ARINDA

ARINDA
Syarat berat kembali terulang


__ADS_3

HAPPY READING 🤗💞


.


.


.


HENING!


Sepuluh menit kemudian


Ricko mendeham untuk membuat dirinya sendiri bisa kembali normal dari kekikukan. Juga, untuk menyadarkan semuanya agar kembali fokus pada pekerjaan.


Profesional! Ricko bermaksud menerapkan sikap tersebut. Meskipun, itu hanya sebuah alasan. Pada kenyataannya, ia harus menahan rasa malu akibat keceplosan tadi.


Lalu, Ricko mengambil gambar desain di tangan Arinda. Pria itu kembali menjelaskan apa yang sempat tertunda tadi.


Semua pun mulai fokus mendengarkan lagi sang pemimpin di dalam divisi tersebut. Kalau bukan anak pemilik perusahaan, mungkin bombardir pertanyaan sudah dilayangkan.


Sementara Arinda menunduk. Ia bukan sedang menahan malu melainkan mengulum senyum. Satu kata paling indah yang baru saja didengar membuatnya bagai di awang-awang.


Satu jam kemudian


Rapat akhirnya usai. Belum juga semua beranjak, Ricko sudah memberikan titah.


“Arinda, keruangan!”


Pria itu berlalu pergi tanpa menoleh sedikit pun kepada semua orang termasuk Arinda.


“Arinda, kamu punya hutang cerita. Mbak tunggu sebelum teror datang.”


Mbak dini pun ikut berlalu pergi keluar ruangan. Teror yang ia maksud adalah menelepon tanpa henti sampai gadis itu menyerah. Terkadang, bisa lebih parah. Wanita yang tengah hamil itu akan menyatroni apartemen kecil yang Arinda sewa. Kemudian, mengoceh tanpa henti.


Dini selalu ingin tahu tentang gadis yang sudah dianggapnya sebagai adik. Cerewet dan galak! Namun, penuh perhatian. Oleh karena itu, Arinda menyayangi wanita itu.


Dini bersikap demikian, karena khawatir oleh Arinda. Gadis itu tinggal seorang diri di sebuah apartemen yang rentan akan kejahatan. Takut terjadi sesuatu yang tidak diinginkan.


Kemudian, orang-orang lainnya tersenyum menggoda ke arah Arinda.


🌺🌺🌺


Suara ketukan pintu terdengar. Kali ini, dengan sopan dan santun Arinda mengetuknya terlebih dahulu. Juga, sampai dipersilakan masuk.


Pintu terbuka!


Kemudian, sebuah tangan kekar langsung menariknya agar lekas masuk. Pria itu segera mengunci pintu.


Lalu, Ricko mendorong pelan Arinda sampai menyentuh tembok. Pria itu mengungkungnya dengan badan atletisnya. Ia memberi tatapan tidak suka.


“Lihat akibat perbuatanmu sering memanggilku seperti itu!”


Arinda tersenyum. “Kamu lupa, bukan aku yang membuat salah. Kamu menyebutnya lebih dulu. Aku hanya refleks menyahut.”


“Itu karena kamu sering menyebutnya. Aku jadi lupa.”

__ADS_1


“Bilang saja masih cinta. Tidak usah beralasan.”


Ricko mulai frustrasi. Lagi-lagi harus berargumen dengan Arinda dan harus kalah.


Ricko mengusap wajahnya dengan kasar. “Dengar! Ini kali terakhir aku memperingatkanmu, Nona. Hentikan memanggilku dengan panggilan itu. Atau ....”


Arinda memeluk Ricko. “Aku tidak mau.”


“Astaga, Arinda! Lepas!”


Ricko mencoba melepas pelukan tersebut. Tapi, justru gadis itu semakin mengeratkan pelukan.


“Tidak mau.”


“Jangan membuatku marah. Lepas!”


Arinda melepas pelukan tersebut dan membalik keadaan. Gadis itu mendorong Ricko sampai ke tembok dan mengungkungnya dengan tubuh mungilnya. Kemudian, mendongakkan kepala.


“Sayang, dengar! Seberapa banyak pun kamu memperingatkanku. Aku tidak akan mendengarkanmu.”


“Gadis keras kepala!”


“Aku bukan gadis keras kepala! Aku cinta sama kamu!”


Ricko terdiam! Ucapan Arinda bagai kupu-kupu terbang di atas kepala. Begitu indah!


Namun, Ricko tak mau Arinda kembali mempermainkannya. Oleh karena itu, semua ucapan barusan di anggap hanya omong kosong!


Ricko tersenyum sinis. “Jatuh cinta kepadaku, tetapi berkhianat. Kamu pikir aku bodoh!”


