ARINDA

ARINDA
Menepati janji


__ADS_3

HAPPY READING 🤗💞


.


.


.


“Sayang, cukup.” Arinda mencoba mendorong tubuh Ricko agar menjauh.


Ricko melepaskan pagutan mesra mereka. “Kamu lupa kalau sudah menyetujui syarat yang aku beri. Aku boleh mencium kamu sesuka hati. Tidak boleh ingkar. Padahal, kemarin kita baru menjalin kasih kembali.”


“Iya, maaf. Tapi, kaki aku masih sakit.”


Ricko hampir melupakan jika gadis di depannya ini masih sakit. Padahal, barusan saja bertanya. Tapi, sudah lupa. Memang bibir merah muda itu sangat membuai.


“Maaf, Sayang. Aku lupa,” ucap Ricko mengecup bibir itu untuk terakhir kalinya sebelum beranjak bangun.


Flashback on


“Sakit,” lirih Arinda.


“Sebentar lagi.”


“Kamu bilang kalau sakit akan berhenti sebentar. Kamu bohong.” Arinda memukuli punggung Ricko.


“Tanggung.”


Rasa geram dan tidak lagi bisa bersabar. Ricko memeluk tubuh Arinda erat agar diam dan proses pengurutan bisa berjalan lancar dan cepat. Pria itu juga mengalungkan kedua kakinya di pinggang Arinda agar pergerakan gadis itu terkunci.


Pasalnya, gadis itu terus berteriak dengan histeris. Punggungnya pun menjadi korban keganasan kuku-kuku runcing milik Arinda.


Sialnya, Ricko hanya mengenakan kaos oblong putih yang tipis. Jadi, cengkeraman itu sukses menembusi kulit punggung.


Kurang lebih satu jam, pengurutan selesai. Wanita sepuh yang mengurut Arinda pamit pulang. Namun, gadis itu masih saja menangis. Bahkan, tidak mau lepas dari pelukan Ricko.


Merasa iba, Ricko urung untuk beranjak dan mencoba mendiamkan gadis di pelukannya tersebut.


“Tuan Muda, baju Anda sepertinya mengeluarkan titik-titik darah. Ingin saya bersihkan?” ucap Lili menawarkan.


“Tidak usah. Kalian keluarlah semua dari sini.”


“Baik, Tuan Muda. Permisi.”


Semua asisten rumah tangga keluar dari kamar Ricko. Ya, tempat pengurutan berpindah.


Karena, kamar Arinda sangat berantakan oleh barang-barang yang dilemparnya secara membabi-buta tadi.


“Sudah jangan menangis lagi. Manja.”


“Sakit. Aku sudah bilang itu pertama kali untukku. Tapi, kamu maksa terus.”


“Kondisi kakimu semakin memprihatinkan dan mulai membengkak. Di suruh ke dokter, kamu menolak. Ya, sudah jalan satu-satunya hanya diurut. Memang kamu mau tidak bisa berjalan lagi.”


“Jahat.”


“Arinda, kalau tidak sedang sakit. Aku sudah melemparmu keluar jendela. Menyusahkan!”


“Kamu ngomongnya tega banget, sih!”


“Sudah tidur, istirahat. Kamu pasti capek menangis dan teriak-teriak terus.”


Arinda mendongak, menatap Ricko. “Aku mau tidur sama kamu.”


“Astaga! Otakmu ini isinya apa, sih!” Satu sentilan mendarat di kening Arinda.


“Sakit.”


“Kalau bicara yang benar. Aku ini pria normal dan dewasa. Jangan memancing!”

__ADS_1


“Aku hanya mau kamu menemani tidur dalam artian sebenarnya. Pikiran kamu tu yang menjurus ke sana. Mesum," ucap Arinda pelan.


“Apa kamu bilang tadi?”


“Enggak ada.” Untung gak dengar.


“Aku ganti baju dulu.”


“Enggak boleh. Nanti kamu tidak kembali.”


