
Sepanjang hari, Ricko terus menempel pada Rifa. Memang di antara semua keluarga, anak tertua itu yang paling dekat dengan si bungsu. Tumbuh bersama sedari kecil dan ke mana pun selalu tak pernah berpisah membuat keduanya sangat akrab.
Dari dulu, Rifa yang akan selalu berada di garda depan saat sang adik terlibat masalah karena kenakalan remaja. Si bungsu itu memang terkenal sangat sulit untuk di atur.
Ketika masih berseragam putih biru, bersama kedua sahabatnya yakni Dito dan Zacky. Mereka bertiga selalu kompak dalam hal apa pun termasuk membolos dan tawuran.
Rifa selalu menutupi masalah tersebut dari kedua orangtua mereka, terutama kepada Opa Roni. Setiap kali sekolah memanggil, ia akan datang untuk membereskannya sendiri.
Saking sering melindungi, Ricko menjadi ketergantungan dengan Rifa. Ketika berada dalam masalah, si bungsu akan menghubunginya terlebih dahulu.
Oleh sebab itu, ketika dirinya menikah, mereka berdua merasa sangat kehilangan. Selalu bersama dan dalam sekejap harus berpisah memang memberatkan.
Masalah saat ini pun, sejujurnya Rifa ikut merasa bersalah. Karena, ia sedikit melupakan sang adik. Istri dari Shavic itu terlalu sibuk dengan si kecil Sabi dan Sheri. Hingga tidak lagi banyak tahu mengenai kondisi Ricko.
Rifa berpikir sejenak, ia tengah mencari cara agar Ricko mengubah sifatnya itu. Beberapa saat memikirkan jalan keluar, tak lama senyum terbit. Ia akan membuat sang adik menjadikan masalah ini sebagai pembelajaran berharga.
“Kak, aku mau pindah sekolah saja ke London. Kasihan Mama dan Papa kesepian gak ada yang menemani.”
Rifa melirik sang adik dengan senyum mengejek. “Kasihan atau mau menghindar dari pacar kamu?”
Ricko balas melirik dengan senyum kecut. “Siapa yang punya pacar? Aku jomlo.”
“Oh, ya?”
“Please, Kak.”
Rifa tersenyum. Memang ia paling senang mengganggu Ricko sampai adiknya itu marah. Pria itu mudah sekali emosi.
Misi menyadarkan si bungsu pun di mulai.
“Kenapa tiba-tiba mau pindah? Dulu, disuruh sekolah di sana kamu menolak. Apa namanya kalau bukan menghindar?”
Ricko berdecak kesal. “Aku tidak menghindar. Kami sudah putus.”
“Kamu sangat mencintainya, ‘kan?”
Ricko membaringkan tubuh di atas sofa. Ia meletakkan kepala di pangkuan Rifa. Kemudian, menutup matanya dengan tangan. Pria itu enggan menjawab pertanyaan sang kakak.
“Aku capek, Kak. Mau tidur.”
“Tidur di kamar. Pindah sana.”
“Sebentar aja, Kak.”
“Manja gak hilang-hilang.” Rifa mengusap rambut sang adik dengan lembut dan penuh kasih sayang. “kenapa kalian bisa berpisah? Kamu sering banget memuji kalau gadis itu cantik. Memang gak takut kalau kamu pindah terus ada orang lain yang merebut.”
Ricko mendengus sebal, karena kakaknya terus membicarakan Arinda. Ia bangun dan duduk dengan menyandarkan kepala di sofa.
“Dia berselingkuh dengan pria lain.”
Rifa tertawa. “Oh, ya? Kenapa bisa begitu? Itu berarti pacar kamu memang cantik. Atau kamu sudah tidak lagi tampan.”
“Kakak!”
Rifa mengacak rambut Ricko. “Saat di London nanti, sekolah yang rajin, ya. Ingat! Kamu penerus Narendra.”
“Kak, aku baru saja putus cinta. Kenapa pembicaraannya mengenai Narendra. Menyebalkan.”
“Kamu sudah besar masih aja seperti ini. Kakak hanya mengingatkan, jangan mengecewakan Papa dan Opa.”
__ADS_1
“Kenapa hanya aku yang harus menjadi penerus? Aku punya dua orang kakak lagi.”
“Kami berdua perempuan. Saat sudah menikah, pasti akan sibuk oleh anak-anak. Seperti sekarang ini, kakak sibuk mengurus Sabi dan Sheri.”
“Enggak adil!”
Rifa kembali tertawa. “Tidur sana di kamar. Kakak mau nonton Drama Korea.”
“Kakak ini benar-benar, ya. Kenapa tidak menghibur adiknya yang sedang patah hati? Ini malah mengusirku.”
“Uluh ... Uluh ...,” Rifa mencubit gemas pipi Ricko. “tapi, kakak salut sama pacar kamu. Kok bisa betah sama anak manja begini?”
Ricko melirik kesal. “Kak, aku ini cowok potensial dan nyaris sempurna. Mana mungkin ada yang tidak betah.”
“Tapi, dia menduakanmu.”
Ricko mengerucutkan bibirnya. “Enggak perlu menegaskan, Kak.”
“Kakak jadi penasaran dengan sosok gadis itu. Kok bisa bikin kamu uring-uringan dan melakukan banyak hal di luar kebiasaan. Salah satu contoh, menghancurkan kamarmu itu.”
“Aku tidak heran kalau kakak pasti sudah mengetahui semua yang terjadi.”
“Ricko ....”
“Kak Rifa yang cantik. Bisa kan kita membicarakan hal lain?” pinta Ricko setengah memohon.
“Kamu cinta banget sama dia, ‘kan?”
“Iya, Kak. Aku cinta sama Arinda. Puas!”
