
Pagi ini, perasaan tak enak melanda Arinda. Seperti ada sesuatu yang mengganjal. Tapi, ia tidak tahu apa itu? Ingin kembali pulang ke rumah, jelas tidak mungkin.
Gadis itu terus berdoa semoga semua baik-baik saja. Seandainya pun terjadi sesuatu, semoga bukan hal yang mengkhawatirkan.
Setelah Ujian Akhir Sekolah kemarin usai. Hari ini adalah remedial untuk siswa yang bernilai di bawah KKM. Untuk siswa yang nilainya sudah bagus, guru kelas akan memberikan tugas menggambar, membuat puisi, bermain basket, atau sepakbola. Hanya untuk menambah nilai saja.
Seperti mengerti kegundahan siswa yang sudah keroncongan, bel istirahat berbunyi. Waktu yang ditunggu juga oleh Siska and the gank. Senyum menyeringai terbit di bibir mereka.
“Di mana sasaran?”
“Toilet.”
“Cabut!"
Di depan toilet perempuan yang terdapat di lantai dua, mereka mulai mengintai. Lusi melihat situasi di sekelilingnya untuk memastikan suasana kondisi sepi dari lalu-lalang orang lewat. Setelah dirasa aman, mereka masuk dan mengunci pintu dari dalam. Kemudian, menuliskan kata rusak di luar pintu.
Pintu bilik kamar mandi terbuka. Arinda keluar dengan wajah heran melihat trio tante menor berada di dalam toilet secara bersamaan. Ia mencoba tenang dan tak mengindahkan mereka. Mencuci tangan dan segera bergegas pergi dari sana adalah rencananya saat ini.
Arinda melangkah menuju pintu dan sialnya terkunci. Ia menarik napas panjang kemudian mengembuskan secara perlahan. Gadis itu berbalik.
Trio tante menor pun sudah berdiri tepat di depannya dengan aroma balas dendam.
Mau apalagi mereka, tak bisakah membuat hidup gue tenang sehari aja di Sekolah. Arinda membatin.
“Heh, anak pemabuk!” seru Siska memecah keheningan.
Anak pemabuk? Cih, rupanya kalian mengintai gue, batin Arinda.
“Orang kayak elu gak pantes sekolah di tempat elite. Merusak nama baik!”
Arinda tahu posisinya saat ini sedang tidak menguntungkan. Jadi, ia memilih diam.
“Punya bokap pengangguran dan kerjanya cuma menghabiskan uang di meja judi.” Siska tertawa, “kasihan banget! Ngomong-ngomong, pasti gak ada yang mengetahui kan apa pekerjaan orangtua lu? Kayaknya seru kalo satu sekolah tahu.”
Arinda masih bergeming dan bungkam di tengah ancaman mereka. Gadis itu hanya ingin semua cepat selesai agar ia bisa pergi. Perutnya juga sudah keroncongan meminta jatah makan.
“Terus, bokap lu dapat duit darimana buat main judi dan mabuk-mabukan? Secara, ya, nyokap lu cuma tukang kue,” cibir Lusi.
“Pake nanya, pasti anaknya ini jual dirilah! Dia kan murahan.”
“Kasihan nyokap lu. Udah melahirkan anak pembawa sial!”
Sebuah tamparan melayang di wajah Siska. Mereka terlihat terkejut akan reaksi Arinda yang tiba-tiba.
__ADS_1
“Jaga mulut lu!” Ego Arinda terluka. Gue benci dikatakan anak sial. Siapa yang pembawa sial? Gue bukan anak pembawa sial!
Siska memegangi pipinya. “Sialan! Nyali lu gede juga!”
Arinda meringis, Siska menarik rambutnya dengan cukup kencang. Kepala pun ikut tertarik ke belakang.
Arinda tak bisa berkutik. Karena, Jessica dan Lusi memegangi kedua tangannya itu.
“Cih, dasar pecundang! Beraninya keroyokan. Sini satu lawan satu!”
Siska tertawa, “Kenapa? Takut?”
“Takut sama pengecut macam kalian, gak pernah ada di kamus gue!”
“Kurang ajar! Udah gak berdaya, masih bisa nge-bacot!”
Siska masuk ke bilik kamar mandi dan keluar dengan ember berisi air di tangan.
