ARINDA

ARINDA
Bertemu rival


__ADS_3


Notifikasi pesan di aplikasi hijau terus berbunyi. Ricko menggerutu, karena acara menontonnya terganggu oleh suara tersebut. Ingin mengabaikan, tetapi penasaran!


Akhirnya, Ricko mengalah. Pria itu menaruh remote tv di atas meja kemudian menukar dengan ponsel. Ingin rasanya membanting smartphone yang begitu berisik.


Mata Ricko terbelalak saat melihat isi pesan tersebut.


[Picture]


[Picture]


[Picture]


[Picture]


[Mal Diamond, lantai dua, Toko Perhiasan Selalu Berkilau]


Entah, siapa yang mengiriminya? Ia pun tak tahu harus berterima kasih. Atau justru harus merasa kesal kepada si Pengirim Pesan.


Pria itu berulang kali memastikan siapa orang yang berada di dalam foto. Ia berharap, semua hanya kesalahpahaman belaka. Tapi, sayangnya mau berapa kali pun melihat. Tetap saja tidak mengubah kenyataan.


“SIAL!”


Foto-foto sang kekasih tengah bersama seorang laki-laki terpampang jelas. Mereka bergandengan tangan dan duduk bersebelahan di depan sebuah etalase perhiasan. Pemandangan tersebut jelas membuat Ricko meradang.


Ricko bergegas mengambil jaket dan kunci motor. Ia berkendara dengan kecepatan penuh. Untung jalanan saat ini sedang lengang. Jadi, pria itu bisa cepat sampai pada tujuan.


Usai memarkir motornya, Ricko masuk dan melangkah dengan cepat menuju eskalator. Sepanjang perjalanan dadanya bergemuruh hebat. Amarahnya sudah berapi-api, tinggal menunggu letupan saja.


Akan tetapi, ia masih berharap itu semua tidak benar. Arinda tidak akan mungkin berkhianat. Ricko meyakini hatinya agar tetap tenang dengan berpikiran positif. Meskipun rasanya, dirinya sudah ingin meluluhlantakkan gedung ini.


Mencari kesana-sini, tetapi tak juga ditemukan. Akhirnya, ia memutuskan bertanya pada petugas keamanan di mana letak persis toko tersebut. Setelah berhasil menemukan, Ricko tak lantas masuk. Pria itu menenangkan dirinya sejenak agar tidak kalap jika ternyata semua benar.


Setelah merasa lebih baik, Ricko baru melangkah masuk. Matanya berkeliling mencari keberadaan sang kekasih.


Netra tajam itu begitu menusuk, saat menemukan mereka dalam posisi masih sama seperti dalam foto. Ricko menggemeretakkan gigi. Ia geram! Rasa tenang yang coba di bangun tadi kini hanya tinggal kenangan. Gadis itu berani mempermainkan cinta dan ketulusan yang sudah ia beri.


“ARINDA!” Bariton suara Ricko menggema. Pria itu menarik tangan sang kekasih dan menatapnya intens.


“Ricko!” pekik Arinda kaget bukan main. Mati gue! Ini di luar rencana.


“Apa-apaan, nih? Siapa lu?”


Nirwan mencoba melepaskan genggaman tangan Ricko dari lengan Arinda.


Ricko melepaskan genggamannya. Kemudian, beralih mencengkeram kaos yang dipakai Nirwan.

__ADS_1


“Lu yang siapa?”


“Gue pacarnya Arinda!” seru Nirwan mencoba melepaskan cengkeraman tangan Ricko. Namun, tidak berhasil.


Ricko tersenyum mengejek, “Pacar?”


“Bohong, Sayang. Dia bukan pacar aku!”


Kentara sekali terlihat kalau Arinda sudah mulai ketakutan. Ia cemas akan nasib hubungannya jika Ricko memercayai perkataan Nirwan.


“Hei! Kakak sudah membelikanmu banyak barang, uang, dan perhiasan ini. Masih berani menyangkal!” Nirwan mulai kesal dengan kata-kata Arinda. Di tambah cengkeraman tangan Ricko semakin kuat dan ia tak bisa melepasnya.


“Aku bukan pacar kakak!”


Kamu bahkan memanggilnya kakak! batin Ricko kecewa sekaligus kesal.


“Kalau kita tidak berpacaran. Mana mungkin kakak mau membelikanmu begitu banyak barang begitu saja. Kau pikir kakak bodoh!”


Arinda bergeming. Ia tak bisa mengelak. Maksud hati ingin memberi perlajaran dengan cara menguras Nirwan, tetapi kenapa jadi runyam begini. Sungguh, ini di luar perkiraan.


Ricko memicingkan mata. Mencoba menahan amarah yang sudah mencapai puncak. Ia masih menunggu Arinda dengan pembenarannya. Akan tetapi, tak ada satu pun suara keluar dari bibir merah muda itu.


Ricko menarik napas panjang kemudian mengembuskannya dengan kasar. Ia membuka mata. Sejurus kemudian meninju pipi Nirwan dengan kencang hingga kepala itu oleng.


