ARINDA

ARINDA
Pergi


__ADS_3

Hari kedua Arinda bersama Zacky dan Dito, rasanya beban di kepala gadis itu kini mulai terasa ringan. Mereka berdua tak sedikit pun meninggalkan dirinya sendirian.


Arinda pun memutuskan untuk berkeliling rumah. Karena, Dito dan Zacky sedang pergi keluar mencari sarapan.


Kediaman milik Zacky sangat asri. Arinda menjelajah dengan hati riang. Entah kenapa, rasa nyaman sangat terasa sekali. Hingga saat melewati sebuah kamar yang sedikit terbuka, maksud hati ingin menutup pintunya saja. Namun, matanya terpaku pada satu bingkai foto berukuran besar yang terpajang apik di dalam kamar.


Tanpa sadar, kaki itu melangkah masuk. Arinda menatap lekat sebuah foto keluarga yang sangat harmonis. Sepasang suami-istri dengan dua orang anak kecil dipangkuan mereka.


Gadis itu melengkungkan bibir ke atas. Saking terbawa suasana ia tak menyadari jika pintu sudah terbuka lebar. Sang pemilik rumah bersama sahabatnya sudah berada tepat di belakang.


“Rin!”


Arinda tersentak kaget mendengar namanya dipanggil. Gadis itu seketika salah tingkah. Rasa bersalah akibat seenaknya memasuki kamar orang lain menghinggapi.


“Sorry, Zack. Gue gak bermaksud kurang ajar masuk ke kamar ini. Tadi, pintunya terbuka, mau gue tutup. Eh, kok liat foto ini terpajang cantik disini. Gue cuma mau melihatnya aja kok. Sumpah!”


“Enggak pa-pa, Rin,” jawab Zacky datar.


“Mereka keluarga lu, 'kan?”


“Iya.”


“Keluarga yang bahagia, Zack. Gue suka melihatnya.”


“Iya.”


Zacky menjawab pertanyaan-pertanyaan Arinda dengan menatap foto tersebut.


“Zack ....”


“Rin, kita makan dulu. Laper!” seru Dito memotong ucapan Arinda dan menariknya keluar.


Tak lama Zacky keluar dari kamar dan ikut makan.


“Rin, lu bener mau pulang. Entar lu babak belur lagi. Bagaimana?”


“Itu udah makanan hari-hari gue, Dit.”


“Laporin aja ke polisi, deh. Biar kapok!” seru Dito kesal.


Arinda hanya tersenyum getir. Ia juga maunya seperti itu. Tapi, apa daya melihat sang mama begitu mencintai suaminya lebih daripada dirinya sebagai anak. Gadis itu urung melakukan hal tersebut.


“Kapan pun lu mau pergi dari Om Erwin? Datang aja ke rumah ini. Anggap punya sendiri. Nanti gue kasih kunci buat lu.”


“Makasih, Zack.”


Zacky tersenyum dan mengangguk.


❄️❄️❄️


Mereka bertiga sudah sampai di depan jalan kediaman rumah Arinda.


“Rin, kita anter sampai dalam rumah.”


“Enggak usah, Zack. Nanti bokap gue makin marah.”


“Kabur! Tinggal di rumah gue.”


Arinda berdecak, “Enggak semudah itu, Zack. Ada mama gue yang harus dijaga.”


“Beratlah kalo pembahasannya sudah bawa orangtua. Kuy, turun!” Dito keluar dari mobil terlebih dahulu.


Arinda juga mengikuti, “Dit, sampai sini aja. Makasih.”

__ADS_1


“Arinda!”


Merasa namanya dipanggil, Arinda menoleh dan mendapati Ibu RW di lingkungan tempat tinggalnya menghampiri.


“Kamu ke mana aja? Ayo! Habis Zuhur penguburan.”


“Penguburan?”


“Iya! Mamamu kemarin meninggal. Di tembak orang tidak dikenal.”


