ARINDA

ARINDA
Memenuhi syarat


__ADS_3

Hunian berlantai dua bergaya klasik dengan cat perpaduan antara krem dan cokelat menambah kesan mewahnya. Rumah tersebut berada di jantung Kota Jogja yakni Malioboro.


Kota tersebut menjadi tujuan dua anak manusia dengan satu karakter hampir sama. Dingin!


Sepasang bola mata pun hampir saja keluar saat melihat rumah mewah tersebut. Arinda tak berkedip, bibir pun turut membulat.


Taksi biru mulai memasuki pekarangan. Untuk mencapai pintu utama dari garasi gadis itu menggelengkan kepala. Karena, cukup jauh.


“Sayang, apakah kita akan tinggal disini selama satu bulan?” Arinda bertanya tanpa mengalihkan kekagumnya.


“Turun!” titah Ricko mengabaikan pertanyaan Arinda.


Gadis itu keluar dari taksi, tetapi memilih berdiam diri di tempat. Ia tidak bergeser satu langkah pun. Netranya memandang lurus ke depan dengan tatapan bingung. Pasalnya, ia enggan melangkah. Mengingat untuk mencapai pintu utama harus menaiki beberapa anak tangga.


“Sayang, kakiku sedang sakit. Aku mau digendong.”


“Tidak sudi!” Ricko melangkah naik dan masuk ke rumah besar tersebut.


Arinda menganga. Kesal dan sedih bercampur menjadi satu.


“Jahat!”


Akan tetapi, tak berapa lama kemudian, Ricko kembali untuk menghampiri Arinda. “Dasar menyusahkan!” Lalu, membopong gadis itu ala bridal style.


Arinda lagi-lagi tak menyia-nyiakan kesempatan emas tersebut. Ia mengalungkan tangannya pada leher Ricko.


“Kamu wangi.”


“Kamu berat!”


Arinda mengernyit kemudian memukul dada bidang itu. “Aku tidak berat!”


“Gendut!”


“Ricko Bagaskara!”


Tanpa Ricko sadar, ia tertawa. Tawa yang membuat semua pekerja di rumah itu terbengang.


Pasalnya, anak majikannya itu jangankan tertawa, memperlihatkan senyumnya saja jarang. Momen langka untuk mereka. Pada akhirnya, semua pekerja ikut tersenyum melihat tingkah keduanya.


“Di mana kamar Arinda?” tanya Ricko kepada seorang asisten rumah tangga.


“Di lantai dua, Tuan Muda. Tepat di samping kamar Anda.”


“Apa? Bukankah kamar tamu ada di bawah?”


“Maaf, Tuan Muda. Semua kamar terisi barang-barang. Jadi, tinggal dua kamar di atas saja yang kosong.”


“Rumah sebesar ini tidak memiliki gudang? Yang benar saja!” Oh, Tuhan! Ujian apalagi ini? Kenapa bisa harus bersebelahan kamar? Juniorku, jangan sekali-kali berontak, ya. Diam-diamlah! Kali ini, penggodamu memiliki pesona mematikan. Sebagai adik bontotku, harus bertahan! Tidak boleh kalah oleh setan cantik yang tengah kubopong ini.


“Maaf, Tuan Muda. Isi barang-barang di kamar untuk kebutuhan mal yang sedang di bangun.”


Ricko mengumpat! Kata-kata kasar keluar begitu saja.


Arinda langsung menutup mulut Ricko. “Kamu tu bicaranya tidak sopan sekali. Mereka hanya pekerja, mana tau keadaan seperti ini. Lagi pula, seharusnya kamu bersyukur bisa berdampingan kamar denganku. Ingat! Nanti tidak perlu masuk dengan mengendap. Aku pasti akan membuka pintu untukmu.”


Ricko menyipitkan matanya. Menatap dalam Arinda. “Oke! Awas saja kamu tidak membukanya, ya!” Mau bermain denganku? Kita lihat saja, seberapa banyak nyalimu menghadapiku, Setan Cantik.


Arinda mengerjap. Maksud hati hanya mau menggoda saja. Tapi, kalau sudah begini namanya menggali kuburan sendiri.


“A-aku hanya bercanda. Kamu serius sekali.”


“Tunggu aku di kamarmu nanti malam. Dan, kamu bersiaplah menjadi Nyonya. Ricko Bagaskara Narendra seutuhnya,” bisik pria itu di kuping Arinda yang sialnya suara itu terdengar sangat seksi.


Arinda menelan salivanya. Bulu kuduknya seketika meremang. “Ricko, aku ....”

__ADS_1


“Ini kamarmu, Nona.” Ricko menaruh Arinda tepat di atas kasur.


“Te-terima kasih.”


“Istirahatlah! Aku juga mau mengistirahatkan tubuhku lebih dulu. Agar malam nanti menjadi bugar dan memiliki banyak tenaga.”


Kata-kata Ricko terdengar ambigu di indra pendengaran Arinda. “Ricko, jangan bercanda terus. Sekarang lebih baik kamu cepat keluar.”


Ricko menatap Arinda penuh minat kemudian mengerling. “Sampai ketemu nanti malam. Berdandanlah yang cantik. Kalau perlu pakailah baju yang seksi. Dah, Sayang.”


Arinda terbengang. Matanya tak berkedip. Ucapan Ricko barusan membuatnya syok! Pasalnya, gadis itu hanya bercanda saja. Lalu, kenapa harus dianggap serius.


