ARINDA

ARINDA
Dia


__ADS_3

Kalian warbiasaakk 👏👏👏


Mamacih jempol seksihnya, cuitan, dan vote-nya. Ailophyuufull 😘


Happy reading, Guys 🤗💞



Pertengkaran demi pertengkaran terus saja terjadi. Sudah berlangsung selama dua puluh menit. Namun, tak ada satu pun yang mau mengalah. Mereka tetap pada pendirian masing-masing.


“Ganti pakaianmu! Dan, tidak perlu mengikat tinggi rambutmu. Lepas ikatan itu."


“Tidak mau.” Aku sengaja memakainya. Hanya mau tahu kamu akan kesal atau tidak. Aku pun enggan memakai pakaian seksi ini.


“Ganti sendiri atau aku yang menggantikan!”


“Tidak mau.”


“Oh, benar-benar menguji kesabaran sekali. Rupanya, mau bermain-main denganku,” ucap Ricko pelan, tetapi penuh penekanan. Ia menghampiri Arinda.


Merasa dalam bahaya. Arinda mundur perlahan. “Ricko, ih! Jangan maju terus. Kamu mau apa?!”


“Mengganti pakaianmu.” Ricko mulai menarik paksa baju yang dipakai Arinda.


“Ricko!”


“Ganti! Dan lepas ikatanmu!"


“Oke! Keluar!” Ternyata kamu pria yang menjaga wanitanya dengan baik. I love you, Sayang.


“Kenapa aku harus keluar?”


“Aku mau mengganti pakaian, bodoh!”


“Ya sudah cepat ganti.”


“Kalau kamu masih disini. Bagaimana aku mengganti pakaian, Tuan Muda?”


“Memang kenapa?”


Arinda mencubit lengan Ricko hingga mengaduh. “Kamu gak lihat, apartemenku tidak memiliki sekat apa pun. Jadi, keluar!”


“Aku tidak akan apa-apa ‘kan kamu. Ganti cepat!”


“Ricko Bagaskara!”


“Iya-iya. Aku keluar.” Memang kenapa, sih, melihatnya berganti pakaian? Pelit sekali. Sekali-kali memanjakan mataku kan tak apa. Aku juga tak akan melakukan apa pun. Dasar wanita tak pengertian!


Ricko keluar dari kamar. Menunggu di depan pintu.

__ADS_1


Arinda dengan cepat mengunci pintu. “Enak saja mau melihatku berganti pakaian. Tidak ada pertunjukan gratis. Kalau mau melihatku tak berpakaian, harus bayar. Bayar pakai ijab kabul. Huh! Dia pikir aku bodoh apa. Menyebalkan!”


🌺🌺🌺




Lamborghini Aventador melaju cepat di atas jalan tol. Sepasang mantan tersayang berada di dalamnya. Memakai dress code tertulis yakni black or white. Mereka bersiap menuju pesta ulang tahun.


Maps berhenti tepat di depan sebuah rumah mewah di bilangan Sentul. Arinda dan Ricko saling pandang.


Arinda dan Ricko cukup tahu kedatangan mereka ke pesta seperti mengantarkan nyawa. Namun, dengan berbekal kelicikan si wanita dan ilmu bela diri yang mumpuni dari si pria. Keduanya percaya diri untuk datang.


“Kemarikan ponselmu.”


“Untuk apa?” tanya Arinda seraya memberikan ponselnya ke tangan Ricko.


Ricko mengutak-atik ponsel tersebut dan juga ponselnya. Kemudian, memberikan lagi kepada Arinda. “Jika aku kehilangan jejakmu. Aku mudah mencari. Begitu pun sebaliknya, Nona.”


“Oh.”


“Siap untuk party?”


“Tentu.”


Ricko tersenyum, keluar dari mobil dan berjalan memutar untuk membuka pintu sang pujaan. Menjulurkan tangannya supaya menjadi pegangan Arinda.


“Ingat, jangan jauh-jauh dariku.”


“Iya, Tuan Muda. Nona Muda menurut.”


Ricko tersenyum dan mengerling ke arah Arinda.


“Ayo!”


Sepanjang perjalanan membentang karpet merah dan para penjaga di setiap sisi. Ricko dan Arinda cukup heran dengan keadaan itu. Hanya pesta ulang tahun, tetapi heboh sekali.


