
“Tidak usah berdandan cantik-cantik!”
“Apa, sih, Ricko?”
“Kamu sengaja 'kan mau memperlihatkan wajahmu yang cantik kepada direktur itu?!”
Arinda memukul lengan Ricko cukup kencang seraya berkata, “Kamu ngomong apa, sih?! Aku ini mendampingimu bertemu klien. Memang kamu tidak malu jika mukaku kucel?”
“Tidak. Sudah begitu saja,” ucap Ricko seraya menarik rambut Arinda yang sudah menyanggul tinggi. “jangan juga memperlihatkan lehermu. Kamu ingin menggodanya?!”
“Ricko!”
“Apa?”
“Kamu yang apa?”
Ricko mengungkung Arinda. “Lebih baik kamu tidak usah ikut. Diam-diam di ruangan ini dan jangan ke mana-mana sampai aku pulang.”
Arinda berdecak kesal. “Tidak mau. Aku mau ikut sama kamu.”
“Arinda!”
Arinda mendorong Ricko agar menjauh. Kemudian, beranjak pergi berlalu ke luar ruangan tanpa peduli pria itu akan marah.
Sepanjang perjalanan di dalam mobil, tak ada satu pun yang berbicara. Mereka berdua menunjukkan wajah kesal.
Tiga puluh menit kemudian
Mereka sampai di restoran tempat kesepakatan pertemuan. Arinda keluar lebih dulu tanpa menunggu Ricko.
“Bersemangat sekali dia. Awas saja kamu, Arinda!”
Ricko turun dari mobil. Ia melangkah cepat. Supaya bisa menyejajarkan langkah dengan Arinda yang sudah jauh di depan. Mereka berdua mulai memasuki restoran dan menghampiri klien.
“Selamat siang, Pak Ricko,” sapa Tyo, Direktur Keuangan PT. Adi Raksa. Kemudian, ia menoleh ke arah Arinda, “Selamat siang, Ibu Supervisor. Anda semakin cantik.”
“Selamat siang, Pak Tyo dan Pak Bambang
Dan, terima kasih pujian Anda," balas Arinda seraya menatap kedua netra kliennya secara berganti-ganti.
Suara berdeham Ricko membuat semua orang berfokus kepada sang marketing director.
“Bisa kita langsung makan. Kebetulan saya sudah kelaparan ingin memakan orang,” ujar Ricko.
“Maksud Anda?” tanya Bambang bingung.
“Ah, maksudnya saya lapar ingin cepat makan,” jawab Ricko.
Arinda menghela napas lelah. Mulai lagi posesif kepadaku. Kamu tu masih cinta atau enggak, sih, Ricko? batinnya.
Mereka makan dalam diam. Selesai menghabiskan makanan. Berbasa-basi sebentar membicarakan pekerjaan dan lanjut penanda tanganan surat kontrak.
“Apa kabarmu, Arinda?” tanya Tyo.
“Dia baik-baik saja. Anda tidak perlu khawatir, Pak Tyo,” jawab Ricko.
“Ah, begitu,” ucap Tyo agak kaget mendengar Ricko yang menyahut. Kemudian, ia membuka dompet dan mengambil satu buah kartu. “o, iya. Ini kartu namaku. Dan, bolehkah aku minta nomor teleponmu.”
“Tidak.” Lagi, Ricko yang menjawab pertanyaan Tyo. Dan, kartu nama itu pun dengan cepat sudah berpindah ke tangannya. “Terima kasih kartu namanya.”
Tyo melongo. Kemudian, berdeham untuk menetralisasi kecanggungan.
“Kalian berdua punya hubungan?” tanya Tyo.
“Tentu,” jawab Ricko.
Arinda senang bukan main. Akhirnya, Ricko mengakui hubungan mereka.
“Kekasih?” tanya Tyo lagi.
“Rekan kerja.”
Wajah riang tersebut langsung seketika berubah datar. Kemudian, Arinda membatin. Rekan kerja? Baru saja mengangkatku tinggi ke langit, tetapi dengan cepat kamu menjatuhkannya dengan keras ke bumi.
