ARINDA

ARINDA
Merajuk


__ADS_3

Ricko POV


Diving gagal! Malah berakhir disini.


Wanita, oh, wanita! Kalau sudah merajuk, bikin pusing kepala. Tidak mau menurut, mulutnya terus bungkam. Bibir maju lima senti. Muka masam dengan tatapan tajam. Belum lagi judesnya tiada terkira.


Katanya bilang mau istirahat, makanya membatalkan diving. Tapi, nyatanya keluar-keluar juga.


Padahal, sudah berkhayal Arinda memakai bikini di pantai. Ah, gagal sudah.


Tidak! Tidak! Ricko otakmu tolong jangan kotor. Enyah, kau pikiran bodoh!


Lihat saja gadisku. Riang gembira sekali. Sementara aku disini meratapi nasib nelangsa. Kasihan sekali kamu Ricko Bagaskara Narendra.


Mati kutu sudah!


Memang benar kata orang, cinta kadang tak ada logika. Buktinya, pejantan tangguh sepertiku pun mau berlama-lama duduk disini. Terpaksa, sih, daripada gadisku mendiamkan. Bayangkan saja, berjam-jam sudah aku disini tanpa kepastian yang jelas. Entah sampai kapan penderitaan ini akan berakhir.


Oh, Arinda! Cepatlah mengakhiri kesengsaraanku ini.


Mana beberapa makhluk tulang lunak melihatku terus dengan sesekali mengedipkan mata. Tatapan mereka seperti ingin menelanku hidup-hidup. Sungguh membuat bulu kuduk meremang.


Ingin menunggu di luar, tetapi ultimatum sudah keluar lebih dulu. Di larang meninggalkan tempat sebelum selesai. Tidak mau menurut, dijamin merajuk jilid dua akan terbit. Jadi, lebih baik mengalah.


Padahal, aku juga korban. Lihat saja, untuk kedua kalinya punggungku luka akibat keganasan kuku-kuku setan cantik itu. Tapi, gadisku justru tak mau tahu dan tetap minta ganti rugi.


Memang salahku, sih, menciumnya kelewat batas dan secara paksa. Aku hanya lepas kontrol. Cemburu juga mendengar Arinda ingin dijadikan istri muda.


Lihat saja kau Dennis! Akan aku masukkan kau ke sel tahanan. Sudah korupsi. Lalu, berani mengganggu gadisku. Brengsek!


....


Dari salon itu buka sampai jam lima sore, Arinda baru selesai memanjakan diri. Massage, luluran, mandi susu, perawatan kuku, creambath, dan segala macam urusan kecantikan lain.


Akibat kukunya patah kemarin, Arinda terus saja mengomel. Ia menyalahkan Ricko atas insiden tersebut. Dan, sebagai kompensasinya ia minta melakukan perawatan di salon kecantikan.


Aji mumpung yang cerdas! Lanjutkan, Arinda.


Gadis itu memilih salah satu salon ternama di Jakarta. Dan, Ricko harus, wajib, mesti menunggunya sampai selesai.


“Ricko!” panggil Arinda.


Gadis itu melangkah riang menghampiri Ricko yang tengah duduk di sofa.


“Sudah selesai?”


“Sudah. Aku semakin cantik, 'kan?”


“Iya, sangat cantik. Sudah, ya, kita pulang. Ayo!” Ricko menarik tangan Arinda keluar salon. Akhirnya, penderitaan ini berakhir. Aku tidak sudi lagi menginjakkan kaki di tempat mengerikan itu. Rasanya lebih horor daripada menonton film kuntilanak dan sebangsanya.


“Ricko, tetapi kukuku tidak lagi cantik. Lihat, menjadi pendek-pendek.” Arinda memperlihatkan kukunya.


“Lebih bagus begitu, Arinda. Kuku yang panjang kemarin membahayakan orang lain. Aku tidak mau lagi menjadi korban. Sudah cukup dua kali saja,” ujar Ricko menahan geram.