“Ya, Tuhan. Bagaimana ini?”


🌺🌺🌺


“Aku gak mau!”


“Arinda, ini tidak akan memakan waktu lama.”


“Aku takut! Pasti sakit."


Arinda memundurkan tubuhnya sampai ke sudut kasur. Bulir keringat pun mulai keluar dari kening. Wajahnya ketakutan.


“Apa yang menakutkan? Hanya sakit sebentar. Setelahnya akan terasa enak.”


Arinda mulai menangis dan menutupi tubuhnya dengan selimut. “Jahat! Aku benci kamu!”


“Iya, aku jahat. Oke. Aku sudah mengakuinya. Sekarang lepaskan selimut itu dan kemarilah.” Ricko berdiri menjulang di samping kasur dengan wajah menahan gemas.


“PERGI!”


“Arinda, mau menurut atau aku akan memaksamu.”


“Aku bicara baik-baik satu kali lagi. Mendekat kemari dan lepaskan selimut itu.”


“AKU TIDAK MAU!”


Pria itu menghela napas berat. Memaksa adalah jalan terakhir. Namun, belum juga merealisasikan pikirannya sebuah vas bunga melayang melewati wajah Ricko. Netra pekat itu mengerjap beberapa kali. Untung tidak kena. Hampir saja celaka.


“ARINDA!”


“Jangan berani mendekat!” seru Arinda menunjuk Ricko.


Gadis itu mulai lagi melempar semua barang di atas meja. Vas bunga sudah sukses terbang lebih dulu. Kemudian, menyusul lampu tidur, bantal, guling, dan semua isi di dalam laci habis tak bersisa.


Ricko menggeram! Kemudian, mulai naik ke atas kasur dengan wajah tak bersahabat.


“Jangan mendekat! Ricko, pergi!”


“Diam! Aku sudah meminta dengan cara baik-baik, tetapi kamu malah seperti ini. Baiklah! Aku akan memakai cara kasar agar kamu menurut.”


“Aku akan melaporkanmu kepada pihak berwajib dengan tuduhan perbuatan tidak menyenangkan, penganiayaan, pemaksaan, dan ....”


“Diam!” Ricko menutup mulut Arinda dan mulai menarik selimut itu. Tapi, sayangnya gadis itu memegangnya sangat erat.


“Aku tidak mau. Nanti sakit.” Arinda mulai menangis lagi.


Melihatnya, Ricko urung memaksa. Ia memilih merayu gadis ini.


“Hanya sakit sebentar saja. Mau, ya?” tanya Ricko dengan suara lembut seraya kedua tangannya menghapus bulir keringat di kening Arinda.


“Aku tidak pernah melakukannya. Ini pertama kali untukku. Aku takut.”


“Kalau terasa sangat sakit, nanti kamu bilang. Aku akan menghentikannya sebentar dan melanjutkannya kalau kamu sudah siap kembali,” ujar Ricko berjanji seraya mengusap lembut pipi mulus itu.

__ADS_1


“Kenapa kamu jahat?”


“Iya, aku jahat. Maaf membuatmu takut. Tapi, aku melakukan semua itu demi kamu.”


“Bohong! Itu demi dirimu sendiri.”


Ricko lagi-lagi harus menahan gejolak di dadanya. Rasa tak sabar menerpa. Tapi, mau bagaimana lagi. Agar menurut harus menggunakan cara lembut.


“Oke. Demi aku sendiri.”


“Tu, 'kan! Kamu jahat! Egois!”


Astaga! Sabarlah Ricko Bagaskara! Sedikit lagi pasti gadis itu mau. Terus saja bicara lembut. Ia pasti akan luluh, batin Ricko.


“Sayang, setelah ini aku akan mengajakmu jalan-jalan mengitari Kota Jogja. Mau?”


“Tidak!”


“Lalu, kamu mau apa?”


“Kamu akan mengabulkannya?”


“Katakan.”


“Kita kembali menjadi sepasang kekasih seperti dulu.”


Sudah kuduga. Oke, Ricko. Katakan saja 'iya'. Setelah itu tinggal mencari alasan-alasan untuk putus. Ricko membatin.


“Oke.”


“Tidak boleh bohong?”


“Iya. Aku tidak akan berbohong.”


“Kalau kamu bohong apa sanksinya?”


Ricko terlihat berpikir. “Aku akan mendorongmu ke jurang.”


“RICKO!”


“Iya-iya. Oke. Aku bercanda. Aku akan menepati janji. Laki-laki sejati sepertiku pantang untuk melanggar janji.”


“Jadi, kita sekarang pacaran?”


Apa-apaan itu? Seperti abege saja. Pacaran! gumam Ricko.


“Kamu belum menurutinya, Nona.”


“Ya, sudah. Aku mau, tetapi pelan-pelan.”


“Iya.”


Tiga puluh menit kemudian


Suara jerit kesakitan dari bibir merah muda itu bergema. Tangis histeris tak terelakkan lagi. Wajahnya sudah basah oleh air mata. Ia semakin mengeratkan pelukannya kepada Ricko.


Bahkan, pria itu menahan nyeri. Karena, kuku-kuku gadis itu sudah menembusi kulit punggungnya.


“Sakit,” lirih Arinda.


“Sebentar lagi.”


“Kamu bilang kalau sakit akan berhenti sebentar. Kamu bohong.” Arinda memukuli punggung Ricko.


“Tanggung.”

__ADS_1


__ADS_2