“Kalau begitu, saya tidak masalah bukan jika mendekati rekan kerja Anda, Pak Ricko?” tanya Tyo mulai geram oleh kelakuan pria yang bersama Arinda.
“Tentu menjadi masalahku. Karena, ini masih jam kerja dan kita berdua sibuk,” jawab Ricko menerangkan.
“Ah, begitu. Berarti ....”
__ADS_1
“Maaf, Pak Tyo dan Pak Bambang. Kita berdua masih banyak pekerjaan lain. Ayo Arinda, kembali ke kantor.”
Ricko menarik lengan Arinda agar berdiri. Gadis itu menurut. Namun, mata itu tak bisa berbohong, sendu.
“Masuk!” Ricko mendorong tubuh Arinda ke dalam mobil.
Gadis itu diam, menurut kembali. Tapi, tanpa sadar meneteskan air mata.
“Kita kembali ke kantor,” ucap Ricko menoleh dan langsung mengernyit heran melihat Arinda menangis.
“Arinda ....”
“Kenapa tidak jujur kalau aku adalah kekasihmu?”
“Aku sudah bilang jangan sampai ada orang lain yang mengetahui hubungan kita.”
“Kenapa?!”
“Sudah jangan menangis.” Ricko mencoba memeluk Arinda. Namun, gadis itu menolak.
“Jangan menyentuhku! Kamu tak suka melihatku digoda pria lain. Tapi, tak juga mau mengakuiku. Aku seperti simpananmu?!”
“Apa maumu sekarang? Ingin kita putus saja?” tanya Ricko menantang.
Arinda terdiam sesaat. Kemudian, menggelengkan kepala.
“Kalau begitu menurut. Aku bilang padamu bersabar dulu dengan sikapku. Aku belum bisa mengakuimu di depan orang lain.” Lanjut Ricko.
“Iya, tetapi kenapa? Aku butuh alasan?!”
“Arinda, cukup dengarkan dan menurut padaku. Jangan bertanya hal lainnya!”
“Mau sampai kapan?”
“Entah.”
Arinda semakin terisak. “Kamu mencintaiku atau tidak?”
Cinta.
“Tidak.”
“Kamu jahat!”
“Iya, aku jahat. Puas! Dan, teruslah menurut, jangan membangkangku!”
🌺🌺🌺
Menyelesaikan pekerjaan sampai sore. Pertemuan dengan PT. Garda Terdepan pun berjalan lancar. Tinggal mengurus tumpukan dokumen dan mengecek email-email di Kantor.
Akan tetapi, ruangan ber-AC itu terasa panas. Pasalnya, kedua orang di dalamnya memasang wajah masam dan mengeluarkan aura permusuhan.
Waktu berlalu dengan cepat. Jam sudah menunjukkan pukul sembilan malam. Ricko bersiap untuk pulang. Sementara, Arinda masih berkutat di depan laptop.
Tanpa berbasa-basi untuk mengajak pulang. Ricko keluar begitu saja dari ruangan meninggalkan Arinda sendirian.
Arinda memandang kepergian Ricko dengan sendu. Air mata pun sukses lolos mengalir di kedua pipi.
Satu jam kemudian
Usai menyelesaikan semua pekerjaannya. Arinda melirik jam di dinding, sudah pukul sepuluh malam.
Arinda menutup laptopnya. Berjalan keluar ruangan untuk pulang.
🌺🌺🌺
Menyusuri Kota Malioboro di malam hari sendirian. Arinda menertawakan diri sendiri. Ngenas dan ironis! Hidup penuh derita tak pernah ada habisnya menerpa. Mengharapkan seseorang agar bisa menjadi tempat bersandar. Pupus sudah.
Lelah berjalan, Arinda memilih untuk mengistirahatkan kedua kakinya disebuah taman.
Duduk bersandar sendirian seraya berucap lirih, “Masih adakah orang yang bisa mencintaiku dengan tulus? Ah, bodoh. Kalau pun ada, apakah aku sendiri bisa membalas cintanya? Sementara hati ini sudah terukir nama lain? Aku hanya ingin memiliki sebuah hubungan yang saling membalas. Itu saja!”
