
Hujan deras baru saja berhenti. Namun, langit mendung masih menyelimuti Kota Jogja.
Sore yang dingin itu pun membuat sepasang anak manusia betah berada di balik selimut tebal. Kelelahan yang menyergap dan cukup menguras tenaga siang tadi menjadi alasan utama. Mereka tidur dengan lelap seraya saling mendekap menyalurkan kehangatan.
Sampai dering ponsel mulai membangunkan seorang pria. Netra pekat itu mulai separuh terbuka dan meraba nakas di sampingnya dengan satu tangan bebas. Karena, yang lainnya di gunakan sebagai bantalan kepala si Setan Cantik.
“Halo,” ucap Ricko pelan takut membangunkan wanita di sampingnya yang masih terlelap.
“....”
“Oke.”
Telepon ditutup. Kemudian, menaruhnya kembali ke tempat semula.
Ricko mencoba membaringkan tubuhnya. Namun, ia lupa jika punggungnya masih terasa nyeri. Pria itu memilih memiringkan badan tepat berhadapan dengan Arinda.
Senyum terpatri di wajah tampan itu. Kemudian, menyingkirkan rambut yang menutupi kecantikan Arinda. Ricko mengelus lembut pipi putih bersih itu. Lalu, turun ke bibir merah muda favoritnya. Tanpa sungkan menyentuhnya dengan ibu jari.
Saking kelelahan, Arinda tak terusik sedikit pun oleh aksi Ricko.
Ricko menyunggingkan senyum. Ia mulai bangun, tetapi lebih dulu mengangkat kepala gadis itu dari tangannya. Kemudian, menaruhnya di atas bantal.
Ricko turun dari kasur. Ia berhadap-hadapan pada kaca besar yang terdapat di dalam kamar. Badan shirtless dengan perut six-pack terekspos di cermin. Kemudian, membalik untuk melihat kondisi punggungnya itu.
“Ah, Arinda. Kamu benar-benar setan cantik. Sebegitu sakitnyakah sampai-sampai punggungku tak luput dari cengkeramanmu? Wanita luar biasa,” ucap Ricko tertawa pelan dan berlalu masuk kamar mandi.
🌺🌺🌺
“Tuan Muda, Anda ingin pergi?” tanya Lili, Kepala Pelayan di rumah mewah itu.
“Iya. Jika Nona sudah bangun, katakan aku ada meeting. Dan ... bawakan makanan ke kamarku.”
“Baik, Tuan Muda. Lalu, Anda tak ingin makan lebih dulu?”
“Tidak. Aku akan makan di luar.”
“Baik, Tuan Muda.”
Ricko segera keluar rumah dan mengendarai sendiri mobilnya melintasi jalanan Malioboro. Lagu berjudul Perfect milik Ed Sheeran menemani. Tangannya turut bergoyang di atas kemudi dengan mulut juga mengikuti setiap bait lagu yang keluar.
Satu jam kemudian
“Selamat sore, Pak Ricko.”
Hanya sebuah anggukan kepala yang diberikan tanpa berminat untuk menyahut.
“Anda sendiri, Pak?”
“Tidak usah berbasa-basi. Langsung saja mulai pada inti pembicaraan.”
“Maaf, Pak Ricko.”
Rapat pun di mulai. Wajah dingin tanpa senyuman menyimak serius setiap karyawan yang melakukan presentasi. Kali ini, Ricko tak banyak bicara ataupun membantah.
Sejujurnya, ia sedang tidak fokus. Raganya memang berada di ruang rapat. Namun, tidak dengan sang jiwa.
Tepat pukul sepuluh malam, semua pekerjaan akhirnya selesai. Ricko segera tancap gas. Untuk kali pertama, ia bersemangat pulang.
Sesampainya di rumah, tanpa ragu mengayunkan kaki menuju kamar. Senyum pun merekah. Tapi, baru saja menginjakkan kaki di anak tangga pertama, suara seseorang yang tak asing di telinganya menyapa.
Ricko membalikkan badan. Kemudian, mengikutinya menuju ruang kerja.
Ruangan kedap suara tersebut seketika menimbulkan atmosfer mencekam. Perdebatan mulai berlangsung. Berkukuh pada argumen masing-masing tak terelakkan. Keduanya tidak ada yang mau mengalah. Tatapan tajam dan menusuk saling dilempar.
Suasana di dalam ruangan tersebut, kentara terasa lebih horor dari melintasi perkuburan jeruk purut.
Satu jam berada di sana, Ricko keluar dari ruangan dengan wajah kesal. Sepanjang jalan menuju kamar, bibir itu terus menggerutu. Bahkan, sesekali mengumpat.
Saat membuka pintu kamar, Ricko melenguh, memegang kening, dan memukul angin ke arah bawah.
__ADS_1
“SHIT!”
Masuk ke kamar kemudian meninju dinding beberapa kali. Ricko meluapkan rasa yang sempat tertahan. Tangan itu memar dengan darah mulai keluar. Namun, ia tak peduli. Pria itu butuh pelampiasan.
“SIAL! SIAL! SIAL!”
Kemudian, Ricko melangkah menuju balkon. Membuang napas secara kasar. Menaruh kedua tangan di kantong celana. Menatap langit mendung pun menjadi pilihan. Bahkan, ia tak memedulikan angin yang menusuk kulit.
Ricko POV
Secepat itu waktu berlalu. Rasa senang hanya untuk sesaat saja. Selebihnya adalah harus menurut-manut-anggut.
