ARINDA

ARINDA
Hal. 08.


__ADS_3

Ujian semester pertama sudah berakhir, semua murid SMK Bhakti menikmati jam kosong selama beberapa hari kedepan. Arin berseru bahagia karena mendapat peringkat 10 besar dikelasnya, dia menunjukkan sikap yang tidak biasa. Teman-temannya sampai heran, karena tidak pernah melihat sikap Arin yang sebahagia ini.


"Seneng banget yee, yang dapet peringkat 8," Seru Risa.


Arin mengangguk senang, "Ini tuh pertama kalinya dapet peringkat 10 besar selama sekolah. Dari dulu kalo gak 13 ya 14."


Kiki menyeringai, "Aku aja dapet peringkat 6 biasa aja."


"6 dari bawah kamu tuh. Gitu kok bangga Ki," Sahut Nita.


Bukannya kesal, Kiki malah tertawa terbahak-bahak. "Tapi ini juga rekor baru. Aku biasanya ada peringkat 2 dari bawah."


"Nita nih yang ayem, dapet peringkat 3," Kata Jihan yang menopang dagu dengan tangan kanannya.


Sejak mereka datang ke sekolah pagi tadi, mereka memang tidak keluar kelas sama sekali. Karena cuaca sedang panas, ditambah lagi ramainya dilapangan upacara karena acara kampanye calon ketua Osis baru. Jadi, selama 2 jam lamanya mereka hanya bermalas-malasan di dalam kelas.


Handphone Arin bergetar karena satu chat. Begitu membuka, dia mendapatkan voice note berdurasi satu menit dari Niko. Dia segera menekan tombol play untuk mendengarkan. Bukan suara sapaan atau semacamnya yang Arin dengar, tapi petikan gitar dengan backsound bising orang mengobrol. Beberapa detik dia mendengar suara petikan gitar, kini dia mendengar kalimat dengan nada yang begitu indah. Suaranya yang merdu, menyanyikan sebuah lagu berjudul 'little things' dari one direction.


♬I'm in love with you, and all these little things♬


Senyum dibibir Arin terukir setelah mendengar lirik terakhir yang dinyanyikan Niko. Karena melalui lagu tersebut laki-laki itu memberitahu, bahwa dia menyukainya.


Niko Farzan Ardani


Gak usah senyum gitu, nanti aku makin naksir.


Arin mengedarkan pandangannya, mencari orang yang mengirimi chat tersebut. Pandangannya terhenti di sudut jendela kelasnya. Niko yang kini melambaikan tangan pada Arin lalu memberikan isyarat padanya agar keluar dari kelas.


Arin segera bergegas keluar, dan melihat Niko duduk didepan kelasnya dengan setelan baju bebas. Kemeja berwarna putih polos, celana jeans hitam serta sepatu sneakers putih, membuatnya terlihat berbeda dari biasanya..



"Kok gak pake seragam Kak?"


"Mau manggung bentar lagi di aula," Jelas Niko.


Arin hanya mengangguk. Entah kenapa, selama dia berkomunikasi dengan Niko, ia tidak merasa risih seperti saat mengobrol dengan Ilham walaupun itu hanya sekali. Dia lebih nyaman menanggapi perkataan laki-laki disebelahnya ini, dari pada candaan teman-teman Ilham. Kekanak-kanakan menurut Arin.


"Suka gak sama lagunya tadi?" Tanya Niko.


"Suka, Kak."


"Aku juga." Niko tersenyum menatap perempuan disampingnya itu. "Suka sama kamu," Lanjutnya.


"Hah?" Arin terkejut mendengar kalimat terakhir dari Niko.

__ADS_1


Padahal dari lagu tadi sudah jelas, kalau laki-laki itu menyukainya. Dan juga perhatiannya selama ini semakin memperjelas perasaan Niko. Tapi tetap saja, mendengarnya langsung membuat jantung Arin serasa dilempari petasan.


Suara gaduh dari dalam kelas membuat Niko dan Arin berdiri untuk memeriksa, ternyata dari jendela, keempat teman Arin diam-diam menguping pembicaraan mereka berdua. Perempuan itu mendengus jengah melihat kelakuan temannya itu.


"Hehe lanjutkeun Mas bro, lanjutkeun," Kata Kiki yang akhirnya menjauh dari tempatnya menguping, disusul teman-temannya.


"Maaf Kak, temenku emang gitu. Suka kepo."


"Iya, gapapa kok. Jadi gimana?" Tanya Niko.


"Apanya Kak?"


"Aku suka sama kamu Rin. Mau gak jadi pacarku?"


*


Pernyataan cinta Niko pada Arin tadi masih melekat di telinganya. Bahkan sejak tadi, perempuan itu menidurkan kepalanya diatas meja kelas. Teman-teman yang menggodanya tak di hiraukan, dia lebih fokus memikirkan jawaban apa yang akan dia beri pada Niko.


Sebelum Arin menjawab pernyataan cinta dari Niko tadi, laki-laki itu di panggil oleh temannya. Sehingga Niko tidak sempat mendengar jawaban dari perempuan yang ia sukai. Arin beruntung karena dia diberi kesempatan untuk memikirkan jawabannya. Laki-laki itu memang baik, ditambah lagi dia juga memperlakukannya dengan tulus, tetapi dihatinya masih ada Danis. Laki-laki yang bahkan enggan meliriknya.


Kiki menyenggol Arin yang masih menelungkupkan kepalanya di meja. "Udah Rin, terima aja Kak Niko."


"Iya, dia kan keren. Anak band, anak Osis juga," Sahut Jihan.


"Lah, lo kagak tau?" Tanya Risa tidak percaya.