Ricko menghela napas kasar. “Tidurlah. Aku tidak akan ke mana-mana.”


Arinda menurut. Ia merebahkan tubuhnya. Akan tetapi, matanya seketika melotot dan bibirnya membulat. Kemudian, bersandar pada kasur milik Ricko seraya menyipitkan mata.


“Kamu mau apa buka baju?”


“Lihat punggungku!” Ricko menunjukkannya kepada Arinda. Gadis itu mengekspresikan wajah linu. “ini akibat ulahmu! Di urut saja sampai membuat orang lain ikut menjadi korban keganasan kuku-kukumu.”


Arinda menunduk malu atas kelakuannya. “Itu 'kan tidak sengaja. Aku mana sadar melakukannya.”


“Dasar setan cantik!”


“Aku bukan setan.”


Ricko berdecak kesal. “Sudah tidur sana!”


“Kamu tidur juga.”


“Iya-iya.”


Ricko ikut merebahkan tubuhnya dengan posisi miring menghadap Arinda. Namun, gadis itu memang benar-benar sedang dalam mode licik. Ia menarik lengan kekar itu kemudian menjadikannya bantalan kepala.


Ricko melotot. “Arinda!”


“Sebentar aja.”


Ricko memejamkan mata sesaat. Mengatur napas. Mengusap dada agar kesabaran selalu menyertai.


“Tidak.”


“Kenapa? Dulu kamu jangankan seperti ini. Berduaan saja sering menolak.”


“Dulu kamu mencintaiku. Orang yang sedang jatuh cinta pasti bawaannya mau berdua terus. Aku hanya takut kamu khilaf.”


Ricko terdiam mencerna setiap perkataan Arinda. “Lalu, sekarang?”


“Kamu sudah tidak mencintaiku. Jadi, aku tau kamu tidak akan berbuat macam-macam.”


Ucapan Arinda bagai pisau yang menusuk hati Ricko. Sakit!


“Apa maksudmu?”


“Tidak ada maksud apa-apa. Tapi, gadis ini akan membuatmu jatuh cinta lagi kepadaku. Aku janji.”


“Dari mana pemikiran kalau aku sudah tidak mencintaimu?”


“Kamu sering membentakku. Berkata dengan kasar. Sikapmu menjengkelkan, kadang membuatku sedih. Itu saja cukup untuk mengetahui kalau kamu tidak mencintaiku lagi. Saat ini, hanya rasa benci yang bersemayam di hatimu, 'kan?”


Ricko membisu. Dadanya terasa sesak mendengar penuturan Arinda. Langit pun seolah menambah suasana sendu. Hujan mulai turun membasahi bumi. AC yang dingin. Di tambah angin yang masuk lewat pintu balkon dengan posisi terbuka membuat udara semakin menusuk.


Maaf, sudah membuatmu sedih dan terluka akan sikap juga perkataanku. Sepertinya, caraku agar kita berjauhan sudah salah. Berharap kamu menjauh. Tapi, justru kita malah semakin sedekat ini. Haruskah aku melupakan kesalahanmu dulu dan membuka lembaran baru, batin Ricko.


“Jangan sok tau menafsirkan perasaan orang lain. Memang kamu cenayang?”


“Dulu kamu itu jangankan membentak. Memarahi aku pun tak pernah. Apa yang aku minta kamu akan menurut? Tapi, sekarang berbeda. Jelas saja aku tidak perlu menjadi cenayang untuk mengetahui semua.”


Ya, Tuhan! Apa yang sudah aku lakukan pada gadis ini. Dari setiap kata yang keluar, terdengar seolah-olah aku ini jahat. Maaf, Arinda. Maaf. Ricko kembali membatin.


“Arinda ....”

__ADS_1


“Sayang, aku sudah memenuhi syarat. Kamu harus menepatinya sekarang,” ujar Arinda memotong ucapan Ricko.


“Apa?”