“BANGSAT!” teriak Ricko meluapkan emosi yang sejak tadi tertahan.


Arinda terpekik, ia cukup syok dengan apa yang terjadi. Setelah sadar dari keterkejutan. Gadis itu segera menarik Ricko agar menjauhi Nirwan.


“Ricko, cukup! Kamu bisa membunuhnya.”


Ricko menatap tajam Arinda. “Kamu membelanya? KENAPA ARINDA? APA SALAHKU?” teriaknya.


Arinda kaget oleh suara teriakkan Ricko. Sebelumnya, ia tak pernah melihat sang kekasih berbicara dengan nada tinggi seperti itu kepadanya..


“Sayang, aku bisa menjelaskan.” Arinda mulai menangis.


Ketika dulu mereka bersama, Ricko akan dengan cepat memeluk gadis itu. Tapi, tidak untuk kali ini.


Ricko terlalu kecewa, marah, dan sakit hati mendapati sang kekasih mendua.


“Sayang? Kamu masih berani memanggilku sayang.”


Arinda salah tingkah. Ia tahu jika saat ini bukan waktu yang tepat untuk membalas ucapan Ricko.


“Maaf, Rick.”


Tanpa mereka sadar, Nirwan bangun dan membalas memukul punggung Ricko dengan kencang. Tendangan pun ikut diberikan.

__ADS_1


Karena tidak siap menerima balasan Nirwan tersebut, Ricko jatuh tersungkur. Sesaat kemudian pria itu bangun dan membalas.


Perkelahian di antara keduanya tak terelakkan lagi. Mereka saling memukul. Lebih tepatnya, Ricko yang lebih sering memberi pukulan.


Tak tahu harus bagaimana cara memisahkan mereka. Arinda hanya bisa berteriak meminta tolong kepada orang-orang di sekitar agar melerai. Tapi, tak ada yang mau membantu. Karena, tak ingin terkena masalah. Sampai pada akhirnya petugas keamanan datang dan membawa ketiga orang tersebut ke Ruang Keamanan.


Arinda sudah berlinang air mata. Ia tahu ini adalah akhir dari segalanya. Semua berakhir dengan cara menyakitkan untuk Ricko. Gadis itu menyesalinya.


Seorang Kepala Keamanan datang. Ia mendudukkan diri tepat di depan ketiga orang yang telah membuat kegaduhan. Matanya menjelajah satu per satu wajah mereka.


Satu orang pria dengan muka babak belur. Kentara sekali ia tengah menahan rasa sakit.


Orang kedua adalah Arinda. Gadis yang sering diajak anak bosnya ke mal ini. Ia masih menangis. Sang kepala keamanan hanya bisa mengembuskan napas berat.


Tatapannya berlanjut sampai pada Ricko. Wajah terkejutlah yang pertama kali ditunjukkan. Betapa tidak, laki-laki yang hanya memiliki sedikit lebam di bandingkan pria di sisi sebelah kiri itu adalah putra dari pemilik Mal Diamond.


“Mas, Ricko!”


Ricko bergeming, tak menoleh, tak juga menyahutinya. Api kemarahan masih berkobar. Jadi, ia enggan untuk berbasa-basi.


Ricko berdecak kemudian keluar dari ruangan.


Sang kepala keamanan dengan lirikan mata. Memerintahkan anak buahnya agar membiarkan Ricko pergi.


Melihat Ricko pergi begitu saja, Arinda ikut bangun ingin mengejar. Tapi, seorang petugas keamanan menahan gadis itu. Ia dan Nirwan tak boleh meninggalkan ruangan sampai pemeriksaan selesai.


❄️❄️❄️


Usai pemeriksaan dengan memakan waktu dua jam. Akhirnya, Arinda bisa bernapas lega. Meskipun waktu menjadi banyak terbuang akibat protes dari Nirwan karena Ricko tak ikut ditahan.


Saat ini, Arinda hanya memikirkan bagaimana caranya menjelaskan semua yang terjadi kepada Ricko. Gadis itu tak ingin ada kesalahpahaman di antara mereka berdua.


“Mau pergi ke mana?” tanya Nirwan menahan tangan Arinda.


“Lepas!”


Arinda segera berlari keluar dari mal. Menyetop sebuah taksi untuk mengantarkannya ke Rumah Ricko.


Satu jam perjalanan. Akhirnya, sampai pada rumah megah milik sang kekasih. Arinda ragu untuk melangkah ke dalam. Ia takut melihat kemarahan Ricko. Pikirannya berdebat antara menyuruh masuk atau tidak.


Belum selesai memutuskan, Bi Irah keluar dan mendapati Arinda di depan pagar. Wanita sepuh itu begitu senang melihat kedatangan sang nona.


“Non Arinda! Ya, Allah! Selamet, Gusti!”


Bi Irah langsung menarik tangan Arinda. Mereka masuk tanpa gadis itu tahu situasi apa yang sedang terjadi di dalam.


“Bi, tunggu. Ada apa?”

__ADS_1


“Tuan Ricko, Non ....”


__ADS_2