ARINDA

ARINDA
Kebenaran


__ADS_3

Erwin sedang terduduk di atas kasur memandangi sebuah bingkai foto keluarganya. Pigura berukuran 3R tersebut menampilkan mereka bertiga. Gambar itu di ambil ketika kehidupan masih berjaya.


“Pa, aku pulang.”


Saking serius memandang dengan pikiran berkelana. Erwin sampai tidak menyadari jika sang putri sudah pulang.


“Pa,” panggil Arinda lagi mendekati Erwin dan memeluk sang papa dari samping.


Erwin tersentak kaget kemudian menoleh. “Arinda.”


“Papa sedang merindukan Mama?”


“Iya.”


“Aku pun. Mama di sana pasti senang melihat kita bersama. Jadi, Papa tidak boleh sedih, ya.”


“Iya, Nak.”


“Aku mau mandi dulu. Setelah itu kita makan malam bersama.”


Erwin mengangguk.


Satu jam kemudian


Usai makan, Arinda merapikan semuanya dan duduk bersama sang papa di balkon. Berbincang-bincang tentang banyak hal. Sampai kepada perbincangan mengenai Ricko, wajah gadis itu berubah sendu.


“Kamu masih bersama anak itu? Siapa namanya? Papa lupa.”


“Namanya Ricko. Kami sudah putus.”


“Pasti karena Papa kalian putus?”


“Ricko itu seperti langit sementara aku hanya butiran debu. Jika tertiup angin kemudian terbang setinggi apa pun, tetap tidak akan sampai menembus ke sana. Terlalu jauh untuk di jangkau, Pa.”


Erwin terdiam menatap sang putri kemudian berkata, “Bukankah kalian saling mencintai. Sepertinya, Ricko tidak mempermasalahkan status sosial ataupun ekonomi seseorang? Buktinya, dia dari dulu sudah menerimamu, ‘kan?”


“Memang tidak, Pa. Keluarganya juga tidak.”


“Lalu, masalahnya di mana?”


“Masa lalu kita adalah masalahnya, Pa.” Arinda menatap lekat Erwin.


Kepercayaan diri gadis itu sudah terlanjur hilang. Padahal, Shavic pun memiliki masa lalu lebih kelam daripada Arinda. Sayangnya, ia tak mengetahui hal tersebut. Seandainya saja tahu mungkin perasaan rendah diri akan langsung lenyap. Berganti dengan senyum mengembang.


Erwin tersenyum getir. “Maafkan Papa, Nak. Ini semua salah Papa.”


“Tidak perlu meminta maaf, Pa. Sekarang aku hanya ingin membahagiakan Papa. Itu saja. Aku sudah tidak peduli lagi dengan asmara.”


Pikiran Erwin kembali berkelana. Ia ingin mengatakan semuanya kepada sang putri. Namun, takut menyakiti hati Arinda.


Akan tetapi, Erwin terus berpikir. Arinda, gadis kecil yang dulu di bawa Nita ini harus berbahagia. Walaupun harus melaluinya dengan rasa pahit. Kejujuranlah kepahitan tersebut.

__ADS_1


Erwin hanya berharap Arinda senang bahwa dirinya bukanlah ayah kandungnya. Dan, hubungannya dengan Ricko akan kembali membaik.


“Nak ...,” Erwin masih mencoba meyakinkan hatinya jika ini adalah waktu yang tepat untuk jujur.


“Pa, mau bicara apa?”


“Sepertinya sekaranglah saatnya kamu mengetahui semua.”


Arinda mengernyit. Hatinya mendadak resah. “Katakan, apa yang harus aku tahu?”


“Maafkan Papa dan Mama tidak pernah memberi tahu hal sepenting ini sebelumnya kepadamu.”


“Bisa langsung pada intinya saja, Pa.”


“Kamu ... kamu ....”


“Pa, bicara saja. Aku akan mendengar.”


Hati Erwin mulai gelisah. Ia masih menguatkan hati dan memilah omongan agar tidak terlalu menyakiti sang putri.


“Setelah mengatakannya, kamu boleh membenci Papa. Bahkan, mengusir pun Papa akan pergi.”


“Sepahit itukah? Sampai Papa yakin sekali aku akan melakukan kedua hal tersebut.”


“Nak ....”


“Katakan saja, Pa.” Arinda mulai tidak sabar.


Hening!


Selang sepuluh menit kemudian suara tawa menggema. Arinda tertawa tiada henti. Ia beranjak bangun dan menatap lurus ke depan.


“Lelucon macam apa yang sedang Papa mainkan? Aku sudah menerimamu dengan hati lapang. Jadi, berhenti untuk menyakitiku. Aku mohon, Pa,” lirih Arinda di akhir kalimat. Perasaan takut jika hal tersebut adalah benar mulai menyerang.


“Maaf, Nak. Tapi, itu adalah kebenaran.”


Hening!


Cairan bening mulai mengalir. Tawa tadi sudah berubah menjadi tangis. Arinda luruh ke lantai. Bibirnya bergetar. Dadanya terasa sangat sesak. Ia menunduk. Berulang kali menggelengkan kepala. Mengacak-acak rambutnya kemudian mengusap wajahnya dengan kasar.


