
Dua makhluk kasat mata tanpa permisi masuk begitu saja ke dalam ruangan. Salah satunya bahkan memamerkan deretan gigi yang memang rapi dan putih. Sapaan dengan berteriak pun mengiringi langkah mereka.
“BRO RICKO!”
Ricko mendongak mengalihkan tatapan dari depan laptop ke arah makhluk tersebut.
“Sekolah aja pada tinggi. Attitude nol. Ketok pintu dulu dong,” sindir Ricko.
“Sengaja. Kali aja dapet tontonan gratis lagi antara lu dan Arinda,” sahut Dito. Kemudian, mendudukkan diri di depan Ricko bersama Zacky.
Ricko berdecak kesal. “Enggak usah nyindir!”
“Nikah sana makanya! Udah ngebet juga.”
“Apaan, sih, Dit! Pada balik, deh. Gue banyak kerjaan. Kalo mau ngajak hangout kapan-kapan aja.”
“Siapa yang mau hangout? By the way, ke mana Arinda?” Dito celangak-celinguk dan mendapati wanita yang di cari tengah tertidur di sofa. Ia menyipitkan mata ke arah Ricko dan menunjuk gadis itu lewat ekor matanya. “Tu termasuk kerjaan lu juga. Menang banyak lu ngerjain anak orang ampe pules banget.”
Ricko melempar pulpen dan tepat mengenai kening Dito hingga mengaduh. “Jangan kurang ajar lu, Dit. Gue cowok baik-baik.”
“Woi, kebalik! Arinda yang baik-baik. Lu mah meragukan. Mupeng gitu lu sama doi,” sanggah Dito tak terima.
“Iyalah! Dia cantik. Mupeng sama lu baru aneh,” sahut Ricko.
“Udah, sih, heran. Ribut aja.” Zacky menengahi.
“Hai, Dit! Zack!”
Sapaan Arinda membuat ketiganya menoleh. Suara ribut-ribut membuat tidur gadis itu terusik. Kemudian, perlahan membuka mata. Lalu, melihat ada dua sahabat Ricko.
Zacky menghampiri Arinda dan duduk di sampingnya membuat Ricko mulai terbakar api cemburu.
“Lu sakit, Rin?” tanya Zacky memegang kening Arinda.
Arinda menepis tangan Zacky secara halus kemudian ia menggeleng.
“Dia sehat.” Ricko menjawab dan tiba-tiba mendudukkan diri di tengah-tengah mereka.
Mengetahui sang sahabat tengah cemburu, Zacky tersenyum mengejek ke arah Ricko. “Lu ngapain duduk disini?”
“Ini kantor gue. Jadi, suka-suka gue!” seru Ricko dengan sorot tajam ke arah Zacky.
Zacky mengabaikan tatapan dan perkataan Ricko. Ia memilih tak peduli. “Rin, pulang kerja bareng gue.”
“Lu apa-apaan, sih, Zack! Gue diemin makin ngelunjak!” seru Ricko mulai meradang.
“Tiga puluh menit lagi jam lima sore. Waktunya pulang kerja. Tadi kan lu bilang banyak kerjaan. Pasti mau lembur, ‘kan?!” Zacky mulai ikut menatap Ricko dengan sorot tajam.
Mereka berdua saling melempar tatapan seperti ingin saling baku hantam.
Sementara keduanya sibuk bersitatap, Dito menghampiri Arinda. Menariknya agar duduk di sofa seberang Zacky dan Ricko.
“Duduk disini aman, Rin. Angle-nya pas buat nonton,” bisik Dito kepada Arinda.
“Iya. Lu benar, Dit,” sahut Arinda setuju.
Dua orang pria masih terus beradu mulut tanpa ada yang mau mengalah.
“Arinda berangkat sama gue! Pulang pun juga harus sama gue!” Ricko berseru.
“Enggak mesti kayak begitu, Rick. Lu kan lagi sibuk. Gue hanya gak mau Arinda pulang sendiri.” Zacky berkata dengan pembenarannya.
