
Episode ini adalah sambungan dari episode pertama ‘PROLOG’ dan episode kemarin ‘PROM NIGHT'.
Jadi, kalo yang lupa, boleh balik membaca kembali episode ke-1. Tapi, kalo masih inget atau mau langsung baca episode ini, silakan. Kuy ... 😉
❄️❄️❄️
Baru saja melangkah ingin menolong sang nona. Terpaksa langkah itu terhenti ketika melihat seseorang tiba-tiba datang dan berteriak dari arah seberang jalan.
Seorang pria dengan cepat menahan tangan itu agar tidak kembali menampar.
Pria yang sebelumnya telah mengantar sang nona dengan selamat sampai keluar hotel itu hanya diam menyaksikan. Tapi, sesaat kemudian ia merekam kejadian tersebut. Lalu, mengirimkannya kepada bos besar.
Telepon miliknya berdering, ia menggulir tombol hijau ke atas.
“Halo, Bos!”
“Awasi terus nona dan ikuti ke mana pun. Jangan sampai kehilangan jejak atau kau akan tau sendiri akibatnya!”
“Baik, Bos. Akan saya ikuti mereka.”
Telepon ditutup dan pria itu mengikuti sang nona beserta seseorang yang sudah menolong. Semua rangkaian kejadian ia rekam dan mengirimkan semuanya kepada sang bos besar.
“Halo, Bos! Mereka masuk ke dalam sebuah rumah. Sepertinya kondisi nona sudah aman.”
“Ya, kau kembalilah ke markas. Nona bersama teman-temannya.”
“Baik, Bos!”
❄❄️❄️
Sementara, di tempat lain dengan perbedaan jarak tempuh sekitar kurang lebih dua jam menggunakan pesawat terbang. Dua orang tengah bercakap-cakap mengenai gadis yang memang sengaja mereka tolong.
“Mau sampai kapan kau akan menjaga gadis itu?”
“Kau keberatan?”
“Tidak. Hanya aku rasa ini sudah cukup. Gadis itu sangat pandai menjaga dirinya sendiri. Biarkan dia mengikuti arus hidupnya tanpa campur tangan kita.”
“Kau seyakin itu?”
“Honey! Kau lupa siapa aku?”
“Ah, baiklah. Kali ini aku menurut.”
“Perlahan rasa cemasmu akan hilang. Gadis itu akan selalu baik-baik saja. Percayalah kepadaku! She's very smart!”
“Kau benar. Lalu, bagaimana dengan keluarganya?”
“Satu orang wanita sudah tewas tertembak!”
“APA?!”
❄️❄️❄️
Bagian cerita sebelumnya, ada di episode ke-1 'PROLOG'.
“Harus, ya, gue cerita?”
“Harus!”
“Janji! Selamanya tutup mulut!” pinta Arinda lagi.
“Ampun, Rin! Ribet banget hidup lu pakai acara janji. Kalau suatu saat gue keceplosan, dosa dong!" seru Dito mengembuskan napas berat.
“Maka dari itu, gue minta lu janji!”
“Oke! Cepat cerita.”
Hening!
Sepuluh menit berlalu tanpa suara.
“Sumpah, ya, Rin! Belom pernah gue geregetan sama lu. Mau cerita gak?”
“Dito! Gue 'kan lagi sedih, jangan di omelin!”
“Astaga! Cowok selalu salah. Untung cakep lu, Rin. Untung juga demenannya sohib gue. Kalo kagak, gue tinggal di marih. Biar di gondol abang akua, noh!”
“Dito!”
Arinda memukul bahu Dito, karena kesal berbicara seenaknya.
“Lagian, heran gue! Enggak elu atau si Ricko, sama aja berdua. Kalo ada masalah bukannya cepet cerita, ini malah diem.”
Hening!
__ADS_1
Sepuluh menit berlalu, lagi-lagi tanpa suara. Dito kembali gemas dengan Arinda.
“Lu bener-bener, ya, Rin! Bisa gila gue begini terus. Dari tadi kagak ngomong-ngomong!”
“Gue 'kan mikir dulu mesti mulai dari mana?”
“Bentar ....”
Dito langsung mengeluarkan ponselnya dan mencari kontak seseorang.
“Eh, lu mau telepon siapa?”
