ARINDA

ARINDA
Permintaan Arinda


__ADS_3

Sore hari di langit Jogja yang cerah. Arinda pulang lebih cepat. Ia memutuskan untuk singgah di beberapa tempat di Kota Gudeg itu.


Menggunakan kendaraan umum becak motor atau biasa disebut bentor, menuju pasar yang cukup terkenal. Tempat yang nyaris tidak pernah sepi pengunjung.


Sesampainya di tempat tujuan. Arinda turun dan mulai mengayunkan langkah dengan riang. Mata pun menjelajah dengan berbinar-binar. Berhenti di beberapa tempat. Kemudian, membeli sesuatu sebagai oleh-oleh untuk Mbak Dini dan si ceriwis Febi.


Mengingat keduanya semakin menambah kerinduan. Kalau belum bertemu rasanya ada yang kurang. Walaupun, hampir setiap pagi selama satu bulan, mereka selalu video call. Waktu yang di ubah akibat kesibukan Arinda yang selalu pulang malam.


Berjalan perlahan dengan menenteng beberapa kantong belanjaan. Arinda melanjutkan perjalanan untuk menyantap gudeg. Rasanya belum lengkap jika ke Kota Pelajar ini kalau belum menikmati makanan khas tersebut.


Waktu pun sudah menunjukkan pukul tujuh malam. Sepanjang jalan tersaji tempat makan secara lesehan.


Arinda memilih satu tempat dan duduk membaur bersama pengunjung lainnya. Rasa nikmat dengan porsi yang pas. Nasi gudeg itu tandas dengan cepat.


Kemudian, Arinda melanjutkan perjalanan kembali berkeliling dengan masih berjalan kaki. Gadis itu pergi mencari tempat angkringan dengan kopi yang terkenal joss.


Menghirup aroma kopi tersebut dan tersenyum sumringah. Kemudian, menyeruput sedikit demi sedikit.


Setelah puas berkeliling dan berwisata kuliner. Arinda memutuskan pulang.


Tepat pukul sembilan malam, Arinda tiba di rumah. Masuk ke dalam kamar, mandi, dan menurunkan semua koper di atas lemari. Menyusun semua pakaian dengan urut. Kemudian, memasukkannya secara rapi.


Beres!


Merebahkan tubuh di atas kasur. Menatap langit-langit kamar dengan ukiran cantik dan berkelas.


Satu jam kemudian


Bosan berada dalam kamar. Arinda memutuskan keluar menuju taman di depan rumah. Duduk di kursi kayu dengan bersedekap dan memandang lurus ke depan tanpa ekspresi.


Dering ponsel mengejutkan Arinda. Ia merogoh kantong celana dan mengeluarkan benda pipih tersebut. Kemudian, menggulir tombol hijau ke atas.


“Halo, Mbak Dini!”


“Rin, kamu besok pulang?”


“Iya.”


“Jam berapa sampai Jakarta? Mbak jemput, ya?”


“Enggak usah, Mbak. Aku nanti pulang naik taksi aja.”


“Tapi, Mbak kangen sama kamu.”


“Iya, aku juga kangen. Besok sore aku ke rumah Mbak Dini.”


“Ya, sudah. Sekarang, kamu istirahat, gih. Mbak tunggu di rumah besok.”


“Iya, Mbakku yang berhati bidadari.”


“Jangan memuji! Bilang saja minta di buatkan gulai ikan patin, 'kan?”


“Jangan pitnah aku, Mbak. Dosa! Tapi, kalo Mbak Dini maksa, ya, aku bisa apa.”


Mereka berdua tertawa.


“Ya, sudah. Besok Mbak pulang setengah hari. Hati-hati di jalan. Oke!”


“Oke.”


Telepon terputus. Arinda menaruh kembali ponselnya ke dalam saku celana.


“Aku antar besok sampai rumah. Tidak perlu naik taksi.”


Tiba-tiba, Ricko datang dan duduk di depan Arinda. Menatapnya lekat seraya tersenyum. Pria itu sudah berdiri di belakang wanita cantik itu sejak menerima telepon.


Arinda tetap dalam mode diamnya. Malas untuk bersitatap, ia memilih beranjak.


Akan tetapi, Ricko dengan cepat mencegah. Ia bersimpuh di depan Arinda. Kemudian, menaruh kepala di atas pangkuan gadis itu.


“Aku minta maaf. Arinda, tolong ... jangan mendiamkanku. Berbicaralah.”


Gadis itu bergeming.


“Maki aku, tampar, pukul, atau apa pun sesuka hatimu. Tapi, jangan diam. Aku merindukanmu.”


Hening!


Ricko mengalungkan kedua tangannya di pinggang Arinda.


