”


“Ih, Ricko. Siapa juga yang mau begituan? Kamu terlalu percaya diri.”


“Loh, tadi kan kamu bilang begitu?” Oh, tidak. Jangan bilang kalau aku salah paham.


“Tidur bersama dalam artian yang sebenarnya, Rick. Bukan menjurus ke sana. Kamu tu mesum, ih! Maksudku, kamu di atas karpet tu di bawah sana.” Arinda menunjuk dengan ekor matanya. “dan aku di atas kasur. Aku hanya ingin malam ini ada yang menemani. Tapi, tentu aja tidur di tempat terpisah."


Pernyataan Arinda membuat wajah Ricko memerah. Untuk kesekian kalinya, ia terkena jebakan ucapan ambigu gadis itu. Rasa malu sekaligus kesal mulai menyergap.


Sial! Aku lupa jika gadis ini pintar bicara. Padahal, aku sudah sering terjebak ucapannya, tetapi kenapa masih saja kena lagi dan lagi. Ricko membatin.


Sebenarnya, Ricko merasa prasangkanya benar. Namun, sayang kebenaran untuknya berbeda dengan maksud pemikiran Arinda.


Lihat saja sendiri! Gadis cantik itu memang pandai bermain kata.


Lain kali, Ricko berjanji akan bertanya dengan jelas dan detail. Supaya mengetahui arti ucapan sang asisten tercinta. Karena jika tidak, ya, seperti sekarang ini, menjadi salah paham. Sudah mendapat malu, eh, ditambah terlihat bodoh.


“Nah, jangan bilang kalau kamu ....”


“Aku pulang, ya. Lupa belum mengecek pekerjaan untuk besok.” Ricko memotong ucapan Arinda yang ia yakin akan semakin membuatnya malu. Pria itu menggeser tubuh molek tersebut. Ia mulai beranjak bangun.


Namun, gadis itu tahu prianya hanya ingin melarikan diri dari rasa malu. Jadi, Arinda mau bermain-main sedikit untuk menggoda.


“Hei, mau ke mana?” Arinda mendorong tubuh Ricko hingga terduduk bersandar pada kasur. Gadis itu menaruh tangannya di samping tubuh sang pujaan. Supaya pria itu tidak kabur.


“Pulang. Sudah, ya. Kamu istirahat. Katanya capek, 'kan?” Ricko membelai lembut puncak kepala Arinda.

__ADS_1


Arinda memajukan wajahnya ke hadapan Ricko. Terdengar helaan napas dari pria itu.


“Wajah kamu memerah, Rick. Kamu demam?” tanya Arinda seraya memegang kening Ricko. Gadis itu sengaja menggoda.


Ricko menepis pelan tangan tersebut. “Arinda, jangan menyentuhku.” Sial! Apa, iya, sampai terlihat? Bikin tambah keki aja.


Gadis itu tersenyum tipis. Kemudian mencubit gemas pipi Ricko. “Uluh-uluh.”


Kembali Ricko menepis tangan Arinda. Tapi, kali ini sekaligus menahannya agar diam. “Enggak lucu.”


Arinda tertawa. Kemudian, bertanya, “Kenapa bisa berpikir aku meminta hubungan layaknya suami-istri?”


Ricko menatap Arinda. “Siapa yang berpikir begitu?”


“Kamu.”


“Tidak.”


“Bohong.”


“Tidak.”


“Benar. Kamu tadi pasti memikirkan kita berdua sedang iya-iya?”


“Sok tahu!” seru Ricko. Memang seharusnya aku menjawab 'iya’ agar obrolan memalukan ini cepat berakhir. Tapi, itu tidak mungkin. Karena, berarti aku mengakui. Huh! Tidak mau.


“Apa?”


“Kamu tampan.”


“Apa, sih, Rin?”


“Kamu wangi.”


“Cukup, Rin.” Hanya gombalan receh saja, tetapi kenapa rasanya sebahagia ini. Memang kamu tu gadisku yang luar biasa.


“Kamu pria idaman semua wanita.”


“Termasuk idaman kamu, ‘kan?”


“Tidak.”


“Arinda ....”


Arinda mendekatkan wajahnya dan mencium pipi Ricko. “Mau menginap atau pulang?”

__ADS_1


“Pulang.”


Arinda menggoda kembali. Ia senang melihat Ricko blushing. “Aku kecewa. Jadi, kita gagal making ....”


Ricko menutup mulut Arinda. Kesabarannya mulai habis. “Jangan menyebutnya.”


Arinda melepaskan tangan Ricko dari mulutnya. “Oke. Dan, aku besok jadi libur.”


“Loh, kok?”


“Eh, kamu tadi sudah mengizinkan dengan mengangguk. Tidak boleh ingkar.”


“Iya-iya. Ya, sudah aku pulang. Sudah tidak marah, 'kan?”


“Tidak.”


“I love you.” Kemudian, Ricko mencium bibir merah muda itu dan menyesapnya sebentar. “Mulai sekarang persiapkan dirimu untuk menjadi Nyonya Ricko.” Ia mengusap puncak kepala Arinda.


Arinda hanya tersenyum tanpa menyahut.


Ricko memakai sepatunya dan berjalan bersisian dengan Arinda sampai ke depan pintu.


“Masuklah. Kunci pintunya. Besok pagi aku telepon kamu.”


“Iya.”


Pintu tertutup. Arinda memutuskan untuk mandi.



Arinda duduk di bawah di samping kasur dengan bersandar. Gadis itu menekuk kedua kaki dan menyilangkannya. Menaruh tangan di depan seraya saling berpegangan. Lalu, memandang ke arah bawah.


“Berjodoh denganmu adalah mimpiku. Mengikat janji suci, mengikrarkan ijab kabul. Memakai pakaian pengantin dan bersanding di atas pelaminan. Hidup bersama merajut bahagia. Lalu, memiliki banyak anak. Kemudian, selamanya bersamamu terus.”


Arinda berbicara sendiri. Karena, ia tidak tahu harus mengajak bicara siapa untuk berkeluh-kesah. Pasalnya, ia tidak memiliki seorang pun teman. Ingin mencurahkan isi hati kepada Mbak Dini sudah tidak mungkin. Ia tidak mau membuat stres ibu menyusui itu. Takut ASI-nya menjadi sedikit akibat memikirkan hidupnya yang rumit.


Dengan Dito atau Zacky pun lebih tidak mungkin lagi. Takut Ricko kembali cemburu. Arinda malas meladeni keposesifan tak jelas nanti.


Seketika, Arinda tersenyum getir.


“Tapi, saat ini sudah tak ada yang bisa dipertahankan. Menjadi istrimu hanya sebuah angan. Sudah cukup banyak aku menelan pil pahit dalam mempertahankan cinta dan hubungan kita. Aku tak ingin kembali sakit. Karena, aku tahu penolakan dari keluargamu nanti juga akan menyakiti hati kamu, Rick.”


Rangkaian kalimat pasrah dengan nada lirih terucap lancar. Tak terasa bulir air mata turut mengalir.


Arinda mencoba berandai-andai. Seandainya saja kemiskinan tidak datang bersamaan dengan rusaknya moral sang papa. Mungkin ia masih memiliki rasa percaya diri akan diterima dalam Keluarga Besar Narendra.

__ADS_1


“Seandainya saja nasib ini seindah parasku?"


Akan tetapi, hidup ini bukan andaikan. Kenyataan di depan mata harus Arinda terima. Suka atau tidak.


__ADS_2