“Memang aku sengaja memanjangkannya untuk itu.”


“Apa maksudmu?” tanya Ricko seraya memasang sabuk pengaman.


Mereka sudah masuk ke dalam mobil dan bersiap mencari restoran. Keduanya tengah kelaparan.


“Ini salah satu senjataku untuk melindungi diri dari pria-pria brengsek kayak kamu.”


Ricko menoleh tanpa melepas kemudi seraya menatap tajam Arinda. “Hei! Aku bukan laki-laki brengsek.” Setidaknya, jangan terlalu jujur. Aku melakukannya juga karena cinta. Ya, ampun! Terus saja membahasnya. Seharusnya, kamu menyalahkan dirimu juga. Kenapa memiliki pesona mematikan dan bibir merah muda penuh kenikmatan?!

__ADS_1


“Kamu menciumku paksa dan mempermainkan cintaku. Jadi, kamu masuk hitungan pria brengsek.”


Tiba-tiba mobil berhenti mendadak. Hampir saja kepala Arinda membentur dashboard.


“Ricko! Mengemudi yang benar!”


“Nona, bisa ralat ucapanmu. Aku tidak mempermainkan cintamu. Kalau kemarin mencium paksa, oke, aku mengaku salah. Aku minta maaf.”


“Kalau begitu katakan perasaanmu kepadaku sekarang?”


“Aku sayang kamu. Puas!” Aku juga cinta kamu. Tuhan! Buatlah gadis ini bersabar menungguku.


“Cinta, Ricko! Cinta! Bilang aku cinta kamu!”


Astaga! Aku seperti dipaksa untuk mengakui kalau sudah menghamili anak gadis orang. Masalah pernyataan cinta saja selalu menjadi keributan. Tidak cukupkah perlakuanku, Arinda, batin Ricko pusing dengan permintaan tersebut.


Ricko melajukan kembali mobilnya. Ia tak memedulikan permintaan Arinda.


“Mau makan di restoran mana?”


“Tu 'kan kamu mengalihkan pembicaraan.”


“Seafood atau piza?”


“Piza!”


Ricko mengemudikan mobil menuju restoran piza. Begitu sampai, Arinda langsung keluar dengan wajah masam. Kemudian, membanting pintu mobil. Membuat pria yang masih di dalam menggelengkan kepala.


“Mulai lagi merajuk.”


🌺🌺🌺


Merajuk babak kedua. Ricko mengelus dadanya. Menahan sabar agar bisa tersenyum seraya merayu gadis di depannya terus-menerus.


“Tidak mau.”


“Mau apa?”


“Kangen Mama.”


“Aku antar besok . Mau?”


“Iya. Tapi ....”


“Apa?”


“Naik motor sama kamu.”


“Oke. Tapi, jangan si Brown. Naik motorku.”


Arinda tersenyum kemudian mengangguk.


Keesokan harinya


Pemakaman? tanya Ricko dalam hati. Bingung.


Arinda bersimpuh di depan makam sang mama. Ia hanya menatapnya tanpa bicara. Kemudian, mulai menabur bunga dan air mawar. Mengusap batu nisan yang basah akibat guyuran air tadi.


Ricko ikut larut dalam keheningan. Ia memeluk bahu Arinda dan mengusapnya. Pria itu merasa bersalah karena baru tahu perihal kematian sang calon mertua.


Ricko melihat batu nisan. Memerhatikan tanggal kematian di sana. Menundukkan kepala dan mengangkatnya kembali seraya menatap Arinda.


Maaf, jika baru tahu perihal kematian Mamamu. Pantas saja kamu sangat merindukannya hingga bersedih. Sepertinya, aku harus cari tahu lebih banyak tentangmu. Apa saja yang terjadi sebelas tahun belakangan sejak kepergianku? Lalu, kenapa kamu bisa berakhir di apartemen dan hidup sendirian? Ke mana Papamu? Ricko membatin.