“Orang!”
“Iya, tau. Tapi, siapa?”
“Arinda, sebenarnya gue kapok harus menemani orang galau, terus cuma diem pulak. Dulu si Ricko. Lalu, sekarang elu. Dan, gue gak mau berakhir kembali dengan masuk angin. Sakit, Rin, badan gue kerokan!”
“Dito, jahat!”
“Gue gak jahat. Gue cuma ngomong fakta. Sebentar, ya, kesayangannya babang Ricko. Diem-diem dulu, gue mau teleponan.”
Arinda menurut. Ia diam, tetapi telinganya tetap bekerja untuk mendengarkan obrolan Dito.
“Halo, Zack! Jemput gue di taman kota. Tamannya gak jauh dari hotel.”
“Ogah!”
“Buru, deh! Kesian si Arinda dipukulin bapaknya ampe bengep."
Tanpa menjawab lagi, telepon terputus! Zacky yang memutuskan sambungan tersebut.
“Lah, kok mati.”
“Dit, kok lu telepon Zacky. Gue 'kan malu kalo banyak yang tau masalahnya. Lagian, lu udah janji buat gak bilang siapa-siapa.”
“Arinda sayang, cakep, dan manis. Dari tadi lu diem aje. Terus, masalah mana yang gue tau, selain muka lu tu yang babak belur. Perkara janji, tambah aja si Zacky. Oke!”
“Dito, bukan begitu ....”
“Arinda, gue kagak mao sarap sendirian menghadapi orang yang lagi punya masalah atau pun galau. Jadi, gue butuh orang buat berbagi. Supaya, kewarasan gue tetap terjaga dengan baik. Ngerti, 'kan?”
Arinda mengangguk. Bukan karena paham. Tapi, takut ditinggal Dito di taman sendirian.
“Anak baik.” Dito tersenyum dan mengusap lembut kepala Arinda, karena sudah menurut.
“Arinda!”
Tanpa aba-aba, Zacky menarik Arinda kepelukannya dan mengusap rambut panjang itu.
“Lu gak pa-pa, 'kan?”
Arinda spontan melepas pelukan Zacky.
“Gue gak pa-pa, Zack.”
“Zack, bawa ke rumah lu, deh,” ujar Dito.
“Ya, udah. Ayo!”
Zacky langsung menarik tangan Arinda menuju mobil. Dito mengikuti dari belakang. Mereka bertiga langsung tancap gas pergi dari taman.
❄️❄️❄️
Arinda dan Dito memasuki kediaman Zacky. Rumah tersebut tak berpenghuni. Namun, kebersihannya selalu terjaga.
“Zack, kok gelap dan sepi?” tanya Arinda bingung.
“Memang enggak ada orang, Rin. Cuma kita bertiga disini,” jawab Zacky seraya menyalakan semua lampu.
“Orangtua lu kemana?”
“Di rumah Kemang.”
“Gue heran sama orang kaya, kenapa rumahnya di mana-mana dan besar semua?”
“Perasaan lu doang kali, Rin. Gue biasa aja, masih jauh lebih kaya Ricko.”
“Buat gue, lu bertiga tu udah sultan banget!”
Zacky tak menyahuti Arinda lagi. Pria itu pergi masuk ke dalam kamar dan mengambil pakaian juga obat-obatan.
“Pake, nih. Ganti di kamar tamu, abis tu obatin lebam di muka lu, Rin.”
Zacky menunjuk sebuah kamar. Arinda bergegas masuk ke dalamnya.
__ADS_1
“Dit, Arinda kenapa?”
“Di hajar bokapnya.”
“Kok bisa?”
“Enggak tau, gue dari tadi nanya alasannya juga kagak di jawab.”
Zacky diam dengan pemikirannya. Saat tadi Dito menelepon dan bilang tentang kondisi Arinda. Secepatnya, ia menjemput mereka berdua di Taman. Kepanikan pun semakin menjadi ketika melihat wajah yang biasanya cantik itu berubah lebam.
Malam terlewat begitu saja, tanpa satu kata pun cerita keluar dari mulut Arinda.
Setelah waktu Subuh, Dito pulang ke rumahnya dengan meminjam mobil Zacky. Pria itu berjanji akan kembali setelah urusannya selesai.
