
“Nirwan, it’s time to say goodbye!”
Semprotan air cabai berkolaborasi dengan lada hitam yang di gerusan secara halus, sukses membuat Nirwan kelojotan. Pria itu bergulingan di lantai. Karena merasa kepanasan dan pastinya pedas di area mata. Laki-laki itu berteriak kesakitan!
Arinda justru sebaliknya, ia tersenyum senang. Rasakan itu! Enak aja mau merawani anak gadis. Sekelas Ricko yang bikin susah move on aja, gue tolak! Sampe gue rela putus. Ini malah mau minta DP. Jangan mimpi! Gue ini cuma kelihatannya doang murahan. Aslinya mahal tak terkira! gumam Arinda.
Kemudian, Arinda mendorong tubuh Nirwan ke dalam kamar mandi. Lalu, menguncinya dari luar.
Suara teriakan lelaki itu semakin menjadi-jadi. Mereka yang berjaga di luar justru tersenyum. Karena mengira, sang bos tengah mereguk kenikmatan dunia. Padahal, doi tengah tersiksa menahan pedih di wajah, khususnya bagian mata. Poor Nirwan!
Duh, tu cowok bejat suaranya minta banget dilakban. Berisik! Tapi, gue kagak jahat-jahat banget 'kan, ya. Kelakuan gue berasa sadis. Maap, Kak Nirwan yang malang. Adik manis ini terpaksa melakukannya. Demi mempertahankan kehormatan buat suami idaman kelak. Itu loh, untuk sang mantan tersayang, ucap Arinda dalam hati.
Rencana selanjutnya adalah keluar dari kamar. Arinda menarik napas dalam-dalam dan mengembuskannya perlahan. Sang aktris akan segera memulai akting.
Gadis itu membuka pintu dengan kasar, hingga mengagetkan tiga orang penjaga di luar kamar. Arinda mulai melakoni perannya.
“Tolong! Tolong! Nirwanku yang tampan terkunci di dalam kamar mandi. Aku sudah mencoba membukanya, tetapi tak bisa.”
Arinda menangis tersedu-sedu seraya menarik ketiga orang berbadan atletis itu agar masuk ke dalam kamar untuk menolong. Air mata yang ia dapat dari air di dalam gelas adalah media untuk melengkapi sandiwara.
Ketiganya pun terlihat panik dan mengikuti Arinda sampai ke dalam. Usai sasaran berhasil masuk perangkap. Gadis itu berlari keluar kamar dan mengunci para pria macho dari luar. Kemudian, ia melempar kunci ke sembarang arah seraya tersenyum puas!
Suara gedoran pintu terdengar! Arinda langsung secepatnya pergi. Takut kalau ada penjaga lain yang mendengar.
“Oke, Arinda. Tinggal langkah terakhir. Kita cepat cari jalan keluar.”
Arinda berjalan mengendap-endap untuk mencari pintu belakang. Karena penjagaan di pintu depan tadi sangat ketat.
Senyum terbit dari bibir merah muda kegemaran Ricko itu. Arinda membuka pintu belakang dengan perlahan. Sepi! Tapi, baru saja melangkah sebanyak tiga kali, seseorang meneriakinya dengan volume maksimal.
“HEI! MAU KEMANA KAU!”
Gadis itu menoleh, Hadeh, Paman Gembul! Pake nanya mau ke mana? Jelas mau kaburlah! Arinda membatin dengan geram karena ada saja yang menganggu acara melarikan dirinya.
Secepat kilat, Arinda menghampiri pria itu dan menyemprotkan senjata andalannya kembali ke wajah pria tambun tadi. Teriakan kesakitan lagi-lagi menggema di malam yang sepi. Sama seperti Nirwan, laki-laki itu merasa pedas dan panas.
Arinda segera berlari, sebelum ketahuan oleh anak buah Nirwan. Gadis itu memanjat pagar setinggi tubuhnya.
