
Jika berhadapan langsung setiap hari dengan wanita cantik, hampir sebagian besar pria pasti sulit berpaling. Apa lagi, dengan segala pesona yang nyaris sempurna. Hanya segelintir saja yang mampu mempertahankan diri dari gejolak nafsu sesat.
Bisikan setan terkutuk pun akan datang terus-menerus sampai misinya berhasil. Yakni mendorong kepada kemaksiatan.
Ricko pun mati-matian bertahan. Menjaga kehormatan wanita yang ia cinta dengan segenap kemampuan.
Namun, akibat insiden pakaian dalam berwarna-warni tersebut, pikiran-pikiran nakal sering menari di atas kepala.
Melihat Arinda pun sudah tidak bisa lagi biasa saja.
Oleh sebab itu, Ricko memutuskan untuk meminta bantuan kepada kedua sahabatnya. Karena, sudah pusing dan rasanya hampir menyerah.
Pada layar ponsel milik Ricko, sudah muncul wajah Zacky dan Dito.
“YOI, BRO! DITO MAHENDRA HADIR!” teriak Dito heboh seraya berpose dengan mimik sok ganteng.
“To the point, Rick. Gue sibuk. Satu jam lagi ada operasi,” timpal Zacky.
“Lu berdua harus bantuin gue.”
“Apa?” tanya Dito dan Zacky berbarengan.
“Besok, lu berdua udah harus nongol di Bali.”
“Wow! Wow! Kaisar banget lu maen perintah seenaknya? Gue lagi buat gambar untuk proyek baru. Gak bisa!” protes Dito.
“Arinda baik-baik aja, ‘kan?” tanya Zacky.
“Sejauh ini baik. Tapi, kalo lu berdua gak pada bisa datang, ya, jangan menyalahkan gue terjadi sesuatu.” Ricko menerangkan.
“Maksud lu?”
“Zack, gue hampir gila menahan syahwat sama adek lu. Jadi, mendingan lu berdua dateng, deh. Buat menahan nafsu gue.”
Semenjak pertengkaran di rumah Zacky terakhir kali. Ketiganya bisa dengan gamblang membicarakan apa pun tanpa ragu dan malu lagi. Persahabatan rasa saudara kandung.
“Elah, emang juga lu mupeng!”
“Sama doi doang, Dit. Masalahnya, kemupengan gue juga udah semakin meresahkan dan berbahaya untuk Arinda.”
“Jangan macem-macem sama adek gue, Rick!”
“Kalo lu berdua gak bisa dateng besok. Jangan menyalahi gue kalo Arinda bakal merilis testpack garis dua.”
“Sampe itu terjadi gue bunuh lu, Rick!” geram Zacky.
“Kalo udah terjadi, lu gak bakal bisa bunuh gue. Mau ponakan lu gak punya bapak?”
“Bangcat lu, Rick! Tahan napsu lu! Doi cewek baik-baik!” seru Dito.
“Brengsek! Kenapa, sih, lu? Bukannya lu berdua pernah di Jogja dan gak terjadi apa-apa.”
“Sekarang beda, Zack. Udah, deh, lu berdua banyak ngomong. Besok gue tunggu di Bali. Enggak Dateng, jangan menyesal.”
“Sialan, nih, anak! Pake ngancem lagi,” sewot Dito.
“Jemput gue sama Dito di bandara besok, Rick.”
“Oi, Zack! Gue banyak kerjaan.”
“Solidaritas lu mana?!” seru Ricko.
“Temen nyusahin lu pada.”
“BODO AMAT!” Ricko dan Zacky berucap berbarengan.
🌺🌺🌺
Bandar Udara Internasional Ngurah Rai, Bali, selalu ramai lalu-lalang orang. Hiruk pikuknya tak berbeda jauh dengan bandara Soekarno-Hatta. Karena, keduanya termasuk bandara tersibuk di Indonesia.
Waktu pun sudah menunjukkan pukul dua siang. Ricko masih setia duduk menunggu kedua sahabatnya.
__ADS_1
Ricko tak memberi tahu Arinda kalau ia mau menjemput mereka. Niatnya ingin kasih kejutan juga.
