ARINDA

ARINDA
Penyelamatan


__ADS_3

Tiba di apartemen milik Arinda, tetapi sepi. Ricko, Zacky, dan Dito mulai frustrasi.


“Ke mana mereka?” tanya Dito.


“Sial! Arinda juga gak bawa ponsel!” seru Ricko semakin senewen melihat benda pipih milik gadisnya tergeletak di atas nakas.


“Kayaknya ada sesuatu yang terjadi,” sahut Zacky.


Tak berapa lama, pintu terbuka menampilkan Erwin di sana. Pria itu bermaksud mencari alamat Ricko di dalam apartemen Arinda. Oleh karena itu, ia pulang lebih dulu.


Namun, justru terkejut melihat ketiga pria berada di dalam. Dua di antaranya masih cukup ia kenal karena datang saat Nita meninggal. Untuk lelaki satunya lagi, sudah pasti Ricko. Erwin pernah melihatnya lewat foto yang tersimpan rapi di dalam nakas milik Arinda.


“Ricko! Tolong Arinda!” Erwin langsung menghampiri dan memegang lengan kekar itu, memohon.


“Ke mana Arinda?” tanya Ricko mengernyit.


“Dia di culik Nirwan!”


Ketiganya tercengang.


“APA!” seru Dito dan Zacky berbarengan.


Ricko mencoba tenang walaupun pada kenyataannya sangat gelisah. “Sebentar.” Ia langsung menelepon seseorang.


Beberapa menit kemudian, telepon diangkat.


“Halo, Kak Shavic!”


🌺🌺🌺


Dua jam kemudian


Begitu mendapat info dari Shavic. Mereka berempat langsung meluncur ke tempat di mana Arinda berada.


Bahkan, Shavic sendiri beserta anak buahnya turut berangkat untuk menolong. Melacak keberadaan seseorang bukan hal yang sulit bagi mantan ketua mafia tersebut.


Semua sudah berkumpul mengepung sebuah rumah besar di sudut Kota Jakarta.


“Kak, kita masuk sekarang?” tanya Ricko kepada Shavic.


“Iya. Sudah siap?”


Ricko mengangguk. “Iya.”


“Donat gula, bagi kelompok kalian menjadi dua. Sebagian masuk lewat pintu belakang dan sisanya berjagalah disini.” Shavic memberikan perintah.


“Siap, Bos. Perintah dilaksanakan!” seru semua tim donat gula kepada Shavic.


“Donat cokelat bagilah menjadi tiga kelompok. Berjaga di pintu masuk depan, menyebar di sekitar, dan sisanya ikut aku.” Shavic kembali memberikan perintah.


“Siap, Bos. Perintah dilaksanakan!” seru semua tim donat cokelat kepada Shavic.


Ricko, Dito, dan Zacky pun melongo, bukan karena titah tersebut. Melainkan nama yang dipakai sebagai kode. Menurut pemikiran ketiganya, nama tersebut terlalu cute. Mengingat mereka adalah para mantan mafia yang cukup kejam.


“Kayaknya udah banyak orang. Gue tunggu disini aja, ya. Nemenin donat gula,” ucap Dito cengar-cengir. Bahkan, mengucapkannya pun rasanya ingin tertawa terbahak-bahak. Akan tetapi, ia menahannya. Takut ditembak Shavic.


“Payah lu, Dit. Tadi aja mukul gue sama Ricko laki banget. Sekarang balik lagi feminin.”


“Sembarangan lu, Zack! Gue cowok tulen!”


“Kalo gitu, ikut!”


“Iye. Heran giliran menghadapi bahaya maunya bareng aja. Berasa sohib sehidup semati. Di kubur entar sekalian bareng kita bertiga satu liang lahad.”


“Berisik, Dit!” omel Ricko.


“Iye-iye. Gue diem.” Dito mulai merapatkan mulutnya.


“Om Erwin disini saja, ya,” pinta Ricko.


Erwin menggeleng. “Tidak. Om ikut.”


“Di dalam bahaya, Om.” Dito menimpali.


“Om tahu.”


“Ya, terserah sajalah. Ayo, kita masuk!” sahut Ricko mulai bergerak.

__ADS_1


Pasukan mulai merangsek masuk. Dito, Zacky, Erwin mengekor di belakang Shavic dan Ricko.


Anak buah Shavic mulai bertarung melumpuhkan para penjaga. Kemudian, mantan ketua mafia itu melempar senjata api kepada Ricko. Hanya untuk berjaga-jaga saja.


