
Flashback on
“Kalian berdua harus mati!”
Dari jarak dekat Aris menodongkan pistol.
“Arinda, awas!”
Erwin refleks mendorong sang putri hingga gadis itu terjatuh. Satu tembakan tepat mengenai dada.
Dengan sisa tenaga, Erwin memegang pistol tersebut dan membalikkan moncongnya. Satu tembakan kembali meletus. Kali ini, tepat mengenai perut Aris.
Tak butuh waktu lama, Erwin dan Aris langsung tergeletak bersimbah darah.
Arinda syok! Ia terperangah dengan kejadian yang begitu cepat terjadi di depan matanya. Setelah kesadarannya kembali, gadis itu berteriak dan langsung menghampiri sang papa. Lalu, menangis histeris seraya memeluknya.
“PAPA!”
Flashback off
🌺🌺🌺
Derai air mata sudah terhenti berganti wajah sendu dengan tatapan kosong. Arinda membisu. Membuat ketiga pria tampan itu turut terdiam. Suasana pun otomatis hening.
Ricko dan Zacky duduk mengapit Arinda. Dito sendiri memilih duduk di lantai. Menekuk kedua kaki dan menaruh kepala di atas lutut dengan kedua tangan sebagai bantalan.
__ADS_1
Mereka berempat sedang menunggu di depan ruangan bertuliskan ‘Ruang Operasi’. Erwin berada di dalam sana tengah bertaruh nyawa akibat peluru yang bersarang.
Keadaan Aris pun tak berbeda jauh. Hanya saja sejak satu jam lalu sudah lebih dulu keluar dari ruang operasi.
Satu jam kemudian
Operasi selesai. Pintu tersebut terbuka. Zacky segera beranjak menghampiri sang dokter dengan yang lain mengikuti.
Kebetulan Aris dan Erwin dibawa ke rumah sakit milik keluarga Zacky. Sebenarnya, ia ingin ikut membantu. Namun, kondisi pasien yang harus sesegera mungkin di operasi dan dokter muda itu pun belum sempat mandi. Jadi, urung melakukan.
“Dokter Rudi, bagaimana pasien?”
Sang dokter menepuk pundak Zacky dan menggeleng. “Peluru bersarang tepat di jantung. Kami sudah berusaha semaksimal mungkin. Namun, pasien tidak tertolong. Maaf.”
“Papa,” lirih Arinda.
Selang lima belas menit kemudian, jenazah Erwin keluar dari ruang operasi. Arinda memeluknya erat. Tubuhnya bergetar. Isak tangis yang sempat terhenti kembali bergaung.
“Papa kenapa pergi secepat ini? Aku hanya punya Papa.” Arinda menggoyangkan tubuh Erwin berharap pria sepuh itu membuka mata. “BANGUN, PA!” Tangisnya semakin histeris.
Ricko memeluk Arinda erat dari belakang. Mencoba menguatkan walaupun pada kenyataannya sia-sia.
Jenazah Erwin berlalu pergi.
Ricko membalikkan tubuh Arinda. Memeluknya dengan erat.
__ADS_1
“Papa, sekarang aku benar-benar sebatang kara,” lirih Arinda. Air mata semakin deras mengalir.
“Kamu gak sendiri. Ada kita semua bersama kamu.” Ricko mengusap punggung yang masih bergetar tersebut.
🌺🌺🌺
Pemakaman usai. Erwin di makamkan tepat di samping tempat peristirahatan terakhir Nita. Sepasang suami-istri tersebut meninggal dengan cara yang sama. Tertembak tepat di bagian jantung.
Arinda menatap kedua makam Erwin dan Nita dengan sendu. Ia duduk bersimpuh dengan posisi Dini memeluk bahunya. Ricko, Zacky, Dito, beserta fajar berdiri di belakang wanita-wanita tersebut.
“Rin, ayo pulang. Sudah sore. Kita bisa kembali lagi kesini besok ataupun kapan saja kamu ingin, Embak akan antar.”
Arinda membisu. Tidak mengiakan, tidak juga menggeleng.
Semua orang mengembuskan napas berat. Gadis ini sudah tak lagi berbicara sejak terakhir kali di rumah sakit.
Ricko berjongkok. Membelai lembut rambut Arinda dan mengecupnya. “Pulang, ya. Aku gendong. Mau?”
Arinda menatap Ricko kemudian mengangguk. Pria itu tersenyum dan mulai mengangkat tubuh sang pujaan. Menggendongnya ala bridal style.
“Pak Ricko, bawa Arinda ke rumah saya. Ikuti mobil kita,” pinta Dini. Sang bos pun mengangguk patuh.
Ricko masuk ke dalam mobil dan mendudukkan Arinda di atas pangkuannya. Ia mendekap sang pujaan. Mereka duduk di kursi belakang.
Zacky duduk di samping kemudi. Sementara Dito menyetir mengikuti laju mobil Dini dan Fajar di depan.
__ADS_1