ARINDA

ARINDA
Ricko Bagaskara Narendra


__ADS_3

HAPPY READING 🤗💞


.


.


.


Satu minggu sebelumnya


Pertengkaran demi pertengkaran terus saja terjadi di antara ayah dan anak. Anggun hanya bisa mengusap dada melihatnya. Bagaimana tidak?! Saat sarapan dan makan malam selalu saling berargumen. Keduanya tetap dengan pendiriannya masing-masing.


“Mau sampai kapan kamu begini, Ricko?!”


Pertengkaran di atas meja makan di mulai. Herannya, mereka bertengkar, tetapi masih bisa menikmati makanan seolah-olah tidak ada apa pun yang tengah terjadi.


“Selamanya aku akan tetap pada pendirianku. Papa tidak bisa memaksa.”


“Kau benar-benar keras kepala persis seperti Roni!”


“Aku akan mengadukan Papa dengan opa. Karena, telah mengatakan kami berdua keras kepala.”


“Memang pada kenyataannya kalian seperti itu!”


Ricko berdecak, tetapi tidak menyahuti ucapan Rahardian. Ia terus melahap iga bakar super lezat buatan sang mama tercinta. Lanjut menyeruput air putih di gelas hingga habis.


“Masakan Mama selalu lezat. Terima kasih, Mam,” ujar Ricko seraya matanya mengerling ke arah Anggun.


“Ricko! Papa bicara denganmu!”


Ricko mendesah, “Pa, aku tidak mau! Aku hanya mau mengurus perusahaan di London.”


“Enak saja! Tidak bisa!”


“Pap ....”


“Sebagai orangtua, kurang menurut apa Papa kepadamu? Katakan?! Pernahkah laki-laki tua ini memintamu melakukan sesuatu!”


Ricko kali ini diam. Ia tahu kalau dirinya sudah keterlaluan, akhir-akhir ini pun selalu melawan sang papa. Tapi, sungguh dirinya tak ingin kembali ke Indonesia. Itu saja!


“Pap, nanti kita bicara lagi. Ayo! Kita istirahat di kamar.”


Anggun menarik pelan tangan Rahardian agar mengikutinya.


Sementara Ricko cukup kesal dengan keadaan. Ia menggebrak meja hingga membuat para maid yang berada di dapur kaget.


“Sial! Maaf, Pap! Anak tidak berguna ini selalu membuatmu kesal.”


❄️❄️❄️


Suara ketukan pintu terdengar. Ricko dengan malas melangkah untuk membuka pintu. Anggun muncul dengan senyuman yang selalu membuat sang putra merasa kesal. Karena, setelah ini akan ada rayuan maut dilayangkan untuknya seperti biasa.


“Ricko ....”


“Mam, jangan memaksaku. Please!”


“Kenapa?”


“Tidak apa-apa.”


“Masih ada cerita cinta tertinggal di Indonesia?”


Ricko merengut, “Tidak ada, Mama.”


“Bohong sama Mama itu harus pintar. Sementara kamu terlalu kelihatan.”


“Aku tidak sedang mencintai siapa pun. Kali ini, mama salah melihat.”


“Oh, ya?”


“Iya.”


“Kalau begitu, dua Minggu lagi kamu berangkat.”


“Mam ....”


“Tidak ada bantahan, Ricko.”


“Mam ....”

__ADS_1


“Ah, anak ini sepertinya mau mengajak Mamanya bertengkar juga.”


“Oke. Fine. Tidak perlu menunggu dua Minggu. Minggu depan aku berangkat ke Indonesia. Puas, Mam.”


Anggun tertawa seraya mengusap kepala sang putra. “Tapi, Papamu mempersiapkan dirimu di kantor masih dua Minggu lagi, Nak.”


“Maksud Mama apa? Aku setuju atau tidak tetap akan berangkat, begitu?”


“Keturunan Narendra yang satu ini memang cerdas. Belum juga Mama menjelaskan, tetapi sudah paham.”


Ricko menggelengkan kepalanya tidak percaya. “Mam ....”


“Semua berkas keberangkatanmu pun sudah rampung terurus. Tinggal mengatur jadwal keberangkatan.”


“Papa dan Mama sedang mempermainkanku?”


“Tidak.”


Tiba-tiba Rahardian muncul dari balik pintu dan menjawab pertanyaan sang putra. Pria itu sedari tadi mendengarkan percakapan mereka berdua. Saat Ricko mengatakan setuju, seketika senyum sumringah terbit. Lalu, masuk ke dalam kamar.


