
Satu bulan meninggalkan keramaian Kota Jakarta dengan kemacetan yang hakiki. Membuat gadis cantik dengan rambut tergerai itu merindu. Menaiki si Brown kesayangan, melaju dengan kecepatan sedang di jalanan ibu kota.
Saat lampu merah menyapa, langsung menaikkan kaca helm dan menghirup udara dalam-dalam. Sialnya, Arinda terbatuk-batuk. Pasalnya, asap kendaraan bermotor di depannya tanpa permisi menyemprotkan asap kelabu.
Rasanya keki ingin memaki, tetapi gengsi. Karena, Arinda tahu itu salahnya sendiri. Di jalan raya sudah pasti banyak polusi. Kenapa pakai segala acara menghirup udara, sih?
Sesampainya di tempat parkir. Arinda membuka helm, merapikan rambutnya yang acak-acakan, dan turun. Mengayunkan langkah perlahan menuju gedung mal milik Narendra Corp.
Tempatnya mengais rupiah demi biaya kuliah dan memperpanjang napas di dunia. Udara, sih, gratis! Akan tetapi, warung makan Ibu Surti di seberang apartemennya tidak mau di bayar dengan kisah sedih. Maunya tetap pakai lembaran kertas bergambar pahlawan.
“Mbak Arinda!” panggil seseorang sedikit berteriak.
Arinda menoleh. Tampak dari kejauhan Ibu Linda, Kepala HRD Mal Diamond, berjalan sangat cepat. Di kedua tangannya terdapat kerepotan-kerepotan yang nyata. Yakni satu dus kecil dan tas jinjing berukuran besar.
Arinda membantunya membawa kardus kecil untuk mengurangi beban bawaan.
“Terima kasih, Mbak Arinda. Kita langsung ke ruangan saya, ya.”
Arinda mengernyit. “Ada apa?”
“Nanti kita bicara di ruangan saja. Lebih enak.”
Arinda mengangguk. Mereka berjalan bersisian tanpa bicara.
“Oke. Bisa minta tolong taruh kardus itu di sana, Mbak.” Tunjuk Linda pada meja di pojok ruangan. Arinda mengangguk.
“Lalu, ada apa?”
“Duduk dulu, Mbak. Apa kabarnya? Satu bulan kita tidak bertemu.”
Oh, sungguh! Aku benci berbasa-basi. Arinda membatin seraya mendudukkan diri tepat di depan Linda.
“Kabar saya baik. Bisa langsung katakan keperluan Anda memanggil saya? Maaf, saya sibuk.”
“Oke.” Linda tersenyum. “Selamat!”
Apa, sih? batin Arinda.
Arinda menghela napas lelah. “Ada apa, Ibu Linda?”
Linda memberikan sebuah kertas ke hadapan Arinda. “Bacalah!”
Gadis itu menatap Linda dengan sorot mata penuh pertanyaan.
Kertas apa ini? Pemecatan? Bukankah Ricko masih mengizinkan aku bekerja beberapa bulan lagi. Kontrak kerja pun masih ada enam bulan sebelum masanya habis. Tapi, tunggu! Barusan Ibu Linda memberi selamat. Arinda membatin.
Terserang rasa penasaran, Arinda mengambil kertas tersebut. Kemudian, membacanya dengan saksama agar tidak terlewat satu kata pun.
Hening!
“Mbak Arinda, Anda baik-baik saja?”
Arinda masih menatap kertas tersebut dengan sorot mata antara penuh sesal dan kesal.
__ADS_1
“Kenapa tidak ada pemberitahuan sebelumnya kepada saya, Bu Linda? Setidaknya, menanyakan apakah saya setuju atau tidak dengan keputusan ini?”
“Maaf, Mbak Arinda. Saya baru dapat email-nya kemarin sore. Oleh karena itu, tidak sempat untuk memberitahu ataupun menanyakan. Lagi pula, kemarin Anda juga baru sampai Jakarta. Surat itu pun bersifat urgen. Dan, saya sebagai bawahan hanya menuruti perintah Pak Rahardian saja. Bagaimanapun, beliau pemilik tempat kita bekerja. Mana berani saya membantah.”
Ini pasti ulahmu. Dasar brengsek! Arinda membatin geram.
“Kapan saya mulai pindah kerja?”
“Hari ini.”
APA!
“Ibu jangan bercanda. Tidak mungkin secepat itu. Bukankah, saya perlu mendapat training terlebih dulu?”
“Saya rasa tidak perlu. Di Jogja selama satu bulan. Bukankah itu menjadi pekerjaan keseharian Anda, Mbak Arinda?”
Arinda melongo. Ah, sial. Benar juga, batinnya.
“Begini Ibu Linda. Setidaknya, saya harus serah terima jabatan lebih dulu. Dan, belum ada yang menggantikan posisi saya. Jadi, bagaimana bisa melakukan serah terima tersebut, bukan?”
“Anda tidak perlu khawatir. Sudah ada yang menggantikan.”
Mendengarnya membuat lutut Arinda lemas. Ia memejamkan mata sejenak. Kemudian, pasrah.
“Kalau begitu. Saya akan ke ruangan sebentar untuk serah terima dan akan langsung berangkat ke Kantor Pusat.”
“Oke. Good luck, Mbak Arinda! Semangat!”
“Terima kasih, Ibu Linda. Anda baik sekali mau menyemangati. Saya jadi semakin bersemangat,” ucap Arinda berbohong. Semangat apanya! Memuakkan baru benar!
Arinda berkendara dengan kecepatan tinggi menuju gedung pencakar langit milik Narendra Corp. Tempatnya kini akan bernaung setiap hari dari Senin-Jumat. Semoga saja tidak akan ada lembur di hari Sabtu atau Minggu.