“APA!”


Arinda langsung berlari menuju rumahnya. Dito dan Zacky pun mengikuti dari belakang.


Benar saja, rumah itu sudah ramai para pelayat. Dadanya terasa sesak, kakinya seperti lemas tak bertulang. Untung Zacky menangkap tubuhnya dan terus memegangnya agar bisa berdiri dengan benar. Air mata pun sudah mengalir dengan deras.


Arinda melangkah mendekati jenazah Mama Nita dibantu oleh Zacky untuk berjalan. Setelahnya, gadis itu luruh ke lantai. Perlahan, ia membuka kain penutup itu dan tangisnya semakin pecah. Teriakan demi teriakan memanggil nama sang mama bergaung dengan pilu. Gadis itu menyuruhnya agar bangun.


Dito dan Zacky beserta para pelayat, hanya bisa menatap Arinda dengan tatapan iba.


❄️❄️❄️


Pemakaman sang mama berjalan dengan lancar. Semua sudah beranjak pergi meninggalkan area pemakaman. Erwin pun sudah tak terlihat lagi. Hanya tinggal Arinda bersama Zacky dan Dito yang masih setia menemani.


“Rin, kita pulang. Mendung!”


“Gue masih mau disini, Dit.”


“Rin, kita bisa kembali lagi besok dan besok,” ucap Zacky agar Arinda menurut.


Alam pun seolah-olah tahu, ada seseorang yang tengah bersedih. Langit biru itu sudah mulai menghilang berganti dengan awan kelabu. Jika hujan turun, mungkin lengkaplah sudah semua kisah sedih di hari ini.


“Rin ....”


❄❄️❄️


Usai tahlilan, semua para tetangga kembali pulang. Begitu pun dengan Zacky dan Dito, mereka berdua pamit kepada Arinda.


Keadaan rumah mulai sepi. Erwin pergi keluar, entah ke mana? Arinda tak peduli. Gadis itu masuk ke kamar orangtuanya. Ia duduk di pinggir kasur seraya menatap bingkai foto yang berada di atas meja.


“Setiap malam, biasanya Mama masuk ke kamarku dan memberi kecupan selamat tidur. Tapi, sekarang aku tak bisa mendapatkannya lagi darimu.”


Tiba-tiba pintu kamar terbuka dan menampilkan Erwin dengan wajah seperti biasa, tak bersahabat.


“Kau senang istriku mati!”


“Pa, aku mohon jangan memulai pertengkaran. Kita baru saja menguburkan Mama siang tadi.”


“Istriku mati tertembak oleh orang suruhan yang telah menolongmu kabur dari Nirwan.”


Arinda mengernyit dan mencoba mencerna ucapan Erwin. Tapi, otaknya enggan untuk lama-lama berpikir. Ia lelah!


“Apa maksudmu, Pa? Aku tidak mengerti?”


“Tidak usah pura-pura bodoh! Orang yang menolongmu kabur dari hotel itu yang telah membunuh istriku!”


Ah, Arinda mulai memahami ke mana arah pembicaraan Erwin.


“Papa menuduhku?”


“Kau dan mereka yang telah membuat istriku tertembak. Kalian pembunuh!”


“Aku tidak mengenal mereka, Pa.”

__ADS_1


“Bohong!”


“Pa, mereka menolongku. Jadi, tidak mungkin orang-orang itu membunuh Mama.”


“Kau melihat sendiri mereka bersenjata, ‘kan?!”


“Anak buah Pak Aris juga bersenjata, Pa. Lalu, kenapa kau tidak menuduh mereka juga?!”


“Anak buah Aris semuanya di bius oleh mereka. Bahkan, Nirwan pun ikut tak sadarkan diri.”


Arinda mengembuskan napas berat. Ia sungguh lelah bertengkar. Pertengkaran yang tak ada ujungnya. Entah, masalah ini harus menarik benang merahnya dari arah mana?