Lalu, gadis itu berlari memasuki area hutan. Malam yang pekat membuat Arinda kesulitan melihat. Karena, suasana di dalam sana terlihat gelap gulita akibat tertutup pepohonan. Tapi, itu lebih baik daripada harus melewati jalan setapak untuk kemudian tertangkap kembali.
Lelah berkejaran dengan sang malam yang menusuk. Arinda memutuskan untuk mengistirahatkan dirinya. Ia duduk bersandar di balik sebuah pohon besar.
__ADS_1
Gadis itu celangak-celinguk melihat keadaan sekeliling dan menyipitkan matanya dengan serius. Ia bukan takut pada hantu. Saat ini bangsa mereka tidak membuat nyalinya menciut. Walaupun tak juga berani jika bertemu.
Arinda hanya mewaspadai diri, takut ada binatang buas di sekitarnya kemudian menerkamnya tanpa ampun. Terus, masuk pemberitaan dengan judul, seorang gadis cantik nan seksi menjadi bancakan binatang buas.
Arinda mengetukkan tangannya tiga kali ke kepala dan ke tanah!
“Coy! Coy! Coy! Amit-amit jangan sampe kejadian. Biasanya bancakan tu menunya urap, ikan asin, tahu, dan tempe. Bukan cewek cantik kayak gue. Khayalan gue horor banget, sih!”
Arinda menekuk lututnya mendekat ke dada. Ia tak memungkiri, rasa takut itu juga ada. Walaupun termasuk gadis pemberani, tetap saja dirinya masih seorang remaja yang belum genap berusia dua puluh tahun. Tapi, harus berada di tengah hutan sendirian. Tanpa pernah punya pengalaman mendaki satu kali pun.
“Begini banget nasib gue, belom juga nikah sama Ricko. Eh, udah dikasih cobaan hampir tewas. Semoga aja gak berlanjut jadi kematian. Kasian 'kan mantan kesayangan gue itu, nanti nikah sama siapa?"
Seketika Arinda teringat sesuatu.
“Ya, ampun! Gue bodoh banget, sih! Kan ada ponsel.”
Gadis itu segera membuka tasnya dan mengambil benda pipih tersebut. Ia mencoba menelepon Dito atau Zacky untuk meminta bantuan. Namun, tak ada sinyal. Wajahnya langsung lesu, tetapi tak lama ia bangun dan bersemangat!
Daripada banyak meratapi nasib. Gadis itu memilih memanjat pohon hingga sampai pada sebuah cabang besar. Ia takut jika berada di bawah sana. Di atas sini rasanya lebih aman dari para binatang dan sohib-sohibnya.
“Gue berasa Cat Woman. Panjat tembok, panjat pohon, dan sekarang malah nongki cantik di atas sini, kayak burung hantu.”
Arinda menyalakan kembali ponselnya dan ingin membuat video kegalauan hatinya. Ia berencana akan mengirimkan hasilnya kepada Ricko.
Khayalan tingkat tinggi dari sang primadona yang ketakutan, bagaikan kisah di dunia dongeng. Terlalu mengada-ada! Gadis itu sepertinya juga lupa, kalau tadi pun tidak ada sinyal.
Arinda memulai aksinya!
“Ricko, kamu tau? Aku sekarang ada di tengah hutan. Tapi, gak tau ini letaknya di mana, yang jelas sekarang aku ada di atas pohon. Sayang, tolong aku.”
Orang takut 'kan bebas, ya. Dari pada nangis lagi. Di dengar orang enggak, diterkam harimau, iya! batin Arinda merasa mulai gila.
Arinda memelankan suaranya. Karena takut sekawanan binatang mendengar curhatannya. Gadis itu sedang tak ingin ada yang mengasihani, apalagi itu sekelompok binatang.
Tidak ... Tidak ... Tidak! Ia menggelengkan kepalanya. Ngeri!
“Rick, aku takut! Kalau nanti keluar dari sini dalam keadaan hidup, aku mau, deh, kamu cium sebanyak apa pun. Aku gak akan menolak lagi.”
