
Ma Dong-seok as Erwin Chandra
Bergulingan ke kiri dan kanan di atas kasur. Rasanya resah dan gelisah. Menyingkap selimut, duduk bersandar, dan menatap lurus ke depan.
“Ada apa? Kenapa perasaanku tak enak?”
Melirik jam di dinding. Waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh malam. Arinda turun dari atas kasur. Ia berganti pakaian. Mengambil jaket dan kunci si Brown.
Gadis itu memilih mencari angin sekaligus makanan. Pikirnya, siapa tahu nanti dengan perut kenyang dan pikiran yang fresh akan membuatnya bisa tidur nyenyak.
Melajukan si Brown menelusuri jalan raya. Arinda ingin memakan nasi goreng kambing yang terkenal enak. Tempatnya memang cukup jauh dari kawasan apartemen. Akan tetapi, hal tersebut tak menjadi masalah. Toh, ketika malam pun Kota Jakarta tetap ramai. Dan, memang salah satu niatnya juga untuk mencari angin.
Menunggu sesaat. Tak berapa lama pesanan datang. Namun, melahapnya seperti tak berselera.
Ada apa denganku? Bahkan, makan pun rasanya malas. Perasaan ini ada yang mengganjal. Tapi, apa? Arinda terus bertanya dalam hati.
Kalau biasanya setiap makan bisa menghabiskan satu sampai dua porsi. Akan tetapi, kali ini setengahnya saja tidak. Arinda memilih menyudahinya dan kembali pulang.
Berkendara bersama si Brown, mengarahkan kuda besi itu menuju apartemen. Namun, baru separuh perjalanan terdapat kerumunan orang yang menghalangi jalan. Arinda meminggirkan motornya. Kemudian, menghampiri tempat kejadian.
Gadis itu bertanya pada seseorang di sana. Apa yang tengah terjadi? Orang tersebut mengatakan bahwa seorang tunawisma tiba-tiba saja terjatuh saat menyeberangi jalan.
Arinda melihat masyarakat menaikkan tubuh orang berpakaian lusuh itu ke atas mobil bak terbuka. Namun, satu hal yang menarik perhatian. Sesuatu yang dipakainya begitu tak asing.
Jaket itu? batin Arinda.
Jaket berwarna hitam dengan bordiran putih bertuliskan ‘Ar-Rick’, yang artinya Arinda-Ricko. Posisi tulisan itu terdapat di bagian lengan kedua belah sisi kiri dan kanan. Di buat pada masa sekolah dulu saat mereka masih merajut kasih. Masing-masing memiliki barang tersebut. Dan, miliknya memang tertinggal di rumah kedua orangtuanya.
Oleh karena itu, Arinda mempertajam sorot matanya. Bahkan, mulai melangkah maju membelah kerumunan. Saat jarak semakin dekat, jantungnya berdegup semakin cepat.
Arinda melongokkan kepala ke dalam mobil bak tersebut. Wajah pria yang sangat ia kenal tergeletak tak berdaya di sana.
“PAPA!”
Dengan cepat Arinda melompat ke dalam mobil tersebut. Mengangkat kepala sang papa ke atas pangkuannya dengan isak tangis mengiringi.
“Pa! Bangun!”
Kerumunan orang mendekat. Mereka menatap sendu Arinda. Bahkan, beberapa pria yang menolong Erwin pun terpaku.
“CEPAT JALANKAN MOBILNYA! BAWA PAPAKU KE RUMAH SAKIT!”
Suara teriakan Arinda seketika menyadarkan mereka. Sang pemilik mobil pun lekas menjalankan kendaraannya.
🌺🌺🌺
Arinda menatap sedih sang papa di atas pembaringan. Selang infus melekat sempurna di tangan. Bibir gadis itu bergetar. Matanya berkaca-kaca.
“Ternyata firasat tak enak yang sedari tadi muncul adalah menemukanmu. Dan, dalam keadaan menyedihkan seperti ini.”
Tanpa sopan santun, air mata jatuh membasahi pipi. Dokter mengatakan jika Erwin mengalami kelelahan, dehidrasi, dan kelaparan. Bahkan, riwayat penyakit mag yang dimiliki sudah akut.
Arinda merasa bersalah. Dia selalu makan dengan benar. Bahkan, sering dengan porsi yang banyak. Namun, orangtuanya justru tengah kelaparan.