“Enggak usah sok-sok perhatian!” seru Ricko.
__ADS_1
“Perempuan seperti Arinda memang layak untuk diperhatikan!” timpal Zacky.
“Memang lu siapa?” tanya Ricko.
“Gue ataupun elu statusnya sama-sama hanya temannya Arinda,” jawab Zacky mempertegas.
Dito menyenggol lengan Arinda. “Rin, bertaruh, yuk. Siapa kira-kira yang menang? Kalo jawabannya benar dapet traktiran selama seminggu. Bebas, deh, makan apa aja.”
“Kalo hanya makan, setiap hari sohib lu kasih gue itu, Dit,” ujar Arinda.
“Lupa gue.”
“Dit, laki-laki bertengkar gak beda jauh, ya, sama perempuan.”
“Kok, gitu?”
“Mereka terus adu mulut.”
“Emang mau lu bagaimana?”
“Selayaknya laki-laki aja. Biar seru. Ini, sih, kayak nontonin emak-emak komplek berantem.”
“Wah. Lu mau ngadu dua sohib gue.”
“Enggak dong, Dit. Fitnah aja.”
Ricko sudah mulai lelah berdebat dengan panjang lebar. Ia memilih langsung menarik kerah kemeja Zacky. Mau beradu otot saja.
“Mau lu apa? Hah!” Ricko berseru.
“Lu sendiri maunya apa?!” balas Zacky sengit.
“Ricko! Zacky!” Arinda beranjak bangun dan melepaskan cengkeraman tangan sang pujaan kepada Zacky.
“Woi! Lu berdua kenapa, sih?!” teriak Dito.
Arinda terdiam sejenak kemudian menjawab, “Iya. Aku pulang sama kamu, Rick.” Ia pun enggan untuk berdebat. Urusan bisa panjang jika salah berucap. “Sorry, Zack.” Gadis itu menatap Zacky penuh sesal.
“Enggak papa, Rin. Santai aja. Masih ada hari lain.”
“BRENGSEK!” Baru saja Ricko ingin mengayunkan tinju ke arah Zacky, tetapi Arinda langsung memeluknya dan menggeleng.
Wajah Zacky terlihat santai. Bahkan, tengah tersenyum. Senyum misterius untuk Arinda dan Ricko.
“Dit, bisa lu ajak Zacky balik? Please!” pinta Arinda setengah memohon.
Dito mengangguk dan menarik Zacky keluar dari ruangan Ricko.
Arinda bernapas lega. Akhirnya, tak ada baku hantam. Ricko begitu posesif. Ia tipe pria jika sudah merasa memiliki seorang wanita, tak boleh ada yang menggoda ataupun mendekati. Jika itu terjadi, sifat emosional dalam dirinya pun mudah berkobar.
Oleh karena itu, lebih baik Zacky pergi atau ujungnya nanti berakhir di rumah sakit di tangan Ricko. Mereka bersahabat, tetapi tetap pria yang ia cinta tak mau tahu. Kedekatan dengan para sahabatnya pun harus ada jarak.
Arinda pun tidak mengerti, kenapa juga Zacky menggoda sahabatnya sendiri sampai menjadi marah? Padahal, ia yakin betul kalau dokter muda itu pasti mengetahui dengan baik bagaimana karakter sohibnya tersebut. Tapi, tetap saja berkata-kata yang menyulut emosi Ricko. Sungguh membuat pusing.
“Jangan pernah menerima ajakan pergi atau pulang dari Zacky. Aku tidak suka,” ucap Ricko lembut cenderung manja.
“Dia sahabat kamu.”
Ricko menarik Arinda untuk duduk di sampingnya. Menatap lekat wanita itu dan berkata pelan, “Zacky tertarik sama kamu. Aku ini laki-laki, sangat paham betul perhatian dan cara bicaranya sama kamu berbeda.”