“Masih ingat menggunakannya?”


“Tentu saja, Kak.”


🌺🌺🌺


“Berhentilah menggangguku, Nirwan!”


“Tidak akan pernah sampai kau menjadi milikku.”


“Aku tidak sudi!”


“Kau tidak punya pilihan. Daripada kau mati di tangan Bapakku. Orangtuaku sangat dendam kepadamu karena selalu kabur.”


“Oh, ya?”


“Ya. Jadi, berterima kasihlah karena aku menyelamatkanmu dari kematian.”


Arinda tertawa. “Begitukah? Apa yang harus aku lakukan sebagai balasan?”


“Menjadi istri mudaku.”


Arinda semakin mengeraskan tawanya. “Jadi, kau sudah menikah. Sayangnya aku tidak berminat untuk menjadi perusak rumah tangga orang.”


“Kalau begitu, aku akan menceraikannya.”


Arinda tersenyum sinis oleh jawaban Nirwan. Sekali brengsek, memang akan tetap brengsek. Lihat saja! Tidak peduli sudah beristri pun tetap menginginkan wanita lain. Bahkan, mau menceraikan istrinya, batinnya kesal.


“Hentikan omong kosongmu!”


“Tidak perlu banyak bicara, Cantik. Ayo, kita mulai permainan. Teriakanlah namaku nanti saat kau mereguk kenikmatan. Kamar ini kedap suara, jadi tidak perlu takut terdengar orang lain.”


“Berkali-kali kau gagal meniduriku. Kau pikir kali ini akan berhasil? Mimpi!” Sial! Kamar ini kosong sekali. Hanya ada satu buah kasur besar saja. Sepertinya pria bodoh itu benar-benar mulai memahami kelicikanku. Pasti ada cara. Ayo, gadis cerdas, berpikir.


“Kali ini aku pasti berhasil. Kau akan menjadi Nyonya Nirwan Anggoro.” Nirwan mulai melucuti pakaiannya satu per satu dan hanya menyisakan celana bokser saja.


Astaga! Nirwan benar-benar terobsesi denganku. Oh, kegadisanku. Bersabarlah! Aku pasti menjagamu dari lelaki buas itu. Arinda membatin.


Sementara keadaan di luar sudah gaduh. Perkelahian antara anak buah Shavic dan Nirwan semakin seru layaknya film action. Beberapa kali suara letusan senjata api pun terdengar.


“Rick, kita fokus cari Arinda. Urusan yang lain biar diurus anak buahku,” ucap Shavic.


Ricko mengangguk. Dito, Zacky, Erwin, dan beberapa anak buah Shavic pun mengekor di belakang dua orang bersaudara ipar tersebut.


Menjelajah seisi rumah untuk menemukan Arinda. Akan tetapi, gadis itu belum juga ditemukan. Sampai pada sebuah ruangan di lantai paling atas menarik perhatian mereka. Penjagaan di sana pun sangat banyak dan ketat.


Namun, dengan sigap anak buah Shavic mengurus para penjaga di atas.


Langsung saja Shavic dan lainnya naik. Tapi, sayangnya pintu baja itu meminta nomor pin. Shavic menyuruh semua mundur. Ia mulai mengarahkan moncong senapannya ke arah engsel pintu.


Dua kali menembak. Engsel itu rusak. Pintu baja tersebut langsung di tendang Shavic sampai terbuka.


Ricko dan Shavic masuk lebih dulu. Senjata api di tangan masing-masing siap untuk menembak. Berjaga-jaga takut di dalam kondisinya berbahaya. Dan, yang lainnya mengikuti. Akan tetapi, pergerakan mereka terhenti saat melihat pemandangan di dalam.


Seorang pria hanya mengenakan celana bokser dengan Arinda di dalam tengah menatapnya.


Ricko pun terkejut bukan main. Kemarahan menguasai. Refleks ia melangkah maju dengan lebih dulu menaruh senjatanya ke selipan belakang celana.


“HEI! SIAPA KALIAN?! PENJAGA!” teriak Nirwan seraya melangkah mundur.


“Arinda! Tutup matamu!” teriak Ricko sambil memukul Nirwan tepat di wajah. Membuat pria itu mengaduh kesakitan. Lanjut meninjunya beberapa kali.


Arinda tercengang. Bukan menutup mata malah melotot.