__ADS_1


“Kita pulang,” ajak Arinda seraya beranjak bangun.


Ricko menggenggam tangan Arinda.


🌺🌺🌺


Di sinilah mereka sekarang,


Pantai Ancol. Ricko mengajak Arinda ke tempat dulu dia pertama kali mengucapkan kata cinta.


“Masih mengingat tempat ini?”


“Tentu saja.”


“Suasananya masih sama seperti dulu.”


“Ya. Hanya perasaan prianya saja yang berbeda.”


“Jangan menyindir.”


Arinda menaruh kepalanya di bahu Ricko.


“Hanya kenangan bersamamu yang paling indah di masa lalu. Sementara lainnya, selalu aku coba lupakan.”


“Kenangan bersama orangtua saat kecil sampai remaja, mau kamu lupakan juga?” Ayolah, Arinda! Bicara tentang keluargamu.


“Masa kecil dan remaja?"


“Iya.”


Mengenal tempat prostitusi, dunia malam, alkohol, muncikari, pekerja malam, jalan bersama laki-laki berbeda hampir setiap hari, dianggap murahan, matrealistis, dan memiliki Papa yang tega menjual anaknya juga memukuli. Bahkan, almarhum Mamaku tewas tertembak dan entah siapa pelakunya. Lalu, bagian mana yang indah dari itu semua? Tak ada, Rick. Arinda membatin.


“Kamu bahagia bersama keluargamu, Rick?”


“Tentu saja.” Ah, kenapa malah balik bertanya? Apa perlu aku mencari tahunya sendiri?


“Rick, aku ingin berkeluarga. Memiliki banyak anak. Dan, akan aku pastikan semua anakku bahagia.”


Ricko membelai rambut Arinda. “Tentu! Saat kamu memiliki anak nanti, pasti akan menjadi ibu yang hebat.”


“Tapi, aku hanya ingin ayah dari anak-anakku nanti kamu. Tidak mau yang lain.”


Aku pun, Arinda. Hanya mau kamu sebagai istri dan ibu dari anak-anakku kelak. Bersabar, ya, Sayang! Ricko membatin.


“Iya. Kita berdoa semoga Tuhan menakdirkan kita terus bersama.”


“Tapi, seandainya tidak terwujud. Aku akan berdoa untuk kebahagiaanmu, Rick. Pria kaya dengan latar belakang keluarga baik-baik, pasti banyak calon mertua di luar sana yang ingin menjadikanmu menantu. Tentu, mereka sederajat denganmu. Tidak seperti aku, perempuan tidak jelas.”


“Arinda, berhenti berkata begitu.”


“Sekarang, aku hanya berani bermimpi jika ayah dari anak-anakku adalah kamu. Aku tahu itu tidak akan pernah menjadi kenyataan, bukan?”


“Arinda, cukup! Diamlah, jangan merusak suasana dengan kata-kata tak enak didengar telinga.”


“Rick! Saat aku pergi jangan pernah mencari, ya. Saat itu datang, berarti aku sudah melepas semua beban di pundakku. Aku ikhlas dan ingin tenang. Jadi, jangan lagi mengangguku.”


Ricko memeluk Arinda. “Cukup! Cukup! Jangan bicara yang tidak-tidak.” Tak akan aku biarkan kamu pergi. Selangkah pun tak akan pernah.


Tanpa mereka berdua sadar, kamera terus memotret. Bahkan, itu sudah terjadi sejak kepergian keduanya ke taman bermain.


Senyum misterius terpatri di wajah tirus seorang pria berkacamata dengan kumis tipis. Kamera profesional yang menggantung di lehernya tersimpan banyak hasil jepretan. Tentu saja, isinya adalah gambar-gambar sepasang sejoli tersebut.


“Tangkapan besar! Uang akan datang. Aku akan kaya.”

__ADS_1


__ADS_2