ARINDA

ARINDA
Kejutan pernikahan


__ADS_3

Pesta ulang tahun Hotel Diamond di Bali berlangsung meriah. Seluruh Keluarga Besar Narendra hadir. Media-media baik elektronik maupun cetak ramai meliput.


Para kolega bisnis datang tiada henti. Nama Roni dan Rahardian di dunia pebisnis sudah tak asing lagi. Oleh sebab itu, tak heran jika keduanya memiliki rekanan cukup banyak.


Roni dan Rahardian pun turut sibuk memperkenalkan sang pewaris kepada mereka.


Ricko pun terus menampilkan senyum terpaksa, demi nama baik keluarga. Sejujurnya, ia sudah muak. Pasalnya, banyak dari tamu undangan membawa putri mereka. Lalu, dengan konyolnya menjodohkan.


Bahkan, beberapa dari wanita tersebut tak memiliki rasa malu karena bergelayut di lengan Ricko. Tentu saja, perbuatan itu semakin membuat sang pewaris kesal. Pria itu tak tertarik sama sekali dengan mereka. Ia terlampau setia hanya pada satu orang gadis. Dasarnya juga bukan tipe lelaki yang senang disentuh secara sembarangan.


Berbagai cara Ricko perbuat agar bisa berjauhan dari wanita-wanita agresif tersebut. Mulai dari izin ke toilet, mengambil minuman, sampai terakhir pamit dengan alasan ada telepon.


“Seribu wanita hadir pun, aku tidak akan berpaling darimu, Arinda.”


Rasa tak sabar untuk kembali ke Jakarta semakin menyergap. Ricko rindu wanita kesayangannya.


Rencananya, setelah konferensi pers, Ricko akan kembali ke Jakarta malam ini juga. Dito sudah membantu untuk pemesanan tiket. Sahabatnya tersebut akan menunggu di Bandara Soekarno-Hatta.


Ricko berniat akan menentang siapa pun yang menghalangi kebahagiannya. Meskipun orang tersebut adalah sang opa sendiri. Karena, sampai detik ini pria sepuh itu belum juga mengatakan apa pun perihal restu. Padahal, sudah berkali-kali meminta dengan baik-baik.


Saat beberapa waktu Arinda pergi dari vila, Ricko menceritakan kepada Roni tentang keluarga sebenarnya dari sang pujaan. Berharap pria sepuh itu memberi restu. Karena, syarat calon istrinya harus dari keluarga baik-baik sudah terpenuhi.


Akan tetapi, kenyataan tidak sesuai harapan. Roni diam tak menjawab apa pun. Malah meninggalkan Ricko tanpa mengatakan sepatah kata.


Ricko mengejar, memohon, bersimpuh, sampai menyembah kaki sang opa. Namun, Roni tetap diam tak peduli.


Berkali-kali melakukan hal yang sama, Roni tetap berada pada pendiriannya. Diam seribu bahasa.


🌺🌺🌺


“Ricko.”


Merasa dipanggil, Ricko menoleh dan menghampiri sang kakak.


“Kak Risa.”


“Sedang apa disini?”


“Melarikan diri, Kak.” Ricko berada di rooftop hotel, bersembunyi dari para wanita-wanita yang mengejarnya. “Kakak sendiri sedang apa? Mengumpet dari Kak David?”


Risa memukul pelan lengan Ricko. “Ish, tentu aja enggak. Kakak cari kamu.”


“Tahu dari mana aku berada disini?”


“Bukankah rooftop adalah tempat favoritmu?”


Ricko mengangguk seraya tersenyum. “Ada apa, Kak? Sepertinya serius."

__ADS_1


“Dengarkan Kakak.”


“Sebetulnya, saat ini aku hanya mau didengar, bukan mendengar. Bantu aku, Kak. Bicara pada Opa agar merestui hubunganku dengan Arinda.”


Risa menghela napas berat. “Untuk sekarang, Kakak tidak bisa membantumu. Kondisi Opa tidak memungkinkan kita untuk beradu argumen.”


“Memang ada apa dengan Opa? Aku melihatnya sehat-sehat saja.”


“Opa memang tidak akan mau terlihat lemah di depan kita. Ia terlalu gengsi dan keras kepala. Ya, persis sepertimu.”


“Kak, please. Aku sedang tidak menerima kritik dalam bentuk apa pun.”


Risa tertawa sejenak. Kemudian, menatap serius sang adik. “Dengarkan perkataan kakak baik-baik.”


Risa mengatakan jika Roni syok mendengar Ricko tinggal bersama dengan Arinda di Bali berdua. Sehingga menyebabkan sang opa terkena serangan jantung.


Roni mengetahui kabar tersebut dari orang suruhannya. Ia menerima berita itu dua hari setelah sang cucu tinggal bersama Arinda di Bali.


Roni tipe orang yang menjunjung tinggi nilai-nilai moral. Ia pun memberi beberapa aturan baku kepada seluruh keluarga besarnya. Seks bebas adalah salah satunya. Jika belum menikah dilarang keras untuk tinggal bersama. Kehormatan dan harga diri adalah hal yang harus dijaga. Semua harus patuh.


Aturan-aturan yang Roni buat pun, mutlak tak bisa dibantah atau ditawar. Meskipun terdengar kolot, tetapi itu semua untuk kebaikan keturunan Narendra sekarang dan nanti.


“Kenapa aku tidak tahu Opa masuk rumah sakit sampai di rawat?”


