
Voilaaaa ....
Maapkeun, kalo pada bingung di episode kemarin, yess. Nama 'Kia' sengaja sampai dibuat judul episode. Bikoozz, biar pada inget. Karena nama itu akan keluar di episode ke depan. Entah kapan? Hanya Author yang tahu. Hehe.
Author dilarang spoiler. Infonya segitu aja. Udah, ah. Takut keceplosan. Hehehe ....
Happy reading, yesss 😉💞🤗
🌺🌺🌺
Terik matahari menyelimuti Kota Surabaya. Sepasang sejoli yang mengaku hanya rekan kerja berdiri tepat di bawah sinar tersebut. Mereka mengecek gedung mal yang hampir rampung. Membuka gulungan kertas dari salah satu arsitek yang dipercaya untuk membuat rancangan.
“Arinda, disini panas sekali. Kamu di ruangan saja, ya.”
“Aku baik-baik saja, Rick.”
“Ya, sudah. Jangan jauh-jauh dariku.”
“Iya, Sayang.”
Ricko menoleh.
“Ah, maksudku, iya, Rick,” ralat Arinda. Sial! Aku keceplosan. Hei, mulut tak tahu diri! Jangan menyebutnya begitu.
“Kamu boleh memanggilku begitu, hanya saat kita berdua saja.”
Arinda menaikkan satu alisnya. “Tadi hanya keceplosan, Rick.”
Ricko menghela napas. “Tapi, aku tidak keberatan.”
Arinda menggeleng. “Aku tidak mau.”
“Ya, sudah. Terserah.”
Dua jam berada di lokasi dengan panas menyengat. Membuat pipi putih itu memerah. Namun, ia tetap setia menemani Ricko.
“Rick, kamu yakin posisi pusat informasi di sana?”
“Tidak. Nanti sore aku akan mengadakan rapat dengan Arsitek dan Desain Interior. Tolong ingatkan aku.”
“Aku segera catat.”
“O, iya. Jam berapa rapat dengan para tenant?”
“Dua jam lagi.”
“Kalau begitu kita ke warung depan sebentar. Sepertinya, minum es teh manis menyegarkan.”
Arinda mengangguk.
Dua gelas es teh manis habis ditenggak Ricko. Cuaca terik membuat tenggorokannya kering. Arinda pun tidak kalah hausnya. Hanya saja ia memilih air mineral dingin.
“Lihat wajahmu memerah, Arinda. Sudah setelah ini jangan ikut aku ke proyek. Panas.”
“Aku tidak papa.”
“Please, kali ini menurut, ya?”
“Aku tidak mau.”
Ricko berpikir. Bagaimana caranya agar gadis ini menurut?
“Kamu di ruangan, ya. Periksa dugaan kasus suap saja. Bagaimana?”
“Tapi, jam empat kita ada rapat.”
“Ingatkan aku. Oke.”
Arinda mengangguk.
🌺🌺🌺
Menatap layar di depan dengan serius. Sesekali mengernyit dan menyipitkan mata. Mengulang lagi pemeriksaan hingga tiga kali. Hasilnya, tetap sama.
Arinda menggeleng tak percaya. “Ricko harus mengetahui ini.”
Baru saja ingin menelepon, tetapi Ricko sudah masuk ke ruangan dengan peluh keringat membasahi kening.
“Rick!”
Ricko mengembuskan napas lelah. Berjalan menghampiri Arinda. “Panasnya sangat luar biasa!”
“Aku ambilkan air dingin.”
“Tidak usah. Tadi aku sudah minum.”
__ADS_1
Arinda melirik jam di dinding. Waktu sudah menunjukkan pukul empat.
“Rick, sudah waktunya rapat.”
“Oke. Ayo.”
Dua jam rapat bersama para tenant. Lanjut rapat dengan arsitek dan desain interior selama dua jam.
