ARINDA

ARINDA
Aku cinta kamu


__ADS_3

“Arinda, keruangan.”


“Sibuk!”


Ricko menggelengkan kepala. Bagaimana ceritanya asisten lebih sibuk daripada aku atasannya? Lagi-lagi merajuk dengan alasan tak jelas. Dasar drama queen! Tapi, aku cinta, batinnya.


Sejak keluar dari ruang rapat wajah Arinda mengeluarkan aura permusuhan. Ricko pun menjadi bingung di mana letak kesalahannya?


“Kita jenguk Ibu Dini sekarang.”


“Maaf, Pak Ricko. Saya bekerja dengan profesional. Jadi, harus menunggu pulang kerja lebih dulu baru bisa keluar kantor.”


“Kamu pengecualian.” Sial! Dia menyindirku.


“Seharusnya Anda tidak boleh pilih kasih.”


“Perusahaan ini milik keluargaku. Jadi, terserah aku mau berbuat apa pun.”


“Cih, arogan!”


“Terserah. Aku tunggu di ruangan.”


“Tidak mau.”


“Arinda ....”


Belum selesai Ricko berbicara, Arinda sudah beranjak bangun dan menyelonong ke dalam ruangan.


Ricko bertolak pinggang seraya menggelengkan kepala. Memandangi gadis yang tengah memajukan bibir merah muda favoritnya itu. Bahkan, ketika menjawab pertanyaan ketus sekali.


Ricko pun turut melangkah masuk ke ruangan. Melihat Arinda sudah duduk, pria itu mengunci pintu.


Ricko menghampiri dan berdiri bersandar pada meja di samping kursi tempat Arinda duduk. Pria itu bersedekap. Memandangi sang pujaan dengan lekat tanpa bicara.


Hening!


Karena kesal melihat Ricko diam saja, Arinda beranjak bangun ingin kembali ke meja kerjanya. Akan tetapi, tangan kekar itu lebih dulu menariknya kepelukan dengan posisi gadis itu menghadap ke depan.


Ricko menghirup aroma wangi yang menguar dari rambut Arinda. Mengeratkan pelukannya karena gadis itu meronta.


“Aku salah apa? Kenapa tiba-tiba merajuk?”


“Kamu tu bikin kesel! Mana ada buku Burung Garuda di Toko Buku!”


Ricko menghela napas lelah. Ternyata masih perkara buku. Arinda, oh, Arinda! Entah, aku harus bilang apa? Ingin memaki, tetapi aku cinta. Tidak memaki, aku kesal sendiri, batinnya menahan jengkel.


“Ya, sudah. Aku minta maaf. Lalu, belinya di mana?”


“KUA.”


“KUA? Apa maksudmu Kantor Urusan Agama?”


“Iya.”


Ricko tercengang. Membalik tubuh Arinda dan menyipitkan mata. “Jadi, maksudmu buku nikah?”


“Iya.”


Ricko mengembuskan napas lelah. “Arinda, minta yang lain, ya. Aku akan menurutinya.”


Arinda tersenyum getir. “Berat, ya? Ya, sudah. Aku juga tahu diri. Mana ada pria yang mau serius denganku. Apa lagi kamu, kita 'kan hanya rekan kerja dan teman biasa. Tidak lebih.”

__ADS_1


Aku juga mau menikahimu, tetapi tidak sekarang. Ricko membatin.


“Dari Surabaya kita ke Batu Malang. Mau? Main paralayang. Seru-seruan,” ucap Ricko mencoba mengalihkan pembicaraan sekaligus negosiasi supaya gadis ini berhenti merajuk.


Arinda menatap Ricko. “Batu Malang?”


“Iya.”


“Apakah di sana banyak pepohonan seperti hutan?”


“Kamu takut?”


“Entah.” Aku hanya masih trauma dengan hutan, Rick. Sepi, gelap, dingin, dan menyeramkan. Aku sendirian di sana.


“Kalau begitu kita diving saja. Mau?”


Arinda mengangguk.


“Oke. Kalau begitu sudah tidak marah, 'kan?”


Arinda menggeleng.


Ricko menghela napas lega. Akhirnya, berhenti marah. Ah, gadisku tersayang. Aku mati gaya kalau kamu sudah ngambek, batinnya.


Tepat pukul lima sore, Ricko menepati janji untuk mengantar Arinda menjenguk Dini. Sesampainya di rumah sakit mereka berjalan bersisian menuju kamar rawat.


Begitu tiba, Arinda langsung berlari ke pelukan Dini. “Mbak Dini! Aku khawatir! Kalian berdua gak papa, 'kan? Tidak ada luka serius, 'kan?”


“Arinda, bertanya satu-satu. Kasihan Ibu Dini kamu berondong pertanyaan begitu,” ucap Ricko seraya mengelus puncak kepala Arinda.


Perlakuan Ricko tidak luput dari pandangan Dini dan Fajar. Mereka menatap canggung sekaligus miris. Hubungan mesra, tetapi tanpa status jelas.


