ARINDA

ARINDA
Mencari Ricko


__ADS_3

Tiga puluh menit dalam gelap. Akhirnya, lampu menyala. Kondisi pesta sudah tak berbentuk. Dekorasi kacau-balau. Karena, saat susah melihat tadi, para tamu berhamburan hingga saling bertabrakan dan menabrak benda apa saja. Ketika terang datang, mereka memilih pulang. Takut jika lampu kembali padam.


Sang empunya pesta pun sudah tak terlihat. Berganti dengan MC yang meminta maaf. Ia mengatakan jika Siska jatuh pingsan akibat syok pestanya berantakan.


Arinda yang mendengar pun berdecak kesal. Sial! Pasti Siska dan anak buahnya sudah pergi membawa Ricko. Lihat saja kau perempuan ular! Aku akan membuatmu menyesal kembali berurusan dengan Arinda Nabila, batinnya geram.


Mata Arinda berkeliling. Ia tak lagi melihat para penjaga. Di dalam hanya tinggal para pelayan dan crew EO yang sibuk menenangkan tamu undangan.


Arinda berjalan dengan langkah cepat untuk keluar dari dalam rumah. Saat berada di ambang pintu, ia menabrak seseorang hingga keduanya saling mengaduh kesakitan. Kening mereka bertabrakan cukup keras.


Keduanya saling memegang kening.


“ARINDA! LU ....”


Gadis itu melihat ke depan dan refleks langsung menutup mulut sahabat mantan kekasihnya. “Dito, diam. Jangan berteriak,” bisiknya.


Arinda hanya takut jika ada yang mendengar. Memang, sih, para penjaga itu sudah tak terlihat juga di luar. Tapi, jaga-jaga saja. Siapa tahu masih ada yang berkeliaran.


Kemudian, Arinda melepaskan tangannya dari mulut Dito. Dan, menariknya pergi.


“Ini ada apa, sih? Gue baru aja dateng, tetapi orang pada pulang.”


“Udah tahu gitu, kenapa masih mau ke dalam?”


“Penasaran, Rin.”


“Di mana mobil lu?”


“Tempat parkir.”


“Ayo, ke sana!”


“Mau nebeng?”


Arinda tidak menghiraukan pertanyaan Dito. Gadis itu terus menarik tangan sahabat sang mantan menuju tempat parkir.


“Di mana mobil lu?”


“Itu.” Tunjuk Dito ke arah mobil sedan hitam.


“Ayo!”

__ADS_1


“Di mana rumah lu sekarang?”


"Kenapa?"


"Gue anter lu pulang."


“Gue gak pengen pulang.”


“Wah! Jangan bilang kalo lu mau ngajakin gue nge-date? Sorry, nih, Rin. Bukan gue nolak. Tapi, gue masih ngotak buat gak macarin mantan Ricko.”


Arinda mencubit lengan Dito hingga mengaduh. “Enggak usah sok iye, deh. Biar pun lu juga ganteng kayak Oppa Korea. Tetap aja Ricko yang selalu ada di hati gue. Kepedean lu!”


“Lah, terus ....”


“Ricko di culik. Kita cari dia,” ucap Arinda memotong perkataan Dito.


Dito mencerna sebentar ucapan Arinda kemudian tertawa terbahak-bahak. “Ya, kali Ricko bisa di culik. Body aja keker gitu. Bercanda lu gak lucu!”


“Lu mau nganterin gue nyari Ricko atau enggak? Kalo enggak, sini kunci mobil lu. Gue cari sendiri!”


“Emang lu bisa nyetir?”


“Enggak.”


“Gue serius, Dit. Buru, deh, ntar sohib lu keburu tamat. ” Duh, Ricko. Kamu harus bertahan. Awas lu, ya, Siska. Berani nyolek-nyolek kesayangan gue. Bakalan gue bikin lu nyesel udah pernah idup di dunia!


“Ini serius!”


“DITO MAHENDRA!”


“Kuy.”


Dito pernah di beri tahu Ricko. Jika Arinda sudah menyebut nama dengan lengkap dan menggunakan intonasi tinggi. Itu artinya serius dan sudah dalam keadaan marah. Sahabatnya mengatakan lagi, kalau sudah seperti itu menurut adalah jalan terbaik. Karena, apabila tidak, bersiap saja mendengar omelan sepanjang waktu.


Dito menarik Arinda menuju mobilnya.


Sedan hitam melaju dengan cepat. Lalu, tak berapa lama berhenti di pinggir jalan.


“Kenapa?”


Dito memandang Arinda dengan tajam. “Mau cari ke mana? Ngadi-ngadi aje lu! Ya, kali kita menyusuri kota segede ini. Keburu mati si Ricko!”

__ADS_1


Arinda menghela napas berat. “Terus gimana, Dit?” Ia mulai mau menangis.


“Eh, jangan nangis. Coba pikirin dulu, barangkali ada jejak tertinggal atau apa pun? Inget-inget!”


Arinda mulai berpikir. Sepuluh menit kemudian, ia berteriak kencang. “DITO! GUE INGET!”


“Astagfirullah, Arinda! Sumpah, ya! Elu memang cantik, tetapi suara kayak toa Abang penjual tahu bulet digoreng dadakan lima ratusan. Kedengaran sampai satu komplek!” Kesal Dito seraya mengusap dadanya yang serasa mau copot. Pasalnya, tadi ia sedang terbengang sambil memikirkan nasib Ricko.


“Dito, ih. Lemah jantung.”


“Astaga, Arinda! Lu kalo punya mulut jangan sekate-kate! Minta maap kagak? Gue gak mau nyetir, nih!” Untung cantik, coba ganteng. Gue lempar keluar mobil!


“Iya, maap. Buru jalan, gue tahu harus di mana nyari Ricko.”


“Di mana?”


“Nih!” Arinda memberikan ponselnya.


Dito mengernyit. Kembali ia mengusap dada lanjut memijit kening. “Rin, gue males debat. Maksud lu apa? Jangan main tebak-tebakan, deh. Gue males sumpah berurusan sama lu atau Ricko. Kalo gak ngeselin, nyusahin, ya, gue digantungin kayak gini, nih! Gak jelas.”


“Ricko bilang gue bisa tahu di mana dia berada. Pun sebaliknya sama. Dia mengutak-atik ponsel gue untuk itu.”


Dito langsung menyambar benda pipih tersebut. Melihat titik keberadaan Ricko. “Ini jalan tol. Naga-naganya, sih, menuju puncak.”


Dito dan Arinda saling pandang.


“Pepohonan? Hutan?”


“Rin, kenapa pohon sama hutan?”


“Gue kan trauma, Dit.”


“Ah, iya.”


“Terus ... bagaimana, Dit?”


Aku kasih challenge lagi, yess.


Kalau sudah 40 likes dan 10 komentar. Kuy, episode lanjut hari ini juga.


Tapi, kalau belum berarti lanjut besok, yess 😉🤗

__ADS_1


So, mainkan jemarimu 💃🤗💞


__ADS_2