ARINDA

ARINDA
Sayang


__ADS_3

HAPPY READING 🤗💞


.


.


.




Jam beker berbunyi untuk ketiga kalinya. Tapi, Arinda tak mengindahkannya. Ia masih meringkuk di bawah selimut. Hujan yang mengguyur ibu kota sejak Subuh tadi. Membuat suasana sangat pas untuk melanjutkan tidur.


Sampai pada akhirnya, suara dering ponsel baru membuat gadis itu menunjukkan tanda-tanda akan bangun. Ia menyingkap selimut, menggeliat, dan duduk di atas kasur. Mengumpulkan nyawa terlebih dahulu seraya menguap beberapa kali.


Ponsel di atas meja di ambil dan menggulir tombol hijau ke atas.


“Rin, nanti tolong datang ke kantor bawa gambar design layout yang sudah kamu buat, ya. Si bos mau lihat. Kita rapat jam sepuluh.”


“Iya, Mbak.”


Telepon terputus! Arinda melihat layar ponsel dan matanya langsung membulat melihat jam sudah menunjukkan pukul delapan.


“Aduh, gawat! Kok bisa kebablasan begini?!”


Arinda langsung menyambar handuk dan bergegas masuk kamar mandi.


Saking terburu-buru, sarapan pun terlewat kembali. Selalu begitu!


Melaju dengan si brown, motor matic kesayangan, Arinda melesatkan sang kuda besi menuju mall. Mengambil gambar design pesanan sang calon suami idaman. Kemudian, melanjutkan perjalanan ke gedung pencakar langit milik Keluarga Narendra.


Kalo udah resmi jadi istri Ricko. Gue bakalan bangun sesukanya. Pastinya, gak perlu dikejar waktu lagi wara-wiri melintasi aspal hitam menggunakan kendaraan roda dua. Brown, lu tenang aja. Saat itu tiba, gue bakal rawat lu terus kayak anak sendiri. Karena, bersama lu, kita sering dapet bonus guyuran hujan dan siraman teriknya matahari. Kisah terindah! Arinda bergumam.


🌺🌺🌺


Usai memarkir motor, Arinda melirik jam di pergelangan tangan. Helaan napas lega baru saja terdengar. Kali ini, wajah itu terlihat berpikir.


“Masih ada lima belas menit.”


Ide di kepala muncul. Senyum jenaka terbit. Tanpa melepas jaket, Arinda menyampirkan tas ke samping. Ia segera melangkah dengan hati senang.


Seperti biasa, Arinda selalu menjadi pusat perhatian. Paras cantik dan masih single. Pesona luar biasa yang tak mungkin ditolak begitu saja oleh kaum pria.


Kaum mereka hampir tak berkedip jika Arinda sudah melintas. Wangi parfum yang menguar pun semakin menambah daya tarik. Sayangnya, sikap dingin yang selalu diperlihatkan, membuat para lelaki takut untuk mendekati.


Suara ketukan pintu terdengar satu kali, tetapi sang empunya ruangan belum mempersilakan masuk. Namun, Arinda sudah membuka dan menyelonong begitu saja. Kemudian, tanpa rasa bersalah duduk seraya menebar senyuman manis dan bertopang dagu.


Pria tampan di balik tumpukan dokumen mendongak dan menggelengkan kepala. Ricko tak lagi peduli akan sopan santun yang sudah hilang dari Arinda. Terserah sajalah! Ucapan frustrasi, karena sudah lelah memperingatkan.


“Sayang ....”


Hening!


“Sayang, aku lulus sidang. Dua bulan lagi, aku wisuda.”

__ADS_1


Tak ada sahutan. Sepi!


“Sayang, kamu gak mau mengucapkan selamat kepadaku. Aku lulus tanpa revisi loh. Aku pintar, 'kan?”


Masih tak ada tanda-tanda suara akan terdengar!


“Sayang ....”


“Aku tidak peduli!”


Arinda memajukan bibirnya.


Ricko melirik Arinda sekilas. Kemudian, langsung mengalihkan tatapannya dari pikiran yang mulai tak senonoh pada bibir merah muda itu.


Sial! Berhenti melakukan itu pada bibirmu! O, Shit! Konsentrasiku buyar! Hanya dengan melihatnya saja sudah membuat aliran darahku terasa panas. Kacau ... kacau ... kacau! Aku benar-benar harus menjauhi gadis ini. Jangan sampai nafsu berdiri sendiri. Kemudian, mengalahkan kebencian yang sudah kutanam selama sepuluh tahun terakhir. Ricko membatin.


Suara perut kelaparan berbunyi. Ricko mengernyit dan menatap kembali Arinda. Kali ini, ia tengah memegang perutnya.


“Makan!”


Ricko memberikan dua bungkus roti kepada Arinda.


Arinda tersenyum senang. Setelah satu Minggu lebih terus-menerus merecoki hidup Ricko. Akhirnya, sang pujaan mulai menunjukkan perhatian. Meskipun, hanya dengan dua buah roti.


“Tidak usah geer! Sebentar lagi rapat. Aku tidak mau karyawan di kantor ini ada yang mati kelaparan. Bikin susah saja!”


