ARINDA

ARINDA
Tertangkap basah lagi


__ADS_3





Beberapa hari kemudian


“Zack!” Dito berteriak kemudian menghampiri. Ia memarkir mobil di luar pagar rumah Zacky.


Padahal, Zacky baru saja mau pergi. Ia ingin menemui Arinda. Rencananya, ingin memberi kejutan sekaligus mengajak jalan-jalan.


“Dit, gue mau pergi.”


“Elah, batalin aja! Kita ke tempat Ricko. Kapan lagi bisa kumpul bareng. Lu, gue, ataupun tu anak kan susah semua waktunya. Kita bertiga udah jadi orang sibuk.”


“Iya. Tapi ....”


“Kagak pake tapi-tapian. Naek mobil gue aja.” Dito langsung menarik paksa Zacky.


Zacky pun memilih menurut. Ia tak mungkin berkata sejujurnya mau ke mana dirinya pergi. Pasalnya, Dito suka heboh dan bermulut ember.


🌺🌺🌺


Arinda terus saja marah-marah melihat betapa berantakannya apartemen Ricko. Maksud gadis itu, tinggal menyuruh orang untuk membersihkan setiap hari. Bukan malah satu Minggu sekali.


Arinda merapikan semua kejorokan yang dibuat pria tampan yang tengah duduk di atas sofa dengan wajah serba salah. Pasalnya, omelan terus saja dilayangkan gadis itu tanpa belas kasih.


Cerewet sekali. Bilang capeklah, inilah, itulah. Siapa yang suruh juga beberes? Sudah dilarang, tetapi galakkan dia. Aku ini kan laki-laki super sibuk. Mana sempat membersihkan apartemen. Lagi pula aku tidak suka ada orang asing tiap hari datang. Walaupun untuk bersih-bersih. Itu menganggu. Ricko membatin.


“Ricko, ih! Dasar GGS!” Arinda berseru seraya tangannya tetap menyapu.


“GGS? Apa itu? Kayak judul sinetron.”


“Iya, memang. Mereka ganteng-ganteng serigala. Kalo kamu ganteng-ganteng slebor!”


Astaga! Julukan macam apa itu? Sabar ... sabar, ucap Ricko dalam hati seraya mengusap dada.


Ricko sudah bilang kalau ingin bertamu, info dulu. Supaya, ia bisa menyuruh orang untuk membersihkan apartemennya.


Akan tetapi, tanggal merah di hari Kamis membuat Arinda suntuk berada di apartemen. Oleh karena itu, ia memilih main ke tempat Ricko secara mendadak.


Satu jam kemudian


“Beres! Aku numpang mandi. Jangan masuk ke dalam kamar! Aku juga pinjam kaos kamu, ya.”


“Eh, tunggu!” Ricko langsung berlari menuju kamar dan keluar kembali. “Silakan, Tuan Putri. Sudah aman.”


Arinda mengernyit. Lalu, melangkah pergi.


“Hampir aja.” Ricko mengembuskan napas lega.


Di dalam kamar mandi, tepatnya di wastafel ada cucian underwear-nya yang belum sempat di jemur. Tadi pagi, ia baru mencucinya, sekalian mandi.


Ia tak ingin Arinda kembali melihat segitiga pengaman itu. Ricko enggan mendengar gadisnya berceloteh tentang semua benda berwarna hitam tersebut. Karena, itu akan membuatnya malu.


Tiga puluh menit kemudian


Arinda sudah selesai dengan aktivitasnya. Ia keluar menghampiri Ricko di sofa.


“Rick, aku laper.”

__ADS_1


“Mau makan apa?”


“Piza dan lemon tea.”


“Oke.” Ricko meraih ponselnya dan memesan satu loyang piza berukuran besar dan dua lemon tea.


“Rick bulan depan kontrak kerjaku habis.”


“Akan aku buat kamu menjadi karyawan tetap.”


“Tidak mau.”


“Kenapa?”


“Entah.”


Ricko duduk menghadap Arinda. “Lalu, mau apa?”


“Entah, Rick. Sekarang, aku tidak tahu mau apa? Harus apa? Sepertinya, aku bosan hidup.”


“Hei, Nona. Bicaramu bisa tidak jangan aneh-aneh?”


Arinda menaruh kepalanya di bahu Ricko. “Aku memang sudah tidak punya tujuan hidup. Aku lelah, Rick.”


Ricko mengusap kepala Arinda dan mengecupnya. “Terus bersamaku. Anggap itu tujuan hidupmu.”


Arinda diam tak menyahut.


“Rin, boleh aku menanyakan sesuatu?”


“Apa?”


“Di mana Papamu?”


“Kalian bertengkar?”


“Bisa kita membicarakan hal lain saja?”


“Oke.”


