
***
Selepas mata pelajaran terakhir, Arin mengajak teman-temannya untuk menemui perempuan tadi. Tapi, sesampainya mereka di kelas tersebut, mereka tidak menemukan siapapun disana. Kelasnya kosong.
"Lah, kagak ada penghuninya," Ujar Risa.
"Bener tadi disuruh kesini?" Tanya Nita.
"Iya, tadi bilangnya gitu. Mbak tadi kelas XII Teknik komputer. Disini kan kelasnya," Jelas Arin.
"Iya bener, ini kelas yayang gue," Sahut Risa.
"Tunggu aja, mungkin Mbaknya masih ke toilet," Sahut Jihan.
Arin mengangguk, mendudukkan dirinya di salah satu bangku depan, diikuti teman-temannya lainnya. Cukup lama mereka menunggu kedatangan sang Kakak kelas itu, tapi tidak ada tanda-tanda seseorang akan masuk ke dalam kelas tersebut.
"Lama banget sih Mbak itu," Rengek Kiki.
"Kali aja lupa tuh," Sahut Risa.
"Mau pulang aja apa gimana?" Tawar Nita.
"Pulang aja deh, paling beneran lupa," Kata Arin yang beranjak dari duduknya.
Akhirnya mereka memutuskan untuk keluar dari kelas tersebut. Mungkin, Kakak kelas itu sedang usil, mengerjai Adik kelasnya. Keadaan sekolah sudah lumayan sepi karena banyak murid telah pulang. Arinpun segera berpencar dengan teman-temannya karena harus menuju kelas Lia. Dia berdoa agar Sepupunya itu masih menunggu, atau kelasnya belum bubar.
Arin menghela nafas lega, karena Lia baru saja keluar dari kelasnya dengan pandangannya fokus pada handphonenya.
"Mbak," Panggil Arin.
"Eh, Rin. Sorry ya, nuggu lama. Biasa Pak Totok kalo ngajar lama bener."
"Gapapa, Mbak. Mau jalan apa naek angkot aja?"
"Angkot aja deh Rin, aku capek nih mau jalan," Jawabnya.
"Oke."
Arinpun mengapit lengan saudaranya itu sampai di depan gerbang. Tapi, langkahnya terhenti ketika mendengar suara sepeda motor Jupiter-X yang knalpotnya di ganti dengan suara yang lebih pelan, keluar dari gerbang sekolah dan melewati Arin, dengan seorang seorang perempuan yang duduk di jok belakang, sedang tangannya melingkar di sampai ke perut sang pengemudi.
__ADS_1
Motor Danis. Motor yang menemaninya sejak SMP. Arin hafal betul bunyi dari sepeda laki-laki itu, walau jarak yang agak jauh, karena telinganya terlalu peka. Dipandangnya lagi Danis dan perempuan itu yang melaju pelan menjauh dari sekolah.
Semoga bahagia, Danis. Batin Arin seraya tersenyum lemah.
Tiba-tiba sebuah motor matic berwarna hitam perpaduan merah, lengkap dengan helm berwarna maron, mendekati Arin dan Lia. Pengendara itu berhenti, sambil menyunggingkan senyumnya.
"Mau pulang?" Tanyanya, sambil mendorong keatas kaca helmnya.
Siapa lagi yang bertanya hal sepele seperti itu, selain Niko. Alas kaki yang ia kenakan sudah bukan sepatu sekolah, melainkan sandal jogger, atasannya pun sudah berganti T-shirt hitam lengan pendek. Hanya celana pramukanya yang tidak ia ganti.
"Iya, Kak."
"Siapa dia Rin?" Bisik Lia, tapi Niko masih bisa mendengarnya.
"Aku Niko. Pacarnya Arin," Jawab Niko.
"Hah?!" Teriak Lia. Dia menoleh pada Arin untuk memastikan perkataan laki-laki itu. "Beneran Rin?"
Arin tersenyum malu, "Iya, Mbak."
"Kamu anak osis kan?" Tanya Lia.
"Iya. Oh iya, mau dianter pulang gak?" Tawar Niko.
"Mbak Lia gimana? Nanti kalo pulangnya gak bareng ditanyain sama Tante, aku jawab apa?"
"Bilang aja aku masih ke rumah temen dulu. Kebetulan nih, temenku ngajakin kumpul-kumpul dirumahnya," Jawab Lia.
"Ya udah, Mbak. Kalo gitu aku balik duluan ya," Pamit Lia.