Air meluncur bebas di atas kepala Arinda. Mengguyur hingga membuat seluruh tubuhnya basah.
Refleks tangan Arinda mencengkeram leher perempuan yang sudah membuatnya kuyup.
Jessica dan Lusi berusaha melepaskan tangan tersebut. Akan tetapi, berhenti ketika ultimatum dari rivalnya menggema.
“DIAM! Berani menolong Siska. Gue bakal mengadukan kalian semua sama Ketua Yayasan dengan tuduhan penganiayaan. Ingat! Anaknya masih cinta sama gue. Dia bakal menurut apa pun permintaan gue. Kalau masih mau sekolah disini, jangan coba-coba ikut campur!”
Sang primadona sekolah itu terlihat sudah sangat geram dengan kelakuan trio tante menor. Arinda berniat memberi mereka pelajaran agar jera.
Gadis itu menyalakan keran dan mengisi ember sampai penuh. Ia langsung membenamkan kepala Siska ke dalam sana satu kali. Kemudian, mengangkatnya dengan seringai mengerikan. Lantas, Arinda menyuruh Siska berdiri.
Mereka keluar dari bilik. Kemudian, Arinda mendorong tubuh Siska ke arah teman perkoncoannya itu.
“Ini belum seberapa! Berani ganggu gue lagi! Lu bertiga bakal mendapat lebih dari ini!” ancam Arinda, "ingat, apa yang gue bilang! Gue gak main-main. Sekarang keluar lu semua!”
Secepat kilat, trio tersebut keluar dari toilet dan tanpa sengaja bertubrukan dengan Nia. Gadis itu terjatuh ke lantai dan mengaduh kesakitan.
Tanpa memedulikan Nia, trio tante menor tersebut segera berlari.
"Sial! Sekarang bagaimana caranya gue keluar dengan baju basah begini," gerutu Arinda.
Tiba-tiba, pintu kamar mandi terbuka dan menampilkan Nia dengan wajah kaget melihat keadaan Arinda yang lepek.
“Nia!” Ah, gue selamat.
__ADS_1
“Arinda! Lu kenapa?”
“Kapan-kapan aja gue cerita. Sekarang, gue minta tolong belikan seragam baru di koperasi, ya. Please!”
Nia mengangguk, mengiakan. Arinda segera memberikan uang kepada temannya.
❄️❄️❄️
Suara teriakan menyatu dengan bunyi pecahan gelas kaca dan barang-barang lain. Suasana kamar terlihat berantakan. Di ujung tempat tidur, isak tangis terdengar jelas.
Tak berapa lama, pintu terbuka menampilkan seorang pria berkacamata dan berkumis tipis. Terlihat dari guratan wajahnya biasa saja melihat kekacauan yang telah terjadi. Pelan, tetapi pasti. Laki-laki itu melangkah mendekati tempat tidur dan duduk di pinggir kasur.
“Ada apa lagi denganmu? Selalu membuat ulah.”
Ia menggelengkan kepala tanpa berniat menyahut.
“Ricko lagi?”
Kali ini, anggukan kepala menyertai tatapan memohon.
“Hentikan usahamu mendekatinya? Kau belum mengenal siapa keluarganya. Jangan terus membuat keributan. Lupakan Ricko!”
“Om, aku menyukai Ricko.”
“Tapi, dia tidak menyukaimu.”
“Tolong aku. Bukankah, Om mengenal orangtua Ricko.”
“Menolongmu untuk kemudian menghancurkan karirku? Sudahlah, hentikan obsesimu.”
“Kenapa Om tidak pernah mendukungku untuk mendapatkan Ricko?”
“Kalian masih sekolah, tugas pelajar adalah belajar. Dan, tugasku menjagamu. Setidaknya, sampai kedua orangtuamu kembali.”
“Jika aku bersama Ricko, bukankah Om sendiri yang akan senang. Aku jamin karier Om, akan semakin naik.”
“Hentikan omong kosongmu! Jangan membuat gaduh lagi atau aku akan mengirimmu ke Asrama.”
“Om ....”
“Bibi akan membawakanmu obat. Lekas minum dan pergi tidur!”
“Aku tidak mau minum obat lagi! Aku tidak sakit!”
__ADS_1
“Tubuhmu memang sehat, tetapi tidak dengan jiwamu.”
“AKU BENCI, OM DENNIS!”