Melihatnya, Erwin hanya bisa diam. Akan tetapi, ia tak memungkiri jika hatinya ikut remuk melihat kondisi sang putri saat ini.


Dengan bulir air mata yang masih berderai, Arinda mengangkat kepalanya, menatap lekat sang papa. “Lalu, siapa kedua orangtuaku?” tanyanya lirih.


Erwin menggeleng. “Papa tidak tahu.”


Bagai berdiri di bawah tanah lapang dengan langit gelap memayungi. Kemudian, tanpa adanya hujan terlebih dahulu, petir datang menggelegar menghantam hingga terkapar. Rasanya begitu sakit. Bahkan, seperti mau mati.


Arinda menghampiri Erwin dan bersimpuh di bawah kaki sang papa. Gadis itu menangis sejadi-jadinya seraya memeluk kedua kaki tersebut.


“Katakan ini hanya bualan. A-atau ... a-atau ... ka-katakan saja jika semua bohong. A-aku akan memaafkanmu, Pa. KATAKAN!” Tubuh Arinda bergetar hebat. Ia menumpahkan semua rasa lewat air mata yang terus saja mengalir. Bahkan, semakin deras.

__ADS_1


Arinda semakin membenci takdirnya. Kejamnya kehidupan kepadanya seperti tiada ada habisnya. Bagaimana tidak, ia bukan anak kandung orangtua yang sudah merawatnya sejak kecil. Bahkan, asal-usul dari mana keluarganya berasal tak tahu.


Arinda merasa ia memang bukan anak yang diinginkan. Bisa jadi dirinya adalah anak hasil hubungan gelap. Atau benar anak pembawa sial sehingga harus dibuang. Pikiran-pikiran buruk gadis itu terus saja menari di atas kepalanya.


Perihnya kenyataan seperti luka basah yang tersiram air jeruk nipis. Membuatnya semakin sakit sampai meringis.


Erwin membangunkan tubuh Arinda kemudian memeluknya erat. Mengusap punggung yang masih bergetar itu.


“Papa minta maaf. Begitu tidak pedulinya kepadamu dulu. Sampai-sampai tidak pernah bertanya dari mana Nita menemukanmu. Saat mulai menyayangimu, tetapi nahas musibah Papa dipecat dengan tuduhan penggelapan uang datang. Dan, Papa kembali mengabaikanmu.”


Arinda melepaskan pelukan sang papa. Menatapnya sendu. Meraih kedua tangan Erwin kemudian mengecupnya. Lalu, menggenggamnya erat.


“Terima kasih sudah mau menerimaku di rumahmu. Aku mengerti sekarang kenapa dulu Papa bersikap begitu. Dan, ya, itu mungkin sudah sepantasnya aku dapatkan. Pasti Papa marah dengan Mama karena telah membawaku pulang, ‘kan? Aku minta maaf telah menyusahkanmu, Pa. Maaf.” Tubuh Arinda kembali bergetar. Ia kembali menumpahkan air mata.


Erwin menggeleng kemudian memeluknya erat. “Tidak, Nak. Kamu tidak pernah menyusahkan. Hanya saja Papa yang jahat.”


“Tidak. Papa dan Mama Nita adalah dewa penolongku. Terima kasih mau merawatku. Mungkin jika kalian tidak melakukannya, bisa jadi sejak kecil aku hidup menggelandang atau sudah mati.”


“Arinda, Papa menyayangimu, Nak.”


Arinda semakin tenggelam dalam tangisan. Dengan bibir bergetar ia berkata, “Aku pun menyayangimu, Pa.”


“Papa akan selalu menjagamu. Papa janji akan menebus dosa masa lalu kepadamu.”


Arinda melepaskan pelukan. “Ya, kita akan terus bersama dan saling menjaga. Tapi, sepertinya aku butuh udara segar agar pikiran ini tenang. Aku keluar sebentar, Pa.”


“Arinda.”


“Aku akan kembali. Papa tidak perlu khawatir.”


Arinda masuk, ia mengambil jaketnya dan berlalu pergi. Ia butuh pelampiasan.


Gadis itu tak mau Erwin melihatnya semakin terpuruk akibat berita kebenaran tersebut. Arinda tak ingin sang papa mengasihaninya.


Melajukan si Brown tak tentu arah. Derai air mata kembali mengalir. Berkendara dalam keadaan menangis membuat mata Arinda tidak fokus.


Arinda memutuskan untuk memberhentikan sesaat laju si Brown. Meminggirkan motor di atas jembatan layang dengan Sungai Ciliwung terdapat di bawah.


Arinda membentangkan kedua tangan. Mencoba melepaskan beban di pundak dan sesak di dada dengan berteriak. Meneriakkan kehidupan yang sangat kejam.


“AKU BENCI HIDUP INI!”


“DI MANA KEADILAN?!”


“DI MANA BELAS KASIH UNTUKKU?!”


“DI MANA SEMUA ITU BERADA?!”


“DUNIA! KENAPA KAU BEGITU MEMBENCIKU?!”


“CUKUP!”

__ADS_1


“Cukup mempermainkanku. Aku lelah.”


__ADS_2