Berkutat dengan segudang pekerjaan, membuat waktu cepat berjalan. Saat ini, jam sudah menunjukkan pukul sembilan. Semua pekerjaan usai. Arinda dan Ricko kembali ke Hotel.
“Istirahatlah! Aku tahu kamu lelah.”
“Iya.”
Masuk ke dalam kamar, mandi, dan bersiap tidur. Seharusnya, begitu, 'kan? Namun, Arinda justru memikirkan masalah kasus suap itu. Bergulingan di atas kasur. Ia resah.
Karena terus memikirkan, Arinda memutuskan akan membicarakannya dengan Ricko.
Memencet bel kamar Ricko beberapa kali. Namun, tak ada yang membuka.
Baru saja ingin kembali ke kamar. Pintu terbuka menampilkan pria tampan itu dengan muka bantal.
“Kamu sudah tidur?”
“Masuklah.”
“Sepertinya, kamu benar-benar lelah.”
Ricko menarik Arinda ke dalam.
“Tak apa.” Ricko naik ke atas kasurnya. “Kemarilah.”
“Aku kembali saja ke kamar. Besok kita bicara lagi.”
“Arinda ... kemari!”
Gadis itu menurut, melangkah menuju kasur. Ia duduk di pinggirnya.
“Katakan saja, aku mendengar.”
Arinda mengangguk. Ia mulai menjelaskan perihal apa yang ia dapat. Berbicara panjang lebar, tetapi sunyi. Menoleh ke arah Ricko. Dan ... pria itu tertidur pulas dengan posisi bersandar.
Arinda mengembuskan napas panjang kemudian tersenyum. “Kamu lelah, ya?”
Gadis itu membenarkan posisi Ricko dengan cara menarik kakinya. Lalu, menyelimuti tubuhnya. Kemudian, keluar dari kamar.
🌺🌺🌺
“Apa?”
“Maaf, semalam aku ....”
“Ketiduran.”
“Kamu tidak marah, 'kan?”
Arinda tertawa. “Ya, enggak dong, Rick. Kamu sudah sarapan?”
Ricko menggeleng. “Belum.”
“Aku beli roti. Mau?”
“Ya.” Ricko mendudukkan diri di depan Arinda. “Mau menyuapiku?” tanyanya.
“Tidak,” jawab Arinda sambil memasukkan roti miliknya ke mulut.
Tiba-tiba, Ricko melahap roti yang berada di depan bibir Arinda. “Enak.”
Arinda terbengang. Menelan salivanya dan memastikan tak ada orang yang melihat. Pasalnya, ruangannya bersama Ricko hanya berdinding kaca bening.
“Ricko, jangan macam-macam. Ini di kantor.”
“Aku lapar.”
“Iya, tetapi ....”
Ricko mendaratkan bibirnya di bibir merah muda favoritnya. Menciumnya lembut.
Arinda mendorong tubuh Ricko dan memukul dada bidangnya. “Ricko!”
“Maaf, kelepasan.” Aku sengaja. Salah sendiri punya bibir rasanya enak, empuk, kenyal, manis, dan membuatku selalu ketagihan.
“Kamu tu, ih! Nanti ada yang lihat.”
“Kalau tidak ada yang lihat, boleh?” Lihat saja rona pipinya, memerah malu. Aku senang menggodamu, Cantik.
“Ricko!”
__ADS_1
🌺🌺🌺
Semua karyawan sudah pulang. Di kantor hanya menyisakan Arinda dan Ricko saja. Keduanya masih berkutat di depan laptop masing-masing.
Waktu sudah menunjukkan pukul sembilan malam. Besok pagi mereka pulang ke Jakarta dan membatalkan niat untuk diving. Karena, Arinda merasa capek. Ia hanya ingin beristirahat di rumah, bermalas-malasan di atas kasurnya.
“Rick, kamu mau pulang?”
“Iya, ini sudah selesai.”
“Rick, bisa bicara sebentar. Aku ingin memperlihatkan sesuatu.”
“Ah, iya. Hampir lupa. Perihal kemarin, 'kan?”