"Iya. Ati-ati."
*
Sejak diantar Niko kemarin sore, Lastri –Ibunya- mendesak Putrinya itu untuk mengakui siapa sebenarnya Niko. Sebenarnya, Arin bisa mengatakan dia adalah kekasihnya, tapi dia mengingat perkataan Ayahnya yang tidak diperbolehkan pacaran selama di Sekolah. Mengingatnya saja sudah ngeri, karena memang Ayah Arin berwatak keras dan tegas.
"Beneran bukan pacarnya, Mbak?" Bisik Lastri, saat di dapur.
Arin yang sedang menyiapkan piring di meja makan menggeleng, "Bukan, Buk. Dibilangin cuma temen se-ekskul." Bohongnya.
__ADS_1
"Ngaku aja deh. Kenapa? Takut sama Ayah ya?"
"Bukkk..."
Sang Ibupun terkekeh, karena melihat wajah kesal Putrinya.
"Udah selesai masaknya?" Tanya Surya -Ayah Arin- yang sudah rapi dengan seragam kerja, sebagai staff di perangkat desa.
"Udah Yah," Jawab Arin yang juga duduk di samping Ayahnya. "Adek belum bangun?"
"Udah, lagi mandi tuh," Jawab Surya yang mengisi piringnya dengan nasi goreng buatan Istrinya.
Mereka memulai sarapan begitu Arka juga sudah duduk disamping Ibunya yang menyuapinya. Arka memang sangat manja, walaupun bocah berumur 9 tahun sepertinya sudah sangat bisa untuk makan sendiri, dia memilih untuk disuapi oleh Ibunya. Setiap ditanya alasannya, selalu menjawab 'Ya gapapa. Kan minta suapinnya sama Ibuk, bukan sama tetangga.'
Seperti itulah Arka, bocah pintar yang selalu menjawab dengan kepercayaan diri apapun pertanyaan yang di ajukan padanya.
Selesai sarapan, ketiga penghuni rumah bergegas menjalankan aktifitas masing-masing. Surya berangkat menuju kantor Desa, dengan mengantar Arka ke sekolah lebih dulu, dan Arin yang berangkat dengan angkutan umum bersama Lia.
Selama di dalam angkutan, Lia tidak berhenti bertanya perihal Niko. Bagaimana mengenalnya, kapan mereka pacaran, dan apa saja yang mereka lakukan saat pacaran.
"Jadi selama beberapa minggu pacaran, gak pernah ngedate atau semacamnya?" Tanya Lia.
Arin menggeleng, "Mbak Lia kan tau, kalo aku gak boleh pacaran sama Ayah. Jadi ya gak pernah ketemu di luar sekolah. Paling ya telponan sampe malem. Gitu doang sih. Kemarin aja, Ibuk nanya, aku bilangnya cuma temen."
"Wah, hebat bener si Niko. Biasanya kalo baru-baru jadian kan bawaannya pengen ketemu terus tuh, terus ngajakin keluar mulu."
"Ya gak gitu juga sih. Ketemu di sekolah kan udah cukup, Mbak."
"Yeee,, kamu nih dibilangin. Terus-terus, kamu dikenalin gak ke temen-temennya?" Tanya Lia antusias.
"Dikenalin sih sama temen ceweknya," Jawab Arin.
"Bagus deh, kirain dia gak ngakuin kamu di depan temen-temennya. Ya udah, sekarang kamu jalanin aja sama dia. Inget, pacaran sewajarnya aja Rin, jangan kelewat batas," Tegas Lia.
"Iye Mbakku," Jawab Arin.
Tak terasa, angkutan umum yang mereka tumpangi sampai di halte terdekat dari sekolah. Merekapun mengeluarkan uang Enam Ribu Rupiah untuk dua orang. Merekapun turun setelah membayar, melangkah masuk melewati gerbang sekolah. Sudah banyak sepeda motor yang terparkir karena 10 menit lagi, bel mata pelajaran pertama akan segera di mulai. Liapun berpencar dengan Arin, menuju kelas masing-masing.
Kelas Arin yang jauh dari gerbang sekolah, membuatnya sedikit malas untuk menuju ke kelasnya. Langkahnya terasa amat berat saat melewati lapangan basket. Belum sempat dia menuruni tangga, seseorang menghadang langkahnya.
__ADS_1
"Rin, bisa ngobrol sebentar gak?"
***