ARINDA

ARINDA
Awal petaka


__ADS_3

Zacky dan Dito mengantar Arinda pulang. Mereka melontarkan petuah kepada gadis itu.


Arinda berjanji kepada Dito dan Zacky tidak akan menangisi Ricko lagi. Keduanya menyuruhnya melepas dengan ikhlas. Setidaknya, hanya untuk sementara saja.


Begitu ucapan kedua sahabat sang mantan saat di perjalanan pulang dalam mobil tadi. Gadis itu pun mengangguk patuh, karena ucapan mereka ada benarnya.


Arinda melangkah gontai menuju rumahnya. Ia membuka pintu rumah. Sepi! Gadis itu mengangkat bahu, tak peduli. Saat ini, merebahkan tubuhnya yang lelah adalah ide terbaik. Dirinya menaiki tangga menuju kamar.


Arinda duduk di atas kasurnya seraya mengambil sesuatu di dalam tas. Dua buah perhiasan cincin dan kalung pemberian Ricko. Gadis itu mengangkatnya sampai tepat berada di depan mata. Ia memandang kedua benda berkilau itu dengan seulas senyum.


Arinda membuka kaitan kalung dan memasukkan cincin ke dalamnya. Berharap suatu saat cintanya pun akan kembali bersatu seperti kedua perhiasan ini.


“Sayang, aku akan sabar menunggumu kembali ke Tanah Air. Saat itu datang, bersiaplah menerima curahan kerinduan dan limpahan cinta dariku. Aku tak akan pernah melepasmu pergi lagi! Tuhan sudah menakdirkan kita untuk berjodoh. Tak akan ada wanita lain yang bisa merebutmu!”


Agak seram, ya. Karena kata-kata itu terdengar seperti ancaman. Seolah-olah gadis itu juga telah mengetahui takdir dari Sang Maha Kuasa.


Ah, cinta memang bisa membuat orang berpikir tanpa logika!


Usai mengatakan hal tersebut secara gamblang. Senyum mengembang dari bibirnya. Terkadang berbicara sendiri dengan suara jelas bisa mengurangi kadar frustrasi, bukan? Asal, jangan melakukannya secara terus menerus. Karena khawatir banyak yang menganggap gila!


Arinda memutuskan untuk memakai kalung tersebut. Ia menutupinya dengan baju yang dipakai agar tak ada yang tahu. Gadis itu kemudian merebahkan dirinya di atas kasur dengan pikiran menerawang.


Tiba-tiba, terlintas kejadian sepuluh tahun silam. Saat di mana garis hidupnya terbalik. Mengubahnya menjadi wanita dengan citra buruk di mata masyarakat.


Flashback on

__ADS_1


Erwin pulang ke rumah dengan wajah lesu. Ia duduk bersandar pada kursi dengan mata menatap langit-langit.


Nita datang menghampiri dengan seribu pertanyaan di kepala. Karena tak seperti biasanya sang kepala rumah tangga begitu terlihat sangat lelah.


Arinda pun baru saja berganti pakaian, sehabis pulang sekolah tadi. Ia urung menghampiri, ketika mendengar Erwin mengatakan jika dirinya dipecat. Bukan hanya itu saja, yang membuat tercengang adalah alasan di balik pemecatan. Pria yang sudah berusia 50 tahun itu dituduh menggelapkan uang perusahaan.


Tidak tanggung-tanggung, perusahaan menuduhnya telah memanipulasi data sebesar 10 milyar. Posisinya sebagai Direktur Keuangan tentu menjadikannya terdakwa. Walaupun bersifat sementara.


Satu bulan setelah pemecatan. Pengusutan pun sudah dilakukan dan hanya Erwin satu-satunya orang yang menjadi tertuduh penggelapan uang.


Secara diam-diam, Nita memohon kepada atasan suaminya agar tak memenjarakan Erwin. Pihak perusahaan akhirnya iba dan mengatakan tidak akan meneruskan kasus itu. Tapi, semua aset dan harta harus disita sebagai ganti rugi.


Sejak saat itu, mereka jatuh miskin dan pindah ke rumah milik keluarga Nita. Perekonomian keluarga selanjutnya diambil alih oleh sang istri. Wanita itu membuka sebuah toko kue.


Hari demi hari berlalu. Erwin mulai uring-uringan, ia merasa tidak bersalah. Pria itu berpikir ada yang sengaja menjebaknya. Sayangnya, dirinya tak memiliki bukti untuk membuktikan. Kesal dengan keadaan, laki-laki itu melarikan diri dengan mabuk-mabukan dan berjudi.