Saat keluar dari rumah, Arinda sedang berada di dalam kamarnya. Oleh karena itu, Ricko cepat-cepat berangkat dan alhasil datang lebih awal dari jadwal.
Selang tiga puluh menit kemudian, suara membahana milik Dito terdengar. Ricko beranjak bangun. Mereka bertiga mengepalkan tangan kemudian saling bertos ria dan berpelukan.
“Cabut ke restoran terdekat. Gue laper berat, Rick,” pinta Dito.
“Oke.”
Menghabiskan makanan hingga tandas. Obrolan pun mulai mengalir.
“Rencananya hari ini gue akan bilang hubungan kita berdua pada Arinda.” Zacky membuka percakapan.
“Iya, Zack. Sudah waktunya Arinda tahu,” timpal Ricko.
“Semoga Arinda ngakuin lu, Zack,” sahut Dito usil.
“Gue ini bakal menjadi kakak terbaik dan terganteng. Enggak mungkin Arinda gak mau mengakui. Inget, gue juga punya bukti test DNA.”
“Iye-iye, Kakak Zacky,” goda Dito.
Ricko dan Dito spontan tertawa.
“Jangan tawa lu, Rick. Gue gak kasih restu, nyaho lu!”
“Ops!” Ricko mengangkat kedua jarinya.
“Mampus lu, Rick. Alamat jadi bujang sampe mati.”
Ucapan Dito membuat ketiganya tertawa. Kebahagiaan di dalam persahabatan mereka bertiga itu sederhana. Saling melempar joke receh kemudian tertawa bersama saja sudah lebih dari cukup.
🌺🌺🌺
Mobil memasuki pekarangan vila. Ricko keluar lebih dulu lanjut disusul Dito dan Zacky. Para pengawal berjajar dengan rapi di depan pintu masuk. Ricko mengernyit karena tak biasanya mereka begitu.
“Rick, lu ternyata beneran kaisar? Ampe pengawal aja banyak banget dan baris rapi kayak lagi upacara,” ucap Dito.
“Mungkin ini hari kematian lu, Zack.”
Zacky menjitak kepala Dito. ”Ucapan lu gak ada akhlak banget, sih, Dit.”
Dito cengar-cengir seraya mengangkat kedua jarinya.
“Berisik! Masuk!” titah Ricko.
Ketiganya masuk ke dalam dan aura mencekam kentara terasa. Pasalnya, sama seperti di luar. Di dalam pun beberapa pengawal dan semua pelayan berbaris rapi seraya menundukkan kepala.
Ricko mencoba mengabaikan mereka dan meneriakkan nama Arinda beberapa kali. Namun, tak ada sahutan. Naik ke lantai atas ke kamar gadis itu, tetapi tetap tak ditemukan.
Ricko turun kembali dan bertanya secara random kepada salah satu pekerja. “Di mana Nona?”
Pekerja itu semakin menunduk dalam dan tak menyahut.
Karena kesal, Ricko mengangkat kerah kemeja pekerja laki-laki tersebut. “DI MANA NONA?! JAWAB!”
“RICKO!”
Ricko menolehkan kepala dan kaget melihat tiga orang yang sudah berdiri tak jauh darinya.
“Opa! Kak Risa! Kak David!”
Ketiganya melangkah mendekati Ricko.
“Gadis itu sudah pergi dari satu jam yang lalu,” ucap Roni.
“Apa?”
“Ke mana Arinda pergi?” tanya Zacky.
🌺🌺🌺
__ADS_1
Panik!
Dito dan Zacky berlarian ke sana kemari hanya untuk mencari di mana Arinda. Penuhnya suasana bandara menyulitkan mereka dalam melakukan pencarian.
Ricko memerintahkan salah satu supir untuk mengantar kedua sahabatnya menuju bandara. Karena, pria itu melihat sang pujaan berada di sana dari ponsel mereka yang terhubung.
Begitu tahu, Zacky langsung keluar dari vila dengan Dito mengikuti. Sementara Ricko ditahan oleh sang opa.
