ARINDA

ARINDA
Ambisi


__ADS_3

Dua buah koper besar dan satu berukuran kecil sudah berjajar rapi. Semua pakaian, sepatu, dan barang penting lainnya juga sudah terpilah-pilah. Tinggal menyatukan semuanya dan packing selesai.


Senyum tak berhenti tersungging dari bibir merah muda itu. Wajah sumringah semakin kentara terlihat. Lelah seharian bekerja pun tak menyurutkan semangat.


Ricko ... kita akan bersenang-senang, gumam Arinda.


“Arinda!”


Suara Dini membuyarkan lamunan Arinda. Gadis itu mendongakkan kepala seraya tersenyum.


“Mbak Dini!”


“Sepertinya kamu sedang bahagia?”


“Iya, Mbak.”


“Kenapa?”


“Karena, mulai lusa nanti, di pagi hari, siang, sore, dan malam akan selalu bertemu Ricko.”


Dini terdiam. Hatinya terasa ada yang mengganjal. Perasaan tak enak, entah apa?


Gadis itu memang bukan adik kandungnya, tetapi rasa sayangnya hampir sama. Oleh karena itu, kekhawatiran pun ada. Bahkan, sejak surat tugas itu ia baca, perasaan gundah gulana langsung menghinggapi.


“Apa saja yang kamu bawa?” Dini mencoba untuk mengalihkan pikirannya.


“Standar orang pergi pada umumnya aja, Mbak. Aku tidak mau membawa banyak. Berat!”


“Tiga koper itu banyak Arinda.”


Arinda tertawa. “Aku sekalian bawa alat kerja. Biar tidak perlu mencari-cari di sana. Takutnya gak ada.”


Dini mengangguk. “Kamu sudah makan?”


“Aku ... sudah. Jangan bilang kalau Mbak belum? Nanti aku adukan kepada Mas Fajar kalau terus saja telat makan!”


“Kalian ini, kalau sudah urusan begini kompak banget.”


“Tentu saja! Karena kami sangat menyayangi Mbak Dini dan calon debay. Oh, iya. Bagaimana si ceriwisku yang cantik? Ah, satu bulan gak bakal ketemu. Pokoknya setiap malam harus janji untuk video call sebelum Febi tidur.”


“Iya, pasti. Embak juga gak mau pusing oleh permintaan anak itu yang selalu maunya menempel sama Aunty-nya yang jomlo.”


Arinda menggeleng. “Tenang, Mbak. Sebentar lagi aku gak bakal jomlo.”

__ADS_1


“Oh, ya?”


“Iya.” Arinda tersenyum senang.


“Jadi, sudah mulai membuka hati untuk dosen genit itu?”


Senyum Arinda menghilang berganti dengan cemberut. “Mbak, bukan Pak Alfian. Aku tidak menyukainya.”


“Tapi, dia menyukaimu.” Arinda, Mbak tau hanya Pak Ricko yang ada di hatimu. Tapi, rintanganmu terlalu berat untuk mendapatkan pria itu. Mbak gak tega melihatmu sedih.


“Mbak, hatiku hanya untuk Ricko.”


Dini tersenyum sekaligus merasa nyeri di dada. Rasanya ingin menampar pipi mulus itu agar sadar siapa orang yang sedang ia cinta. Terlalu rumit dan pasti perjuangannya akan penuh air mata.


“Kenapa tidak memilih yang pasti-pasti saja. Di lihat dari perilakunya, kayaknya dosen itu sangat mencintaimu dan ingin serius.”


“Mbak ... tolong jangan mulai.”


“Arinda, Mbak gak mau melihatmu terluka. Jangan kamu pikir, Mbak tidak tau perihal sikap kasar Pak Ricko kepadamu.”


“Mbak, aku tidak apa-apa.”


“Arinda, Mbak gak bisa liat kamu terus-menerus diperlakukan seperti itu. Mbak menganggapmu sudah seperti adik kandung.”


“Mbak ....”


“Mbak ....” Arinda tak meneruskan kata-katanya. Aku akan mencari kebahagiaanku sendiri. Tak ada yang boleh menghalangi keinginanku. Siapa pun itu, tak akan aku biarkan menjadi penghambat!


Hening!


Sepuluh menit dalam diam. Tak ada satu pun di antara mereka yang berbicara. Sampai suara Dini memecah keheningan.


“Arinda, menurutlah!”


Gadis itu menunduk dalam. Tangannya mengepal erat. Lelah! Ia sudah capek untuk menurut.