Arinda pun masih tertidur pulas di kamar tamu. Zacky sengaja tak membangunkannya. Ia akan membiarkan gadis itu tidur sampai bangun dengan sendirinya.
Rin, gue janji bakal jaga elu. Gue akan selalu ada buat elu, gumam Zacky.
❄️❄️❄️
Suara klakson mobil terdengar beberapa kali. Zacky lekas keluar dari rumah dan membukakan pintu gerbang.
“Manja banget, sih! Tinggal turun, terus dorong tu gerbang.”
“Mager!”
“Mana pesenan gue?”
“Nih!”
Dito memberikan bungkusan nasi Padang beserta ayam kentucky kepada Zacky.
“Kok sepi?”
“Arinda masih tidur.”
“Buset tu anak! Kebo juga, ya. Udah tengah hari bolong masih aja molor.”
“Gue malah takutnya dia sakit. Mau ke dalam kamar, enggak berani. Gue nunggu elu dateng, biar kita masuk bareng.”
“Ya, udah. Kuy!”
Baru juga mereka mau masuk ke kamar. Arinda sudah menampakkan diri di depan pintu dengan muka bantalnya.
“Alhamdulillah, masih idup.”
Zacky menyikut perut Dito dan pria itu mengaduh kesakitan.
“Biar rasa!” seru Zacky.
“Sorry, gue bangun siang.”
“Woles, Rin. Yuk, makan dulu.”
Usai menghabiskan makanan mereka. Dito dan Zacky terus bertanya tentang apa yang terjadi.
Arinda pun mau tak mau menceritakan semua kisahnya. Mulai dari kedua orangtuanya yang sering memukuli dan menjualnya kepada banyak pria. Sampai kejadian tadi malam dan akhirnya Dito dan Zacky mengerti kenapa semalam begitu banyak penjagaan di Hotel.
Mereka cukup tercengang. Karena, biar pun terkesan memiliki citra buruk yakni wanita panggilan atau matrealistis. Tapi, pesona gadis itu tetap tak luntur oleh image buruk tersebut.
Pasalnya, laki-laki yang telah membayarnya, bukankah harus memikirkan banyak cara hanya untuk mendapatkan seorang gadis yang baru lulus SMA. Kalau bukan ada sesuatu dalam diri sang primadona yang begitu menarik. Rasanya tak mungkin ada yang rela menggelontorkan begitu banyak uang untuk membayar para penjaga.
Arinda juga menjelaskan perihal dia yang tertangkap basah oleh Ricko di mall bersama Nirwan. Gadis itu menjelaskan sedetail-detailnya.
“Rin, lu masih cinta Ricko?” tanya Zacky penasaran.
“Iya,” jawab Arinda.
“Apa perlu kita bantu menjelaskan semua sama Ricko soal kejadian itu? Siapa tau setelahnya kalian kembali bersama?”
“Jangan, Dit! Lagi pula semua sudah berlalu. Seandainya pun kami kembali, gue mau itu terjadi bukan karena belas kasihan dari Ricko. Tapi, gue mau kalo dia memang benar-benar menginginkan. Jadi, gue mohon sama lu berdua. Jangan pernah menceritakan apa pun perihal ini sama sahabat lu. Bisa, 'kan?”
Dito dan Zacky saling pandang. Kemudian, menatap Arinda dan mengangguk. Mereka berdua menggenggam tangan wanita yang terlihat baik-baik saja dari luar. Padahal, di dalamnya terdapat banyak luka dan kesedihan.
“Rin, mulai saat ini, kalo ada yang terjadi sama lu. Pokoknya, kudu banget harus mesti laporan sama kita. Gue sama Zacky akan selalu ada buat lu. Kita janji!”
“Iya, Rin. Kita akan selalu menjaga elu. Jangan pernah sungkan, oke!”
“Makasih, gue sayang sama kalian.”
“Cium pipi dong, Rin, kalo sayang.”
“Dito!” Arinda melotot.
Dito cengar-cengir. “Bercanda, elaahhh.”
__ADS_1
Zacky menggelengkan kepalanya. Dasar perusak suasana! Tapi, memang hanya elu yang bisa mencairkan kondisi sesedih apa pun itu menjadi ceria, Dit, gumamnya.