ARINDA

ARINDA
Insiden warna-warni


__ADS_3

Satu jam berada di toko buku dan belum ada tanda-tanda selesai. Mengitari hampir seluruh rak. Troli kecil pun nyaris penuh berisikan komik-komik. Mulai dari Doraemon, Detective Conan, dan beberapa judul ber-genre roman juga horor ikut masuk. Semua lengkap dari pertama sampai ending.


Ricko mengernyit melihat isi troli tersebut. “Sejak kapan kamu suka komik?”


“Sejak kecil aku suka. Hanya gak punya uang aja buat beli. Biasanya sewa di dekat rumah. Ketika besar, bekerja, dan punya uang malah gak punya waktu buat membaca. Apa lagi pas bertemu lagi dengan pria bernama Ricko. Masa luangku habis untuk memikirkannya doang.”


Kalimat terakhir yang meluncur dari bibir Arinda, memunculkan semu merah di pipi Ricko. Hidung pun mengembang karena menahan senyum.


Padahal, terucapkan dengan nada santai tanpa menatap lawan bicara pula. Akan tetapi, sanggup membuat hati Ricko menggejolak senang.


Arinda menoleh. “Rick, wajahmu kenapa?”


“Ah, apa? O, itu ... aku mau cari buku politik dulu, ya, Rin.” Satu kata saja, malu. Karena, ketahuan tengah salah tingkah dengan pipi berona merah.


Arinda mengernyit. “Dia kenapa, sih?”


Puas memborong komik. Mereka makan di Restoran Piza.


“Komik sebanyak itu mau kamu baca?”


“Iya. Habis bosan di vila kalo kamu lagi kerja atau malam tiba. Mau baca yang ringan-ringan aja biar gak suntuk.”


Ricko tersenyum dan mengangguk. “Setelah ini mau beli apa lagi?”


“Nanti kuberi tahu.”


🌺🌺🌺


“Kamu tunggu sini aja. Aku mau berkeliling dulu.”


“Memang kenapa kalo aku ikut?”


“Malu, Rick. Kan kamu laki-laki.” Arinda menunjuk dengan ekor matanya pada tempat sasaran belanja berikutnya.


Ricko mengikuti arah pandang Arinda dan dengan cepat langsung memalingkan muka. “Iya, kamu sendiri aja. Aku tunggu disini.”


“Oke.”


Dengan langkah riang dan kartu sakti di tangan. Arinda menjelajah kembali. Mengambil apa pun sesuka hati. Kebetulan, memang stok yang ia bawa tak banyak. Saking terburu-buru dan tak memprioritaskannya, jadilah banyak tertinggal.


Menjinjing satu kantong penuh paper bag. Mengayunkan kaki dengan senyum tak lepas ke arah Ricko.


“Ini punyamu, sudah selesai. Makasih, Rick.” Arinda mengembalikan kartu sakti tersebut.


“Pegang saja. Pakailah sesukamu.”


“Tidak mau.” Arinda tetap menyodorkan dan memaksa Ricko agar mengambilnya.


Ricko berdiri dan mengusap rambut Arinda. “Buat kamu.”


Arinda menggeleng. “Nanti kalo sudah resmi jadi istri kamu, aku baru mau.”


Ricko mengembuskan napas lelah. “Terserah sajalah.” Ia mengambilnya dan memasukkan ke dalam dompet.


“Rick, nge-game, yuk?”


“Oke. Tapi, aku taruh buku dan belanjaan kamu dulu di Mobil. Tunggu aku disini.” Tunjuk Ricko pada bangku. Tempat duduk saat menunggu Arinda tadi.


“Jangan lama-lama. Nanti aku digondol bule.”


“Arinda. Apa, sih? Bikin cemburu aja.”

__ADS_1


Sekali posesif tetap akan seperti itu. Sudah sifat dari orok.


“Tu lihat. Dari tadi memandangiku terus. Tampan juga, sih. Bisa memperbaiki keturunan.”


“Rin, jangan memancing emosi. Aku juga tampan. Anak-anak dariku nanti pasti berkualitas unggul.”


Arinda memandangi Ricko dari ujung kaki sampai ujung kepala. “Benar juga, sih. Kalo gitu, buat cadangan aja. Jaga-jaga siapa tahu Pak Roni menolakku.”


Ricko menganga. Ia melempar kantong berisi buku ke atas lantai dan langsung memeluk Arinda.


“Arinda. Kamu hanya milikku seorang. Bule itu belum tentu setia dan masih perjaka. Sementara aku setia sama kamu dan masih orisinal.”


Arinda melepaskan pelukan Ricko. “Ricko, ih. Punya malu sedikit kenapa, sih? Tidak usah bicara segamblang itu.”


“Biar kamu tahu.”


“Mana aku tahu sewaktu kamu di London ngapain aja. Bisa jadi ada main juga sama bule cantik dan seksi di sana.”


“Sumpah, Rin! Aku gak pernah aneh-aneh. Di London sekolah doang.”


“Aku gak percaya. Sama aku aja kamu nyosor terus.”


“Sama kamu aku cinta.”


“Ya, sudah sana. Cepat taruh buku dan barang belanjaanku di Mobil.” Kali ini, berganti Arinda yang blushing dan salah tingkah.