“Aku salah. Hukum aku. Dan ... kembalilah menjadi Arinda yang dulu.”


“Dulu? Seperti apa? Bahkan, aku membenci diriku yang lalu,” ucap Arinda datar.


Ricko tersenyum getir. “Aku minta maaf. Aku sering menyakitimu. Tapi, aku punya alasannya.”


“Alasannya kamu membenciku. Wanita murahan ini selalu menganggu. Bahkan, menghancurkan hidupmu hingga mati rasa. Aku perempuan jahat.”

__ADS_1


Di pangkuan Arinda, Ricko menggeleng. “Tidak. Aku berbohong. Kamu bukan perempuan jahat apa lagi murahan. Kamu wanita berharga.”


Arinda menghela napas lelah. “Kenapa?”


“Apa?”


“Kenapa tiba-tiba kamu berubah baik?”


“Aku ....”


“Sudahlah, aku tidak ingin mendengarnya.”


“Rin ....”


“Maaf, aku ingin tidur.”


Ricko menggeleng. “Aku minta maaf.”


“Apakah setelah aku memaafkan, kamu akan berdiri?”


“Katakan dulu?”


Arinda mengangkat kepala Ricko. Menaruh kedua tangannya di pipi pria itu. Menatap lekat netra pekat yang terlihat sendu.


“Kamu selalu egois. Aku selalu mengalah. Haruskah aku terus yang menurut.”


“Rin, aku ....”


“Kamu tau? Aku berharap sangat banyak kepadamu. Cinta, kebahagiaan, bahkan pernikahan. Bodoh, bukan! Gadis ini sangat menyedihkan. Tapi, aku sudah sadar. Kamu terlalu jauh untuk kugapai. Aku menyerah sampai disini!”


Ricko kembali menggeleng. “Rin, tolong ....”


“Mulai sekarang, cari cinta dan kebahagiaanmu. Aku berjanji tidak akan lagi menganggu.”


“Arinda ....”


“Rick, aku ingin memberikan sesuatu kepadamu. Bangunlah dulu. Aku tidak akan pergi.”


Ricko menurut. Ia beranjak bangun dan duduk di kursinya tadi.


Arinda membuka kaitan kalung di lehernya. Menarik dan menggantungnya di tangan tepat di tengah-tengah antara netra mereka.


“Kamu masih mengingat ini?”


Ricko diam tak menjawab. Firasatnya mulai tak enak. Ia tahu betul cincin dan kalung itu pemberian darinya.


Ricko menatap Arinda dengan sorot tak terbaca. Ia pun berniat akan diam tak ingin menyela omongan gadis itu.


“Kalung ini kamu beri saat kita baru saja resmi berpacaran. Aku rasa kamu tidak akan memberikan jika gadis bodoh ini menolak. Tapi, sayangnya wanita di hadapanmu menerima. Jadi, aku bisa memilikinya.”


Ricko semakin membisu.


“Kamu tau? Saat itu aku bahagia. Aku merasa spesial. Perempuan murahan dan matre ini langsung naik derajat.”


Bibir Ricko sudah bergetar. Tapi, ia masih menahannya.


“Dan ... cincin cantik ini kamu beri dengan menyertakan sebuah janji.” Arinda terdiam. Bibirnya seketika kelu. Namun, ia meneruskannya dengan lirih, “kamu bilang nanti akan memakaikan cincin yang lainnya di jari manisku sebelah kanan.”


Hening!


Ricko menundukkan kepala. Tak sanggup rasanya terus menatap gadis yang ia cinta dengan ingatan-ingatan masa lalu. Apalagi, bibirnya pernah berikrar janji.


“Rick, lihat aku.” Arinda mengangkat dagu Ricko agar menatap matanya. Kemudian, gadis itu memperlihatkan tangan kanannya dan menunjuk jari manisnya. “Jari ini menunggu janji seseorang untuk memenuhinya.”


“Arinda, aku ....”


Arinda menggeleng. “Jangan berucap apa pun, aku tak sanggup untuk mendengarnya. Kamu tidak perlu khawatir. Aku tidak akan menagih janji itu.”


Ricko menggeleng. “Rin ....”


“Aku sengaja mengalungkannya agar tidak hilang atau di curi orang. Juga ... agar aku selalu ingat sama kamu. Tapi ....”


Ricko langsung menarik Arinda dan membawa tubuh itu ke atas pangkuannya. Kemudian, memeluk tubuh mungil itu. “Cukup ... sudah ... jangan katakan apa pun lagi. Aku mohon. Aku tidak sanggup mendengarnya.”


Pelukan itu semakin erat. Arinda membalas kemudian menangis.