“Rick, kamu sedang memfitnah Zacky.”
“Arinda, bela aku. Jangan membelanya, aku cemburu.”
__ADS_1
Arinda tertawa. “Kamu lucu banget, sih.” Ia mencubit gemas pipi Ricko.
“Aku serius.”
“Sudah, ah. Aku malas membicarakan hal tidak penting. Aku mau pulang. Kamu harus antar.”
“Janji untuk tidak dekat-dekat dengan Zacky.”
“Tidak mau.”
“Rin, sekali aja menurut padaku.”
“Ih, enak aja. Aku justru selalu menuruti kemauan kamu.”
“Rin,” Ricko menarik-narik lengan Arinda.
“Ya, ampun, Rick. Jangan manja begini. Malu dong sama otot dan perut six-pack.”
“Aku hanya manja sama kamu. Dan, akan terus begini sampai kamu mengiakan.”
“Oke. Tapi, dengan satu syarat. Mau?” Mengalah sajalah. Daripada lenganku copot ditarik-tarik. Dan, ini juga kesempatan untukku mengakhiri perjanjian.
“Tinggal bilang ‘iya’ doang, Rin. Masa ada syarat.”
“Aku kan pamrih.”
Ricko mencebik. “Oke. Tapi, syaratnya jangan berat-berat.”
“Ringan, kok. Asal rela aja.”
“Apa?”
“Perjanjian perihal ciuman kalau kamu terus hidup harus berakhir sampai dengan hari ini.”
“Apa? Tidak mau.” Enak aja. Bibirmu candu untukku, Rin. Mana aku rela.
“Ya, sudah kalau tidak mau. Kamu gak boleh marah kalau aku dekat-dekat dengan Zacky atau siapa pun itu.”
“Kamu yang buat syarat itu, tetapi kamu juga yang mau menyudahi. Gak boleh plin-plan dong, Rin.”
“Ya, kamu juga suka gak tahu diri. Di suruh sebentar, tetapi bohong. Udah gitu kita udah beberapa kali ketangkep basah. Aku malu.” Ayolah, Rick. Iyakan permintaanku. Aku benar-benar sudah tidak punya muka di depan orang-orang yang sudah melihat aksi bibir kita bertarung.
“Ya, salah kamu sendiri punya bibir bikin aku ketagihan.”
“Ricko Bagaskara!” Arinda sudah mulai kesal. Pria itu gamblang sekali membicarakan masalah tersebut.
“Iya. Oke. Fine. Asal tidak dekat-dekat Zacky, aku terpaksa mau.” Sial lu, Zack! Awas aja! Gara-gara lu, nih, gue kehilangan bibir merah muda. Duh, perasaan baru sebentar bisa bebas merasakan, udah harus kehilangan. Bakalan kangen, deh.
“Nah, gitu dong. Ini baru adil.” Akhirnya, bibir ini bisa istirahat juga. Biarlah dianggap menjilat ludah sendiri. Yang paling penting kan udah gak bakal ketangkep basah lagi. Lega.
“Aku bersumpah setelah Opa merestui. Tak akan aku menunggu waktu lagi untuk menikahimu.” Sudah tidak tahan rasanya ingin menelanmu hidup-hidup.
“Ricko, ih.”
“Jangan pernah berpikir untuk pergi dariku. Karena, ke ujung dunia mana pun aku akan mencarimu!”
“Terobsesi, posesif, kamu menyebalkan.”
Sepertinya Arinda lupa kalau dia pun memiliki sifat-sifat tersebut. Walaupun tidak separah Ricko.
'
“Aku tak peduli. Kamu ... milikku. Tak akan rela aku berbagi dengan siapa pun, apa lagi sampai kehilangan!”
__ADS_1
“Tu kan marah lagi. Tadi sudah baik. Kamu bunglon.”
Ricko mengembuskan napas lelah. Ia lupa. “Maaf, terbawa emosi. Ayo, aku antar kamu pulang.”