
Tumpukan dokumen baru separuh jalan diperiksa. Belum lagi harus mengecek email-email masuk. Pekerjaan tiada kunjung ada habisnya.
Padahal, besok sudah harus tiba di Jogja pukul sepuluh pagi.
Ricko merenggangkan sendi-sendi di tubuhnya agar rasa pegal yang mulai menjalar sedikit berkurang. Dari pagi sampai jam tiga sore, ia belum beranjak dari kursi kerjanya. Jadi, wajar saja jika badannya terasa kaku.
“Ah, benar-benar menguras waktu, energi, dan pikiran. Bagaimana menjadi CEO? Mungkin aku sudah mati kelelahan. Pantas saja aku tidak langsung di tempatkan di posisi tersebut. Memang harus banyak belajar dari bawah.”
Kantuk pun turut melanda. Ricko bangkit dari duduknya dan berjalan menuju pantry untuk membuat kopi. Tapi, baru saja ingin masuk. Tiba-tiba, ia menghentikan langkah saat nama Arinda disebut.
Mencoba mencuri dengar apa yang mereka bicarakan. Telinga pun di pertajam agar terdengar jelas.
“Satu bulan gak bakal melihat Arinda. Jadi, males ngantor, ya.”
“Sebulan puasa liat wanita tercantik. Kita para cowok sebagai fans berat Arinda merasa sepi dan sedih banget.”
“Padahal, Arinda senyum aja gak pernah, ya. Tapi, bisa bikin cowok-cowok kayak kita gini kehilangan banget.”
“Kalo perempuan mahal wajar, sih, senyumnya susah. Biar gak di goda sama cowok-cowok model kayak elu berdua. Si Arinda tu 'kan cantik parah dan berkualitas pulak. Kerjanya bagus, pinter juga. Gue cewek aja pengen banget jadi dia. Nyaris sempurna!”
“Beruntung banget Pak Ricko, bisa memiliki hati Arinda. Wanita berlian begitu susah pasti waktu menaklukannya. Hebatlah bos kita itu bisa membuatnya bertekuk lutut.”
“Kalo gue bilang, mereka berdua sama-sama beruntung! Satu cantik ... satunya lagi ganteng, mana tajir. Kalo yang suka Pak Ricko juga pasti beraninya dalam hati doang. Secara anak bos! Beda kalo naksir Arinda, banyak yang pada terang-terangan.”
“Bener, tuh! Hampir semua cowok single di gedung ini naksir sama Arinda. Korban ditolak gak usah ditanya lagi. Banyak banget! Eh, taunya jadian sama Pak Ricko. Ngiri banget gue.”
“Mereka memang cocok, sih. Sama-sama dingin kayak es.”
“Eh, biasanya yang cool begitu, tipe-tipe setia. Udah gitu gue denger, mereka pernah satu sekolah. Mungkin dulu berpacaran juga. Jadi, sekarang kayak cinta lama belom kelar.”
“Bisa jadi!”
“Kebayang gak, sih, mereka kalo pacaran kayak gimana? Dua orang dingin bertemu. Pada diem atau ....”
“Hus! Udah bubar-bubar sana balik lagi kerja. Enggak yang perempuan ... enggak yang laki juga pada gosip aja. Nanti ketauan bos baru tau rasa. Di pecat kalian!”
“Bukan gosip Pak Yadi. Tapi, itu fakta. Arinda dan Pak Ricko sama-sama pasangan serasi. Cocok!”
“Ya, sudah. Ayo, cepat pada keluar! Sudah selesai kopinya, 'kan?”
Dua orang wanita dan dua orang laki-laki keluar dari pantry dengan membawa secangkir kopi di tangan masing-masing. Ricko pun meminggir ke balik dinding agar tidak ketahuan sedang menguping.
Usai memastikan semuanya pergi, Ricko masuk ke pantry.
__ADS_1
Pak Yadi terkejut! Pekerja office boy itu terlihat gugup. Kemudian, mengira-ngira dalam hati apakah bosnya mendengar obrolan tadi.
“P-pak Ri-ricko ....”
“Bisa buatkan saya kopi hitam yang kental. Sedikit gula saja.”
“Bi-bisa, Pak. Se-sebentar saya buatkan.”
Yadi membuatkan kopi pekat itu dengan gemetar. Takut tiba-tiba surat pemecatannya dan karyawan-karyawati yang tadi bergosip tentang si bos terbit.
Dia memang tidak ikut bergosip ria. Tapi, berada di dalam ruangan yang sama dengan para penggosip takut disebut turut andil.
Bagaimanapun juga, Ricko merupakan salah satu pemilik perusahaan besar ini. Dan, semua orang pun cukup tahu tabiat buruknya sangat temperamen. Walaupun belum pernah terdengar memecat seseorang. Tapi, waspada sepertinya sangat diperlukan Yadi. Karena, siapa tau menjadi orang pertama yang akan dipecat.
“Siapa namamu?” tanya Ricko seperti biasa, bernada dingin.