Sejak berusia tujuh tahun, Arinda sudah harus ikut bekerja menjadi tukang cuci piring di warung remang-remang. Terkadang, menjadi pelayan juga, seperti membuat kopi atau memasakkan para muncikari itu makanan. Tentu, atas suruhan Erwin.


Semakin besar, pria tua itu mulai menyadari jika anak gadisnya sangat cantik. Karena banyak laki-laki yang sering menggoda. Ide kotor pun terlintas untuk menjadikan sang putri sebagai ladang emas. Ia menarifkan kepada setiap laki-laki yang ingin sekedar mengajak jalan atau berpacaran. Tentu kedua hal tersebut memiliki tarif yang berbeda.


Sejak saat itu, Arinda mendapat label perempuan matre dan murahan. Gadis itu hanya bisa diam dan menangis dipelukan sang mama setiap kali ada yang mengatainya demikian.


Padahal, ia hanya menemani mereka tanpa berbuat hal sejauh pikiran buruk orang-orang. Sampai akhirnya, kupingnya terbiasa mendengar itu semua dan tidak lagi menangis.


Flashback off

__ADS_1


“Seandainya fitnah keji itu tidak menghampiri Papa. Mungkin hidupku bisa lebih baik.”


Kedua orangtuanya begitu menyayangi Arinda. Dulu, gadis itu selalu tak pernah berkekurangan apa pun. Harta, kasih sayang, dan cinta.


Namun, roda memang berputar. Terkadang berada di atas dan saat ini harus berada di level paling bawah. Semua sudah suratan takdir.


Hanya saja yang tidak bisa Arinda terima, kenapa harus dirinya yang harus membayar rasa sakit hati sang papa?!


Mengapa ada orangtua setega mereka yang diam saja anak gadisnya jatuh kepelukan laki-laki berbeda secara terus-menerus. Tak ada rasa khawatir dalam diri keduanya jika putrinya tak lagi memiliki harga diri.


“Hidup tidak kejam kepadamu, Pa, tetapi kepadaku. Karena aku tak seperti anak lain, orangtua mereka begitu melindungi. Tapi, kalian justru sebaliknya, ironis memang. Ah, bahkan aku begitu paham dengan dunia malam berkatmu, Pak Tua.”


Ya, Arinda cukup tahu apa itu prostitusi, wanita tunasusila, dan alkohol. Karena ia menghabiskan masa kecilnya di sana. Bahkan, tak jarang melihat adegan dewasa yang tak patut di lihat oleh anak kecil.


Bagaimana cara berjudi dan mabuk pun Arinda paham. Erwin sering melakukannya di warung tersebut dan di depan matanya. Memang orangtua tidak punya akhlak. Bagus putrinya tak terpengaruh sedikit pun oleh hal-hal buruk tersebut.


Walaupun tumbuh di tempat nista. Arinda cukup mengerti kalau harga diri wanita adalah keperawanan. Oleh sebab itu, ia selalu menjaganya dengan baik. Bahkan, karena saking seringnya melihat adegan tak senonoh. Dirinya bertekad untuk tak boleh ada sembarang orang menyentuhnya dengan mudah.


Menurut Arinda, saat ini hanya kegadisannya satu-satunya harga diri yang ia punya. Karena yang lainnya, seperti nama baik, sudah lenyap tak bersisa.


Mengenaskan memang, banyak orang berpikir memiliki wajah cantik itu enak. Tapi, tidak untuk Arinda. Rupanya yang nyaris sempurna justru awal dari petaka kesengsaraannya di mulai.


Gara-gara mata lelaki hidung belang selalu menyorotinya terus. Setan pun berbisik di telinga Erwin agar memorak-porandakan harga diri sang putri. Pria tua itu melakukannya tanpa rasa bersalah sedikit pun. Terdengar sadis memang, tetapi itulah kenyataan yang terjadi.


Kata-kata balas budi juga sering Erwin ucapkan. Entah maksudnya apa? Arinda tak cukup memahami. Ia pun bertanya-tanya. Mengapa ada orangtua menuntut hal tersebut. Bukankah, sudah kewajiban mereka menafkahi anak-anaknya.

__ADS_1


Sampai saat ini, semua itu masih menjadi misteri. Otaknya hanya mampu berpikir kalau Papanya sangat jahat. Itu saja!


Kini hanya nelangsa yang harus Arinda terima. Hidup memang tak seindah parasnya yang memesona.


__ADS_2