“Papa! Kalian pasti bersekongkol, 'kan?” tuduh Ricko.


“Iya.” Anggun dan Rahardian menjawab secara berbarengan.


Ricko menganga, tak percaya dengan apa yang barusan ia dengar.


“Orang tua yang luar biasa kompak.” Ricko berujar seraya bertepuk tangan dan tersenyum mengejek.


“Terima kasih pujianmu, Nak,” ucap Anggun.


“Mam ....”


“Laki-laki pantang melanggar janji! Apalagi baru saja mengucapkannya dengan yakin!” Rahardian menambahkan.


“Lalu, buat apa Papa setiap hari mengajakku bertengkar? Menyebalkan!”


Anggun mencubit pinggang Ricko hingga mengaduh kesakitan.


“Sakit, Mam.”


“Bicara yang benar dengan Papamu.”


Rahardian memang tidak tahan untuk tidak menggoda sang putra. Si bungsu sangat emosional. Tapi, jika sudah berhadapan dengan wanita-wanita Narendra. Nyalinya menciut!


“Baik-baiklah saat berada di Indonesia. Jangan membuat masalah.” Anggun berpetuah.


Ricko menghela napas berat. “Oke! Siapkan saja pesta penyambutanku di sana.”


“Enak saja! Tidak ada pesta penyambutan ataupun senang-senang. Kamu di sana itu bekerja, Ricko Bagaskara Narendra.”


Ricko mengernyit, “Pap, minimal harus ada pesta perkenalan untukku kepada seluruh karyawan, 'kan?”


“Memang kamu pikir akan menjabat apa di sana?”


Ricko semakin dibuat bingung oleh teka-teki dari setiap perkataan sang papa.


“Tentu saja CEO, menggantikan Papa.”


“Anak muda ini percaya diri sekali. Jangan bermimpi secepat itu untuk menduduki posisiku!”


Ricko tertawa, “Jangan bercanda, Pap?! Lalu, aku akan menjabat apa di sana?”


“Marketing Director!”


Ricko mendengus, “Aku akan mengadu kepada opa kalau Papa memberiku jabatan itu. Aku tidak peduli jika akhirnya Papa kena marah nanti.”


“Baguslah! Lebih cepat mengadu akan lebih cepat kamu menjadi cleaning service,” ucap Rahardian tersenyum menang.


“Mam, apa maksud perkataan Papa?”


Merasa kesal dengan Rahardian yang terus memberi teka-teki. Ricko mengadu kepada sang mama.


“Ricko, kamu ini mentang-mentang cucu kesayangan opa dan anak kesayangan Mama. Lalu, seenaknya mengadu ke sana-sini?!” seru Rahardian kesal.


“Aku memang perlu perlindungan. Takutnya Papa menyiksaku dengan pekerjaan aneh di Indonesia nanti.”


Satu sentilan mendarat tepat di kening Ricko. Siapa lagi yang berani melakukannya kalau bukan Anggun. Dan, lagi-lagi pria itu hanya bisa mengaduh kesakitan seraya mengusap dahi.


“Jaga bicaramu, Ricko. Apa yang Papa bilang benar.”

__ADS_1


“Iya. Maaf, Pap. Lalu, kenapa bisa seperti itu?” tanya Ricko tak terima.


“Papamu memulai karirnya dengan mencuci piring di hotel milik opa. Baru naik pangkat menjadi tukang fotokopi di kantor. Kemudian, menjadi staf keuangan


Lalu, menjabat Direktur Keuangan. Terakhir ini sampai sekarang baru menjadi CEO dan co-Founder,” terang Anggun.


“Apa! Aku tidak percaya opa sekejam itu dengan anaknya sendiri? Masa harus memulainya dengan mencuci piring?"


“Kamu bisa menanyakan opa jika tidak percaya. Tapi, jangan salahkan Papa jika setelahnya kamu berakhir di toilet umum atau cucian piring. Masih bagus orangtuamu ini memberi jabatan enak. Walaupun bukan CEO!” Rahardian berseru.


Ricko menatap Anggun meminta pembenaran. Wanita itu mengangguk.


Ricko mengembuskan napasnya dengan kasar. “Oke! Tapi, aku hanya mau tinggal di apartemen. Aku tak ingin banyak yang menganggu. Itu permintaanku yang tidak bisa kalian bantah!”