Arin menggeleng, "Taunya dia anak Band doang."


Risa mendengus jengah, "Makanya, kalo ada yang suka sama lo itu cari tau. Anaknya gimana, kegiatannya apa."


Arin hanya diam, karena menurutnya hal yang seperti itu tidak penting baginya.


Pikirannya kembali fokus pada jawaban untuk Niko nanti. Lalu bagaimana dengan dinding di hatinya yang tertulis nama Danis sejak dulu hingga detik ini? Tetap teguh dengan perasaannya atau berhenti? Itu yang dipikirkannya. Kalau Arin tetap menjaga nama Danis dihatinya, apakah dia mampu untuk menerima segala sikap dari Danis? Apakah dia akan melakukan sesuatu untuk selangkah mendekati laki-laki itu?


Berhenti mencintai memang hal yang berat, tetapi bertahan lebih sulit. Karena bertahan tidak semudah berhenti mencintai dalam sekejap. Entah jalan mana yang akan Arin pilih nanti.


"Bodo ahhh! Aku mau ke kantin." Arin beranjak dari duduknya, tapi Kiki menahannya.


"Enggak! Kamu harus ikut kita."


"Kemana Ki?" Tanya Arin malas.


"Udah ayo," Nita menariknya keluar dari kelas bersama teman-teman lainnya.


Ternyata, mereka membawa Arin ke aula sekolah yang letak bangunannya berada tepat di samping lapangan basket. Dimana disana penuh dengan siswi yang menunggu penampilan dari beberapa murid yang akan menghibur di jam kosong siang ini. Kiki dan Risa berteriak histeris bersama siswi lain, ketika Ezra dan anggota Bandnya bersiap-siap dengan alat musik masing-masing.

__ADS_1


Anggota band yang baru pertama kali manggung ini mendapat sambutan yang begitu hebat. Memang, aura Ezra membuat atmosfer disini semakin panas. Teriakan-teriakan yang menyebut nama Ezra membuat telinga Arin sakit.


"Han, ayo ke kantin aja. Disini berisik," Ajak Arin tapi Jihan menggeleng.


Jihan mengapit erat lengan Arin. "Gak boleh kemana-mana, disini aja."


Arin kesal. Dia tidak suka menonton acara-acara seperti ini, membuat kakinya pegal karena terlalu lama berdiri. Bahkan setiap ada acara pentas seni di SMP, dia memilih berdiam diri di perpustakaan bersama temannya, membaca buku yang membuatnya jauh lebih nyaman daripada berdiri didepan panggung, mendengarkan musik yang begitu keras.


Satu penampilan dari Ezra dan kawan-kawannya telah selesai. Kini peralatan musik itu berpindah tangan, salah satunya gitar yang kini berada di tangan Niko. Risapun heboh menyenggol Arin, saat laki-laki itu sibuk dengan gitarnya.


"Riiin, Abang Niko noh!!" Seru Risa.


Selepas itu, suara gitar Niko berbunyi, memulai lagu yang akan mereka mainkan. Dari intronya sudah jelas lagu itu adalah lagu yang dikirimkan pada Arin tadi. One Direction – Little Things. Selama penampilan mereka berlangsung, sesekali Niko mencuri pandang pada Arin sambil tersenyum manis.


♬I'm here for you, maybe you'll love yourself like I love you♬


Niko menatap lekat Arin, saat sang vokalis melantunkan lirik dari lagu tersebut. Pandangannya yang terlihat serius itu membuat perempuan itu juga betah memandangi Niko sampai lagu yang mereka nyanyikan selesai.


"Keren kan Kak Niko," Goda Nita.


"Yakin gak mau terima?" Sahut Kiki.


"Nanti keburu di ambil orang loh. Liat noh yang neriakin nama Kak Niko sekarang banyak juga," Kata Risa.


Arin diam, lalu dia meninggalkan teman-temannya keluar dari aula. Dia tidak memperdulikan Risa dan lainnya yang menanyakan kemana tujuan Arin. Tapi, baru beberapa langkah keluar dari aula, ada yang menahan lengannya. Perempuan itu berbalik, karena lengannya yang di genggam oleh seseorang. Laki-laki yang tadi menyatakan perasaannya.


"Mau kemana?" Tanya Niko.


"Ke kelas, Kak."


"Aku temenin ya," Tawar Niko.


"Gak us-"


"Ciyeeeee... Danis." Teriak beberapa murid.


Mendengar nama Danis di sebut, dia mencari keberadaan laki-laki itu. Tepat di tengah lapangan basket, dia berdiri dengan seorang siswi yang sedang memeluk bola basket dengan setelan baju olah raga. Entah apa yang mereka bicarakan disana, pandangan Arin masih memperhatikan kegiatan mereka yang di kelilingi anggota basket lainnya. Danis terlihat tersenyum malu, sesekali dia mengusap tengkuknya dan menunduk beberapa kali.


Salah satu siswi disana berteriak lagi, "Ciyyeee, Danis sama Mbak Fely jadian. Traktiraannnn.. Traktirann..."


Tubuh Arin terasa kaku, mendengar satu teriakan tersebut. Di suatu titik, Arin sadar kalau harapannya bersama Danis sudah tidak ada. Sekarang dia mengetahui, bedanya determinasi dan keputus-asaan. Sakit tentunya, tapi apa boleh buat? Karena tidak ada hubungan spesial yang tercipta antara Arin dan Danis, sehingga dirinya tidak bisa berontak.


Dada Arin yang sesak menahan tangis. Digenggamnya tangan Niko, lalu berkata, "Kak, aku juga suka sama Kak Niko."


***

__ADS_1


__ADS_2