Arinda menghela napas berat. “Mbak, sejak kecil ... aku adalah anak penurut. Bahkan, di jual pun masih menurut.” Jiwa dan ragaku sudah terkungkung belasan tahun oleh Papa Erwin. Dan setelah bebas, aku tak akan membiarkan siapa pun mengungkungnya kembali.


“Arinda, bukan begitu maksudnya?”


“Cita-citaku ingin menjadi seorang dokter. Tapi, hidupku yang berliku-liku membuatnya harus kandas. Lalu, setelah itu tak tau mau apa? Aku hanya mengetahui bahwa Ricko saja yang bisa membuat gadis menyedihkan ini bahagia.”


“Arinda, jangan seperti ini ....”

__ADS_1


“Mbak, jangan lagi menyuruhku untuk patuh. Aku juga ingin bahagia. Biarkan gadis bodoh ini mengejar cinta Ricko.”


“Mau sampai kapan kamu begini?”


“Sampai Ricko menikah dan itu bukan denganku. Saat itu tiba, aku akan pergi menjauh. Aku berjanji, Mbak,” ucap Arinda lirih.


“Rin ....” Dini menitikkan air mata. Sakit rasanya melihat gadis ini tak pernah merasakan bahagia sejak ia kecil.


“Jadi, biarkan gadis tak tau diri ini mencoba berjuang lebih dulu untuk mendapatkan kebahagiaan tersebut.”


“Rin ....”


“Sekarang, aku tak akan mau mendengarkan kata-kata orang lain, termasuk Mbak Dini.” Maaf, Mbak. Kali ini, aku harus mengabaikanmu. Sudah saatnya untuk mengikuti kata hatiku.


“Embak hanya mau melihatmu bahagia. Itu saja.” Hati Dini pilu, tak kuat menahan sesak di dada.


“Kebahagiaanku ada pada Ricko,” ucap Arinda semakin lirih seraya menghapus bulir air mata yang telah jatuh di pipi.


“Tapi, jangan merendahkan martabatmu. Kamu wanita terhormat.”


Demi bisa bersama Ricko, aku sudah tak peduli tentang martabat seorang wanita. Persetan dengan semuanya! batin Arinda kesal.


“Ricko adalah denyut nadiku. Oleh sebab itu, sampai detik ini aku masih bernapas. Kalau bukan karena dia, mungkin aku sudah mengakhiri hidup sejak lama.”


“Rin ....”


“Mbak ... aku cinta Ricko. Aku akan menelan semua rasa pahit sikapnya yang tak menyenangkan. Aku akan baik-baik saja. Jangan khawatir.”


“Kenapa kamu jadi ambisius seperti ini?”


Ambisius? Ya, benar. Kali ini aku mengakui jika memang sangat berambisi! Aku tak peduli orang mau berkata apa. Sudah saatnya mewujudkan mimpiku menjadi kenyataan, gumam Arinda.


Arinda menatap Dini dengan sorot mata sendu. “Mbak, pernahkah aku terlihat berambisi untuk sesuatu hal. Bukankah, aku menjalani hidup dengan datar. Lalu, sekarang ketika aku bersemangat mengejar sesuatu, apakah salah?”


Dini mengalah. Ia tak bisa memaksakan kehendak seseorang. Arinda sedang di butakan oleh cinta dengan dalih mencari kebahagiaan. Jadi, percuma saja jika memaksanya untuk mengerti.


“Ya, sudah. Kalau itu sudah menjadi tekad bulatmu. Jaga dirimu baik-baik di sana. Telepon Mbakmu ini jika terjadi sesuatu atau memiliki kesulitan.”


“Pasti, Mbak.”


“Mbak juga mau berpesan, simbol harga diri dan kehormatan wanita salah satunya adalah keperawanan. Jadi, jangan memberikannya begitu saja kepada siapa pun. Meski kamu mencintainya. Jaga itu untuk suamimu kelak. Berjanjilah, Arinda!" Dini berseru seraya memegang erat tangan sang adik angkat.


Arinda terlihat berpikir sejenak. Lalu, mengangguk. Kemudian, langsung memeluk erat Dini.

__ADS_1


Wanita berbadan dua itu semakin berurai air mata. Dadanya terasa terimpit.


Sakit hati ini mendengarmu terlalu pasrah pada hidup. Mengapa harus begini nasibmu? Haruskah sampai menggantungkan kebahagiaan kepada orang yang belum tentu membalas? Kenapa kamu bisa sekuat ini menghadapi cobaan bertubi-tubi dan seorang diri. Tapi, setidaknya kamu sudah berjanji akan menjaga kesucianmu. Mbak, bisa sedikit bernapas lega, batin Dini.


__ADS_2