
Ricko POV
Sayang, aku masih belum terima jika kisah kita harus berakhir, tetapi ini sudah takdir. Rasanya tak ingin pergi, tetapi apa yang bisa kuharapkan lagi.
Cinta yang sudah tumbuh ini menyiksaku. Ingin mencabut akarnya agar tak terus hidup, tetapi sudah kadung tertanam dengan kuat. Aku mencoba menariknya perlahan, tetapi kenapa terasa sangat sakit?!
Sayang, aku sangat merindukanmu.
Seharusnya, aku membencimu, bukan. Tapi, aku tak bisa. Cinta ini lebih besar dari amarah dan kekecewaaanku.
Ego menyuruhku untuk pergi. Harga diri selalu berbisik agar meninggalkanmu. Keegoisan memenangkannya. Aku kalah! Aku memang bodoh!
Aku hanya bisa membenci diri ini yang tak bisa lepas dari bayang dirimu. Pengaruhmu terlalu kuat untuk kulupakan begitu saja.
Aku pergi jauh, berharap bisa melupakanmu dan cinta kita. Jaga dirimu, Sayang. Teruslah menjadi gadis berharga yang tak mudah tersentuh oleh pria.
Sang malam, titip salamku untuk mantan kekasihku tersayang. Katakan padanya, aku akan pergi esok hari.
Aku mencintaimu, Sayang.
💔💔💔
Arinda POV
Embusan angin malam terasa menusuk kulit. Tapi, aku tetap bergeming disini, di balkon kamar. Dada ini masih di rundung sesak.
Malam terang pun bagai syahdu mendung menerpa. Padahal, langit penuh kelap-kelip bintang. Bulan saja benderang nyaris sempurna.
Ah, bodoh! Aku lupa jika mendung itu bukan ada di langit. Tapi, ada di mata, hati, dan juga pikiranku.
Aku merindukanmu, Ricko.
🌺🌺🌺
Suara ketukan pintu terdengar. Ricko berteriak menyuruh masuk. Pintu kemudian terbuka menampilkan wajah yang tak asing.
“Halo, calon orang London!” sapa Dito cengar-cengir.
Ricko tersenyum tipis dan melanjutkan bermain gitar.
“Jadi, sore berangkat?” tanya Zacky.
Ricko menjawab dengan mendeham.
HENING!
“Rick, apa Arinda tau hari ini lu berangkat?”
Ricko diam tak menjawab pertanyaan Dito. Ia terus memetik gitarnya.
“Sorry, bagaimanapun juga doi pasti sedih lu pergi jauh karena dia.” Lanjut Dito.
__ADS_1
Ricko tertawa, “Apa lu bilang? Sedih? Lucu! Dia justru bahagia, karena bisa bersama om-om itu.”
“Om-om? Siapa?” tanya Zacky bingung.
“Selingkuhannya! Siapa lagi?!”
Zacky dan Dito saling tatap! Mereka tak lagi membahas Arinda.
“Jaga diri lu baik-baik di sana, Sob! Sering-sering pulang ke Indonesia, jenguk kita.”
“Gue gak akan balik ke Indonesia secepat itu. Jadi, mending lu berdua yang ke London. Akomodasi gue tanggung. Semua gratis!”
Mendengar kata gratis, senyum terbit dari bibir Dito. “Nah, begitu dong! Itu baru sohib!”
Zacky meninju bahu Dito pelan. “Muka gratisan!”
“Lah, kapan lagi bisa ke Luar Negeri gratis!”
“Iya, sih!”
Dito dan Zacky ber-high five ria. Sementara Ricko hanya memerhatikan dengan senyum terpatri.
Gue bakal rindu masa-masa bersama kalian. Sohib terbaik!
❄️❄️❄️
Sebuah pesan di Aplikasi hijau masuk, Arinda membukanya dan langsung membuat wajahnya seketika sendu.
[Ricko berangkat ke London jam 3 sore, Bandara Soekarno-Hatta]
Arinda melirik jam di dinding. Waktu saat ini sudah menunjukkan pukul dua belas siang. Tiga jam lagi, Ricko akan berangkat.
Arinda melangkah menuju balkon kamarnya. Menatap matahari siang yang terik. Air mata tanpa permisi mengalir begitu saja. Gadis itu semakin terisak-isak seraya memegang dadanya yang semakin terasa sesak.
“Seandainya saja, kamu mau mendengar penjelasanku. Mungkin kita masih memiliki harapan untuk bersama. Tapi, aku mengerti. Tak ada laki-laki yang ingin mendapat perlakuan demikian. Kamu tak salah, aku yang salah.”
Arinda menghapus bulir air matanya kemudian melangkah masuk ke dalam. Ia akan bersiap untuk melihat sang mantan untuk terakhir kali sebelum meninggalkan Tanah Air.
Bandara Soekarno-Hatta
Arinda hanya bisa menatap Ricko dari kejauhan. Gadis itu tak memiliki nyali untuk menemuinya langsung. Ia juga sengaja mengenakan topi dan kacamata hitam untuk menutupi wajah sembabnya.