Apa-apaan itu?!
Dia pikir aku boneka. Seenaknya memerintah. Tidak berperasaan!
Tak semua hal aku mau menurut. Enak saja!
Ini hidupku!
Jiwaku!
Ragaku!
Tidak boleh ada yang turut campur. Siapapun itu!
Tapi, kalau aku melawan, apakah benar konsekuensi itu akan terjadi? Rasanya mustahil.
Tapi, kalau benar terjadi aku pasti turut menyesal.
AH! SIAL!
PILIHAN MACAM APA ITU!
🌺🌺🌺
“Ricko! Ada apa?”
Ricko melangkah mendekat dan bersandar di atas kasur tepat di samping Arinda duduk. Pria itu menatap gadis itu lekat dan cukup lama.
“Ada apa?” tanyanya mengulang.
“Kenapa semalam tidak tidur di kamarku?!”
“Ricko ....”
“Kamu biasa memanggilku dengan kata ‘sayang’ bukan Ricko.”
Ada apa, sih? Aneh sekali. Apa dia kesambet setan tengil di pohon besar dekat taman depan. Tidak biasanya senang dipanggil 'sayang'. Arinda membatin.
Akan tetapi, Arinda memilih mengalah. “Sayang, ada apa? Kenapa pagi-pagi sudah mengomel. Kamu kesurupan?”
“Arinda! Aku sedang tidak ingin bercanda. Jawab saja pertanyaanku?”
Pertanyaan? Yang mana? Duh, kayaknya gue kesambet setan dungu. Buktinya jadi blank begini, gumam Arinda.
Arinda cengar-cengir. “Sayang, pertanyaan yang mana?”
“Kenapa semalam tidak tidur di kamarku?”
“Oh.”
“Jawab!”
Arinda mencubit pinggang Ricko. “Kalau kamu bentak. Aku tidak mau jawab.”
Ricko menutup mata sebentar. Kemudian, membaringkan badan di atas kasur dan menaruh kepalanya di atas pangkuan Arinda.
“Maaf.”
__ADS_1
Arinda mengusap-usap rambut lebat Ricko. “Asisten rumah tanggamu sudah merapikan kamar ini. Jadi, aku kembali.”
“Nanti akan aku buat berantakan. Supaya kamu tidur di kamarku.”
“Ricko ....”
“Panggil aku ‘sayang’ bukan Ricko.”
“Ah, iya. Kenapa tiba-tiba aku jadi malas memanggilmu begitu, ya? Ternyata kurang enak didengar.”
“Arinda!”
Gadis itu tertawa. “Aku benci mengulang pertanyaanku lagi. Tapi, ada apa denganmu?”
Ricko meraih tangan Arinda dan mengecupnya beberapa kali. “Aku ....”
“Tunggu! Kenapa tanganmu memar begini?”
“Tidak apa-apa.”
Arinda berdecak kesal. “Kamu tu kalo marah jangan suka menyakiti diri sendiri. Ini pasti sakit.”
“Tidak sakit.”
“Dasar gengsian. Laki-laki juga sah-sah aja bilang sakit.”
“Iya, sakit sedikit. Puas.”
“Kenapa melukai tanganmu?”
“Karena, semalam kamu tidak ada di kamar. Aku kesal."
“Lalu, kalo aku ada di kamar, kamu mau meninjuku? Begitu?!”
“Enggak, Sayang.”
Sayang? Tumben sekali memanggilku begitu tanpa ada sebab. Kenapa jadi merinding, ya? Arinda membatin.
“Lalu, apa?”
Ricko menatap lekat Arinda. Kemudian, mengangkat tubuhnya sedikit ke atas dan mendaratkan ciuman di bibir merah muda itu.
Arinda terkejut. Ia mencoba mendorong Ricko. Namun, gagal.
Sampai pasokan oksigen dirasa berkurang. Ricko baru melepasnya.
“Bersabarlah beberapa saat saja dengan sifat dan sikapku ke depan nanti. Kamu bisa, ‘kan?”
O, setan dungu! Enyahlah kau dari sel-sel otak cerdas di kepalaku. Karena, aku tidak mengerti maksud dari ucapan Ricko. Mau bertanya? Tapi, takut pria itu akan marah. Lebih parahnya, bisa-bisa keningku disentil. Sakit tauk! batin Arinda.
Semalam, memang Ricko kesal. Setan cantik yang membuatnya bersemangat pulang. Juga harapan agar bisa menurunkan amarahnya tidak berada di dalam kamar. Spontan dinding menjadi korban tunggal letupan emosi.
Satu menit ... dua menit ... tiga menit.
Ricko dan Arinda saling melempar pandangan.
“Masih terasa sakit?”
Sakit? Apa? batin Arinda bingung.
Ia berpikir sejenak baru mengerti. Kemudian, menundukkan wajah. Karena, malu akan kejadian kemarin siang dan hanya menjawab dengan anggukan kepala.
Tanpa sungkan, Ricko mengangkat dagu Arinda dan mendaratkan ciumannya kembali. Gadis itu pun sudah pasrah. Mengingat jika berontak tidak akan menang.
Dan, entahlah? Mau sampai kapan mereka akan berhenti saling bertukar saliva.
Hai, my sweet readers. Di part ini mungkin agak membingungkan, ya. Lanjut baca aja terus, nanti paham kok 😉
Semangat membaca dan happy reading 😉💞
__ADS_1