Tawa Rifa pecah. “Kakak hampir saja lupa namanya. Untung kamu mengingatkan.”
“Kak, bisa kita bicara hal lain saja,” ucap Ricko mulai lelah.
Untuk kedua kali, Rifa mengabaikan permintaan Ricko. Wanita itu terus bertanya. Ia cukup tahu jika adiknya tengah menahan marah. Tapi, dirinya tak peduli. Tinggal di jewer saja kupingnya dan anak muda itu akan diam.
“Lalu, kenapa Arinda berselingkuh?”
“Aku tidak tahu dan tak mau tahu.”
Rifa mengerti sekarang. Sepertinya, ada miss komunikasi dan salah paham di antara hubungan mereka berdua.
“Kamu pasti tidak mau mendengarkan alasannya?”
Kenapa Kak Rifa bisa tahu? batin Ricko.
“Tentu saja Kakak tahu,” lanjut Rifa.
Loh, Kak Rifa cenayang? Ricko membatin lagi.
“Kakak bukan cenayang. Anak bodoh ini! Raut wajahmu terlalu mudah untuk ditebak,” ucap Rifa lagi.
“Aku sudah melihat bukti dengan mata kepalaku sendiri, Kak. Lantas, buat apalagi mendengar penjelasan yang tidak penting.”
“Kamu akan menyesalinya nanti, Ricko.”
“Kak ....”
“Arinda pasti memiliki alasan kenapa melakukan hal tersebut. Sekarang, mungkin tengah kecewa karena kamu tidak mau mendengarnya lebih dulu. Jadikan ini pelajaran. Suatu saat kejadian itu terulang, dengarkan semua, baru kamu membuat keputusan.”
__ADS_1
“Di sini aku yang menjadi adik, bukan Arinda. Kenapa tidak membelaku?”
“Sepertinya, kakak mulai menyayangi Arinda. Dia wanita yang spesial untukmu, ‘kan,?” Rifa tersenyum penuh arti.
“Dia menduakanku dan kakak malah bilang begitu. Sekarang aku benar-benar kesal denganmu, Kak.” Tolong, Kak. Jangan bicara terlalu jujur. Iya, aku mengakui jika Arinda memang sangat spesial. Tapi, gadis itu mengecewakanku.
Rifa menjewer kuping Ricko hingga berteriak kesakitan kemudian melepaskannya.
“Anak nakal ini. Emosimu suatu saat bisa membunuh dirimu sendiri. Belajarlah mengendalikannya. Ingat, kamu calon pemimpin besar. Berpikirlah dengan tenang dan gunakan logikamu. Jangan mementingkan ego!”
Narendra lagi ... Narendra lagi. Aku benar-benar kesal, kenapa harus menjadi satu-satunya anak dan cucu laki-laki dalam keluarga. Membuat susah saja! Lihat nanti, kalau aku menikah. Aku akan membuat putra yang banyak. Supaya kelak, anakku tidak menjadi calon tunggal untuk mengurus perusahaan. Ricko membatin.
“Aku tidak suka pembohong.”
“Kakak tahu. Ya, sudah. Suatu saat kalian bertemu lagi, beri maaf untuk Arinda.”
Ricko menatap sang kakak tidak suka. “Aku tidak akan kembali ke Indonesia.”
“Sayangnya itu tidak mungkin. Kamu penerus Kerajaan Bisnis Narendra.”
Terus saja membahas Narendra. Menyebalkan! batin Ricko.
“Tiba-tiba aku menjadi benci dengan nama belakangku.”
Rifa tertawa, “Dasar ABG!”
“Aku bukan ABG.”
“Ricko, suka atau tidak! Kamu memang terlahir untuk itu. Suatu saat, banyak orang akan bergantung pada keputusan yang akan kamu ambil. Salah mengambilnya saja, semua akan terkena dampak buruk.”
“Kakak ....”
“Ricko, kakak dan keluarga lainnya akan membantumu. Tapi, tetap saja semua kendali kamu yang pegang.”
“Kakak ....”
“Untuk sekarang, kakak akan memaklumi sifatmu. Ambil hikmah dari apa yang terjadi sekarang. Putusnya hubungan kalian, anggap saja proses pendewasaan.” Kakak minta maaf. Bukan ingin menggurui. Hanya saja sekarang sudah saatnya belajar dan mengubah sifatmu, karena kehidupan dunia bisnis sangat kejam!
Kesal dengan sang kakak yang terus saja berbicara. Ricko memilih meninggalkan Rifa sendiri. Pria itu pergi ke kamar barunya kemudian merebahkan diri di sana.
Ricko membatin ....
Aku memang tidak mendengarkan penjelasan Arinda. Memang buat apalagi mendengarkannya?
Tapi, kenapa jadi terkesan aku yang salah di mata Kak Rifa. Seharusnya kan Arinda yang salah. Dia yang berselingkuh. Pemikiran wanita memang suka aneh. Selalu ingin benar!
Sayang, lihatlah! Kak Rifa pun mulai meyayangimu.
Aku juga masih sayang padamu. Bodoh, bukan. Aku harus cepat mengenyahkan perasaan ini. Karena, tidak baik untuk otak dan jantungku kalau kamu masih berada di sana.
Tapi, belum juga membuatmu hilang dari pikiranku, sekarang sudah ada Narendra. Oh, semuanya benar-benar membuatku sakit kepala.
Sebenarnya, apa yang kak Rifa ucapkan benar. Aku memang sudah harus mempersiapkan diri menjadi pemimpin. Cepat atau lambat semua akan jatuh ke tanganku.
Tapi, aku pusing memikirkannya.
Arinda dan Narendra! Aku muak dengan kalian!
Ah, terserah sajalah!
__ADS_1