“Opa yang meminta untuk tak memberi tahu siapa pun. Bahkan, Papa tidak mengetahui. Tapi, sekarang semua sudah tahu.”


“Dokter menyarankannya untuk istirahat. Karena, penyakit jantung Opa sewaktu-waktu masih bisa kambuh jika ia mendengar kabar tak mengenakkan.”


“Opa,” lirih Ricko.


“Ketika Opa juga tahu saat di Jogja kalian tinggal bersama, sakitnya kambuh kembali. Tapi, begitu membaik tetap memaksa terbang. Karena, khawatir denganmu."


“Sumpah, Kak. Kami tidak melakukan apa pun di Jogja. Aku dan Arinda justru bertengkar terus dan selama dua Minggu tak saling bicara. Di Bali juga tak terjadi apa-apa.”


Risa menceritakan jika ia juga mengatakan hal tersebut kepada Roni. Kalau di antara sang adik dan Arinda tak terjadi apa pun.


Namun, Roni tetap tak mau tahu. Setelah kondisinya membaik kemudian memutuskan untuk datang lebih cepat ke Indonesia. Menemui anak cucunya yang sudah lebih dulu berkumpul di Jakarta.


Mereka semua telak terkena amarah Roni perihal Jogja dan Bali. Tahu salah, semuanya diam tak ada yang berani menyahut termasuk Rahardian. Apalagi, sudah mengetahui kondisi sang penguasa narendra yang belum pulih dari sakit jantung.


Keesokan hari, Roni, Risa, dan David terbang ke Bali. Dengan sebelumnya mewanti-wanti seluruh keluarga. Agar tidak memberi tahu Ricko perihal kedatangannya itu.


“Ricko, Kakak minta untuk saat ini, jangan melawan Opa. Menurutlah lagi seperti biasa. Karena jika tidak, kakak khawatir Opa terkena serangan jantung lagi.”


“Kak, aku ....”


“Ricko, apa kamu ingin menyesal seumur hidup ketika terjadi sesuatu kepada Opa?”

__ADS_1


Rikco menggeleng. “Tidak.”


“Kalau begitu menurutlah dulu.”


“Kak, aku mencintai Arinda.”


“Kakak tahu.”


“Tolong aku, Kak.”


Risa memeluk erat Ricko. Ia tak tahu harus bagaimana lagi cara menolong kisah cinta sang adik yang tergolong rumit.


🌺🌺🌺


Konferensi pers sudah dimulai. Roni, Rahardian, dan Anggun duduk di depan para pencari berita. Sementara cucu dan cucu-menantu berdiri berjajar di belakang mereka.


Rahardian berbicara lebih dulu. Ia mengucapkan kata terima kasih. Juga mengatakan beberapa hal lain. Tentu, mengenai Hotel Diamond di Bali yang hari ini tepat berusia lima belas tahun.


Kemudian, dilanjutkan oleh Roni. Kata-katanya tak berbeda jauh dengan Rahardian. Namun, perkataan berikutnya membuat para wartawan dan tamu undangan kaget. Bahkan, sang empunya nama yang disebut dan seluruh keluarga besar Narendra turut terkejut.


“Terakhir dari saya mewakili keluarga besar. Saya ingin memberitahukan bahwa bulan depan kita akan mengadakan perhelatan pernikahan. Cucuku, Ricko Bagaskara Narendra, akan mengakhiri masa lajangnya.”


Kejutan yang terdengar bagai petir di siang bolong. Ricko sudah ingin protes. Akan tetapi, ia yang berdiri di tengah-tengah antara Risa dan Rifa urung melakukannya. Karena, lengannya ditahan mereka.


Risa pun berbisik, “Ricko, tahan emosimu. Jangan membuat masalah. Ingat juga, Opa memiliki penyakit jantung.”


Sementara Rifa mengelus punggung Ricko untuk menenangkan sang adik. Kedua cucu-menantu pun saling melempar tatapan bingung.


Anggun dan Rahardian hanya bisa menghela napas lelah. Mereka pasrah sekaligus kecewa. Sebagai orang tua seperti tak memiliki hak atas sang putra, tetapi keduanya bisa apa.


Ingin rasanya keduanya memprotes untuk menolong sang putra. Tapi, sama dengan yang lainnya, kondisi Roni membuat mereka enggan untuk melawan. Takut jika sang penguasa narendra tersebut anfal.


Selesai konferensi pers, Ricko langsung bergegas keluar, pergi dari pesta. Rifa dan Risa mencegah, tetapi justru adu mulut terjadi.


“Ricko, kamu mau ke mana?” Rifa menarik lengan sang adik.


“Ke mana pun, asal tidak disini.”


“Ricko, tetapi Opa sakit.” Risa mengingatkan.


Ricko menutup pintu mobil dengan kencang. Kemudian menunjuk dadanya sendiri. “Di sini aku juga sakit, Kak!”


Risa dan Rifa terdiam.


“Biarkan aku pergi, Kak. Sebentar saja, aku janji akan kembali. Katakan saja pada keluarga kalau aku kembali ke kamar untuk menenangkan diri.” Lanjut Ricko.


“Tapi, Ricko ....”

__ADS_1


“Aku mohon! Anggap saja ini terakhir kali menyusahkan kalian. Setelahnya aku akan diam seperti boneka hidup. Saat itu, silakan permainkan aku sekehendak hati.” Lanjut Ricko lagi kemudian masuk ke dalam mobil dan pergi dari hotel.


__ADS_2