Suami-istri itu hanya kasihan melihat Arinda. Begitu berharap, tetapi sang bos seperti mempermainkan.


“Terima kasih sudah menyempatkan waktu menjenguk saya, Pak Ricko.”


Ricko mengangguk tanpa menyahut.


Arinda terus menempel pada Dini. “Mbak, jantungku serasa berhenti berdetak saat mendengar kecelakaan itu.”


Dini tersenyum. “Mbak 'kan sudah tidak apa-apa.”


Fajar berdeham. “Pak Ricko, mau ikut ke kafe?”


Ricko menoleh ke arah Arinda untuk meminta persetujuan. Gadis itu mengangguk. Kemudian, kedua pria itu melangkah keluar menuju kafe.


“Mbak, Rabu aku wisuda dan Kamis berangkat ke Surabaya selama dua hari.”


“Embak minta maaf gak bisa datang di acara wisuda kamu.”


“Tidak usah memikirkan itu. Pikirkan sekarang kondisi baby dan diri sendiri. Aku, nih, seriusan khawatir sama, Mbak Dini, loh!”


“Rin, peluk Mbak Dini.” Arinda menurut. “Kamu janji jangan sedih saat wisuda karena tak ada yang menemani.”


“Iya, aku gak bakal sedih.”


“Atau Mas Fajar aja yang menemanimu, ya?”


“Terus Mbak Dini sendirian. Aku justru lebih sedih kalo enggak ada yang menemani Mbak Dini di rumah sakit.”


“Tapi ....”

__ADS_1


“Mbak, aku baik-baik aja.”


“Pak Ricko menemanimu?”


Arinda menggeleng. “Di kantor lagi banyak pekerjaan, Mbak.”


“Mbak kesel, Rin. Kenapa kecelakaan ini mesti terjadi di saat kamu mau wisuda.”


Arinda tertawa. “Aku sayang, Mbak Dini.”


“Mbak juga sayang kamu. Jangan sedih lagi, ya. Kamu harus bahagia.”


“Iya.” Arinda terpaksa berkata bohong.


Hidupku adalah kesedihan, Mbak. Setelah kontrak selesai. Aku juga akan pergi dari hidupmu. Mencari kehidupan di mana tak ada satu orang pun mengenali. Lalu, menata hati dan kehidupan baru. Menjauh dari kalian rasanya jalan yang harus kutempuh. Pengecut ini akan melarikan diri. Arinda membatin.


🌺🌺🌺


“Rick, aku sudah menyusun semua jadwal di Surabaya nanti. Dokumen-dokumen biar aku bawa sekarang. Pulang dari wisuda aku janji akan mampir sebentar untuk mengambil sisa berkas. Jadi, kita tinggal berangkat.”


“Langsung pulang saja. Biar aku yang akan membawa berkas tersebut.”


“Kamu yakin?”


Ricko beranjak bangun. Menghampiri Arinda. “Aku yakin.”


Arinda tersenyum. “Kalau begitu aku pulang dulu, ya.”


“Sampaikan salamku untuk keluargamu besok. Maaf, tidak bisa datang.”


“Keluarga?”


“Iya, orangtuamu. Mereka pasti datang di acara wisudamu, 'kan?”


Iya, benar. Seharusnya besok Papa menemaniku. Tapi, aku saja tidak dianggapnya anak. Lagi pula, aku tidak tahu di mana keberadaannya? Semoga Papa baik-baik saja di luar sana. Arinda membatin.


“Ah, iya.” Arinda salah tingkah. “Aku pulang dulu.”


Akan tetapi, sebelum Arinda pergi, pria itu dengan cepat mendaratkan ciumannya di bibir merah muda. Menciumnya lembut. Gadis itu tak membalas. Ricko pun melepasnya.


“Sekali lagi aku ucapkan selamat. Ciuman itu hadiah dariku. Dan, maaf tidak bisa datang ke acara wisudamu besok.”


Arinda mencebik. “Hadiah macam apa itu? Kenapa kamu yang enak? Enggak adil!”


Ricko tertawa. “Ah, begitu. Jadi, ciumanku tidak enak untukmu."


Arinda berdecak kesal. "Ih, Ricko!"


"Aku antar pulang. Ayo!”


Arinda menggeleng. “Enggak usah. Aku bawa si Brown.”


"Aku mau mengantar, loh."


"Lain kali aja."


“Ya, sudah hati-hati bawa si Brown.”


“Ricko,” panggil Arinda manja.


“Apa?”

__ADS_1


“Aku cinta kamu.” Aku tahu kamu gak akan pernah menjawab pernyataan cinta ini. Tapi, aku akan tetap mengatakannya. Seribu kali kamu bungkam. Seribu kali pula kata-kata itu akan keluar.


Aku juga cinta kamu, Arinda, ucap Ricko dalam hati dan akan selalu menjawabnya begitu.


__ADS_2