ARINDA

ARINDA
Membereskan kekacauan


__ADS_3

Keluarga Besar Narendra gempar saat menerima kabar dari Bi Irah. Kepala Pelayan itu mengatakan jika Ricko mengamuk. Sebenarnya, alasan dibalik itu yang membuat mereka terkejut sekaligus merasa tergelitik dan geleng-geleng kepala.


Sebelumnya, Ricko tak pernah berbuat hal konyol seperti ini ketika putus cinta. Lalu, kenapa sekarang sembrono sekali?


Roni tidak habis pikir. Bagaimana bisa Ricko menghancurkan kamarnya sendiri hanya karena patah hati. Lebih gila lagi, sampai berkelahi.


Apa istimewanya gadis itu? batin Roni menggeram.


Belum lagi berbagai media cetak dan elektronik menampilkan berita perihal perkelahian tersebut. Video amatir pun mulai bermunculan di dunia maya.


Oleh sebab itu, Roni langsung menelepon Rifa. Memintanya membungkam seluruh media cetak dan elektronik agar menghapus semua. Baik itu video amatir atau berita apa pun yang berkaitan dengan sang cucu.


Roni juga memerintahkan Rifa, agar memberi ganti rugi berkali-kali lipat kepada media cetak. Lalu, segera tarik surat kabar yang telah beredar dan kembali membersihkan nama Ricko.


Baru kali ini keluarga terpandang itu melakukan hal yang menurut mereka hina, menyogok. Mereka tak memiliki cara lain lagi. Daripada reputasi Narendra tercoreng akibat berita tersebut.


Kekacauan yang dibuat Ricko memang sudah pada tahap membuat malu keluarga. Oleh karena itu, titah Roni langsung mengirimkan Rifa untuk membereskan masalah yang dibuat cucu kesayangannya itu.


Mendapat mandat tersebut. Rifa segera menyiapkan diri untuk terbang ke Indonesia esok pagi-pagi sekali. Meninggalkan sang suami dan anak-anaknya sementara di Singapura. Kebetulan, wanita yang sudah memiliki dua orang putri itu, sangat dekat dengan Ricko baik secara emosional atau pun jarak tempuh.


Sementara di lain tempat, Rahardian dan Anggun hanya bisa mengurut dada. Mereka merasa telah gagal dalam mendidik sang putra hingga mencoreng nama keluarga.


Mereka berdua tidak menyalahkan siapa pun atas masalah yang telah terjadi. Bahkan, tidak menyudutkan Ricko.


Anggun dan Rahardian merasa itu semua adalah murni kesalahan mereka. Semua tidak akan terjadi, jika saja sebagai orangtua lebih memerhatikan si bungsu. Dan, memaksanya untuk ikut tinggal di London. Tidak seperti sekarang, meninggalkan sang putra yang belum tamat sekolah sendirian tanpa pengawasan.


Menyesal pun tiada arti. Tapi, memang sekarang hanya sesal yang kini mereka rasa.


Seandainya bisa mengulang waktu, batin Anggun.


Bahkan, Anggun dan Rahardian pun tidak tahu menahu perihal Ricko tengah mencintai seorang gadis begitu dalam. Mereka pikir, itu hanya cinta monyet saja. Ketika kandas, ya, sudah. Menjalani hidup seperti biasanya lagi. Tapi, sayang kali ini, keduanya merasa sangat tertampar.


Lihatlah! Bagaimana buruknya kami menjadi orangtua, kata-kata itu terus saja bergaung di kepala Rahardian dan Anggun.


Ibu dari tiga orang anak itu pun terus menangis meminta kembali ke Indonesia. Ia khawatir kepada si bungsu, takut anaknya menyakiti diri sendiri.


Namun, Rahardian meyakinkan Anggun. Kalau Ricko hanya emosi sesaat dan akan kembali baik-baik saja. Lagi pula sudah di-handle Rifa untuk sementara. Ia percaya kepada sang putri akan menangani semua dengan baik.

__ADS_1


❄❄️❄️


Tiba di Tanah Air, Rifa langsung pulang ke Rumah. Ia membuka pintu kamar di mana sang adik tidur. Melihatnya sangat pulas, wanita itu urung untuk mendekati.


Rifa memutuskan untuk secepatnya pergi. Membereskan semua kekacauan yang dibuat si bungsu.


Ia bertandang ke berbagai media cetak. Bersyukur mereka mau menarik surat kabar tersebut dengan kesepakatan ganti rugi.


