ARINDA

ARINDA
Cinta tidak dapat, harta malah sekarat


__ADS_3

Seketika senyum gadis itu menghilang.


Apalagi ini? Aku lelah!


Arinda bergeming, sampai suara lembut sang papa membuat tatapannya beralih.


“Arinda, kemari, Nak. Nirwan sudah menunggumu sejak tadi.”


Cih, pencitraan! batin Arinda.


“Aku ganti pakaian dulu, Pa,” ucap Arinda berlalu meninggalkan Erwin dan Nirwan.


“Baru pulang dari rumah teman, biasa kerja kelompok,” ujar Erwin memberi alasan kepada Nirwan. Padahal, pria itu tidak mempertanyakan apa pun.


Demi kesopanan, Nirwan mengangguk kemudian memuji Arinda, “Anak Om cantik.”


“Tentu saja cantik, Papanya juga ganteng.” Erwin terkekeh.


Nirwan tersenyum. “Boleh saya mendekatinya, Om?”


“Tentu boleh. Tapi, anak itu hobinya belajar, nanti takut tidak punya waktu bersama. Maklum saja, masih sekolah.”


Nirwan cukup mengerti maksud dari Erwin. Pria tersebut mengeluarkan sebuah amplop cokelat dari saku. Kemudian, memberikannya kepada laki-laki tua itu.


“Ini titipan dari orangtua saya untuk Om Erwin.”


Mata Erwin langsung berbinar-binar. Misinya untuk mendapatkan uang dari keluarga Anggoro berhasil. Dan saat itu juga, ia membolehkan Nirwan mengajak sang putri keluar rumah.


Sementara Arinda di kamar tengah merebahkan badannya yang lelah dengan pikiran berkecamuk.


“Kenapa banyak laki-laki bodoh rela mengeluarkan banyak uang hanya untuk seorang wanita yang tidak mencintainya? Mengapa juga mereka harus mengambil jalan pintas seperti ini? Jika menyukai seseorang, tak bisakah mereka berjuang untuk mendapatkan hatinya? Bukan membeli dengan lembaran rupiah.”


Memang bodoh, jika ada wanita yang tak silau oleh uang. Arinda pun menyukainya, tetapi ia cukup mengerti kalau cinta hanya pantas tertambat untuk orang yang mau berjuang. Juga menjaga martabat wanita tersebut.


Oleh sebab itu, Arinda sering mempermainkan mereka yang mengejarnya dengan cara persis seperti apa yang Nirwan perbuat. Ia tak akan segan menguras harta mereka.


Cinta tidak dapat, harta malah sekarat! Arinda tidak peduli. Jangan menyalahkan dirinya yang memoroti, begitu pembelaan dari primadona sekolah tersebut.


Karena menurut Arinda, pria bodoh hanya untuk wanita bodoh. Dan, gadis itu menganggap ia pintar.


Ketika mereka sudah banyak memberi kemudian tanpa malu meminta sentuhan. Walaupun hanya sebuah ciuman, tak segan-segan Arinda akan menolak. Bahkan, langsung memutuskan status pacaran yang telah terjalin, hari itu juga.


Bagi Arinda, pria-pria itu tidak lebih hanya sebuah permainan. Sama seperti mereka menganggapnya. demikian. Jadi, skor satu sama, bukan?


Berbeda dengan sang kekasih. Lelaki itu memperjuangkannya dari nol dan dengan sungguh-sungguh. Jadi, ia tak pernah memoroti. Justru, Ricko dengan senang hati memberikan apa pun tanpa di minta.


Kekasihnya datang kali pertama mendekati bukan dengan harta, melainkan dengan pertemanan. Salah satu sebab, yang membuat Arinda terheran-heran. Ternyata masih ada laki-laki seperti Ricko. Bukan menawarkan cinta, tetapi justru hanya ingin berteman.


Hal tersebut yang mengawali ketertarikan Arinda dengan sosok pria berwajah tampan itu. Setiap hari di sekolah, Ricko selalu menyapa tanpa meminta nomor telepon.


Bahkan, pria itu tak ikut campur ketika ada laki-laki datang menghampiri menawari cinta. Saat itu, Ricko cukup tahu diri dengan statusnya yang hanya sebagai teman.

__ADS_1


Satu tahun mendekati Arinda tanpa mengucapkan kata cinta. Ternyata, itu taktik Ricko untuk mendapatkan hati sang pujaan. Ingin membuatnya nyaman terlebih dahulu. Kalau sudah begitu, wanita biasanya jarang berpaling.


Ide cemerlang itu buktinya berhasil. Arinda yang mula-mula meminta nomor telepon. Tentu, dengan senang hati Ricko memberikan.


Beberapa bulan terakhir bersama sebelum mereka jadian, Arinda sudah sangat ketergantungan dengan Ricko. Selama beberapa waktu itulah, gadis tersebut tak menerima cinta siapa pun.


Saat itu, Ricko cukup jeli membaca peluang. Ia mulai merangsek masuk mendekati hati Arinda.


Ricko mengejar cinta sang primadona secara serius. Saat gadis itu mulai tahu, dengan cepat pria itu menyatakan cinta. Bagai gayung bersambut, Arinda pun menerima. Pantai Ancol adalah saksi bisu di mana jalinan kasih mereka di mulai.