Aduh ciloko! Beneran mau di pecat sama Pak Ricko. Makan apa nanti istri dan anak di rumah. Ya, Allah Gusti. Nasib gini-gini amat! Mau nyari kerja ke mana lagi. Yadi membatin seraya meletakkan cangkir dengan tangan gemetar ke atas meja persis di depan atasannya.
Usai meletakkan kopi tersebut. Refleks Yadi berlutut bersimpuh di kaki Ricko memohon ampunan!
“Maap, Pak Ricko. Ampun! Tolong jangan pecat saya. Saya punya empat orang anak kecil-kecil yang masih butuh di kasih makan, jajan ke warung tetangga, kadang ke alpahmarat, kuota buat maen epbehh, sekolah, dan banyak lagi.”
Ricko mengernyit heran. “Bangun, Pak. Duduk!” titahnya melotot.
“Tadi apa yang saya tanyakan?”
“Nama saya, Pak Ricko.”
“Kau tidak menjawabku?!”
Suara itu memang pelan, tetapi sangat penuh penekanan dan menusuk. Yadi semakin gemetar. Dengkulnya kembali melemas. Saking takutnya, denyut nadi pun terasa berhenti sejenak.
“Ya-ya-ya-di, P-pak.”
Tatapan tajam dilayangkan Ricko. Kemudian, pria itu keluar dari pantry dengan membawa secangkir kopi.
“Loh, Pak Ricko, kok, keluar. Ini gak jadi di pecat? Syukur, masih bisa cari duit. Kapoklah! Nanti kalo pada bergosip lagi, bakal bapak usir aja!”
Satu jam kemudian
Ucapan beberapa karyawan di pantry tadi, sangat menganggu pikiran Ricko. Sudah satu jam di depan meja kerjanya dengan pekerjaan yang belum selesai, tetapi ia hanya diam saja seraya bertopang dagu.
Ricko POV
__ADS_1
Cantik? Iya, aku mengakui gadis itu sekarang memiliki kecantikan luar biasa! Tak heran jika banyak pria mengagumi.
Tapi, sebutan perempuan mahal dan wanita berlian. Sangat menganggu! Entah, apakah gadis itu sudah berubah?
Dan ....
Benar saja perkataan Arinda kemarin. Pesonanya sulit untuk ditolak oleh laki-laki. Ya, kamu memang memesona.
Lalu, gosip darimana kalau aku dan Arinda berpacaran? Aneh sekali! Terserah sajalah!
Tapi ....
Bagaimana nasibku di Jogja nanti. Satu bulan harus bersama. Semoga saja setan-setan lengah akan kewajibannya menganggu manusia. Jadi, tak akan ada yang terjadi di antara kami.
Dan, engkau Rahardian! Sungguh orangtua yang luar biasa! Apakah papaku sendiri ingin anak laki-laki tampannya ini menghamili anak orang?! Bujang dan gadis harus tinggal satu atap? Bayangkan saja sendiri apa yang akan terjadi?!
Ah, saat di sana, aku benar-benar harus menjauhinya. Berbahaya jika harus dekat-dekat dengan Arinda.
Meskipun kemarin aku sudah memberikan ultimatum, tetapi justru gadis itu malah menantang. Bahkan, dia sempat mengancam! Aku hanya takut dia akan merealisasikan ancamannya saja.
Flashback on
“Kau harus peduli. Karena, mungkin saja di Yogyakarta nanti aku akan mati-matian merayumu. Dengar, Sayang! Tidak ada laki-laki yang bisa menolak pesonaku. Aku akan mendapatkanmu. Apa pun caranya! Jadi, bersiap saja, Ricko Bagaskara!”
Flashback off
Bagaimanapun aku laki-laki normal! Pasalnya, sejak pertama kali pertemuan kami setelah bertahun-tahun. Gesture tubuh dan ucapan gadis itu selalu saja memberi aksen menggoda. Bibirnya juga beberapa hari lalu sudah aku rasakan kembali. Kenyal, lembut, manis, membuat ketagihan dan ....
Tidak ... tidak ... tidak!
Sial! Aku jadi berkhayal yang iya-iya. Bikin frustrasi aja!
Awas, ya, Pap! Kalau sampai aku benar-benar lepas kendali sehingga khilaf! Engkau adalah orang yang pertama kali akan kuseret untuk bertanggung jawab kepada opa. Pasalnya, pasti aku akan langsung di coret dalam daftar nama Keluarga Narendra. Tentu secara tidak hormat!
Ah! Menjengkelkan!
Arinda, semoga saja kamu tidak melakukan hal-hal yang akan membuat aliran darahku memanas. Kemudian, membuatku menggila untuk menyentuhmu.
Semoga juga, baik kamu ataupun aku tetap berada dalam koridor kewarasan. Jadi, tidak ada yang perlu dikhawatirkan akan terjadi.
Kayaknya, aku perlu membentengi diri agar kuat menghadapi godaan wanita cantik sepertimu. Akan aku pikirkan caranya nanti.
Oke, Ricko! Sekarang, lebih baik cepat menyelesaikan pekerjaan yang tidak ada habisnya ini. Melelahkan!
__ADS_1