Seperti tahu isi hati Arinda. Ricko langsung mematahkan pemikiran yang tengah berbunga-bunga itu.


“Iya. Makasih, Sayang,” ujar Arinda.


Aku sungguh lelah memprotes dirimu untuk tidak lagi memanggilku 'Sayang'. Entah, mau sampai kapan kamu begini? Untungnya, kamu masih tahu diri untuk tak menyebutnya di depan banyak orang. Jadi, terserah sajalah! Ricko membatin.


“Sayang, aku haus. Boleh aku minum air di gelas itu.” Tunjuk Arinda lewat ekor mata.


Ricko mulai menatap sinis. Namun, Arinda membalas dengan wajah memelas seraya mengedipkan mata.


Ricko menghela napas panjang. Lebih baik mengalah dan memberikan minuman yang masih utuh belum tersentuh.


“Lain kali, makan dan minum di kantin sana!”


“Sama kamu, ya, Sayang?” pinta Arinda seraya meminum minuman hingga tandas.


Ricko tersenyum. “ Boleh. Asal ... setelahnya silakan mengundurkan diri dari kantor ini. Anggap saja itu pesta perpisahanmu. Mau?”


Arinda balas tersenyum. “Mau. Asal ... setelahnya kamu menikahiku. Anggap saja itu kompensasi atas hilangnya pekerjaanku di kantor ini. Setuju, Sayang?”


Ricko menganga. Arinda terlalu pintar untuk di ajak berargumen. Argumentasi pria itu sering di balas sampai ia membungkam. Seperti sekarang ini!


Kamu memang cerdas! Tapi, kali ini aku harus menang, gumam Ricko.


“Gadis pintar. Sudah pandai membantah. Bukan tipe istri idaman!”


Arinda mencebik. “Sayang, hanya aku yang cocok jadi istri kamu. Aku cantik, pintar, baik, dan ....”


“Tidak setia! Masih bukan kriteria.”

__ADS_1


“Sayang, aku setia. Buktinya sepuluh tahun ini nunggu kamu. Aku pun menolak semua pria hanya demi bisa bersama kamu.”


“Hentikan bualanmu! Pergi sana!” Ternyata! Aku memang tak akan pernah menang melawan perkataanmu, Arinda.


“Tidak mau.”


Suara ketukan pintu terdengar. Ricko mempersilakan masuk.


“Pak Ricko, rapat akan segera dimulai.” Kemudian, Mbak Dini menoleh ke arah Arinda. “loh, kamu disini, Rin. Mbak pikir belum datang.”


Arinda cengar-cengir. “Maaf, Mbak.”


“Ya, sudah. Ayo! Rapat sudah mau di mulai,” ucap Dini.


🌺🌺🌺


Semua mendengarkan dengan saksama penjelasan Dini selaku Brand Manager. Mereka berencana akan membuat dua mall di Kota Surabaya dan Yogyakarta.


Satu mall di Surabaya mulai rampung. Tinggal finishing saja. Rencananya, beberapa orang dari divisi marketing akan mengadakan kunjungan. Namun, siapa yang akan dipilih dan kapan waktunya belum sempat di bicarakan secara serius.


“Pak Ricko, silakan!”


Usai presentasi, Dini mempersilakan Ricko untuk berbicara.


“Tolong siapkan gambar yang saya pinta dan urutkan,” titah Ricko.


Arinda mengangguk dan mulai mengecek ulang.


Ricko menjelaskan beberapa hal yang berkaitan dengan layout dan promosi di Surabaya nanti. Pria itu memberikan banyak ide baru. Semua orang di dalam ruangan cukup kagum. Mereka tak menyangka sang pewaris begitu cerdas. Senyum puas tercetak jelas di wajah-wajah itu.


“Mana design layout itu? Sudah selesai di urutkan?” tanya Ricko.


“Sudah dan beberapa design layout masih dikerjakan. Ini sebagian desain bagian dalam,” jawab Arinda menerangkan.


“Oke. Biar aku lihat dulu. Berikan desain itu, Sayang,” pinta Ricko seraya menatap Arinda.


“Iya, Sayang. Ini ....”


Arinda tak meneruskan ucapannya. Tangan yang sudah terjulur itu menggantung di udara, diam. Lidah pun menjadi kelu. Gadis itu mengerjapkan matanya dua kali seraya menatap Ricko.


Ricko pun terdiam. Pria itu baru menyadari ucapannya. Ia sampai kesulitan ingin menelan salivanya.


Arinda dan Ricko bersitatap. Mereka berdua tak berani menatap yang lain. Rasa-rasanya satu divisi ini berubah seketika menjadi zombie, begitu menakutkan.


Memang, secara spontan tadi mereka semua menatap Ricko dan Arinda. Karena, saling memanggil dengan sebutan 'Sayang'.


SYOK! Satu kata yang pas menggambarkan gurat wajah mereka. Termasuk di dalamnya Arinda dan Ricko sendiri.


HENING!


Mamacih sudah mampir, Kakak 🤗💞


Saranghaeyo 💞😘


Jangan lupa vote-nya 🤗💞

__ADS_1


Jangan lupa klik tombol like-nya juga 🤗💞


__ADS_2