
***
Dia sekolah disini juga?
"Rin, Arin," Panggil Nita yang menyadari temannya itu sedang bengong.
"Hah? Apa Nit?"
"Kamu kenapa sih? Ngeliatin siapa?" Tanya Nita penasaran.
"Enggak kok. Bukan siapa-siapa," Elaknya.
Pasalnya dia melihat laki-laki yang dia kenal. Laki-laki yang mengenakan hoodie polos berwarna light grey, topi hitam bermotif bordir teks kecil bertuliskan Eminem, idolanya. Sikapnya yang selalu memasukkan kedua tangannya ke dalam saku depan hoodie, serta menyembunyikan wajahnya dari halayak umum dibalik topi. Tapi Arin tetap mengenalinya.
Danis Mirza Mahardika. Laki-laki yang disukai Arin saat dia duduk di bangku SMP kelas VIII. Saat itu, mereka berdua satu kelas. Laki-laki yang jarang berinteraksi dengan teman perempuan di kelasnya dulu. Seperti ada rasa ketidaknyamanan baginya berteman dengan perempuan.
Arin tidak bisa menahan malu ketika mengingat kejadian itu. Haikal, Salah satu teman laki-laki di kelasnya mengetahui perasaan Arin pada Danis karena saat itu dia mengukir indah nama pujaan hatinya itu di halaman buku belakangnya. Haikal langsung menggodanya dengan heboh, dan laki-laki itu terang-terangan mengatakan pada Danis saat dia berjalan sendirian masuk ke dalam kelas yang kebetulan hanya ada mereka bertiga saja. Yang lebih memalukan lagi, laki-laki itu diam, tidak menanggapi perkataan Haikal, bahkan tersenyumpun tidak.
Sejak saat itu, Haikal terus menggodanya sampai beberapa teman kelasnya tau soal perasannya pada Danis. Godaan Haikal berakhir saat mereka menginjak kelas IX karena tidak sekelas, tetapi perasaannya untuk laki-laki itu masih melekat. Dan apesnya, sekarang Haikal satu kelas dengan Arin di kelas X. Benar saja, saat perempuan itu melirik pada Haikal, dia menunjukkan senyum nakalnya sambil melirik bergantian padanya dan Danis yang bersandar di whiteboard.
Sial! Batin Arin.
Dia sudah membayangkan kesialan-kesialan di hari-harinya karena Haikal nanti. Arin berharap, temannya itu tidak menggodanya seperti dulu.
Arin menghela nafasnya pelan, dia menundukkan kepalanya tanpa memperhatikan apa yang di jelaskan ketua ekstrakulikuler itu. Tanpa sadar, seseorang menepuk pundaknya pelan. Arinpun mendongak, bola matanya kembali membulat sempurna saat laki-laki berdagu tajam itu tersenyum sambil mengulurkan kertas formulir padanya.
Dengan tangan yang sedikit gemetar karena rasa gugup, dia mengambil alih kertas tersebut dari tangan Danis. Ini pertama kali laki-laki itu tersenyum padanya sejak di SMP. Dia selalu menunjukkan sikap acuh pada Arin. Perempuan itu hanya memandangi kertas ukuran A4 yang dia pegang selama 10 menit, pikirannya masih terbayang dengan senyuman laki-laki tadi, sampai seseorang menghampirinya lagi.
"Permisi, formulirnya."
Arin mendongak dan memberikan formulir yang ia biarkan kosong itu pada Kakak kelas yang menghampirinya itu. Dia melirik formulir milik Nita yang juga kosong dan memberikannya pada Kakak kelas itu.
"Kamu gak ikut?" Tanya Arin.
Nita menggeleng, "Aku gak suka ikut ekskul. Dari SMP gak pernah ikut," Jelasnya.
Arin mengangguk. Memang sih, siswi seperti Nita terlihat tidak tertarik dengan kegiatan selain mata pelajaran. Dia terlihat seperti seorang pelajar yang menyukai buku pelajaran daripada explore sekolah atau alam.
__ADS_1
Satu persatu anggota ekstrakulikuler datang memasuki kelas Arin secara bergantian. Anggota PMI, Osis, Remas, Pecinta Alam, Volley, Sepak Bola, Musik, Renang dan lain-lain setelah jam istirahat pertama. Jadi hari ini hanya diisi dengan promosi ekstrakulikuler saja. Arin juga tidak mengikuti kegiatan lain selain jurnalistik, karena dia memang hanya ingin fokus pada satu kegiatan saja.
*
"Boleh gabung gak nih?" Tanya seorang perempuan berambut hitam panjang yang diikat keatas, bernama Adlina Kirana Putri, pada Arin dan Nita.
