ARINDA

ARINDA
Pengagum lama


__ADS_3

Arinda POV


Hai, rembulan ....


Ke mana engkau pergi saat fajar datang. Bolehkah aku ikut? Aku manusia tanpa identitas. Siapa tahu dengan bersamamu, aku bisa memiliki sebuah nama. Minimal julukan. Mungkin peri malam.


Dan, engkau jutaan bintang ....


Aku biasanya menyukai titik-titik di langit malam, sangat indah. Tapi, sekarang entah mengapa aku membenci kebersamaan kalian. Karena, aku sendirian. Enyahlah dari pandangan. Saat ini, kalian terlihat seperti sedang mengejek gadis yang kesepian.


Oh, langit malam ....


Berubahlah menjadi sendu. Turunkanlah hujan derasmu. Supaya aku bisa menangis lagi tanpa orang tahu. Tapi, jangan ajak halilintar bersamamu. Karena, suara menggelegarnya nyaris sama dengan hidupku, penuh kejutan.


Dunia ....


Tempat mana yang menurutmu tepat untuk kupijak? Katakan? Aku akan menetap. Dan, berhentilah membuat hidup ini menderita. Beri aku kebahagiaan kecil, apa pun itu.


Ngenas memang ... teman tak punya. Keluarga tak jelas. Cinta aku punya.


Akan tetapi, tunggu ....


Cinta? Lucu! Sekarang aku menganggapnya sudah kandas.


Dasar laki-laki bodoh. Demi aku sampai berkelahi. Memperebutkan wanita tak jelas asal-usulnya sepertiku. Apa-apaan mereka berdua itu?!


Huh! Mereka pikir aku mau merusak persahabatan yang sudah seperti keluarga. Lebih baik aku yang mengalah, bukan?


Aku masih memiliki Papa Erwin, kok.


Ya, benar. Aku hampir melupakan keberadaan Papa. Bukankah, kami berdua sama-sama sebatang kara.


Aku harus pergi bersama Papa. Pergi menjauh dari semua dan memulai kehidupan yang baru. Entah di mana pun itu.


🌺🌺🌺



Setelah melanglang buana bersama si Brown dengan pikiran berkelana. Arinda memutuskan kembali ke apartemen. Malam ini, ia berniat akan berbicara dengan Erwin untuk meninggalkan Kota Jakarta esok hari bersama-sama.


Arinda membuka pintu apartemen. Gelap. Ia mencari sakelar lampu. Akan tetapi, seseorang menarik tangannya dan bunyi pintu tertutup terdengar. Lampu pun menyala membuat netra itu memicing sesaat baru terbuka kembali.


Arinda bergeming di tempat. Menatap seseorang yang cukup ia kenal baik.


“Apa kabar, Nona cantik?”


Bagus. Lihatlah sendiri! Kejutan demi kejutan datang silih berganti. Bahkan, dalam semalam beruntun tiada henti. Sehebat itukah aku? Sampai ujian tak pernah usai. Oh, nasib! Aku bukan Wonder Woman sungguhan yang kuat. Hentikanlah semua ini. Aku lelah. Arinda membatin.


“Di mana Papaku?” tanya Arinda sudah pasrah dengan keadaan. Pasalnya, seseorang bertubuh tinggi dan tegap menodongkan pistol di kepala. Akan tetapi, ia mencoba tetap tenang.


“Mau bertemu si brengsek itu?”


“Kau yang brengsek!”


“Ah, anak berbakti. Padahal, Erwin sangat jahat telah menjualmu.”


“Katakan di mana Papa? Jangan berani menyentuhnya atau kau akan menyesal.”

__ADS_1


Suara tawa terdengar mengejek. “Kita akan video call Erwin. Semoga si brengsek itu masih hidup.”


“KAU ....”


Pergerakan Arinda tertahan oleh pistol lain yang mengacung tepat di jantung. Gadis itu mengalah untuk diam dan berhenti di tempat. Saat ini, sudah dua pistol mengarah kepadanya dengan posisi strategis. Sekali pelatuk ditarik, maka kematian menjemput.


“Bersabarlah, Cantik.”


Benda pipih berwarna hitam itu mulai tersambung dengan seseorang di seberang sana. Kemudian, menampilkan Erwin yang terikat di sebuah kursi kayu.


“PAPA!”


Erwin menatap layar ponsel yang mengarah kepadanya. Kemudian, berteriak kepada sang putri.


“PERGI, ARINDA! JANGAN KEMARI! PERGI YANG JAUH!”


Sambungan video call diputus Nirwan.


“Lepaskan Papaku! BRENGSEK! LEPASKAN DIA!”


Suara tawa menggema kembali. “Bertukarlah tempat dengan Erwin. Dia akan selamat.”


“Ah, rupanya kau masih penasaran denganku.”


“Tentu saja.”


“Shit! Bedebah!"


“Memakilah sesukamu. Tapi, hidupmu dan Erwin sekarang berada di tanganku.”


“Lepaskan Papaku sekarang.”


“Apa aku punya pilihan lain untuk menyelamatkannya?”


“Ya, benar. Hanya itu pilihannya.”


“Kalau begitu, sekarang lepaskan Papaku?”


