ARINDA

ARINDA
Taman bermain


__ADS_3

Cahaya matahari memasuki kamar bernuansa warna hitam dan putih. Mengusik seseorang yang tengah tertidur pulas. Dan, dengan tidak tahu malunya, bukan bangun melainkan menutupi wajahnya dengan selimut. Melanjutkan kembali aktivitasnya yang sempat terganggu.


Sang pemilik kamar sudah berdiri menjulang di samping kasur. Ia menggelengkan kepala. Sudah sengaja membuka semua tirai, tetapi tidak berpengaruh.


Ricko duduk di tepian kasur. “Arinda, bangun. Sudah jam sembilan pagi.”


Gadis itu menyahut dari balik selimut. “Ini hari libur. Biarkan aku bangun lebih siang lagi.”


Ricko menghela napas lelah. “Terserah sajalah.”


Akan tetapi, baru mau beranjak bangun. Tiba-tiba, Arinda membuka selimut dan melotot. Kemudian, melirik Ricko. Lanjut melihat tubuhnya sendiri. “Masih lengkap.”


“Hei ... hei! Apa-apaan itu? Tentu saja masih lengkap. Sembarangan! Aku tidak melakukan apa pun padamu.”


Arinda bersandar pada kasur dan memandangi Ricko. “Kenapa?”


Ricko menaikkan satu alisnya. “Kenapa? Pertanyaan macam apa itu?”


“Ricko, seharusnya kamu tu memanfaatkan gadis yang terlelap dengan baik. Bukan malah mengabaikannya begitu saja. Aku merasa terhina. Apa aku sangat jelek dan tidak menggoda di matamu?”


Ricko tercengang dengan ucapan Arinda. Kemudian, mengambil air dalam gelas di atas nakas dan memasukkan jemarinya itu. Lalu, menciprat wajah gadis itu agar sadar.


“Biar jin dan setan keluar dari tubuh dan otakmu.”


“Ricko!”


“Sudah sadar atau belum? Bicara sembarangan.”


“Ya, siapa tau sesudahnya kamu menikahiku, namanya juga usaha.”


Ricko menggelengkan kepala. “Cepat mandi! Aku antar kamu pulang.”


“Ricko!”


“Apa lagi?”


“Makan dulu.”


“Makan di luar saja.”


“Ricko,” suara Arinda melembut.


“Apa?”


Arinda merentangkan kedua tangannya. “Gendong.”


Ricko berdecak kesal. Tapi, ia menurut. “Cepat naik!” Tunjuknya pada punggungnya kepada Arinda.


Arinda tersenyum. Biar pun tidak di gendong depan ala princess. Tidak masalah. Begini saja, gadis itu sudah cukup senang.


Arinda mengalungkan tangannya erat pada leher Ricko. Menyandarkan dagunya di bahu. Matanya mulai berkaca-kaca.


Arinda POV


Sebelum aku benar-benar menghilang dari hidupmu. Biarkan gadis menyedihkan ini bermanja-manja denganmu, Rick. Beri aku kebahagiaan sebentar saja.


Aku ingin kamu mencurahkan seluruh perhatian dan kasih sayangmu kepada satu nama saja, Arinda Nabila.


Aku mau egois memilikimu. Sampai masa kontrak kerjaku selesai.


Kurang dari enam bulan lagi, Rick. Hanya sampai sebatas itu masaku bersamamu.


Aku ingin punya rekam jejak kenangan indah dalam hidup ketika bersamamu. Walaupun status kita hanya sebatas rekan kerja dan teman biasa.


Ah, seandainya saja bisa seperti ini terus-menerus selamanya denganmu.


Tapi, apa daya.


Ingin menjadi Cinderella, tetapi nyatanya aku sebenar-benarnya Upik Abu. Mana ada pangeran tampan sudi meminang. Mimpi kelewat tinggi.


....


Tanpa sadar, Arinda sudah menangis. Ricko kaget mendapati bahunya basah. Ia menurunkan Arinda tepat di atas wastafel di dalam kamar mandi. Berbalik badan dan mengungkung tubuh gadis itu.


“Kenapa tiba-tiba menangis?” tanya Ricko seraya mengusap air mata yang semakin deras di pipi Arinda.

__ADS_1


Arinda memeluk Ricko. “Aku cinta kamu. Kenapa satu hal saja keinginanku di dunia ini sulit untuk terkabul? Aku hanya mau bersama kamu. Selamanya. Hanya sama kamu.”


Sakit! Rasa seperti ada yang menikam jantung Ricko. Tapi, ia bisa apa. Pria itu mengelus punggung Arinda. Mengeratkan pelukan dan menatap wajahnya di cermin.


Dasar laki-laki brengsek! Lagi-lagi, membuatnya menangis. Mana janji tidak akan menyakitinya dan membuatnya bahagia? Mana! Ricko membatin, merasa bersalah.


“Jangan cengeng. Sudah besar, tetapi menangis terus.” Ah, entah kata-kata apa yang harus aku keluarkan untuk menghiburmu. Kita sama-sama tersiksa, Arinda. Bersabarlah! Aku janji setelahnya kebahagiaan akan selalu mengelilingimu.


Arinda melepas pelukannya. “Boleh aku meminta sesuatu?”


“Katakan.”


Mereka berdua saling berpandangan.


“Aku lapar mau makan mi ayam Mang Arif dekat sekolah kita dulu.”