Arinda memukul dada bidang Ricko. “Tu, 'kan! Kamu janji mau menjadi kekasihku lagi kalau mau menurut untuk diurut.”


“Kita berteman dulu. Bagaimana?”


“Teman? Maksudmu? Kamu mau ingkar janji?”


“Aku tidak ingkar janji. Hanya saja beri aku waktu untuk memahami kondisi kita berdua. Kamu mengerti, 'kan?”


“Kamu tidak suka pembohong. Tapi, kamu sendiri melakukannya.”


“Arinda, dengar. Aku hanya takut menyakitimu. Jadi, beri aku waktu.”


“Setiap hari kamu sudah melakukan itu. Bahkan, sejak awal pertemuan kita kembali setelah bertahun-tahun. Tapi, lihat. Aku masih bisa tersenyum, 'kan."


Ricko menganga, lagi-lagi penuturan itu membuatnya tak bisa berkata-kata. Rasa bersalah semakin menghinggapi.


Gadis ini tau betul aku sedang menyakitinya. Tapi, memilih bertahan dan mengejar terus tanpa mengenal lelah. Laki-laki macam apa aku ini. Membuat luka hati wanita yang dulu aku cinta sampai sedemikian rupanya! gumam Ricko menyesal.


Ricko menghela napas lelah. “Baiklah, tetapi aku punya satu syarat lagi.”


“Aku sudah memenuhi syarat mau diurut. Itu perjanjian kita tadi.”


“Ya, sudah kalau tidak mau.”


Arinda berdecak kesal. “Ya, sudah. Apa syaratnya?”


Ricko tersenyum. “Kalau aku ingin mencium bibirmu. Kamu tidak boleh menolak. Setuju?” Maaf, Arinda. Terdengar brengsek memang. Tapi, aku terpaksa mengajukan syarat tersebut agar kamu membatalkan perjanjian itu.


Arinda memainkan jemarinya di atas dada bidang Ricko yang terbuka. Spontan pria itu langsung menghentikan aksi tersebut. Pasalnya, ia tak ingin junior-nya bangun. Suasana sudah mendukung. Hujan pun semakin lebat. Jadi, jangan sampai ada yang terhanyut oleh asmara nafsu yang salah tempat.


“Kenapa? Tidak adakah syarat yang lain saja.”


“Aku tau kamu akan menolaknya. Jadi, mulai saat ini kita berteman saja, ya.” Senyum merekah terpatri di bibir Ricko. Ia merasa menang.


“Iya, aku mau kamu cium sesuka hati.”


Apa?! Sinting! Ini Arinda atau bukan, sih?! Dulu saja susah sekali aku meminta sebuah ciuman. Sekarang, apa barusan gadis ini bilang, setuju! Ah, sial! Ricko membatin kesal, rencananya gagal total.


“Kamu yakin? Lebih baik pikirkan dulu.”


“Aku yakin.”


Mereka berdua saling memandang.


Ricko menghela napas lelah. “Oke.”


Arinda tersenyum senang. “Jadi, kita sekarang sepasang kekasih.”


“Iya. Sekarang tidurlah. Aku juga mulai mengantuk.”


Arinda memeluk Ricko. “I love you, Sayang.”


Love you too, Arinda, gumam Ricko tersenyum.


Arinda semakin mengeratkan pelukannya. Sementara Ricko, ia sudah lelah untuk berdebat.


Ricko memilih mendiamkan saja tubuhnya dipeluk sangat erat. Pikiran nakal pria itu justru mulai bekerja.


Tidak buruk juga dipeluk olehmu di saat hujan seperti ini. Hangat! gumam Ricko seraya membalas pelukan tersebut.


Flashback off


Mamacih sudah mampir, Kakak 🤗💞


Saranghaeyo 💞😘

__ADS_1


Jangan lupa vote-nya 🤗💞


Jangan lupa klik tombol like-nya juga 🤗💞


__ADS_2