“Arinda, saya mencintaimu. Cinta yang tulus sejak awal pertemuan kita di kampus.”
Arinda mengernyit mendengar suara yang tak asing tersebut. Mengeratkan pegangan pada tas yang ia tengah genggam.
Lalu, si pemilik suara itu duduk di samping Arinda. Kemudian, menyentuh tangannya yang mulai dingin.
Arinda menoleh dan melepaskan sentuhan tersebut.
__ADS_1
“Pak Alfian!” Rasa malu menghinggapi. Arinda menggeser duduknya sampai mentok ke ujung.
“Ada yang menyakitimu?”
“Tidak.”
“Lalu, tadi ... sedang merapal sajak cintakah?”
Arinda menunduk. Ia semakin malu dengan dosennya ketahuan sedang patah hati. Bibirnya bergetar menahan rasa yang tak bisa keluar.
Alfian langsung menarik kepala Arinda dan meletakkannya di bahu. “Menangislah. Tidak usah sungkan. Kadang kita perlu mengeluarkan banyak air mata. Supaya, kondisi kembali stabil dan sesak di dada berkurang.”
Mendengar penuturan Alfian, Arinda menangis sejadi-jadinya. Ia menumpahkan semua rasa tertahan lewat air mata. Kedua tangannya dipakai menutupi wajah.
Tiga puluh menit menangis. Arinda mulai merasa hatinya plong. Ia kembali duduk dengan bersandar pada kursi.
“Sudah lebih baik?”
“Terima kasih, Pak.”
Alfian tersenyum. “Panggil saja Alfian. Toh, usia kita hanya berjarak tiga tahun.”
“Apa itu sopan? Bagaimanapun juga Anda dosen saya.”
“Saya yang meminta.”
Arinda mengangguk.
Hening!
“Seorang wanita berjalan sendirian di Malioboro dan waktu pun hampir tengah malam. Kata anak sekarang bilangnya sedang gabut.”
“Saya hanya tidak tau harus pergi ke mana? Jadi, ya, mengikuti saja langkah kaki ini.”
“Begitukah? Lalu, sedang apa di Jogja? Liburan?”
“Bekerja.”
“Dinas?”
“Iya, semacam itu. Dan, Anda sendiri sedang apa disini?”
“Lagi gabut.”
Mereka berdua tertawa.
“Saya serius, Alfian.”
“Ayo, kita menikah jika kamu sudah serius.”
Arinda tertawa. “Ada seseorang di hati saya. Maaf.”
“Tidak apa. Beginilah konsekuensi dari berani mencintai. Bertepuk sebelah tangan.”
Ucapan Alfian sama persis dengan kata hatinya saat di mobil tadi siang.
“Tapi, kenapa Anda bisa tersenyum? Padahal, cinta itu tak berbalas.”
“Saya maunya memaksamu. Tapi, cinta tidak akan berakhir baik jika kita memaksakannya, bukan? Saya sudah mengejarmu. Dan, kamu menolaknya beberapa kali. Jadi, ya, tinggal menunggu takdir. Siapa tau kita masih berjodoh. Berharap boleh, 'kan?”
“Maaf.” Arinda tersenyum getir. Semua ucapan Alfian adalah benar.
“Tidak perlu meminta maaf. Buat saya kamu wanita luar biasa. Bisa mencintai gadis sepertimu saja adalah suatu kebahagiaan.”
Seandainya saja, kata-kata itu meluncur dari mulut Ricko. Betapa sempurnanya hidup ini, gumam Arinda.
“Anda sangat bijak. Lalu, Anda sedang apa di Jogja? Ini pertanyaan kedua kali. Jadi, jangan menjawab gabut lagi,” ucap Arinda seraya tertawa.
Alfian ikut tertawa. “Mengantar Ibu pulang. Tadi pagi baru sampai.”
“Saya hampir melupakan jika Ibu Anda orang Jogja. Maaf. Titip salam saya kepada ibu.”
“Tentu. Ibu pasti senang mendapat salam darimu.”
Arinda hanya menyunggingkan senyum tanpa menyahut
“ARINDA!”
Suara itu?
__ADS_1