ARINDA

ARINDA
Restu


__ADS_3

Voilaaaaaa, aku hadir kembali.


Akhirnya, setelah sekian purnama bertapa di gunung lima jari tempat Sun Go Kong terjebak selama ratusan tahun. Tulisan ini rampung jugaaaakk.


Betewe, maapkeun absen berhari-hari tanpa kabar. Syusyahlah dijelaskan dengan kata-kata. Kita kuy aja langsung ke cerita, yess. Cekidot ....


HAPPY READING 😉






Pantai Karnaval Ancol, saksi bisu tempat pertama kali Arinda-Ricko menjalin kisah kasih.


Arinda sekarang berada di tempat tersebut, sekadar mencoba mengenang. Ia melarikan diri dari Zacky. Berpura-pura ingin ke toilet di Pom Bensin. Kemudian, tak kembali lagi.


Arinda tak ingin ada ajang perjodohan untuknya di pesta para dokter nanti. Oleh karena itu, ia memilih kabur. Namun, setelahnya mengirimkan pesan kepada Zacky agar tidak khawatir. Dan, akan segera kembali.


“Aku merindukanmu.”


Sepasang tangan kekar melingkar di leher dan mengecup puncak kepala Arinda. Ia sempat tercengang. Akan tetapi, selanjutnya diam setelah dua kata meluncur dari suara yang tak asing.


“Aku pun.”


Hening!


Lima belas menit hanya berdiam diri. Keduanya memilih membisu menikmati masa bersama sekaligus melepas rindu.


Ricko semakin mengeratkan pelukannya. Posisi masih sama, ia berada di belakang, tetapi kali ini kedua tangan sudah berpindah melingkar di perut Arinda.


Arinda pun memegang erat kedua tangan kekar tersebut.


“Rick, bukankah malam ini acara pertunanganmu?”


“Apa kamu benar rela melepasku?”


Ingin rasanya Arinda menjawab ‘tidak', tetapi ia tak ingin egois. Namun, gadis itu merasa juga tak cukup bijak untuk mengatakan ‘iya’. Jadi, lebih baik diam.


Hening!


“Rick.”

__ADS_1


“Apa?”


Hening kembali!


“Rick.”


“Iya. Apa?”


“Rick.”


Ricko tertawa. “Aku merindukanmu yang seperti ini. Selalu memanggil namaku.”


Arinda ikut tertawa. “Mereka pasti sedang mencari-cari kita.”


“Aku tidak peduli.”


Ya, bukan hanya Arinda yang melarikan diri. Ricko pun kabur dari acara pertunangannya.


“Rick, kamu sadar gak, kisah cinta kita jelimet,” ucap Arinda lirih.


“Ya. Bikin kepala mumet.”


“Likunya teramat ruwet.”


“Tapi, rasa cinta kita sedari dulu sampai sekarang masih awet.”


“Pernikahan.”


“Kamu masih berharap hubungan kita akan berhasil?”


“Tentu.”


“Kepercayaan dirimu selalu besar.”


“Karena, rasa cintaku untukmu pun besar.”


“Kita seperti sedang dikejar-kejar pemburu bersenapan laras panjang. Lalu, berakhir di ujung jurang. Jika melangkah maju, pasti jatuh kemudian tewas. Jika mundur tertembak dan mati. Memilih apa pun tetap saja berujung pada kematian yang menyakitkan.”


“Bicaramu terlalu berat.”


“Rick, pulanglah. Keluargamu pasti sedang cemas. Kasihan juga dengan calon tunanganmu.”


“Aku tidak peduli.”


“Rick ....”

__ADS_1


“Selama beberapa waktu terakhir, aku mencoba diam dan pasrah. Karena, khawatir dengan Opa yang memiliki riwayat penyakit jantung. Tapi, semakin dekat hari ini, aku justru semakin mencemaskanmu.”


“Lalu, mengabaikan Opa-mu yang sedang sakit?”


“Aku harus bagaimana, Rin? Kamu bilang memaksakan kehendak tidak akan menyelesaikan masalah. Masalah mereka selesai, tetapi tidak denganku. Apa itu adil?”


“Rick ....”


“Come on, Rin. Kita saling mencintai. Alasanmu datang ke sini, ke tempat pertama kali kita setuju untuk menjalin kasih, pasti sama denganku. Kita saling merindukan. Sama-sama tak ingin berpisah. Dan, lihat saja. Tanpa janjian kita berdua bertemu disini.”


“Lalu, apa rencanamu?”


“Menculikmu.”


Arinda tertawa. “Aku punya kakak sekarang. Zacky pasti mencariku dan akan menggantungmu karena berniat menculik adik cantiknya.”


“Rin ....”


“Aku sekarang seperti perebut calon tunangan orang. Menyedihkan.”


“Aku menjatuhkan hati dan pilihan kepadamu. Jadi, tidak ada yang merebutku dari siapa pun. Karena, aku hanya milikmu, begitu pun sebaliknya.”


Hening!


Satu jam berlalu. Lelah berdiri, Arinda dan Ricko memutuskan duduk menghampar tanpa alas di atas pasir pantai.


Ricko duduk di belakang Arinda seraya memeluk sang pujaan. Gadis itu pun bersandar di dada bidang milik pria tercintanya.


Netra mereka menatap lurus ke depan. Memandang hamparan laut luas dengan deburan ombak tengah berkejaran.


“Rin,” panggil Ricko memecah keheningan.


“Iya.”


“Will you marry me, My Lovely?”


“Yes, I will.”


Kemudian, keduanya tertawa. Tawa dengan nada lirih. Tentu saja, menertawakan kisah cinta mereka yang ironis.




Ternyata, tak cukup tiga episode terakhir, Guys.

__ADS_1


Next episode kuposting tudeyy. Agak siang, yesss 😉


__ADS_2