“Tidak sesederhana itu, Nona Cantik. Kau ikut denganku dulu. Baru setelah itu, Erwin aku lepaskan. Karena, aku cukup tahu betul kalau kau gadis licik seribu akal.”


“Baiklah. Mau ke mana kau akan membawaku?”


“Ke ranjang kenikmatan.”


Arinda tertawa. “Aku mengakui. Kalau kau cukup gigih untuk memilikiku seutuhnya.”


“Aku anggap itu sebagai pujian.” Kemudian, Nirwan menoleh kepada anak buahnya. “Bawa gadis itu ke dalam mobil.”


Arinda menepis tangan-tangan kekar tersebut. “Aku tidak suka disentuh secara sembarangan. Aku tidak akan kabur. Bukankah jaminan berada ditanganmu.”


“Baiklah. Kali ini kau benar.” Nirwan menoleh kepada anak buahnya agar melepaskan Arinda. Semuanya menurut dan gadis itu berjalan di tengah-tengah para penjaga.


🌺🌺🌺


Arinda tidak mengetahui ke mana ia akan di bawa. Sepanjang perjalanan, matanya ditutup.


Begitu tiba, Arinda didorong masuk ke sebuah ruangan pengap. Seseorang membuka ikatan gadis itu. Namun, baru saja membuka mata sebuah tamparan cukup keras mendarat tepat di pipi. Wajah mulus itu seketika memerah dengan sudut bibir sobek hingga berdarah.

__ADS_1


“JANGAN SENTUH ANAKKU, ARIS! URUSANMU HANYA DENGANKU!” teriak Erwin meronta-ronta di kursi.


Erwin tak tega menyaksikan Arinda dipukul. Walaupun dulu ia seringkali melakukannya kepada sang putri.


“Pak, jangan melukainya. Ia milikku!” Nirwan ikut protes.


“DIAM KALIAN BERDUA! GADIS LICIK INI MEMANG HARUS DI BERI PELAJARAN!” Aris berteriak. Ia tak suka dibantah.


“ARIS, LEPASKAN PUTRIKU! BUNUH AKU SAJA!” Erwin semakin geram.


“Lepaskan Papaku, Nirwan. Aku sudah memenuhi janji, bukan?” sela Arinda.


Erwin menggeleng. “Nak, jangan. Kamu yang harus pergi.”


“Bunuh mereka berdua!” Aris memberi perintah.


“Tuan Aris, aku sudah memiliki perjanjian dengan putramu. Laki-laki yang dipegang adalah kata-katanya, bukan?” Arinda menoleh kepada Nirwan. “Lepaskan Papaku, Nirwan. Kau pria sejati, ‘kan?”


“Lepaskan dia!” Nirwan memberi perintah kepada anak buahnya.


“Nirwan! Apa-apaan kau?!” Aris merasa tak terima.


“Pak! Jangan menghalangi jalanku. Aku ingin bersama Arinda. Wanita yang aku cinta.”


Arinda mengembuskan napas lelah. Menjijikkan sekali. Dia barusan bilang apa? Rasanya aku ingin muntah. Mana ada seperti itu. Sementara, saat pistol mengacung di kepala dan jantungku, kau masih bisa tertawa. Dasar sakit jiwa! Kau hanya nafsu melihat paras dan tubuh molekku. Itu bukan cinta, bodoh! batinnya kesal.


“Bagaimana jika gadis itu kabur lagi dan mencelakaimu?” Aris mengingatkan sang putra.


“Kali ini tidak akan terjadi.” Nirwan meyakinkan.


“Anak keras kepala! Terserah kau saja. Pesan Bapak berhati-hatilah kepada gadis licik itu dan perketat penjagaan.”


“Tentu, Pak.”


“Cepat bawa mereka ke dalam mobil!” titah Aris.


Arinda dan Erwin kembali ditutup matanya. Mereka masuk ke dalam mobil yang sama bersama Nirwan di dalamnya juga.


Di tengah perjalanan, mobil berhenti. Penutup mata Arinda dan Erwin dibuka.


“Aku beri kalian kesempatan berbicara untuk terakhir kali,” ucap Nirwan.


“Arinda, seharusnya kamu membiarkan Papa mati saja,” lirih Erwin seraya menatap lembut sang putri.


“Aku akan baik-baik saja. Papa tidak perlu khawatir. Jaga dirimu, Pa. Aku menyayangimu.”


Di tengah bahaya saja, kamu masih mencoba menenangkan Papa, Nak. Sungguh Papa menyesali semua kelakuan bejat di masa lalu terhadapmu. Erwin membatin sedih.


“Papa juga menyayangimu, Nak.”


Erwin dan Arinda berpelukan. Kemudian, seorang pengawal Nirwan menarik paksa pria sepuh itu secara kasar dan mengeluarkannya dari mobil.


Mata Arinda kembali ditutup. Mobil segera melaju lagi di atas aspal jalanan Ibu Kota.


Erwin menatap nanar kepergian sang putri. Ia tak kuasa untuk menolong. Namun, terlintas satu nama di kepala.


Ricko!

__ADS_1


“Ricko! Ya, benar. Anak itu pasti bisa menolong Arinda. Aku harus cepat-cepat bertemu dengannya.”


__ADS_2