Saat gadis itu menerima, Ricko memberikan sebuah kalung perak bermata berlian berwarna biru. Pria itu memakaikannya langsung ke leher jenjang Arinda.


Ini kali pertama Ricko memberikan sebuah barang untuk Arinda. Katanya, gadis itu lebih berharga dari apa yang ia beri saat ini.


Manis banget, sih, batin Arinda saat itu.


Arinda pun refleks menangis. Tak pernah ada laki-laki yang memperlakukan dirinya se-berharga ini. Gadis itu berjanji, sampai kapan pun tak akan pernah menyakiti sang kekasih. Walaupun kenyataan yang terjadi jauh dari keinginan.


Sang papa yang membuatnya melanggar janji kepada Ricko, hanya demi uang.


🌺🌺🌺


Suasana hening di dalam mobil seketika pecah oleh suara tanya dari Nirwan.


“Rin, mau pergi ke mana?”


“Loh, aku kira kakak sudah memikirkan ketika mengajakku keluar,” jawab Arinda heran.


“Iya.” Terserah kau saja, aku tidak peduli!


Nirwan mengembuskan napas lelah. Ia sepertinya agak kesulitan mendekati Arinda. Gadis itu terlihat sekali membentengi diri dengan tembok besar.


Tiga puluh menit perjalanan, akhirnya mereka sampai di Restoran. Nirwan turun terlebih dahulu kemudian membukakan pintu untuk Arinda. Ia memberikan uluran tangan untuk membantu.


Arinda turun dari mobil dan mengabaikan uluran tangan tersebut.


Nirwan tersenyum kecut mendapat perlakuan itu. Tapi, ia mencoba sabar dan diam saja.


Saat mereka masuk ke dalam, seorang pramusaji menghampiri dan meminta mereka berdua mengikuti untuk mendapatkan tempat duduk.


Pramusaji tersebut mempersilakan duduk dan memberikan dua daftar menu kemudian pamit meninggalkan mereka.


“Kau ingin makan apa, Rin?” tanya Nirwan kepada Arinda.


Gadis itu tidak melirik sedikit pun daftar menu tersebut. Wajahnya terlihat tak bersahabat.


“Kak Nirwan, bisa kita bicara?” pinta Arinda dengan mengabaikan pertanyaan Nirwan.


“Silakan.” Nirwan menutup buku menu.


“Aku sudah punya pacar dan sangat mencintainya,” ucap Arinda berterus terang.

__ADS_1


Gadis itu ingin Nirwan menjauhinya. Ia tak mau memberi harapan apa pun pada pria itu.


Nirwan terdiam sesaat kemudian menatap lekat Arinda. “Kau bisa memutuskannya, karena keluargamu merestui kakak.”


Arinda melongo mendengar jawaban Nirwan. Apa-apaan dia! batinnya.


“Aku tidak bisa. Maaf.”


“Kebetulan sekali, jika menyukai sesuatu, kakak terbiasa mendapatkannya. Termasuk mendapatkan dirimu!” Nirwan berseru seraya tersenyum tipis.


“Walaupun dengan jalan memaksa?”


Nirwan mengangkat bahunya kemudian menjawab dengan santai. “Iya. Tapi, kau tidak perlu khawatir, kakak tidak akan mempermainkanmu. Jadi, menurut saja, ya.”


Egois! gumam Arinda.


“Kakak mengharapkan apa dari anak sekolah sepertiku?”


“Menurutmu?”


Laki-laki brengsek, apakah kau berpikir bisa menyentuhku! Jika itu benar, jangan berharap! Kita lihat saja, berapa lama kau sanggup bersamaku. Arinda membatin kesal.


“Kenapa pria seperti kakak bisa suka padaku? Biasanya, golongan orang dewasa tidak mau dekat dengan anak sekolah. Karena buat mereka kami ini merepotkan.”


Nirwan tersenyum. “Kau benar. Tapi, kakak tidak keberatan jika anak sekolahnya adalah dirimu. Kau sangat cantik.”


Arinda tersenyum, senyuman palsu. Ia berencana akan membuat Nirwan menyesal pernah mengenal anak sekolah sepertinya.


“Ah, begitu. Aku merasa tersanjung.”


“Lain waktu, saat kita jalan bersama, aku akan berpakaian seperti anak-anak seusiamu.”


Cih, mimpi saja sana! Ini pertama dan terakhir untukmu jalan bersamaku, gumam Arinda.


“Aku tahu, supaya kakak tidak terlihat seperti Om-ku, ‘kan?”


“Kau ini, setua itukah wajah kakak?”


“Iya!”


❄️❄️❄️


Arinda POV


Tiga kantong belanja terisi penuh oleh pakaian, sepatu, dan aksesori milikku.


Lihat, Kak Nirwan! Ini baru permulaan, sekarang kau mungkin masih bisa tersenyum.


Akan tetapi, suatu saat kau benar-benar berani mengajakku jalan lagi, akan kubuat kau menangis karena ulahku.


Lima belas juta dua ratus tiga puluh lima ribu rupiah, kasir mengeja jumlah belanjaan Nirwan. Ah, bukan! Itu semua barang belanjaanku yang kutunjuk seenak jidat.

__ADS_1


Cukup untuk hari ini, jika kau masih belum kapok, aku sudah sangat siap untuk mengurasnya lagi!


__ADS_2