
Hari Minggu adalah hari bermalas-malasan bagi Arinda. Ia berencana akan bersantai di atas kasur saja. Sambil mendengarkan lagu kesukaannya itu.
Sejurus kemudian, Arinda bangun. Ia hampir melupakan sesuatu. Gadis itu ingin meminta izin kepada Erwin dan Nita. Perihal rencana liburan yang akan diselenggarakan oleh pihak sekolah.
Arinda keluar dari kamar. Ia menjelajah isi rumahnya mencari di mana keberadaan mereka.
Gadis itu mengernyit. “Tumben sekali rumah sepi. Pergi ke mana Mama dan Papa?”
Baru saja ingin berbalik masuk ke Kamar. Suara pintu terbuka menampilkan wajah Erwin dengan senyum sumringah. Dan, Nita tetap seperti biasanya selalu datar.
Erwin melangkah masuk. Ia mendudukkan diri di sofa dengan Nita mengikuti.
“Tumben sekali Papa terlihat senang. Ada apa?” tanya Arinda penasaran.
“Papa habis dapat uang banyak,” jawab Erwin mengembangkan senyum.
“O, pantes. Papa pasti menang judi?”
“Bukan urusanmu! Anak kecil!”
“Aku hanya bertanya, Pa. Kenapa mesti marah?”
Hening!
“Arinda, masuk kamar kamu, Nak,” suara lembut Nita memecah keheningan.
Arinda mengangguk.
Tapi, gadis itu mengurungkan niatnya. Ia teringat alasan ingin menemui Erwin dan Nita. Mama dan Papa rasa orangtua tiri.
“Pa, Ma. Minggu depan sekolah mau ke Bali.”
“Papa gak punya uang!”
Apa? Bukankah baru saja kau bilang baru dapat uang banyak, Pak Tua. Dasar perhitungan! Kalian memang tidak seharusnya memiliki anak. Hidup berdua saja sana. Selamanya! Kenapa juga aku mesti terlahir dari keluarga buruk seperti ini? Seandainya bisa memilih, aku pilih tidak pernah lahir. Maafkan, Arinda, Ma. Tapi, aku mulai membencimu juga. Arinda membatin.
“Aku hanya minta izin sebagai sopan santun anak kandung terhadap orangtuanya. Walaupun kalian tidak menganggapku demikian. Papa juga tidak usah khawatir, aku tidak akan meminta uang.”
Seperti ada rasa sakit yang mencelus hati Nita. Ia menunduk agar matanya tak terlihat sedang berkaca-kaca karena ucapan Arinda. Justru, kebalikan dari sang istri. Erwin sangat marah.
“ARINDA!”
“Tidak usah berteriak, Pa. Pendengaranku masih cukup baik meskipun sering mendapat pukulan.”
“KAU!”
Erwin ingin melayangkan tamparan ke wajah Arinda, tetapi Nita menahannya.
“Jangan, Pa. Ingat hari ini Arinda ada janji,” bisik Nita di telinga Erwin.
Pria itu menurunkan kembali tangan yang sudah terangkat tinggi. Ia duduk dengan dada bergemuruh.
“Pacar kamu yang bayar?”
“Iya.”
“Sudah berapa kali kamu tidur sama dia?”
__ADS_1
“Papa!”
“Jawab saja!
“Kenapa kita selalu bertengkar setiap kali bicara? Kenapa Papa gak bisa lembut sama aku? Ricko laki-laki paling baik dan sangat menghargai aku, Pa,” lirih Arinda.
Erwin berdecak, “Mana ada zaman sekarang laki-laki memberi banyak uang dan barang mahal tanpa meminta imbalan.”
“Ricko berbeda.”
“Cih, siapa yang percaya!”
“Terserah Papa mau percaya atau tidak.”
“Arinda, sudah jangan melawan!”
“Kenapa mama tidak pernah membelaku? Ucapan Papa sudah keterlaluan, Ma.”
“Enggak usah manja!” ketus Erwin.
Manja? Selama ini aku mandiri, Pa. Justru kau yang bergantung padaku! Kau yang membuatku terlihat seperti wanita murahan. Dengan melemparkanku kepada banyak pria. Lalu, sekarang menuduh putrimu sendiri dan Ricko yang tidak-tidak. Arinda hanya bisa membatin. Ia lelah berdebat.
“Sana bersiap, Nirwan sebentar lagi datang,” lanjut Erwin.
“Apa? Pa ....”
“Arinda! Jangan membantah!”
“Nak, menurut saja,” suara Nita lembut dan menarik tangan sang putri menuju kamarnya untuk bersiap.
Arinda mengganti pakaiannya. Ia memakai celana jeans biru dengan kaos berwarna putih dan menyelempangkan tas kecil.
“Ternyata, tak ada bedanya antara Papa dan Mama. Kalian sama-sama ingin menjerumuskanku ke lembah nista.”