Usai memarkir motor. Arinda melangkah dengan cepat menuju ruangan orang yang akan ia amuk. Kesal, heran, dan frustrasi semua bercampur menjadi satu.
Pintu di buka dengan kasar hingga menimbulkan bunyi yang cukup kencang. Seseorang yang sedang berkutat di depan tumpukan dokumen menaikkan satu alisnya.
Arinda menggebrak meja kerja dan melempar surat tugas ke arah Ricko. “APA MAUMU?!”
Ricko membisu. Ia hanya memerhatikan wajah kesal di hadapannya. Kemudian, meneruskan kembali pekerjaannya tanpa memedulikan Arinda dan mengabaikan kertas tersebut.
Merasa tidak mendapat tanggapan. Arinda melangkah mendekati sang marketing director. Dan, meninju lengan kekar itu beberapa kali, sebelum akhirnya Ricko menghentikan aksi tersebut.
Pria itu berdiri agar bisa menyejajarkan diri dengan Arinda. “Jangan memukulku. Nanti tanganmu yang sakit.”
Arinda terkejut mendengar suara lembut yang keluar dari bibir Ricko. Namun, beberapa saat kemudian mulai lagi memukul dada bidang Ricko.
Ricko menangkap kembali tangan itu. Kemudian, menghela napas lelah. “Aku bilang jangan memukul. Lihat tanganmu merah. Pasti sakit, 'kan?”
“RICKO!”
“Apa?”
Arinda menganga. Suara Ricko terdengar semakin lembut.
__ADS_1
“Kamu jahat!”
“Memang aku melakukan apa?”
“Jangan berpura-pura tidak tau! Kamu 'kan yang merencanakan ini? Jahat! Aku gak mau jadi asisten pribadi kamu!”
“Kenapa?” tanya Ricko menangkup pipi Arinda.
Arinda berdecak kesal. Menepis tangan itu dan duduk di kursi Ricko seraya menggoyang-goyangkan kakinya seperti anak kecil.
“Aku mau melupakan kamu. Terus kalo setiap hari ketemu, bagaimana lupanya? Nanti aku gak bisa move on.”
Bagus! Memang itu yang aku harapkan. Kamu susah move on, gumam Ricko.
Kemarin, Ricko meminta win-win solution kepada Rahardian. Pria itu mengajukan sebuah permintaan kepada sang papa. Supaya menjadikan Arinda asisten pribadi.
Awalnya, sang papa menolak. Karena, tetap saja itu membahayakan mereka berdua, khususnya Arinda. Karena, Rahardian tahu betul lawan bisnisnya sedang mencari titik kelemahan sang putra. Namun, Ricko meyakinkan sang papa akan bersikap profesional.
Ricko sampai bersimpuh di kaki Rahardian agar mengabulkan permintaannya. Ia ingin Arinda tetap berada di sisinya. Walaupun status mereka saat ini hanya sebagai rekan kerja.
Setidaknya, ia bisa selalu dekat dengan Arinda. Ricko juga akan membuat gadis itu mengurungkan niat untuk meninggalkannya.
Ricko tertawa. “Sudah bekerja sana. Meja kerjamu persis di depan ruanganku.”
“RICKO!”
“Apa?”
“Aku gak mau jadi asisten kamu! Aku mau mengajukan resign!”
“Ya, sudah sana pergi ke ruangan HRD. Tapi, siapkan uang kompensasi. Karena, kamu berhenti bekerja di saat masa kontrakmu belum selesai,” ucap Ricko.
Arinda menatap Ricko tajam.
“Jangan memandangiku begitu. Kamu sudah tau isi kontrak itu, 'kan? Bukan aku yang buat, tetapi perusahaan. Kamu menandatanganinya jauh sebelum kita bertemu kembali.” Lanjut Ricko tak mau menjadi tersangka.
Arinda berpikir sesaat. Kemudian, urung melakukan resign. Uang dari mana 10 juta untuk membayar kompensasi. Sementara di dompetnya saja tinggal tersisa uang sepuluh lembar seratus ribuan. Itu pun untuk biaya hidup sampai satu Minggu ke depan sebelum gajian kembali turun.
Saat itu, Arinda dengan bersemangat menandatanganinya. Kontrak kerja berkala setiap dua tahun sekali. Ketika kontrak habis perusahaan akan memperbarui lagi. Tapi, dengan catatan memiliki kinerja yang baik. Gadis itu tak boleh mengundurkan diri sebelum masa kontrak selesai atau kena denda sebesar 10 juta.
Akan tetapi, berlaku sebaliknya. Perusahaan bisa memberhentikan karyawan kapan saja jika kinerja mereka di nilai buruk. Tentu, tanpa kompensasi kepada pekerja tersebut.
Itu berlaku untuk semua karyawan, bukan hanya Arinda saja.
Arinda menangis. Ia menaruh wajahnya di atas meja kerja Ricko dengan kedua tangan sebagai bantalan. “Ricko, aku capek.”
Ricko mengusap kepala Arinda. “Capek kenapa?”
“Aku kangen Mama. Pengen nyusul Mama aja.”
“Kalau begitu besok kita libur. Biar aku antar untuk menyusul Mamamu. Lebih cepat lebih baik.”
Arinda berdiri dan memukul bahu Ricko tiga kali dengan kencang. “Tu 'kan kamu memang jahat!”
__ADS_1
Ricko mengernyit. Kebingungan melanda.
Apa yang jahat, sih? Aku justru berbaik hati besok mau mengantar menyusul Mamanya. Wanita memang sulit untuk di mengerti, batin Ricko.