“Sayang, bisa kita sama-sama melupakan masa lalu dan mulai merajutnya dari awal lagi.”


Ricko melipat tangan di dada, dengan tetap membiarkan dirinya berada pada kungkungan gadis mungil itu.


“Menurutmu semudah itu?”


“Kita coba.”


“Lalu, kamu mau menjalin kasih lagi denganku?”


Arinda tersenyum dan mengangguk. “Iya.”


“Baiklah! Aku mengalah.”


Arinda tersenyum senang. Akhirnya, secepat ini bisa mendapatkan sang calon suami idaman.


“Jadi, maksudmu kita kembali menjalin kasih?!”


Ricko tersenyum kemudian berbisik. “Masih mengingat syarat dariku jika ingin kuberi maaf. Kalau kamu bersedia melakukannya hari ini. Ayo! Kita kembali bersama.”


Aku tau kamu akan menolaknya. Maaf, Arinda. Hanya cara ini yang kupunya agar kita berjauhan. Seandainya pun, kamu bilang iya, aku tak akan melakukan hal gila tersebut. Baik kejadian sepuluh tahun lalu maupun sekarang. Aku tak akan pernah merusakmu. Ricko membatin.


Flashback on


“Kau ingin aku memaafkanmu?”

__ADS_1


Arinda mengangguk tanpa berniat sedikit pun melepas pelukannya.


“Aku akan memaafkanmu. Tapi, ada satu syarat yang harus kamu penuhi. Kau sanggup?”


Arinda mendongak, menatap sang kekasih dengan matanya yang basah. Ricko kemudian menunduk, mereka berdua saling berpandangan.


“A-apa syaratnya?”


Ricko menyeringai, “Tidur denganku!”


Flashback off


Arinda memukul dada Ricko tiga kali. Lalu, menatapnya tajam dan dingin!


“Brengsek! Kalau memang itu maumu, aku mau melakukannya. Asal ... ada hitam di atas putih. Isinya, satu kali dua puluh empat jam setelah kita berhubungan layaknya suami-istri. Kamu, Ricko Bagaskara Narendra akan mengumumkan kepada media bahwa satu Minggu ke depan akan menikahiku, Arinda Nabila.”


“Apa!”


“Kamu bersedia?”


“Sinting!”


Arinda mengangkat bahu. “Kamu begitu menginginkan aset berharga yang aku punya. Meskipun, aku mencintaimu. Aku bukan gadis bodoh yang bisa mengiakan langsung permintaanmu. Lalu, memberikannya begitu saja tanpa jaminan pernikahan. Mimpi saja sana!"


Bagus! Itu baru gadis pintar. Jagalah terus kesucianmu untuk suamimu kelak, gumam Ricko.


“Keluar dari ruanganku!”


“Sayang!”


“Sudah kubilang hentikan panggilan menjijikkan itu!”


Arinda kembali memukul dada Ricko. Kali ini, secara membabi buta. Pria itu menangkap tangan tersebut. Seperti dahulu, ia hanya takut tangan ini sakit.


Setelah Arinda mulai tenang. Ricko melepaskan tangan tersebut.


“Itu panggilan kita dulu! Tapi, sekarang kamu malah bilang begitu. Kenapa kamu jadi brengsek begini, Ricko Bagaskara?!”


Ah, rupanya kamu benar-benar marah. Buktinya, namaku disebut dengan lengkap. Dulu dan sekarang, kenapa seolah-olah seperti dejavu. Tunggu! Mengapa jadi banyak kenangan teringat kembali. Menyebalkan! batin Ricko.


“Sudah tau aku brengsek! Lalu, kenapa masih mengejar? Pergi sana!”


Arinda mencengkeram erat jas Ricko kemudian menunduk. “Karena ... hanya kamu yang mencintaiku dengan tulus. Hanya kamu yang tidak pernah menyakitiku. Hanya kamu yang selalu menjaga kehormatanku. Sementara yang lain ....”


Arinda tak sanggup meneruskan kata-katanya. Perlahan, cengkeraman itu terlepas. Kemudian, ia pergi membuka pintu yang terkunci itu. Lalu, keluar dari ruangan dengan berlari.


Ricko menatap kepergian Arinda dengan pertanyaan-pertanyaan. Ada apa denganmu? Kenapa kata-katamu terdengar menyedihkan? Apakah sepuluh tahun terakhir ini, kamu melewatkannya dengan kesedihan? Jika itu benar, aku minta maaf.


Mamacih sudah mampir, Kakak 🤗💞


Saranghaeyo 💞😘


Jangan lupa vote-nya 🤗💞


Jangan lupa klik tombol like-nya juga 🤗💞

__ADS_1


__ADS_2