ARINDA

ARINDA
Hot Daddy


__ADS_3

Kang Hae Neul as Nirwan Anggoro



Dilraba Dilmurat as Arinda Nabila



Di dalam sebuah mobil yang akan mengantar mereka ke hotel, tak ada satu pun yang berbicara. Ayah dan anak itu memilih diam dengan pikirannya masing-masing.


Satu jam perjalanan, akhirnya mereka sampai di sebuah hotel yang cukup mewah. Tempat yang telah di tentukan oleh Aris.


Arinda mengernyit, ia tak lantas turun melainkan diam dan berujar dalam hati. Bukankah hotel ini tempat diselenggarakannya pesta perpisahan sekolahku? Aku beralasan tak hadir karena sakit. Tak lucu ‘kan kalau tiba-tiba bertemu. Ya, Tuhan! Jangan sampai teman-temanku melihat?!


“Arinda, turun!”


Suara Erwin membuat Arinda tersadar.


“Iya, Pa.”


Arinda turun dan mengikuti ke mana Erwin melangkah. Gadis itu menutupi wajahnya dengan tas. Ia tak mau ketahuan sedang janjian dengan pria hidung belang di sebuah hotel. Reputasinya yang sudah membaik, bisa kembali tercoreng jika itu sampai terjadi.


Akhirnya, mereka sampai di dalam lift. Rasa lega kentara terlihat dari wajah Arinda.


“Ada apa denganmu? Dari tadi Papa perhatikan seperti orang yang ketakutan?”


Ini semua karena kau! Tidak biasanya juga punya client orang berkelas. Tapi, itu semua salahku juga, sih! Kenapa tidak bertanya lebih dulu mau pergi ke mana kepada pria tua ini. Semoga saja teman-temanmu tidak wara-wiri sampai kemari, Arinda. Karena jika itu terjadi, habislah kau! batin gadis itu tetap waspada.


Pintu lift berdenting kemudian terbuka. Mereka berdua segera keluar dari sana.


Mata Erwin menjelajah. Begitu menemukan orang yang di cari. Ia langsung mengajak Arinda.


“Ayo! Itu mereka.”


Erwin menarik tangan sang putri agar cepat berjalan dan tidak kabur. Padahal, Arinda memiliki beribu akal di kepalanya untuk melarikan diri. Percuma selama ini dirinya menjadi murid Mami Dewi, jika cara mengelabui laki-laki hidung belang saja tak terkuasai dengan baik.


“Halo, Arinda! Kau terlihat semakin cantik dan seksi."


Suara itu ... Aku seperti mengenalinya, gumam Arinda.


Karena terlalu sibuk menoleh ke kiri dan kanan. Arinda sampai tidak bisa fokus kepada orang yang telah membuat janji dengan Erwin. Ia mendongakkan kepalanya. Jantungnya seketika berdetak sangat cepat, ketika melihat di depan matanya sudah berdiri pria yang cukup ia kenal.


“Nirwan!”


“Apa kabarmu?” tanya Nirwan dengan senyum mengembang.


Arinda mencoba menenangkan diri. Gadis itu juga tersenyum, mengikuti alur sang tuan yang membayarnya.


“Kabarku? Ah, aku baik-baik saja.”


“Kau tidak menanyakan kabarku?"


“Tidak perlu. Aku lihat kau masih hidup. Eh, itu ... Maksudku anda terlihat tampan dan sehat seperti biasanya, Tuan Nirwan Anggoro.”


Suara berdeham dari Aris mengalihkan perhatian mereka berdua. Arinda dan Nirwan menoleh.


“Selamat malam, Tuan Aris Anggoro. Senang bertemu dengan Anda beserta istri,” sapa Arinda berbasa-basi.


“Kau lekaslah pergi, Erwin! Dan kau Arinda, duduklah!” titah Aris seraya menunjuk ke arah ayah dan anak itu satu per satu secara bergantian. Berikut kata perintah yang harus dituruti.


Arinda terkesiap melihat sikap sang pejabat.


Cih, pejabat macam apa kau! Sungguh tidak punya sopan santun. Menyuruh Papaku pergi bagai anjing yang menganggu! Seperti inikah attitude orang yang mengaku berpendidikan. Bahkan, memiliki jabatan di pemerintahan. Memalukan! Arinda membatin.


Erwin pun menurut, ia pergi. Pria itu akan menunggu sang putri selesai dengan urusannya. Itu janjinya dengan Aris. Tidak pergi kemana pun sampai semua rencana selesai!