“Tidak masalah,” sahut Rahardian.


Kemudian, Anggun dan Rahardian keluar dari kamar Ricko. Meninggalkan sang putra dengan wajah merengutnya.


Usai mendapat kabar baik. Anggun segera menelepon Rifa.


“Halo, Rifa!”


“Halo, Mam! Bagaimana Ricko? Apakah mau kembali ke Tanah Air?”


“Tentu saja mau.”


“Akhirnya, anak nakal itu menurut juga.”


“Rifa, yang kamu sebut nakal itu anak Mama.”


“Dan adikku.”


Mereka berdua tertawa.


“Bagaimana rencana kita? Teruskan atau ....”


“Teruskan, Mam. Semua harus berjalan sesuai rencana.”


“Oke!”


Tiga orang wanita dalam keluarga Rahardian jika sudah bersatu. Sudahlah! Semua rencana pasti akan berhasil. Ide gila dari kedua putri di dalam keluarga itu selalu muncul jika mengenai sang adik. Tentunya, untuk kebaikan.


Meskipun berjauhan, tetapi beradik-berkakak itu selalu saling menyayangi dan kompak. Anggun dan Rahardian pun merasa bersyukur memiliki tiga orang anak yang akur. Bahkan, selalu saling menolong.


Kali ini, orang yang akan mereka tolong adalah si bungsu. Anak yang sulit di atur dan keras kepala. Tapi, sangat lembut kepada semua wanita dalam Keluarga Narendra. Pria itu tak pernah berbicara dengan nada tinggi kepada wanita-wanita tersebut.


Para wanita itu pun bertekad akan membuat binar kebahagiaan kembali di dalam diri si bungsu. Karena, sepuluh tahun terakhir. Hidupnya begitu datar dan tak bergairah. Aura bercahaya yang biasa terpancar sudah redup berganti dengan kemurungan.


Untuk semua rencana agar berjalan lancar, Rahardian pun dipaksa untuk setuju dan membantu. Karena, hanya pria itu yang bisa mengatur semua hal di kantor selain Roni. Laki-laki itu pun ingin menolak wanita-wanita kesayangannya, tetapi hampir sama dengan Ricko. Ia tak memiliki nyali lebih untuk melawan sang ratu dan kedua princess-nya.


❄️❄️❄️


Enam hari kemudian


Jam dua pagi, suasana bandara Soekarno-Hatta terlihat sepi. Waktu yang sengaja Ricko pilih saat mendarat. Maksudnya, agar tidak melihat terlalu banyak orang wara-wiri.


Karena, mood-nya sedang tidak baik. Mungkin akan seterusnya buruk. Wajah tak bersahabat pun dengan sengaja ditampilkan. Ricko memang tak berniat beramah-tamah juga. Pikirnya, sudah mau kembali ke Tanah Air saja sudah bagus. Jadi, jangan meminta hal yang lainnya seperti senyuman.


Ricko bertekad akan terus memasang wajah dingin. Bahkan, pria itu mulai merencanakan untuk membuat semua orang yang berada di dekatnya tak betah. Aura gelap yang selama ini tak ada, sedikit demi sedikit sengaja ia munculkan.


Sejak sepuluh tahun terakhir, hidupnya memang serasa kosong. Ingin bahagia? Tapi, ia sudah lupa bagaimana caranya.


Bicara seperlunya. Bahkan, tertawa atau tersenyum saja sekedarnya. Itu pun hanya keluarga juga sahabatnya yang dapat melihat hal tersebut.


Oleh karena itu, pihak keluarga menjadi miris melihat kondisi Ricko saat ini. Mama anggun pun hampir setiap malam menangisi anaknya. Sampai akhirnya, kedua putrinya meyakinkan akan mencairkan semua kebekuan itu menjadi hangat kembali.


Dan ....


Sekaranglah saatnya mengembalikan semuanya seperti dulu. Apa yang telah hilang akan kembali menemukan. Sesuatu yang dulu pergi akan segera bertemu.


Hati yang tak bertuan itu akan segera bertemu kembali kepada pemiliknya!


Mamacih sudah mampir, Kakak 🤗💞


Saranghaeyo 💞😘


Jangan lupa vote-nya 🤗💞


Jangan lupa klik tombol like-nya juga, ya 🤗💞

__ADS_1


__ADS_2