ARINDA

ARINDA
Kembali gagal


__ADS_3

Rasa kantuk berkolaborasi dengan tubuh yang lelah menjadikan mata menutup sempurna. Meskipun di dalam taksi, tidur Arinda sangat nyenyak.


Ricko memanfaatkan waktu tersebut dengan baik. Ia menunjukkan kepada pengemudi taksi sebuah alamat vila. Kemudian, memintanya untuk mengantar ke sana. Lalu, mengambil ponsel milik Arinda dan mengutak-atiknya kembali.


Begitu tiba, Ricko turun terlebih dahulu. Para pengawal dan para pelayan menghampiri.


“Selamat datang, Tuan Muda,” sapa mereka serempak.


Ricko mengangguk. Ia memerintahkan pelayan menaruh koper Arinda di kamar. Kemudian, menunjuk satu pelayan perempuan agar membangunkan sang nona.


“Siapkan makanan untuk Nona. Jangan mengatakan apa pun. Beri semua yang Nona pinta. Aku mau tidur dulu.” Baru saja mau melangkah pergi, Ricko berbalik. “Perketat penjagaan. Gadisku jangan sampai kabur atau kalian akan menerima akibatnya. Mengerti?!”


“Mengerti, Tuan Muda.” Kembali, mereka berucap secara bersamaan.


Rasa lelah semalaman tidak tidur mulai menghinggapi Ricko. Ia masuk ke kamar. Membuka jas dan kemejanya. Kemudian, langsung menelungkupkan tubuhnya di atas kasur. Memejamkan mata dan mulai pergi ke alam mimpi.


“Nona ... Nona ... Nona.”


Suara lembut dari salah satu pelayan wanita membangunkan tidur Arinda. Gadis itu mulai membuka mata.


“Sudah sampai, ya?”


“Sudah, Nona.”


Ingin membayar, tetapi si Pengemudi bilang sudah dibayar. Arinda turun dari mobil. Namun, gadis itu teringat tentang Ricko. Baru saja mau bertanya, tetapi taksi biru itu sudah melaju keluar pekarangan vila.


“Loh, koperku?” Kembali Arinda teringat dengan mimik panik. Nyawanya belum sepenuhnya merasuk raga. Jadi, mengingat semuanya satu per satu.


“Koper Anda sudah berada di kamar, Nona.”


Perasaan lega tercetak jelas di wajah. Lalu, Arinda pun kembali tersadar sedari tadi dipanggil Nona. Ia menatap pelayan wanita itu. “Panggil Arinda saja.”


Sang pelayan membungkuk. “Maaf, Nona. Saya tidak berani hanya memanggil nama saja.”


Arinda mengernyit dan memilih mengabaikannya. Baru beberapa langkah berjalan. Ia menghentikan ayunan kakinya. Kemudian, membalikkan badan.


Netranya menatap sekeliling. Ia tercengang melihat begitu banyak pelayan. Dan, para penjaga yang memiliki postur tubuh tinggi besar. Arinda semakin merasa aneh karena semuanya membungkuk ke arahnya.


Mereka kenapa, sih? Aku benar-benar merasa seperti Nona muda. Perasaan juga tempat penginapan yang kusewa harganya yang termurah. Tapi, ini sangat mewah dengan pelayanannya yang maksimal sekali. Arinda membatin heran.


Arinda berbalik kembali dan mulai melangkah masuk. Seketika matanya melotot dengan bibir yang membulat. Netranya menatap takjub setiap sudut ruangan. Semuanya mewah.


“Nona, mari saya antar ke kamar Anda.”


Suara pelayan tadi membuat Arinda kaget.


“Ah, iya. Terima kasih.”


Keduanya menaiki anak tangga menuju kamar yang berada di lantai dua. Pelayan tadi membuka pintu kamar dan mempersilakan Arinda untuk masuk. Namun, gadis itu berdiam diri seraya menjelajah isi kamar dengan netranya.


Kamar ini berbeda dari gambar. Ini terlalu bagus dan mewah untuk ukuran harga sewa tak seberapa per malamnya, ucap Arinda dalam hati. Ia mulai merasa curiga karena banyak kejanggalan.


“Nona, silakan masuk.”


Arinda bergeming. Ia menggeleng kemudian mengambil ponselnya di dalam tas dan membuka aplikasi biru kuning.


Akan tetapi, aplikasi tersebut raib. Kecurigaannya sempurna sudah. Hanya ada satu orang tersangka yang sejak ia bangun dari tidur sudah menghilang.


Arinda menatap tajam sang pelayan. “Di mana Ricko?”

__ADS_1


Pelayan tersebut menunduk tanpa menyahut.


“Haisshh! Baiklah. Aku tahu kalian tidak akan menjawab. Jadi, biar aku cari sendiri.”


Arinda baru mau mulai mencari. Namun, sang pelayan tadi mencoba menghentikan.


“Nona, Anda lebih baik istirahat dulu. Saya akan menyiapkan makan siang untuk Anda.”


Arinda kembali menatap wanita itu. “Dengar, aku bukan Nona-mu. Dan, diamlah atau aku akan mengadukan kepada Tuan-mu kalau kau tidak mau menurut. Ricko pasti langsung memecatmu. Mau?”


Pelayan itu menggeleng.


Benar kan ini pasti perbuatanmu Ricko Bagaskara. Dasar pria tampan menyebalkan! Awas saja kau, Tuan Muda! Aku akan buat perhitungan. Arinda membatin.


“Bagus. Sekarang beri tahu di mana kamar Tuan Muda?”


Pelayan tadi menunjuk sebuah kamar yang berada tepat di samping kamar Arinda.


“Terima kasih.”


“Nona ....”


“Apa?”


“Tolong jangan mengadukan saya.”