Arinda menatap kepergian Erwin dengan geram. Ia mengepalkan tangannya. Gadis itu memang membenci sang papa, tetapi entah kenapa dirinya tak terima jika Aris memperlakukan orangtuanya demikian.

__ADS_1


“Arinda, duduklah. Jangan membuatku mengatakannya lagi untuk ketiga kali!” Aris berseru seraya memberi tatapan tajam.


“Maaf, Tuan. Saya hanya memastikan saja jika Papaku tidak salah menaiki lift.”


Arinda menarik kursinya ke belakang. Tapi, baru saja ingin duduk, lengannya dipegang erat oleh Nirwan.


“Tunggu!”


Arinda mengernyit, “Ada apa?”


“Kemarikan tasmu.”


Tanpa menunggu persetujuan Arinda. Pria itu sudah menariknya dan menggeledah isinya.


“Malam ini, kau tidak membutuhkan ini dan ini. Kita akan bersenang-senang tanpa kedua benda itu,” ucap Nirwan.


Pria itu mengeluarkan botol air semprotan cabai dan ponsel milik Arinda. Senyum mengejek tercetak jelas di wajah menyebalkan lelaki itu.


Arinda tersenyum, lebih tepatnya terpaksa menyunggingkan senyum.


Sial! Sudah belajar dari pengalaman rupanya. Tapi, kau tenang saja, gadis gila ini memiliki banyak cara untuk melumpuhkanmu. Arinda membatin.


“Sekarang, kau boleh duduk!” Lanjut Nirwan.


Arinda mendudukkan dirinya tepat di samping Nirwan.


“Makanlah, Arinda!” seru Nirwan.


“Apakah ini tidak terlalu malam untuk sebuah acara makan malam?” tanya Arinda dengan sopan, karena ia melihat jam sudah menunjukkan pukul sepuluh malam.


“Itu karena kita menunggumu lebih dulu. Agar bisa makan bersama,” jawab Nirwan.


“Maaf, jika membuat kalian menunggu. Mari kita makan!”


“Makanlah yang banyak dan habiskan.”


Usai makan malam, Nirwan dan Aris pamit sebentar. Meninggalkan Nyonya Melani dan Arinda berdua saja. Wanita berwajah glowing itu mulai dengan sesi pertanyaan basa-basi.


“Berapa usiamu?” tanya Melani dengan nada suara dingin. Wanita ini merupakan istri muda Aris sekaligus ibu tiri Nirwan.


“Delapan belas tahun, Nyonya.”


“Masih sangat muda, tetapi sudah menjadi wanita panggilan.”


Kau pun tak berbeda jauh dengan wanita panggilan, bodoh. Bukankah, kau hanya istri kedua. Sebelum di angkat menjadi istri muda, kau adalah pelakor, gumam Arinda.


“Terima kasih, Nyonya. Aku memang masih muda, tetapi pengalamanku sangat banyak. Apakah Anda ingin aku ajarkan agar Tuan Aris tidak berpaling kepada wanita lain?” Kau sudah membangunkan amarah kelinci kecil ini, Nyonya Melani Anggoro! Mari kita bermain-main. Aku pastikan kau menyesal telah merendahkanku.


Kurang ajar! Dari mana gadis ini tahu kalau suamiku suka main perempuan! gumam Melani.


"Dari tutur katamu terlihat sekali kau memang liar!”


“Maafkan aku telah mengecewakan Anda, Nyonya.”


“Setelah malam ini, jauhi putra tiriku!”


“Dengan senang hati, Nyonya. Lagi pula, aku tidak terlalu menyukai putramu itu. Sangat datar! Aku lebih tertarik dengan suami Anda. Sangat karismatik, gagah, dan kaya raya.”


“Kau ....”


“Oops, maaf! Sebagai wanita malam, kami terbiasa memasarkan diri kepada siapa pun tanpa pandang bulu. Nyonya, jangan marah. Kami hanya dilarang untuk menolak pelanggan, siapa pun itu harus diterima. Termasuk suami dan putra tirimu.”


Mata Melani seketika melotot tajam. Wanita yang merasa status sosialnya lebih tinggi itu merasa terhina. Bisa-bisanya berbicara hal serendah itu di depannya secara jelas.


“Apa-apaan kau wanita murahan?!”


“Maaf, Nyonya. Bibirku ini suka keceplosan. Tapi, apakah Anda tau, Hot Daddy memang sangat menantang dan menggairahkan di atas ranjang! Apa lagi lawan mereka gadis muda nan cantik sepertiku! Permainan akan semakin panas dan malam panjang pun tak akan cukup buat kami.”

__ADS_1


“Jaga mulutmu! Jangan mimpi suamiku akan berpaling dariku demi wanita rendah sepertimu. Bahkan putra tiriku hanya mau bermain-main saja denganmu!”