“Anak macam apa aku ini karena telah menelantarkan orangtuanya sendiri. Maafkan Arinda, Pa.”
__ADS_1
Arinda menciumi tangan Erwin. Air mata pun semakin deras mengalir.
Lelah menangis. Gadis itu tertidur pulas dengan posisi duduk dan menaruh kepala di samping tubuh sang papa. Tangan Erwin pun masih tergenggam sampai pagi tiba.
Kelopak mata perlahan terbuka. Tangan bergerak pelan, tetapi jemari yang tergenggam Arinda tertahan. Erwin mencoba mengangkat kepalanya untuk melihat siapa si Tersangka.
Betapa kagetnya Erwin mendapati bahwa sang putri tertidur di dekatnya dengan pulas. Kebetulan wajah Arinda menghadap ke arah sang papa. Jadi, pria tua yang tengah tak berdaya tersebut bisa melihatnya dengan jelas.
Erwin melepas genggaman tangan Arinda. Membelai lembut puncak kepala sang putri seraya memandangnya lekat.
“Selamat pagi, Pak,” suara suster mengalihkan pandangan Erwin. “Kita ganti infus dulu, ya. Sudah habis.”
“Iya.”
“Putri Bapak sepertinya lelah. Semalaman terus menangis dan terjaga. Ia khawatir dengan kondisi Bapak.”
Erwin menatap sang putri. “Benarkah?” tanyanya tanpa mengalihkan tatapan. Suster berucap ‘iya’ dengan yakin.
Selesai mengganti infus, suster tersebut pamit pergi.
Erwin masih membelai puncak kepala Arinda. Sesekali mengusap pipi sang putri.
Merasa terusik karena sentuhan tersebut, di tambah dengan posisi tidur yang tidak benar. Sehingga pegal-pegal terasa, Arinda perlahan membuka mata. Ia mendapati Erwin tengah menatapnya dengan lekat. Gadis itu mengangkat kepala dan beranjak bangun duduk di tepi kasur.
“Papa sudah sadar?”
Erwin mengangguk. “Terima kasih sudah menolong Papa.”
“Selamat pagi. Sarapan dulu, ya, Pak.” Seorang petugas rumah sakit masuk dan menaruh nampan berisi makanan ke atas nakas.
“Terima kasih,” ucap Erwin. Petugas itu pamit.
Selesai makan. Arinda memberikan minuman.
Kemudian, seorang dokter bersama suster berada di belakangnya datang untuk memeriksa kondisi Erwin.
“Bapak sudah boleh pulang sore nanti. Jangan sampai telat makan lagi. Anda memiliki riwayat penyakit mag akut,” ucap Dokter kepada Erwin, sesekali menatap Arinda.
“Terima kasih, Dokter,” tutup Arinda sebelum sang dokter pergi.
🌺🌺🌺
Melihat sang papa tertidur. Arinda memilih pergi keluar sebentar. Gadis itu memberi info tersebut kepada para suster. Karena, takut Erwin mencari. Baru setelahnya ia berangkat.
Arinda pergi untuk mengambil si Brown. Pasalnya, karena panik ia meninggalkan begitu saja kuda besi tersebut.
Sampai di lokasi, Arinda terkejut ketika di beri tahu warga sekitar kalau si Brown di angkut Satpol PP.
Arinda mengembuskan napas lelah. Segera ia menyetop kendaraan beroda tiga. Meminta sang supir berpakaian necis itu mengantarkan ke Kantor Polisi.
Dua jam berada di luar hanya untuk wara-wiri membuat gadis itu lelah. Namun, Arinda tetap menyempatkan diri membeli beberapa potong pakaian untuk sang papa. Dan, tak menunjukkan rasa lelahnya di depan Erwin.
“Kamu dari mana?” tanya Erwin.
“Ada urusan sebentar, Pa.”
Erwin mengangguk. Kemudian, bertanya kembali, “Kamu sudah makan?”
Arinda tidak menyahut. Ia justru memandangi sang papa dengan mata berkaca-kaca. Kali pertama Erwin menanyakan dirinya sudah makan atau belum.
__ADS_1
“Boleh aku memeluk Papa.”
Erwin terdiam sejenak kemudian mengangguk.