Bulir air mata mulai menetes membasahi pipi. Arinda kembali terisak-isak. Kali ini, meluapkan semua rasa lewat tangisan. Suaranya terdengar menyayat hati.
Gadis itu luruh ke lantai. Ia tak kuat menopang kedua kakinya yang terasa lemah ketika melihat sang mantan perlahan menghilang dari pandangan.
“Ricko!” ratap Arinda.
Tangisannya semakin pecah, ia tak peduli kalau saat ini semua orang memandangnya heran sekaligus iba.
Satu jepretan ponsel berhasil memotret kemudian dengan cepat mengirimkan gambar tersebut.
[send picture]
__ADS_1
Dua orang pria mengangkat tangan Arinda agar bangun. Gadis itu pun berdiri. Ia melihat Zacky dan Dito yang melakukannya seraya menatap sendu ke arahnya.
Karena lara tengah menghampiri, Arinda spontan memeluk Zacky erat. Gadis itu kembali menangis, isak tangis pilu yang baru kali ini kedua pria itu dengar.
Akan tetapi, sesuatu dalam diri Zacky mengatakan lain. Pria itu merasakan tubuhnya seketika menghangat. Perasaan itu muncul begitu saja tanpa di komando.
Pikiran Zacky mengelana, bertanya-tanya ada apa dengan tubuhnya itu. Mengapa serasa ada yang berbeda tengah menjalari aliran darahnya seolah-olah tersetrum sesuatu.
Zacky meneriaki pikirannya. Enggak mungkin?! Ini bukan cinta, 'kan?! Lalu, rasa apa ini! Oh, Tuhan! Jangan membuat teka-teki baru dalam hidupku. Jangan juga melibatkan Arinda! Gadis ini milik Ricko. Aku tak ingin merusak hubungan orang lain. Walaupun saat ini telah berpisah. Tapi, aku tahu betul kalau cinta masih bersemayam di hati mereka.
Dito menepuk bahu Arinda pelan sekaligus menyadarkan lamunan Zacky.
“Hiduplah terus demi diri lu sendiri. Biarkan Ricko pergi untuk menuntut ilmu. Suatu saat jika kalian berjodoh, pasti akan bertemu lagi.”
“Ricko pergi bersama rasa benci, Dit. Dia gak akan pernah memberi maaf.”
Lagi, tangis itu pecah dan terdengar seperti tersayat sembilu.
“Rin, beban Ricko sangat berat. Sohib gue pewaris tunggal kerajaan bisnis keluarganya. Sisi positif dari kejadian kalian adalah dia mau mengikuti orangtuanya ke London. Jadi, berdoa aja terus agar kalian suatu saat kembali dekat dan berhentilah mempermainkan laki-laki,” ucap Dito lagi.
Sementara, Zacky hanya diam. Saat Arinda melepas pelukannya pun, seolah-olah dirinya tak rela. Ia ingin terus memeluk tubuh mungil itu dan mencurahkan rasa hangat dan kasih sayang kepadanya.
Seperti kaset kusut, Zacky hampir kehilangan akal pikiran. Ia segera mengenyahkan otak kotornya agar sadar.
“Iya, Rin. Jodoh gak akan ke mana,” ucap Zacky singkat, padat, dan jelas.
Pria itu bingung harus berbicara apa. Gara-gara pelukan Arinda, pemikirannya menjadi berhalusinasi. Bahkan, pria itu menyalahkan status jomlo-nya sehingga membuatnya berpikir yang tidak-tidak.
Zacky dan Dito sibuk dengan pikirannya masing-masing. Keduanya cukup sedih melihat perpisahan sepasang kekasih ini. Saling mencintai, tetapi tak bisa bersama. Lalu, mereka bisa apa!
“Kita antar lu pulang, Rin. Zacky bawa mobil kok. Ayo!” seru Dito.
Zacky bergeming tak menyahut. Netranya menatap Arinda lekat tanpa berkedip. Ketika Dito menarik tangannya untuk segera pergi, kewarasannya baru kembali.
❄️❄️❄️
Ricko sudah menaiki pesawatnya. Ia baru saja duduk bersandar pada kursi. Lalu, terdengar satu pesan masuk di Aplikasi hijau.
[picture]
Pria itu menatap lekat gambar yang dikirimkan Dito. Sebuah foto seorang gadis tengah terduduk seraya menangis.
“Jadi, kamu datang mengantarku. Aku minta maaf. Kita tak akan lagi bisa bersama. Berbahagialah dengan kehidupan barumu.”
Ricko membuka galeri foto di dalam ponselnya. Ia melihat foto-foto kebersamaannya dengan sang mantan. Pria itu tersenyum tipis kemudian menghapus semuanya.
Ricko mematikan ponsel dan memasukkannya ke dalam saku. Ia memilih membaringkan diri kemudian menutup matanya. Berharap setelah bangun semua kenangan hilang bersama foto-foto yang telah sirna.
Mark Prin as Ricko Bagaskara Narendra
Kim Woo Bin as Zacky Aldiano
__ADS_1
Soong Joong Ki as Dito Mahendra