Entahlah, gadis itu saking ketakutannya sampai membuat janji yang enak. Seharusnya, janji itu tidak akan nakal lagi atau semakin rajin belajar. Arinda memang luar biasa, berbeda sendiri. Andai Ricko benar mendengarnya, mungkin tak akan berpikir dua kali untuk datang menolong. Bagaimana tidak?! Bibir merah muda itu favoritnya!
“Ricko, aku benaran takut. Ada suara apa itu?”
__ADS_1
Mata Arinda berkelana menyusuri sekelilingnya menembusi kegelapan malam dengan hanya dibantu cahaya rembulan. Ia tak berani memakai senter ponsel. Karena, takut mengundang segerombolan hewan dan para bandit anak buah Nirwan.
“Tunggu, ya, sayang. Aku mau memanjat lebih ke atas lagi.”
Arinda mematikan ponselnya dan menaruhnya dalam tas. Gadis itu mulai memanjat semakin tinggi, rok yang ia kenakan cukup membuatnya repot. Untung saja, ia memakai celana ketat di atas lutut.
Sampai di cabang pohon berikutnya, Arinda bersandar pada pohon kekar yang usianya di perkirakan sudah sangat tua. Gadis itu mengambil ponselnya lagi dan memulai aksinya kembali untuk kesekian kalinya.
“Ricko, aku sudah sampai di cabang yang cukup tinggi. Doakan supaya gak jatuh, ya. Karena kalau itu terjadi, terus aku mati, nanti kamu bisa jadi perjaka tua seumur hidup. Kan jodoh kamu itu cuma aku."
Arinda tertawa, tetapi seketika mengubah ekspresinya menjadi takut. “Rick, ada suara mendesis. Seperti ular?”
Gadis itu menoleh ke kiri dan kanan. Ia tengah memantau situasi, apakah benar ular atau hanya khayalan orang yang sedang ketakutan saja.
“Rick, suaranya semakin dekat.”
Arinda memucat, tiba-tiba ia berteriak, hingga membuat ponselnya jatuh ke bawah.
“Ah, sial! Ponsel gue.”
Saat itu, ingin rasanya Arinda berteriak kencang. Baru saja naik, lantas ia harus turun lagi ke bawah, untuk mengambil ponselnya yang terjun bebas. Sungguh melelahkan!
Suara terpaan daun akibat tertiup angin membuatnya berhalusinasi seolah-olah itu ular. Di tambah sebuah ranting pohon jatuh tepat di atas kepala. Semakin saja, tingkat kehaluannya meningkat.
Mau tidak mau, Arinda turun untuk mengambil benda pipih itu. Setelah mendapatkannya, ia segera memanjat kembali.
Gadis itu melihat kondisi ponselnya. Ternyata masih hidup. Kamera video pun masih menyala. Kemudian, tanpa pikir panjang mengirimkan semua hasilnya ke alamat email milik Ricko.
Tanpa Arinda sadar, video itu sukses terkirim. Posisinya yang berada di atas pohon, menjadikan sinyal itu hidup.
Arinda mendekap erat ponselnya. Pikirannya menerawang jauh. Ia cukup lelah berlari dan tadi harus turun-naik memanjat pohon. Rasa kantuk mulai menghinggapi. Sehingga, membuat matanya terpejam. Gadis itu tertidur sampai pagi.
Matahari menyinari pagi yang cerah. Gadis itu terbangun kemudian menguap dua kali. Ia mengucek mata dan mengusap bibirnya. Mencari jejak belek dan iler yang mungkin tertinggal.
Arinda pun lupa jika saat ini ia tengah berada di atas pohon. Saat dirinya menggeliat, teriakannya refleks menggema. Selanjutnya, suara terjatuh yang cukup keras terdengar. Gadis itu sukses mendarat di atas tanah.
Arinda terjerembap dengan sangat menyakitkan! Kaki dan tangannya pun terkilir.
Ingin bangun, tetapi tak lagi memiliki tenaga dan kakinya juga tak bisa bergerak.
“Ricko ....”
__ADS_1
Mata itu perlahan terpejam di ikuti oleh kesadaran yang berangsur menghilang.