Dan satu perempuan disebelahnya, berkulit sawo matang, berambut kocoklatan panjang. Nerissa Arviana. Mereka berdua mengangguk mempersilahkan kedua perempuan yang sekelas dengan mereka untuk duduk, karena kursi lain sudah penuh dengan para murid baru di hari kelima mereka masuk sekolah.
"Kamu Nita kan?" Tanya Kirana.
Nita mengangguk. "Kirana kan ya?"
"Iya, panggil aja Kiki. Terus, ini Suryani," Tunjuk Kiki pada teman di sebelahnya.
"Sialan! Bukan ya. Nama gue Risa. Nerissa. Ngarang ae lo tokek betina," Ketus Risa.
"Kamu dari Jakarta?" Tanya Nita.
"Iya. Disini tinggal sama Nenek," Jawab Risa.
"Oh iya, nama kamu siapa?" Tanya Kiki pada Arin yang sedang asik menyantap indomie goreng kesukaannya.
"Hai Arin. Boleh kan nih temenan?" Tanya Risa.
"Boleh dong," Jawab Arin.
"Oh iya, seragam olah raga udah pada dapet belom?" Tanya Nita.
"Udah," Jawab ketiga perempuan tersebut.
"Besok olahraga kan ya? Ah, males banget gue, sumpah!" Kata Risa menunjukkan ekspresi malasnya.
"Olahraga kok males, pantes tuh lengan udah kayak gadahnya Bima," Sindir Kiki.
"Sialan! Ini tuh hasil dari kerja keras. Ngangkutin laundrian di rumah. Makanya jadi keker gini," Jawab Risa tidak terima.
Arin dan Nita hanya tertawa pelan. Dia tidak menyangka bisa mendapat teman seperti mereka dengan cepat, mengingat Arin tidak pandai bergaul. Beruntung mereka mau menyapanya lebih dulu, kalau tidak, mungkin sekarang dia akan makan sendirian di kantin.
__ADS_1
"Hai, Arinda."
Mendengar seseorang menyapanya, dia menoleh mencari siapa yang memanggilnya. Ternyata yang memanggilnya seorang laki-laki berparas manis, duduk tepat di kursi samping kanan Arin dengan dua teman laki-lakinya.
"Saya, Kak?" Tanya Arin setelah dia melirik bagde laki-laki itu yang menunjukkan angka XI berwarna biru.
"Iya kamu," Katanya, masih tersenyum. "Makan yang banyak, biar makin gembul pipinya." Setelah mengatakan itu, dia kembali mengobrol dengan temannya.
"Ciyaaaaa Arin," Goda Kiki dan teman-teman lainnya berbisik.
"Kayaknya ada yang di demenin Kakak kelas nih," Seru Risa juga berbisik.
"Baru lima hari jadi anak SMK udah ada yang demen. Iri deehh, " Sahut Nita.
"Ssstt! Udah jangan pada berisik," Kata Arin yang menyuruh teman-temannya diam.
Dia melirik lagi pada laki-laki yang tidak di ketahui namanya itu. Dia asik mengobrol sambil tertawa pelan dengan teman-temannya. Jelas Arin bingung , darimana dia tau namanya, dan apa maksud sapaan yang tiba-tiba itu.
Suapan indomie terakhir masuk ke mulut mungil Arin, dia segera mengunyah dan menelannya, lalu meneguk es jeruk miliknya. Selesai makan, dia mengusap perutnya karena kenyang. Berbeda dengan teman-temannya yang hanya membeli camilan dan minuman dingin saja.
Tiba-tiba pandangan Arin fokus pada gerombolan laki-laki yang memasuki area kantin. Danis dan geng barunya. Masih sama dengan penampilannya kemarin, hoodie dan topi yang sama.
Arin masih betah memperhatikan sosok laki-laki dingin itu duduk dan bergurau dengan teman-temannya. Semua manusia disekitarnya terlihat buram, kecuali Danis. Di mata Arin, hanya dia satu-satunya objek indah yang bisa dinikmati. Suara tawanya seakan menjadi nyanyian paling merdu di telinga perempuan itu. Perasaan itu yang selalu dia rasakan sejak dulu, tanpa adanya interaksi apapun antara mereka. Hanya kebungkaman yang membuat dia tetap jatuh kedalam pesona seorang Danis Mirza Mahardika sejak dulu.
Memendam perasaan suka dalam waktu yang lama itu tidaklah menguntungkan. Hanya bisa melihat, tanpa bisa mengutarakan perasaan suka. Terkadang kita memendam perasaan terhadap seseorang dikarenakan ada rasa malu, minder, takut untuk memulai dahulu, dan takut perasaannya tidak terbalas. Tidak ada yang salah dari memendam perasaan, hanya saja terkadang kita seperti orang gila yang tersenyum sendiri saat memikirkan orang yang kita sukai.
***
**Cast.
Danis Mirza Mahardika**.
Adlina Kirana Putri.
__ADS_1
Nerissa Arviana.