“Pa, cukup. Bisakah malam ini kita lebih manusiawi sedikit. Mama baru saja berpulang. Makamnya pun masih basah. Hentikan omong kosong itu.”


“Kenapa? Kau takut? Kalian sudah membunuh istriku!”


“Cukup, Pa! Orang yang kau sebut istri itu juga Mamaku!”


“Kami tidak sudi memiliki anak sepertimu! Anak pembawa sial!”


“PAPA!”


Arinda bergeming. Air matanya tumpah saat itu juga. Akhirnya, sang papa pun ikut memberi label dengan sebutan pembawa sial! Gadis itu benci dengan dua kata tersebut. Bersyukur semasa hidup, Mama Nita tak pernah mengucapkan kata-kata itu.


“KENAPA! KAU MEMANG ANAK PEMBAWA SIAL!”


“CUKUP! Apa maumu, Pa? Kenapa terus menyakitiku?!”


“Aku mau kau pergi dari rumah ini! PEMBAWA SIAL!”


Arinda menatap sang papa lekat. “Pa, sejak dulu, aku sudah ingin pergi dari rumah ini. Tapi, aku tak pernah benar-benar melakukan. Kau tau kenapa? Karena, Mama Nita begitu menyayangimu melebihi kasih sayangnya kepadaku.”


Arinda terdiam sesaat sebelum melanjutkan ucapannya lagi.


“Aku hanya mau pergi, jika wanita yang sudah bertaruh nyawa melahirkan bayi bernama Arinda itu ikut. Tapi, melihat kenyataan bahwa Mama tak bisa meninggalkanmu sendirian, membuatku selalu urung melakukan hal tersebut. Sekarang, orang yang kau bilang istri itu sudah tiada. Jadi, aku akan mengabulkan permintaanmu.”


Erwin menatap tajam sang putri. “Jangan pernah kembali ke hadapanku lagi!”


“Tentu! Dengan senang hati, aku akan menurut. Seperti biasanya saja, titahmu adalah mutlak harus dilakukan di rumah ini, suka atau tidak. Betul, 'kan?”


“Aku tidak sudi melihat atau menganggapmu sebagai anak!”


Baru saja ingin melangkah pergi, ucapan terakhir dari Erwin menghentikan langkah Arinda.


“Ya, teruslah berpikir seperti itu. Karena, aku pun tak sudi memiliki orangtua jahat sepertimu, Erwin Chandra!”


“ANAK TIDAK TAU DIRI! DURHAKA! KURANG AJAR! TIDAK TAU SOPAN SANTUN ...!”


Dan, berbagai macam sumpah serapah lainnya dilayangkan untuk sang putri. Arinda tak lagi peduli, ia terus mengayunkan kakinya menuju kamar. Mengambil sedikit pakaian kemudian cepat pergi dari rumah terkutuk ini.


Bebas! Satu kata di kepala Arinda saat ini.


Akhirnya, ia akan menjalani kehidupan normal di luar sana. Tanpa beban lagi harus merendahkan harga dirinya kepada banyak laki-laki. Gadis itu juga bahagia, tak akan ada lagi yang memukulnya.


Hidup dan tubuhnya kini sepenuhnya sudah menjadi miliknya, milik Arinda Nabila.


Ma, aku minta maaf harus meninggalkan suamimu dan juga kenangan kita di rumah ini, gumam Arinda.


Usai berkemas, Arinda bergegas keluar dari rumah tanpa pamit kepada Erwin. Sebelum benar-benar pergi, ia menoleh untuk terakhir kali ke arah rumah dan menatapnya dengan lekat.


“Selamat tinggal kesedihan! Mulai saat ini, aku akan mencari kebahagiaan. Pa, jaga dirimu. Walaupun mulutku berkata benci kepadamu. Tapi, sesungguhnya jauh di lubuk hati ini, aku menyayangimu.”


Selamat tinggal, Papa Erwin!

__ADS_1


__ADS_2