Ricko mengerjapkan mata kemudian tertawa. “Permintaanmu sesudah menangis membuatku menegang. Tidak taunya hanya minta mi ayam. Kamu memang benar-benar sangat menggemaskan,” ucapnya seraya menjawil hidung bangir Arinda. “Kalau begitu, cepat mandi dan kita berangkat.”


“Ricko.”


“Aku tidak mau memandikanmu. Mandi sendiri.” Bikin tegang aja.


Hah! Siapa juga yang minta dimandikan. Memangnya aku sudah mati. Enak aja! batin Arinda.


“Ricko!”


Baru saja mau melangkah keluar. Namun, Ricko urung melakukannya. “Arinda, jangan aneh-aneh. Kita belum menikah masa harus mandi bersama? Lagi pula aku sudah mandi.”


“Ih, kamu tu mesum banget pikirannya. Aku hanya mau turun. Tolong.”


Seketika, wajah Ricko memerah, malu ketahuan sedang berpikiran kotor. Astaga! Ada apa, sih, isi otak ini kenapa jadi ngeres aja bawaannya? batinnya.


🌺🌺🌺


“Mang Arif, mi ayamnya satu lagi, ya!”


“Siap, Neng!”


Ricko menggeleng. Itu mangkuk kedua yang Arinda pesan.


“Terima kasih, Mang.”


“Sama-sama, Neng.”


Ricko memainkan ponselnya sambil menunggu Arinda selesai makan.


“Aku kenyang.”


“Dua mangkuk, Arinda,” ujar Ricko menyipitkan mata.


Arinda mengangkat bahu, tak peduli.


“Ayo!” Lanjut Ricko meraih tangan Arinda.


“Mau ke mana?”


“Bikin kamu bahagia.”


Mata Arinda berbinar-binar. “Kita ke KUA?”


“Taman bermain.”


Arinda mencebik. “Kirain.”


🌺🌺🌺


Sepanjang jalan Ricko tak melepas genggamannya pada tangan Arinda. Mereka benar-benar akan mulai bersenang-senang. Permainan-permainan ekstrem menjadi pilihan.


“Rin, kita naik Hysteria satu kali lagi.”


“No! Tiga kali lagi. Berani?”


“Siapa takut! Ayo!”


Bukan tiga kali, melainkan tujuh kali. Permainan menantang bagai jiwa terlepas dari raga. Tapi, mereka berdua terus menambahnya. Sungguh apa lagi yang membuat mereka tak cocok. Kesintingan pun sama.

__ADS_1


“Ayo, kita naik ontang-anting!”


“Kurang gereget, Rick. Baling-baling, ya?"


“Berani berapa kali?”


“Dua.”


“Huh! Cemen! Lima. Bagaimana?”


Arinda menatap Ricko tajam. “Oke!”


Berputar-putar dengan tingkat kengerian yang nyata. Padahal, naik turangga-rangga atau bianglala bisa memberi kesan romantis. Tapi, malah permainan yang selalu menguji sport jantung terus yang dipilih.


Hidup sudah berat dan penuh tantangan. Tapi, bermain saja masih memilih hal serupa. Pasangan aneh!


Semua permainan yang memacu adrenalin nyaris tak terlewat untuk dicoba. Membeli tiket fast track memudahkan masuk lebih cepat. Jadi, tidak perlu ikut mengantri panjang dengan antrian mengular. Oleh karena itu, mereka bisa berkali-kali menaiki wahana yang sama tanpa menghabiskan banyak waktu.


Di antara keduanya pun tak ada yang menunjukkan reaksi mual, muntah, pusing, atau berkunang-kunang. Wajah mereka tetap riang dan seolah-olah hanya menaiki wahana biasa.


Ricko memeluk pinggang Arinda. Gadis itu pun membalas.


“Senang?” Ricko bertanya seraya mencium pucuk kepala Arinda yang beraroma sampo miliknya.


Arinda mengangguk dan mengalungkan kedua tangannya di pinggang Ricko. “Iya.”


“Mau naik apa lagi?”


“Laper.”


Ricko tertawa. “Ayo, kita makan!”


Satu jam dipakai untuk makan dan istirahat. Mereka seperti muda-mudi pada umumnya saja. Ikut berfoto ria berdua, tetapi kali ini tidak menyebarkan ke laman GI. Karena keduanya sudah tidak memiliki sosial media lagi. Sudah tutup akun.


Foto-foto tersebut hanya disimpan di galeri ponsel masing-masing.


“Sudah puas? Atau mau naik wahana lagi?”


“Pulang.”


“Oke.”


“Ke apartemenmu."


“Tidak!”


“Motor milikku di parkir di sana.”


“Oh! Besok aku jemput.”


“Lalu, si Brown?”


“Siapa si Brown?”


“Nama motorku.”


Ricko menyunggingkan senyum. “Ya, sudah. Nanti di antar orangku ke apartemenmu. Mana kuncinya?”


Arinda menyerahkan kunci si Brown. “Kamu tahu aku tinggal di apartemen?”


“Bahkan, aku tahu nomor apartemenmu.”


“Jangan pernah mampir.”


“Kenapa?”


“Nanti aku ketagihan.”


Ricko mencubit pipi mulus itu, gemas. “Setiap kata yang keluar dari mulutmu selalu tak terduga. Aku tak pernah bisa menebaknya.”


“Aku memang gadis pintar, Rick.”


“Iya, pintar ngomong.”


“Ricko.” Arinda merajuk.

__ADS_1


Ricko memegang kedua pipi Arinda dan mengecup bibir merah muda itu. “Aku bercanda. Ayo, kita pulang!”


__ADS_2