Mereka pun penasaran dengan rupa keponakan dari Dennis. Sepertinya, keluarganya sangat menyayangi. Sayangnya, Ricko dan Arinda lupa untuk melihat siapa nama yang berulang tahun di kartu undangan.


Kado pun sudah sampai lebih dulu tadi pagi. Arinda memesannya via online sesuai perintah Ricko. Dan, di kartu ucapan hanya bertuliskan 'Selamat Ulang Tahun' tanpa nama yang berulang tahun. Namun, nama Ricko dan Arinda tertera di sana sebagai pengirim.


Pintu utama terbuka lebar. Suasana ramai para tamu dan musik terdengar riuh.


Namun, seketika beberapa orang yang cukup mereka kenal melintas. Arinda dan Ricko saling pandang.


“Rick, mereka ....”


“Ini seperti reuni.”

__ADS_1


“Lebih baik kita pulang. Perasaanku mulai tak enak.”


“Tidak perlu takut. Ada aku di sisimu. Ayo, kita cari tahu siapa pemilik pesta ini.”


Ricko dan Arinda berjalan membelah keramaian. Semua mata tertuju kepada mereka berdua. Pasalnya, banyak dari para tamu adalah teman-teman semasa putih abu-abu. Keduanya melangkah dengan pandangan lurus ke depan tanpa senyuman. Mencoba tak peduli dengan tatapan orang-orang.


Setelah berkeliling mencari sang empunya pesta. Seseorang dengan setelan pakaian serba putih menghampiri dengan senyum mengembang.


“Ricko Bagaskara Narendra! Apa kabarmu, Nak?” Dennis merentangkan tangan ingin memeluk Ricko, tetapi ditolak.


“Tidak usah berbasa-basi, Dennis.”


“Ah, kau masih tak berubah rupanya.” Kemudian, melirik wanita di sebelah Ricko. “Senang bertemu denganmu, Arinda. Seperti biasanya, kau terlihat cantik.”


“Bisa kita langsung bertemu pemilik pesta!” sela Ricko seraya mengepalkan tangan menahan geram karena cemburu.


“Oke. Ayo! Ikuti aku. Kalian cukup mengenalnya kok,” ujar Dennis.


Arinda dan Ricko mengernyit.


“Apa maksudnya?” tanya Ricko.


“Dia teman sekolah kalian,” jawab Dennis.


Arinda dan Ricko saling berpandangan, tetapi memilih diam. Keduanya terus melangkah di belakang mengikuti Dennis yang lebih dulu berjalan di depan.


“Siska! Perkenalkan ini anak teman Om, Ricko. Dan, asistennya, Arinda.” Dennis memperkenalkan keduanya. Lebih tepatnya, berbasa-basi.


“SISKA!” seru Ricko dan Arinda berbarengan.


Dennis menoleh ke arah Arinda dan Ricko. Menatap mereka berdua secara bergantian. Senyum licik terbit dari bibirnya.


Selamat menikmati pesta anak sombong tak tahu diri. Dan, Arinda, ini adalah balasan untukmu karena sudah berani menolakku. Setelah ini, aku akan melenggang bebas menjadi CEO tanpa hambatan dari kalian berdua. Dennis membatin.


Dennis meninggalkan Arinda dan Ricko untuk selanjutnya menyerahkan tugas kepada Siska. Keponakannya akan mengurus mereka berdua. Tentu dengan dibantu oleh banyak orang dan pengawal.


Suara telepon berdering. Dennis cepat-cepat melangkah keluar untuk mengangkat telepon.


“Halo!”


“Bagaimana mereka? Apa sudah masuk ke dalam jebakan?”


“Tentu saja, Kak. Anak buahku dan anakmu akan mengurus mereka.”


“Bagus! Mereka harus membayar penderitaan anakku.”


“Ya. Dan, tepatilah janjimu untuk menjadikan aku CEO di Narendra Corp.”


“Tentu. Setelah wanita itu mati dan sang pria mulai gila. Semua akan menjadi mudah.”

__ADS_1


Suara gelak tawa terdengar dari bibir Dennis. Orang di seberang telepon pun turut tertawa. Menertawakan kebodohan Ricko dan Arinda karena sudah masuk perangkap mereka.


__ADS_2