“Apakah Anda tadi tidak melihat, Tuan Aris menatapku dengan tatapan memuja. Gaun ini pun sengaja diberikan suamimu untukku. Kau mau tau alasannya? Karena, Hot Daddy itu ingin melihat tubuh molekku.”


“Lancang!”


Rasanya, aku ingin sekali tertawa terbahak-bahak. Tatapan memuja apa? Menatap secara tajam, itu baru benar, gumam Arinda merasa menang.


“Nyonya, aku berkata dengan sebenarnya. Apakah Anda ingin aku membongkar rahasia suamimu, tetapi hanya kita berdua saja yang boleh tau. Karena, Nirwan akan sedih jika mengetahui hal ini.”


“Rahasia suamiku? Apa maksudmu?”


Kena kau! seru Arinda dalam hati.


“Setelah melayani putramu. Aku akan diam-diam memasuki kamar lain di hotel ini yang telah dipesan suamimu. Ah, aku tidak sabar untuk segera bercinta dengan Hot Daddy seperti Tuan Aris. Apakah suamimu hebat di ranjang?”


“KAU?!”


“Anda tidak usah menjawabnya, Nyonya. Siapa pun yang bersamaku akan aku beri kepuasan. Termasuk suami Anda nanti malam.”


“Kau mau mencoba menipuku?”


“Baiklah, kalau tidak percaya. Setelah ini, jangan salahkan aku jika Anda akan menjadi janda. Karena, apabila kami bersama, jangan harap aku mau berbagi kasih dengan wanita mana pun, termasuk dirimu!”


“KURANG AJAR! PERGI KAU!”


“Ada apa ini?” tanya Aris bingung.


Aris dan Nirwan baru menyelesaikan urusannya dengan pihak hotel. Mereka kaget mendapati Melani berteriak.


“Maaf, Tuan Aris dan Nirwan. Aku harus pulang. Nyonya Melani mengusirku. Permisi!”


“Hei, enak saja kau mau pergi begitu saja!” teriak Nirwan kesal.


“Ibumu sudah mengusirku. Kau mendengarnya sendiri, bukan? Jadi, untuk apa lagi aku berada disini.”


Ingin memaki gadis itu, tetapi rasa malu menghinggapi Melani. Karena, tadi baru berteriak saja semua orang menatap ke arah mereka. Status sosialita yang saat ini disandangnya, tentu membuatnya harus menjaga image di depan khalayak ramai.


“Kita pulang, Pak!”


Melani menarik tangan sang suami. Tapi, jangankan bergerak maju, bergeser satu langkah saja tidak. Merasa diabaikan, wanita yang berdandan cukup heboh itu meradang.


“Pak, kamu tidak mau pulang?”


“Kita akan menginap disini. Apa kau lupa?”


“Aku tidak jadi menginap. Kita pulang!” Benar saja apa yang gadis murahan itu ucapkan. Mereka pasti benar-benar berniat memadu kasih di belakangku dan Nirwan. Sungguh menjijikkan!


Arinda ingin sekali tertawa, tawa yang sangat kencang. Bualannya tadi cukup berhasil membuat wanita itu marah. Padahal, jangankan bercinta dengan Hot Daddy, berciuman pun baru dengan Ricko saja.


Akhirnya, obrolan yang sejak kecil sering di dengarnya saat berada di lingkungan pekerja malam, menyelamatkannya dari wanita sombong itu.


Satu betina berhasil masuk perangkap. Tinggal mengurus bandot tua dan bayinya saja, gumam Arinda.


“Tuan Aris, terima kasih untuk gaun cantik ini. Anda sangat pintar memilih pakaian. Lihatlah! Sangat pas dan cocok di tubuhku, bukan?” ucap Arinda sengaja membuat suasana agar semakin panas.


Melani semakin kesal dibuatnya. Harga dirinya serasa terinjak-injak.


“Kita pulang sekarang?!”


Arinda semakin menyunggingkan senyum. Sebentar lagi bisa ia pastikan kalau Aris akan menuruti istrinya itu.


“Kau ini benar-benar membuatku malu!”


Akhirnya, Aris memilih pulang!


Bagus! Sekarang hanya tinggal kau dan aku, Nirwan. Kali ini, kita akan lihat, seberapa besar otakmu bekerja untuk mendapatkan gadis berharga sepertiku! Apakah akan berhasil atau seperti sebelum-sebelumnya? Gagal dan gagal! Arinda berseru dalam hati seraya menatap lekat target berikutnya.

__ADS_1


__ADS_2