Nita menatap sendu kepergian sang putri, ia tahu jika salah telah membela Erwin. Tapi, semuanya semata demi untuk menyelamatkan Arinda dari amukan sang suami.
Nita tak sanggup melihat Erwin kembali memukuli sang putri sampai tak sadarkan diri, seperti waktu itu. Hatinya terluka mendapati hal tersebut. Ia juga marah dengan dirinya yang tak dapat berbuat apa-apa.
❄️❄️❄️
Arinda dan Nirwan sudah berada di dalam mobil. Tak ada satu orang pun yang berbicara.
Nirwan menepati janjinya untuk memakai pakaian santai. Agar bisa mengimbangi Arinda ketika jalan bersama. Celana jeans hitam dengan kaos merah berlengan panjang.
“Ingin pergi ke suatu tempat?”
Arinda menoleh. “Kita ke mal aja, kak. Aku lapar, belum makan.”
“Oke!”
Nirwan melajukan mobil ke Pusat Perbelanjaan. Sampai di tempat parkir, Arinda bergegas turun dan berjalan di depan menuju restoran siap saji.
“Kenapa tidak makan di Restoran mewah?”
“Aku ingin disini. Kakak tidak keberatan, 'kan?”
“Nope!”
Usai makan, Nirwan mengajak Arinda ke Departement Store. Gadis itu kembali memanfaatkannya dengan membeli banyak barang.
__ADS_1
Aku tidak peduli berapa banyak uangmu habis. Kau akan menjadi pelampiasan amarahku! Karena semua ini salahmu juga. Laki-laki bodoh! Arinda membatin.
“Beruntung kau bersama kakak, bisa memilih apa pun dengan limit tak terbatas.”
Cih, sombong! Bahkan, Ricko yang punya mal ini. Kau tidak ada seujung kukunya, batin Arinda.
“Ah, iya, kakak benar. Aku sangat beruntung bisa menunjuk semua. Terus, apakah uang Kak Nirwan masih banyak?”
“Jangan meremehkan kakak. Tentu saja masih banyak. Ayo! Aku ingin membelikanmu sesuatu.”
Nirwan menarik tangan Arinda cukup erat. Gadis itu mencoba melepaskan, tetapi tidak berhasil. Sepertinya kali ini, ia harus pasrah.
Sudah mulai berani memegang tanganku. Menjengkelkan! gumam Arinda.
Lensa kamera ponsel memotret dengan tepat dan cepat. Seringai kemenangan akan segera terbit.
[Send picture]
“Done!”
❄️❄️❄️
Mau apa kesini? gumam Arinda.
Nirwan menarik Arinda masuk ke toko. Mendudukkannya di depan etalase yang berisikan perhiasan emas.
“Kau suka?”
Ah, jadi untukku. Berani sekali kau membawaku kesini. Ternyata belum kapok juga. Baiklah, Arinda! Jangan sia-siakan kesempatan ini. Kuras saja semua isi dompet pria itu. Arinda berucap dalam hati.
“Aku terharu! Wanita mana yang tidak suka emas. Kak Nirwan romantis sekali.” Cih, aku ingin muntah mendengar kata-kataku sendiri.
“Aku tahu, kau pasti senang. Tak ada wanita yang tak suka benda berkilauan ini, bukan? Dan ...,” Nirwan memandangi Arinda, matanya menjelajah dari atas sampai bawah, “..., aku juga tidak suka melihatmu polos tanpa satu pun emas yang menempel.”
Wow! Hanya membelikan emas saja sudah berani mengejekku. Ricko bahkan memberiku berlian. Tapi, tidak sesombong ini! Bajingan tengik! Arinda membatin kesal.
Arinda menarik napas panjang kemudian mengembuskannya secara perlahan. Ia harus sabar. Bagaimana pun juga target harus menyesal karena pernah mengenal gadis matrealistis.
“Kakak benar. Jadi, berapa banyak aku boleh memilih.” Arinda berpura-pura antusias. It's time for action!
“Terserah! Ambilah apa pun yang menurutmu bagus. Pilihkan juga satu atau dua untuk Tante Nita.”
“Kak Nirwan baik sekali. Uang kakak benar-benar tak berseri. Mama pasti senang dibelikan emas.”
Hidung Nirwan mengembang mendengar pujian tersebut. Senyum lebar menghiasi bibirnya dan dada itu semakin membusung karena bangga.
Lagi, beberapa jepretan kamera berhasil mengabadikan momen tersebut.
[Send picture]
[Send picture]
[Send picture]
[Mal Diamond, lantai dua, Toko Perhiasan Selalu Berkilau]
“Arinda, oh, Arinda! Di saat kita sudah mengaku kalah. Tapi, justru lu mengantar sendiri kemenangan yang tertunda ini.” Tawa bahagia dan seringai mengerikan terbit dari bibir tipis merah berona itu.
Perang akan segera dimulai!
__ADS_1