Arinda mengangguk dan menggeser kursi mendekat ke samping Ricko. Membuka laptop dan menunjukkan data-data yang setengahnya telah rampung diperiksa.
“Lihat!”
Ricko menatap tajam layar. Menoleh ke arah Arinda dengan mengernyit. “Ini ....”
“Kerugian perusahaan ditaksir di atas 100 miliar. Itu masih perkiraan."
“Apa!”
“Kerugian itu untuk dua puluh mal selama dua puluh tahun. Semua kejadian seperti dugaanmu sebelumnya. Terjadi di luar kota.”
“Gila!”
“Dugaan sementara ada beberapa tersangka. Tiga di antaranya menjabat sebagai Direktur Keuangan dan dua lagi merupakan Area Manajer kita. Yang lainnya aku masih ragu. Dan ... jumlah tersangka masih bisa meningkat.”
“Sebutkan yang lainnya?”
“Kepala Staff Administrasi Pusat, Kepala Bagian Arsip, dan Pak Handoyo, Marketing Director PT. Surya Mandiri.”
“Untuk Pak Handoyo, aku tidak yakin dia bekerja seorang diri. Dia ... orang luar.”
“Ya, sepertinya dia dibantu oleh staf perusahaanya sendiri. Tapi, aku tidak bisa melacaknya. Harus dari pihak mereka yang membuka data perusahaan tersebut. Dan ....”
“Dan ... apa?”
“Ada beberapa tenant lainnya yang melakukan hal yang sama. Tapi, dengan jumlah sedikit.”
Ricko terdiam. “Kenapa bisa Papaku lengah sampai dua puluh tahun?”
“Pak Rahardian orang yang begitu menjunjung tinggi arti sahabat, Rick. Beliau orang yang sangat baik. Dan ... Direktur Keuangan kita memanfaatkan kebaikannya karena mereka bersahabat.”
“Dari mana kamu tahu hal sejauh itu?”
“Mbak Dini pernah memberi tahuku. Karena, berkali-kali aku marah. Dia sering menggodaku dengan ucapan tak senonoh. Aku benar-benar membenci bandot tua itu. Menyebalkan!"
Ricko menghampiri Arinda. Mengangkat tubuh mungil itu ke atas pangkuannya. “Apa maksudmu?”
“Ricko! Turunkan aku!”
“Diam! Katakan? Apa dia melakukan hal lain lagi kepadamu?”
“Dia ingin menjadikanku istri mudanya.”
“SHIT!”
Merasa tak terima dan kesal. Ricko justru melampiaskannya kepada Arinda. Ia mencium bibir merah muda itu dengan buas. Gadis itu sampai meronta dan gelagapan karena susah bernapas.
Ciuman Ricko semakin dalam. Tak peduli tangan gadis itu menyusup ke dalam jasnya hingga menembusi punggungnya dengan kuku-kuku tajam.
Dua puluh menit berlalu, Ricko melepas pagutan mesranya. Bibir mereka membengkak dan basah.
“Kamu milikku! Hanya milikku! Tak ada yang boleh menginginkanmu selain aku! Arinda hanya milik Ricko! Mengerti!” seru sang marketing director menekankan setiap kata-kata yang keluar.
Entah kenapa, kali ini Arinda merasa takut melihat kilat marah di mata Ricko. Pria ini sangat murka. Karena ketakutan, gadis itu mengangguk.
Hening!
Sepuluh menit kemudian
“Ricko,” suara Arinda lembut, tetapi tetap tersirat ketakutan.
“Apa?!” teriak Ricko masih terbawa emosi.
“Aku takut, jangan berteriak.”
Ricko menyadari kekhilafannya. Ia menyatukan keningnya dan Arinda. “Maaf. Apa?”
“Kuku jariku patah.” Gadis itu memperlihatkan jari-jemarinya.
“HAH!”
Ricko baru sadar kalau punggungnya terasa pe-rih.
__ADS_1