Bulan di atas sana menjadi saksi. Jika keduanya sesungguhnya tak ingin berpisah. Jutaan bintang bertaburan pun berani untuk ikut bersaksi. Bahkan, kodok, tokek, dan semut ikut berjajar. Mereka mengajukan diri agar di beri hak bersuara dan ikut memberi kesaksian. Di atas pohon besar, setan tengil dan setan dungu pun tak mau kalah untuk turut serta.


Namun, apa daya. Sepasang anak manusia itu tetap harus mengalah pada keadaan.


Takhta dan harta sudah di genggaman Ricko. Hanya tinggal meraih kembali Arinda.


Dua puluh menit keduanya berpelukan. Saling menumpahkan kerinduan.


“Rick,” suara Arinda lirih.


“Aku tak ingin mendengar apa-apa lagi.”

__ADS_1


“Rick, lepaskan sebentar pelukanmu.”


Ricko menggeleng. “Tidak.”


“Rick, tolong buatlah semua menjadi mudah.”


Ricko melepaskan pelukannya. Namun, tak melepas kedua tangannya di pinggang Arinda.


“Arinda ....”


“Rick, cukup. Dengarkan aku.”


“Jangan mengatakannya.”


Arinda terdiam sesaat. “Ambil ini. Sejujurnya, aku ingin menyimpan itu. Tapi, aku sudah tidak pantas untuk memilikinya.”


“Arinda ....”


“Aku juga tak sanggup untuk membuangnya. Jadi, akan lebih baik jika kedua benda ini kembali kepada pemiliknya, bukan?”


Ricko menggeleng. “Itu milikmu dan selamanya akan begitu.”


“Hubungan kita sudah berakhir. Aku akan pergi jauh darimu. Tapi ....”


“Rin, sudah. Aku minta maaf. Pria brengsek ini selalu menyakitimu.”


“Bisa dengarkan aku. Kali ini saja. Biarkan aku bicara sampai selesai.”


Bibir Ricko bergetar. “Maaf.”


“Beri aku waktu beberapa bulan lagi untuk tetap bekerja di Narendra. Aku butuh uang untuk melanjutkan hidupku. Tabunganku sudah terkuras habis untuk biaya kuliah. Jadi, biarkan aku mengumpulkan rupiah lagi. Setelahnya, aku janji akan menghilang dari hidupmu.”


“Aku akan memberimu banyak uang dan segalanya. Tapi, jangan meninggalkanku.”


“Aku tidak ingin uangmu. Dan, jangan pernah berpikir untuk melakukannya atau aku akan marah.”


“Jangan pergi.”


“Kenapa aku tidak boleh pergi?”


“Bersabarlah. Pada waktunya nanti, aku akan menjelaskannya.”


“Tidak. Aku butuh penjelasan itu sekarang atau tidak sama sekali. Dan, saat ini juga katakan perasaanmu padaku.”


Ricko menggeleng. “Aku tidak bisa mengatakannya.”


“Kalau begitu biarkan aku pergi.”


“Rin ....”


“Aku wanita, Rick. Aku butuh kepastian. Jangan menggantung cintaku.”


Ricko terdiam. “Maaf.”


Arinda meraih tangan Ricko. Kemudian, menaruh cincin dan kalung itu di telapak tangannya yang dingin.


Ricko menggeleng. “Rin ....”


“Jangan menolak. Setelahnya, kamu boleh membuangnya.”


“Aku ....”


“Rick, aku punya permintaan satu lagi.”


“Cukup, Rin.”


“Aku belum mengatakannya.”


“Oke, katakan. Tapi, aku tidak akan berjanji mau menurut.”


“Malam ini adalah terakhir kali kebersamaan kita. Boleh aku menciummu?”


Ricko terkejut dan menganga mendengar permintaan Arinda. “SHIT!”


Ricko langsung saja menyambar bibir merah muda itu lebih dulu. Mengeratkan pelukannya. Melumatkan sampai habis benda kenyal favoritnya tanpa ampun.


Arinda pun turut membalas hal yang sama.


Biar saja malam ini menjadi kenangan terindah untuk mereka.


Dan ....


Seketika semua saksi-saksi bubar. Karena, tak kuat melihat adegan semi vulgar.


Bulan dan jutaan bintang bersembunyi di balik awan. Kodok, tokek, dan semut pamit undur diri. Setan tengil dan setan dungu pun lari terbirit-birit melayang terbang kemudian menghilang. Menurut kedua makhluk tak kasat mata itu, kelakuan sepasang sejoli yang sudah menjadi mantan sangat tak bermoral. Karena, melakukannya di depan para saksi.


Ciuman asmara bagai bara api membara. Hot!

__ADS_1


__ADS_2