Melanjutkan lagi aktivitasnya untuk membungkam media elektronik agar memblokir semua video yang berkaitan dengan perkelahian tersebut. Awalnya, agak sedikit alot. Tapi, saat Rifa menyebutkan nama Roni Bagaskara Narendra, mereka langsung dengan mudah mengiyakan.


Power Roni di dunia bisnis memang sangat besar. Hanya dengan menyebut namanya saja, orang akan tahu sedang berhadapan dengan siapa.


Usai membereskan semua, Rifa pulang ke rumah. Ia memutuskan untuk mengistirahatkan tubuhnya di ruang tamu seraya menelepon Opa dan sang papa. Mengabarkan jika semua sudah beres dan Ricko dalam keadaan baik-baik saja.


❄️❄️❄️


Sementara, Ricko masih bergulung di dalam selimut. Tepat sang mentari terbit, pria itu baru memejamkan mata. Kedua sahabatnya pun semalam pamit pulang tepat pukul dua belas.


Tak ada yang berani menganggu tidur sang tuan muda. Bahkan, Rifa lebih memilih membiarkan Ricko terlelap. Karena, ia tahu jika kemarin anak muda itu banyak menguras tenaga untuk memorak-porandakan kamarnya sendiri menjadi hancur lebur.


Ricko melirik jam di dinding. “Udah sore?”


Pria itu memegang perutnya yang berbunyi. Ia bergegas turun dari kasur kemudian masuk ke dalam kamar mandi.


Tiga puluh menit kemudian, Ricko melangkah menuju dapur untuk makan. Tak ada yang berani menyapa sang tuan muda. Untuk memberitahu perihal kedatangan Nona Muda saja, mereka enggan melakukannya, karena masih takut.


Ricko makan dalam diam. Sebenarnya ia sedang tak berselera. Tapi, rasanya egois jika perut ikut menjadi korban patah hati. Padahal, memang benar kelaparan.


Selesai makan, Ricko berniat ingin ke garasi depan. Ia mau mengutak-atik motor besarnya, agar rasa pusing di kepala menghilang.


Saat melewati ruang tamu, Ricko melihat seseorang duduk membelakanginya dengan mengangkat kaki ke atas meja. Karena penasaran, ia menghampiri.


“Hei! Siapa kamu?”


Mendengar suara yang tak asing, Rifa menoleh seraya tersenyum.


Ricko terkejut. Kemudian, langsung berlari menghambur ke pelukan sang kakak tercinta.

__ADS_1


“Kakak! Ricko kangen!”


Pria itu dengan tidak tahu malunya duduk di atas pangkuan Rifa. Memeluk sang kakak sangat erat karena rindu.


“Oh, Tuhan! Iya-iya, kakak juga kangen. Tapi, bisa kamu turun, Bayi Besar.”


Ricko cengar-cengir. “Maaf, Kak. Aku lupa kalau kakak sudah tua.”


“Hei! Sembarangan!” Rifa memukul bahu Ricko dengan cukup kencang. Hingga membuat adiknya mengaduh kesakitan.


“Enggak berubah. Tenaga masih kayak tukang pukul.”


“Anak ini! Bilang apa kamu tadi?” Rifa menjewer kuping Ricko. Ia merindukan adiknya yang nakal.


“Ampun, Kak! Aku merindukan kakak.” Ricko kembali memeluk Rifa.


Rifa tersenyum. “Kakak juga merindukanmu.”


“Kapan kakak datang? Kenapa tidak bilang? Aku kan bisa jemput.”


“Kakak sampai tadi pagi jam delapan. Terus, melihat pangeran masih tidur dan tidak mau menganggu.”


Ricko menyunggingkan senyum kemudian menjelajah isi rumah dengan matanya.


“Ke mana Sabi dan Sheri?”


“Mereka tidak ikut. Kakak hanya datang sendiri.”


“Ah, sayang sekali. Padahal, aku juga merindukan boneka-boneka itu.”


Rifa berdecak, “Awas saja! Nanti kakak adukan pada Shavic kalau putri-putrinya dianggap boneka.”


Ricko mendengus, “Tukang ngadu!”


Rifa tertawa seraya memandangi adik bungsunya.


Ada apa denganmu, Adikku sayang? Putus cinta saja langsung membuat gurat wajah tampan itu terlihat berbeda. Penuh kesedihan. Sepertinya, pacarmu sangat spesial. Semoga Opa tidak melampiaskan kemarahannya kepada gadis itu. Karena, telah berani melukai hatimu hingga bersedih seperti ini. Rifa membatin.

__ADS_1


__ADS_2