“Jangan ke mana-mana?”


“Iya.”


“Janji?”


“Iya, Ricko.”


Arinda mengembuskan napas lega. Ia mendudukkan diri di tempat Ricko duduk tadi. Gadis itu memegang dadanya.


“Setiap tu cowok bilang cinta. Jantung gue serasa berdangdut. Udah sering menahannya, biasanya selalu berhasil. Tapi, sekarang gak tahan. Gawat, nih. Bisa mati muda kalo begini terus.”


Berjalan cepat menuju tempat parkir. Ricko benar-benar cemas kalau Arinda akan diklaim bule tadi. Saking berjalan terburu-buru dan kurang konsentrasi, sampai tak melihat pembatas jalan.


Drama kaki tersandung terjadi. Ricko jatuh sehingga dua kantong belanjaan tersebut ikut tergeletak. Isi paper bag pun berhamburan keluar.


Ricko melotot dengan mulut membulat melihat isi tersebut. Ia celangak-celinguk melihat keadaan. Bagus sedang sepi dan ia sudah sampai tempat parkir.


Dengan tangan gemetar, memunguti bra dan segitiga pengaman milik Arinda. Setelah selesai, langsung berlari menuju mobil dan menaruh semuanya di kursi belakang.


Jantungnya serasa mau melompat. Ricko memutuskan duduk sebentar di dalam mobil untuk menenangkan diri.


“Astaga! Cobaan macam apa ini. Aku melihatnya jelas, memegangnya juga, dan semua berwarna-warni. Merah, kuning, putih, pink, biru, hijau.” Ricko mengusap wajahnya kasar kemudian menelungkupkannya di atas kemudi. “Rin, maaf. Aku gak sengaja.”


Tiga puluh menit kemudian


“Rick, kamu lama banget, sih.”


“Maaf, Rin. Tadi aku ke toilet dulu.”


“Rick, kamu sakit. Muka kamu pucet. Terus itu, kok, kening kamu keringetan. Kita pulang aja, deh.”


Arinda mau mengusap bulir keringat tersebut, tetapi tangannya ditepis secara halus oleh Ricko.


“Aku gak papa.”

__ADS_1


Ricko mencoba tersenyum, tetapi di otaknya terus terbayang warna-warni cerah ceria barang-barang tadi. Berkali-kali mencoba mengenyahkan, tetapi justru semakin melekat.


Di toilet pun sudah mencuci muka supaya lupa. Tapi, sepertinya isi kepalanya yang perlu dibersihkan akibat tercemar pemandangan aduhai tadi.


“Kamu yakin?”


“Ah, ya, sudah. Kita pulang.”


Ricko kenapa, sih? Aneh banget. Abis ketemu setan toiletkah? Arinda membatin.


🌺🌺🌺


“Rick! Aku kesiangan. Keasyikan baca komik sampai jam tiga pagi," ucap Arinda lantas menyuruh pekerja vila menaruh floating breakfast di atas kolam renang.


Ricko berhenti berenang dan menghampiri sarapan tersebut. Ia mengambil cangkir berisikan teh seraya memandang Arinda.


Gadis itu memakai kaos putih dan rok mini.


Warna apa yang dipakainya? Merah, kuning, hijau ... tidak-tidak. Enyah kau otak mesum. O, shit! Ricko membatin seraya menggelengkan kepala dan menoyornya.


Arinda mengernyit melihat kelakuan Ricko. “Rick, kamu kenapa?”


“Ah, itu ... kemasukan air.” Ricko memalingkan wajah ke makanan dan memakannya dengan lahap.


“Rick.”


“Apa?”


“Aku juga belum makan.”


“Ah, iya. Ini.” Ricko mendorong floating breakfast tersebut mendekat ke Arinda tanpa berani menatapnya.


“Suapin.”


Astaga, Rin. Jangan menambah cobaan. Aku sedang mati-matian menahannya. Ricko membatin mulai pusing sendiri.


“Sudah besar, makan sendiri.”


“Ya, udah. Aku gak mau sarapan.”


Ya, ampun. Merajuk lagi dan lagi. Tidak menurut, alamat demo tak mau bicara terulang, ucap Ricko dalam hati.


“Oke.”


Arinda tersenyum sumringah dan membuka mulutnya. Satu suapan berhasil masuk.


Tatapan tak sengaja melewati bagian dada. Secepat kilat langsung melengos ke arah lain. Pasalnya, Ricko masih berada di kolam renang dengan posisi Arinda lebih tinggi.


Ritme detak jantung Ricko sudah tak keruan. Isi kepala pun berpikir tak senonoh terus.


Bisa kebablasan kalau begini. Gak bisa, nih, membiarkan nafsu menang di saat garis finish sudah semakin dekat. Mikir, Rick! Jangan sampe ngerjain anak orang. Kalo gak, habis lu dihajar Kak Shavic dan Zacky. Ricko membatin.


Pria itu sedang memikirkan bagaimana caranya agar memiliki jalan keluar.


Satu menit ... dua menit ....


Baru dua menit berpikir, lampu di kepalanya menyala. Tanda ide sudah muncul.


Akhirnya ada jalan keluar. Ricko mengguman seraya tersenyum.


__ADS_1



__ADS_2