Sementara yang lainnya hanya menonton. Pikir mereka hanya satu orang. Ricko bisa menanganinya.


Ricko menatap geram sang pujaan. Usai satu tinju terakhir mendarat. Nirwan langsung di lempar ke arah Shavic.


Pasalnya, Ricko tak ingin pria yang hanya mengenakan bokser itu berlama-lama ditatap oleh Arinda.


“Tolong urus dia, Kak. Aku mau mengurus gadis ini.” Ricko menatap Arinda dengan sorot tajam.


Shavic menyerahkan Nirwan yang sudah setengah babak belur kepada anak buahnya.

__ADS_1


Nirwan meronta-ronta sambil berteriak. Anak buah Shavic geram dan memukul pria itu sampai pingsan. Kemudian, langsung membawanya pergi.


“Puas. Huh!” seru Ricko kepada Arinda. Pria itu menghampiri sang pujaan.


Apanya, sih? Begituan aja belom. Lantas puas dari mana? Arinda membatin bingung.


“Mulai, deh, drama rumah tangga. Kuy, cabut.” Dito mulai jengah melihatnya dan memilih pergi.


“Dit, tetapi Arinda ....”


“Cabut, Zack. Lu mau nontonin orang yang lagi kasmaran berantem?”


Zacky menggeleng. “Enggak.”


“Ya, udah. Cabut.” Dito menarik lengan Zacky.


Semua orang mengikuti Dito, meninggalkan Ricko dan Arinda dengan permasalahan mereka.


“Kenapa diam? Aku suruh tutup mata. Kamu malah melotot. Bagus. Menikmatinya! Huh!” Ricko berseru kembali.


Ih, Ricko! Menikmati apa, sih? Arinda kembali membatin kesal.


“Kamu jangan maju-maju terus. Mundur sana!”


“Kenapa? Takut padaku? Lalu, dengan si brengsek tadi tidak. Begitu?”


“Ricko, ih. Bicara apa, sih? Aku mau pulang.”


Baru saja Arinda mau melarikan diri. Tapi, pinggangnya sudah diraih Ricko. Lalu, pria itu memepetkan tubuh mungil tersebut ke tembok.


Ricko menatap lekat Arinda. Namun, yang ditatap malah menunduk. Gadis itu takut melihat kilat marah pada netra pekat tersebut.


“Kenapa pertanyaanku tidak ada yang kamu jawab?”


Pertanyaan yang mana, sih? Duh, pusing pala barbie, ucap Arinda dalam hati.


“Ricko, aku takut. Aku ....”


Ricko refleks langsung memeluk Arinda. Bodoh ... bodoh. Kenapa gue sampe lupa kalo gadis ini habis diculik? Sudah pasti ketakutan. Oh, cemburu. Mengapa selalu begitu mudah menyulut emosiku. Sampai-sampai tidak tahu waktu dan tempat, gumamnya.


“Maaf. Aku lupa. Aku cemburu melihatmu menatap tubuh si brengsek tadi.”


“Oh, puas dan menikmati tadi maksudnya badan Nirwan.”


“Iya. Aku cemburu, Rin. Jangan menatapnya dan jangan membayangkannya, ya.”


“Ricko, ih. Aku melihat wajahnya saja muak.”


“Ya, kamu juga, sih, udah disuruh tutup mata malah melotot. Aku kan kesal, Rin.”


“Aku tadi kaget kalian datang dan melihat kamu memukulnya. Bukan mau memandangi tubuh si Nirwan dengan melotot.”


“Aku pasti datang cari kamu. Makanya, jangan pernah berpikir kabur dariku.”


“Aku justru mau pergi jauh dari kamu.”


“Dan, aku pasti menemukanmu.”


“Menyebalkan.”


“Pria menyebalkan ini kesayanganmu.”


“Percaya diri sekali.”


“Harus." Ricko mengusap punggung Arinda. "Kamu baik-baik saja, 'kan?"


"Iya."


"Aku mencemaskanmu."


“Rick.”


“Apa?”


“Pulang.”


Ricko melepaskan pelukannya kemudian mengacak-acak rambut Arinda. “Ayo!” Ia menarik tangan sang pujaan, tetapi gadis itu tak mau bergerak. “Kenapa lagi?”

__ADS_1


“Gendong.”


“Manja.” Ricko menjawil hidung Arinda kemudian menggendongnya keluar ala bridal style.


__ADS_2