“Zack, Arinda,” ujar Dito menarik lengan Zacky dan berjalan cepat menuju ke arah Arinda.
Tanpa menyapa lebih dulu, Dito dan Zacky duduk mengapit Arinda di tengah-tengah.
Gadis itu menoleh ke kiri dan kanan kemudian tersenyum.
“Kalo lu mau nangis, sandaran aja disini,” ucap Zacky seraya menepuk pundak.
Arinda tersenyum kemudian menggeleng. “Nangis itu bikin capek, Zack.”
“Tapi, muka lu sendu,” sahut Zacky.
Arinda mengembuskan napas berat. “Gue hanya khawatir sama Ricko.” Ia menatap Zacky dan Dito satu per satu. “Lebih baik, kalian menemani sohib lu itu. Dia sekarang pasti lagi sedih dan membutuhkan support. Gih, pada balik ke vila.”
“Rin ....”
“Gue janji akan baik-baik aja, Zack. See, gue gak nangis, ‘kan?”
Cinta jenis apa yang lu beri untuk Ricko, Rin? Mengkhawatirkannya berlebihan sampe gak memedulikan diri sendiri kayak begini. Setangguh itukah lu menjadi perempuan? Zacky membatin. Perih di hatinya melihat sang adik menderita karena cinta.
“Kita berdua biar menemani lu, Rin. Dan, Ricko, ya, biarkan dia menyelesaikan masalahnya dengan keluarganya. Sohib gue bakal baik-baik aja. Lu gak usah khawatir,” ucap Dito meyakinkan Arinda.
Arinda mengangguk.
“Terus, lu mau ke mana, Rin?” tanya Zacky.
“Enggak tahu. Gue gak punya tujuan. Tapi, gue lagi berpikir untuk mengelilingi dunia ala-ala backpacker. Seru pasti. Anggap aja menikmati sisa hidup.”
“Lu udah beli tiket pesawat?” tanya dokter muda itu. Dalam hati Zacky, mana rela ia melepas pergi adiknya menjelajahi dunia yang luas ini sendirian.
“Belum.”
“Kita balik ke Jakarta, ya?”
“Gue ....”
“Kalo lu mau jadi backpacker minimal harus punya paspor sama visa. Udah punya?” tanya Zacky. Perannya sebagai seorang kakak mulai bermain, terbukti dengan banyaknya pertanyaan yang dari tadi terlontar. Tentu juga, perkataannya sengaja tidak langsung untuk melarang. Takut sang adik kabur.
“Waktu itu bikin paspor di antar Ricko, tetapi belum gue ambil.”
“Ya, udah. Berarti kita balik ke Jakarta dulu.” Zacky menoleh ke arah Dito. “Dit, boleh minta tolong pesenin tiket pesawat ke Jakarta.”
“Oke.” Dito beranjak bangun dan segera pergi untuk menunaikan tugasnya.
“Zack.”
“Iya.”
“Gue mau menurut sama lu untuk pulang ke Jakarta, tetapi jangan salah paham, ya. No baper-baper club. Sorry, Zack. Gue hanya cinta sama Ricko.”
Zacky tertawa. “Iya, Rin. Gue gak bakal baper. Gue tahu lu cinta banget sama sohib gue yang brengsek itu.”
“Zacky! Ricko gak brengsek. Dia cowok baik-baik dan selalu menjaga gue.”
“Iya, Rin, iya. Serah, deh.” Emang dasar kurang ajar banget tu anak. Pinter akting. Kalo aja lu tahu, Rin. Si bodoh itu udah mulai lemah iman dan mau bikin lu sampe bunting. Pasti, deh, lu bakal langsung melempar bom ke arah Ricko.
“Zack.”
“Apa?”
“Terus hubungi Ricko, ya. Pastikan dia gak merasa sendiri di saat-saat kayak gini. Karena, sendirian menghadapi masalah itu gak enak. Minimal hibur aja.”
Zacky menatap Arinda sendu. Rasanya ingin memeluk sang adik. Tapi, apa daya, ia belum mengatakan kebenaran. Jadi, memilih hanya diam.
__ADS_1
Besok aku libur dulu, ya, Guys 😉