Ricko tak ingin memaksa Arinda. Pria itu memang sudah menduga jika sang pujaan akan bungkam.


Hening!


“Rick.”


“Hm.”


“Rick.”


“Apa?”


“Rick.”


Ricko menghela napas lelah. “Bicara atau aku cium.”


“Ricko, ih!”


“Aku cium saja, ya?”


“Ricko, ih!”


“Kamu bilang aku boleh meminta kapan pun aku mau. Sepertinya, sekarang aku menginginkannya?”

__ADS_1


“Ricko!”


“Mau ingkar janji?”


“Aku gak ingkar janji.”


“Jadi, boleh, 'kan?”


“Boleh. Tapi, sebentar aja, ya?”


“Iya.” Tapi, bohong.


Terakhir mereka berbagi Saliva adalah saat berada di vila puncak sewaktu Ricko tertembak. Keduanya, belum melakukan lagi mengingat begitu tinggi aktivitas pekerjaan dan persidangan beberapa waktu lalu.


Tanpa berbasa-basi lagi, Ricko langsung mendaratkan bibirnya pada bibir merah muda itu. Menciumnya perlahan dengan lembut. Namun, ritmenya semakin lama semakin bergairah. Pria itu melepas sebentar hanya untuk mengambil pasokan oksigen. Selanjutnya, menyesap benda kenyal tersebut lagi dan lagi.


“ASTAGFIRULLAH!”


Mendengar suara yang tak asing. Ricko langsung melepas pagutan mereka. Keduanya menoleh ke arah sumber suara dan mendapati dua makhluk kasat mata tengah menggelengkan kepala.


“Dito! Zacky!” seru keduanya berbarengan.


Arinda menunduk malu.


“Bilangnya temenan, tetapi cipokkan! Ini, nih, yang namanya friend-shit!” Dito berseru kesal.


Dito dan Zacky mendudukkan diri di atas karpet tepat di depan Arinda dan Ricko.


“Apa, sih, Dit? Sirik aje lu. Lagian masuk nge-bel dulu dong!” seru Ricko seraya menghapus jejak basah di bibir dengan ibu jari. Pun Arinda melakukan hal yang sama.


“Apaan sirik! Sorry aje. Dan, catet, ya. Salah lu sendiri nomor pin gak diganti,” sahut Dito tak terima. Kemudian, ia menatap Arinda. “Elu juga, Rin! Jangan mau di ajak ciuman sama si Ricko kalo cuma dianggap temen. Rugi!”


Sumpah, Dit! Kalo gue gak cinta juga mana sudi. Lagi pula, kadung janji. Tapi, lu bener. Teman macam apa yang pake ciuman. Tauk, ah! Pusing pala gue, udah beberapa kali ketangkep basah. Malu banget! Pengen menenggelamkan diri di lautan ngajak Jack-nya Titanic, eh, doi udah tenggelam duluan. Arinda membatin.


“Dit ....”


“Rick, apa yang Dito bilang bener. Kalo status lu berdua temenan. Gak perlu tu pake ciuman. Hargai Arinda sedikit sebagai perempuan baik-baik,” timpal Zacky menyela Ricko yang ingin berbicara. Tangannya pun turut mengepal di kolong meja.


Brengsek lu, Rick! Gue sayang Arinda. Enggak akan pernah gue biarin lu mempermainkan dia sedikit pun. Lihat aja! Bakal gue bikin lu menyesal hanya memilihnya sebagai teman doang. Zacky membatin.


“Lu berdua pada mau ngapain?” tanya Ricko mengabaikan perkataan Zacky.


“Elah, Rick. Pertanyaan lu kayak orang mengusir tanpa mengucapkan. Kita, nih, udah lama gak kumpul komplet begini. Zacky juga baru kelar sama study-nya. Kasih selamet, kek,” ujar Dito.


“Zacky, selamat, ya!” seru Arinda seraya mengangkat dua jempol.


“Makasih, Rin,” ucap Zacky sumringah.


“Selamat, Bro!” Ricko dan Zacky saling bertos ria menggunakan tangan yang terkepal.


“Thanks, Rick.”


Suara bel berbunyi. Arinda segera bangun dan kembali dengan membawa piza.


“Seloyang doang?” tanya Dito.


“Gue mesen sebelum lu berdua dateng,” jawab Ricko.


“Pesan lagi, Rick. Donat selusin, lemon tea empat, burger empat, kentang goreng ukuran large empat, dan minuman soda empat.”


Ricko berdecak kesal. Kemudian, memberikan ponselnya kepada Dito. “Nih, pesan sendiri aja! Minuman soda gak usah, banyak di kulkas.”


“Nah, gitu dong,” ucap Dito sumringah.

__ADS_1


Sementara, Zacky tengah menatap lekat Arinda dengan pandangan tak terbaca.


__ADS_2