Arinda memandangi wajah gadis muda itu. Rasa iba sekaligus sesal muncul. Maksudnya tadi bukan ingin mengancam. Hanya saja, ia kesal dengan Ricko yang seenaknya.


“Pergilah. Aku tidak akan mengadukanmu.”


“Terima kasih, Nona.” Pelayan tadi pamit undur diri.


Arinda membuka pintu. Menyembulkan kepalanya lebih dulu untuk melihat keadaan di dalam. Netranya menangkap sesosok pria shirtless tengah tertidur menelungkup di atas kasur.


“RICKOOOO! SEENAKNYA SAJA MEMBAWAKU KESINI TANPA IZIN! KAMU TU, IIIH! NYEBELIN!” Arinda berseru seraya terus memukul.


Ricko tentu saja kaget dan terbangun. Pria itu kesal kepada orang yang berani mengganggu tidurnya. Pasalnya, ia baru saja memejamkan mata.


“Hei! Hei! Apa-apaan ini?! Shit!”


Begitu melihat siapa si tersangka. Ricko mengusap wajahnya dan mengembuskan napas berat. Ia mengurungkan niat untuk marah-marah.


Arinda, bersyukurlah aku mencintaimu. Kalau tidak, aku sudah melemparmu keluar jendela. Karena telah berani mengganggu tidurku, batin Ricko gemas.


“RICKO BAGASKARA!” teriak Arinda seraya melempar guling ke wajah Ricko.


Guling tersebut tepat mendarat di wajah. Ricko mengambilnya seraya berkata lirih, “Rin, sumpah aku lelah dan mengantuk. Marahnya nanti lanjut lagi, ya, setelah aku bangun kembali.”


“Ricko, ih. Aku kesal sama kamu!”


“Iya, tahu. Beri aku waktu satu jam saja untuk tidur dulu. Oke.”


“Ricko! Aku tidak mau tinggal disini denganmu!”


Ricko mengembuskan napas lelah. Matanya pun tidak bisa melek sempurna saking mengantuknya.


Tak ingin ada perdebatan panjang. Ricko menarik tangan Arinda sampai jatuh ke atas kasur. Dan, langsung memeluk dan mengunci tubuh mungil itu dengan kaki dan tangan.


“RICKO!”

__ADS_1


“Diam atau akan terjadi malam pertama hari ini, sekarang, dan di atas kasur ini. Mau?”


“Jahat.”


“Terserah sajalah.”


Mengetahui Arinda menurut dan tidak lagi bicara. Ricko tersenyum dan mulai lagi memejamkan mata. Melanjutkan tidur yang sempat terganggu.


🌺🌺🌺


Waktu sudah menunjukkan pukul empat sore. Tanpa terasa sudah berjam-jam keduanya tidur.


Arinda pun turut pulas akibat tubuhnya tak bisa bergerak. Jadi, ia ikut hanyut ke alam mimpi.


Kelopak mata perlahan terbuka. Arinda bangun lebih dulu. Ia menyingkirkan tangan dan kaki Ricko yang tengah memitingnya. Gadis itu turun dari kasur. Lantas, keluar kamar tanpa menoleh lagi ke arah pria yang masih terlelap.


“Nona, Anda sudah bangun. Saya akan segera menyiapkan makanan.”


Arinda mengabaikannya dan masuk ke kamar. Ia memilih mandi untuk menyegarkan badan. Baru setelah itu akan bergegas pergi dari vila.


Usai mandi dan berpakaian. Suara ketukan pintu terdengar. Arinda menyuruh siapa pun yang mengetuk itu masuk.


“Nona, saya membawakan makanan untuk Anda.”


“Terima kasih.”


Arinda memakan makanan tersebut hingga tandas.


“Memalukan sekali. Ternyata aku kelaparan.”


Istirahat sebentar untuk menurunkan makanan. Kemudian, mengambil koper dan tas. Arinda bergegas pergi.


“Nona, Anda ingin ke mana?”


Arinda menatap tajam pelayan tersebut. “Jangan menghalangiku.”


“Kami diperintahkan untuk menjaga Anda agar tidak pergi dari sini, Nona.”


“Aku tidak peduli. Minggir!” Pelayan tadi didorong oleh Arinda karena tidak mau menggeser tubuhnya.


Arinda menuruni anak tangga dan melangkah keluar. Para penjaga menghadangnya di depan.


“Maaf, Nona. Anda tidak boleh pergi dari tempat ini.”


“Apa hakmu, Hah?! Minggir atau aku akan berbuat kasar kepada kalian!”


“Maaf, Nona. Perintah adalah perintah.”


Beberapa penjaga berbadan besar mencoba untuk menarik tangan Arinda agar masuk kembali. Namun, gadis itu mengacungkan tangan ke arah mereka dengan peringatan.


“Jangan menyentuhku! Awas kalian berani memegangku. Akan aku adukan kepada Ricko. Minggir semua!”


Seketika para penjaga dan pelayan menunduk. Kemudian, mundur beberapa langkah.


Melihat mereka menurut, Arinda tersenyum sumringah. “Nah, begitu. Dari tadi, kek, jadi aku kan gak perlu capek-capek ngomel.”


Baru saja mau melangkah pergi, tangan kekar lebih dulu melingkar di perut Arinda. Dan, berbicara dengan suara khas orang baru bangun tidur.


“Mau ke mana, Nona?” tanya Ricko seraya menciumi rambut panjang Arinda yang beraroma sampo.

__ADS_1


“Ricko.” Arinda sudah lemas. Ia kira mereka semua takut akan ancamannya. Tidak tahunya karena ada singa jantan di belakang.


Sial! Gagal lagi, gerutu Arinda dalam hati.


__ADS_2