Arinda langsung berhamburan kepelukan sang papa. Gadis itu menangis. Ini juga pertama kalinya mereka berpelukan.
Erwin mengelus punggung dan rambut sang putri. Di relung hati terdalam ia menyesal telah mengabaikan Arinda. Pasalnya, dulu bersikap kasar, jahat, dan tidak berperikemanusiaan. Namun, gadis ini justru sekarang membalas sebaliknya.
Arinda menangis tiada henti. Ia bilang sangat merindukan kasih sayang dari Erwin.
Hati orangtua mana yang tak hancur mendengar hal tersebut. Jantung Erwin terasa ada yang meremas, begitu sakit.
Maafkan, Papa, Nak.
🌺🌺🌺
Jam sudah menunjukkan pukul empat sore. Selesai mengurus administrasi, Arinda bergegas kembali ke kamar rawat sang papa.
“Ayo, Pa. Kita pulang.”
“Kamu pasti mengeluarkan banyak uang untuk biaya rumah sakit, 'kan? Papa tidak akan bisa mengembalikannya.”
“Sayangnya, Papa harus mengembalikan berikut bunga yang besar setiap harinya. Aku akan mencatat ini sebagai utang.”
Erwin menatap sang putri tak percaya. Karena, gadis itu sedari pagi bersikap lembut dan baik. Pikirnya, Arinda akan mengatakan hal lain. Misalnya, ‘Tidak usah, Pa. Aku ikhlas'. Akan tetapi, justru ia harus membayar.
Kemudian, Erwin menundukkan kepala. Otaknya mulai berpikir. Sekarang ia harus bekerja keras agar bisa melunasi utang kepada sang putri.
Melihat wajah sang papa menunduk dengan mimik bingung, Arinda tertawa. Refleks ia mencium pipi Erwin karena gemas. Kemudian, meraih kedua tangan yang tengah lemah tersebut dan menciumi bolak balik.
Tingkah Arinda membuat pria paruh baya itu kaget. Lagi dan lagi, karena itu juga kali pertama. Lelaki itu mendongakkan kepala.
“Bayar utang Papa dengan kasih sayang. Beri aku semua itu seperti selayaknya seorang ayah kepada putrinya sendiri.”
“Arinda ....”
“Tapi, kalau Papa enggan melakukannya tak apa. Aku tak akan pernah mencatat apa lagi sampai menagih, tadi hanya bercanda.”
“Papa malu denganmu, Nak. Papa sudah jahat, tetapi kenapa kamu bersikap baik. Seharusnya, kamu membalas Papa.”
Arinda duduk di tepian kasur. Membelai punggung tangan sang papa. “Aku juga ingin membalasmu, tetapi lawanku sekarang sudah tidak sepadan. Lihatlah ...,” Gadis itu mengangkat satu tangan Erwin dan menunjuk dengan ekor matanya. “,... dia sekarang hanya pria tua yang lemah. Aku tidak mau menang telak.”
“Justru itu adalah kesempatanmu.”
“Benar juga. Baiklah, aku akan membalas Papa. Bersiaplah untuk itu, Pa.”
Erwin tersenyum. Ia menatap Arinda kemudian merentangkan kedua tangannya. “Kemari, Nak.”
Arinda dengan senang hati menyambutnya. Ia memang menginginkannya sedari dulu. Gadis itu haus akan kasih sayang sang papa. Sekarang, kegembiraan tengah menyelimuti. Senyum pun terus terpatri di bibir manis merah muda.
🌺🌺🌺
Erwin dan Arinda sudah berada di dalam apartemen. Pria itu duduk di tepian kasur sementara sang putri menyiapkan makan malam. Makanan yang gadis itu pesan lewat ojek online.
“Aku tidak punya kursi. Papa gak keberatan kan jika harus duduk di bawah?”
Erwin tersenyum kemudian menggeleng. “Kamu ini. Bahkan, Papa tinggal di kolong jembatan hanya beralaskan kardus.”
“Maaf, aku sudah menelantarkan Papa. Seharusnya, malam itu aku tidak pergi. Tapi, sudahlah. Membicarakan masa lalu hanya membuat kita berdua sakit hati, bukan?”
__ADS_1
Malam itu memang kamu harus pergi, Nak. Karena jika tidak, kamu pasti sudah mati dengan cara persis seperti Nita. Erwin membatin.