ARINDA

ARINDA
Hal. 03.


__ADS_3

***


Seruan adzan dhuhur berkumandang, bersamaan dengan bel istirahat kedua. Semua murid bergegas keluar dari kelas masing-masing. Tapi, murid yang melangkah menuju musholla sekolah hanya bisa di hitung dengan jari, dibanding dengan murid yang melesat ke kantin, sangatlah jauh perbedaan jumlahnya.


Arin mulai berpisah dengan teman-temannya untuk menunaikan ibadah shalat dhuhur. Seperti biasa, selama satu minggu di sekolah, dia selalu berjalan sendirian menuju musholla karena teman-temannya selalu shalat selesai mengisi perut dahulu, baru kemudian menyusul dirinya. Atau kadang mereka bahkan tidak melaksanakan ibadah. Arinpun terkadang seperti itu saat di SMP.


Dia mulai terbiasa dengan kegiatannya di sekolah, lingkungannya nyaman dan masih asri karena banyak pohon dengan ukuran sedang yang ditanam di dalam sekolah. Saat Arin berada dalam jarak 100 meter dari musholla, seseorang menepuk pundaknya dari belakang.


"Arin, bareng ya," Katanya tiba-tiba.


Dia teman sekelas Arin, Jihan Khumaira . Perempuan berhijab yang selalu memakai parfum beraroma bunga. Dia cantik, pendiam, jarang berinteraksi dengan teman yang lainnya dikelas, selain teman sebangkunya. Persis seperti Arin yang hanya berinteraksi dengan ketiga temannya. Dan kali ini Jihan mencoba untuk membuka diri, agar dia tidak merasa kesepian di sekolah barunya.


"Oh, iya. Ayo," Kata Arin.


Mereka berdua berjalan bersama menuju musholla untuk menunaikan ibadah, tapi mereka harus menunggu giliran untuk shalat, karena jumlah mukenah di sana tidak banyak. Selama menunggu, mereka hanya mengobrol perihal diri mereka masing-masing atau tentang matematika yang membuat mereka pusing.


"Hai, Rin. Mau shalat ya?" Sapa seseorang tiba-tiba.


Arin dan Jihan menoleh pada sumber suara. Laki-laki yang tempo hari menyapanya di kantin, Kakak kelas dari kejuruan Administrasi.


"Iya Kak," Jawab Arin.


Laki-laki itu tersenyum sambil memasang sepatunya, terlihat kalau rambutnya basah karena air wudhlu. Sungguh pemandangan yang menyejukkan.


Sejak kejadian di kantin tempo hari, laki-laki itu memang sering menyapanya. Hanya saja, Arin tidak pernah menanyakan nama lelaki itu.


"Duluan ya," Pamitnya sambil tersenyum manis.


Arin dan Jihan mengangguk mempersilahkan laki-laki itu menjauh dari Musholla.


Setelah laki-laki itu pergi, Jihan bertanya siapa yang menyapa Arin barusan. "Siapa Rin? Kenal?"


"Enggak."


"Lah, kok enggak? Tapi kok dia tau nama kamu?"


Arin menjawab, "Itu dia, aku juga bingung. Aku aja gak kenal sama sekali."


"Mungkin kamu punya Kakak yang sekelas sama Kakak itu?" Tanya Jihan lagi.


"Enggak. Satu-satunya yang aku kenal Mbak Lia, anak akuntansi," Jelas Arin.


"Suka sama kamu kali. Dia sampe tau nama kamu gitu, berarti dia cari tau tentang kamu, Rin."


"Ngaco kamu, Han. Udah ayo shalat dulu. Udah banyak yang selesai tuh," Ajak Arin yang langsung bergegas mengambil wudhlu.


Sekitar lima belas menitan, Arin dan Jihan selesai menjalankan kewajiban sebagai umat Muslim. Mereka berduapun menuju kantin menyusul teman-temannya yang menunggu sejak tadi.


"Gapapa nih aku ikut, Rin?" Tanya Jihan, karena memang dia tidak dekat dengan mereka sebelumnya.

__ADS_1


"Gapapa lah, mereka asik kok anaknya."


Jihanpun mengangguk, mengapit lengan Arin menuju kantin. Baru saja mereka hendak berbelok ke arah kantin. Segerombolan laki-laki dari arah berlawanan hampir menabrak Arin dan Jihan. Jelas kedua perempuan itu terkejut, termasuk gerombolan laki-laki itu.


"Eh, Arin yaa," Sapa salah satu siswa tinggi, dari gerombolan laki-laki itu.


Arin tidak menjawab, karena dia terlalu gugup sebab ada Danis diantara mereka. Dia juga tidak penasaran, darimana laki-laki itu tau namanya. Salah satu teman Danis yang memanggil namanya tadi, mendekat pada mereka berdua. "Mau ke kantin ya?"


Arin melirik pada badge milik laki-laki itu. Kelas X kejuruan Pemasaran. Di badge depan tertulis nama 'Dimas Wijaya'.


Arin mengangguk canggung. Laki-laki itu menoleh pada gengnya sampai mereka mengangguk. Entah, apa yang mereka rencanakan. Yang jelas dia melihat kalau Danis juga menatapnya.


"Boleh minta nomer hpnya gak?" Tanya Dimas.


Arin berpikir sebentar sebelum dia memberikan nomornya. Tidak ada salahnya dia memberikannya, toh laki-laki itu terlihat baik dan sopan. "Iya boleh."


Dimas langsung mengeluarkan handphone dari sakunya, lalu memberikan pada Arin. Perempuan itu mengetik beberapa digit nomor dan menekan ikon save pada layar. Arin mengembalikan handphone Dimas begitu selesai menyimpan nomornya.


Dimas menerima handphonenya kembali. "Nanti aku chat ya Rin."


Arin mengangguk, "Aku ke kantin dulu."


Dimas balas mengangguk, lalu gerombolan lelaki itu memberikan ruang untuk Arin dan Jihan lewat. Saat dia melewati Danis, laki-laki itu meliriknya. Tapi perempuan itu juga tidak berani meliriknya. Dia terlalu malu dan gugup bertemu dengan Danis.


"Lama bener lo, kunti," Sungut Risa, yang kelihatan sedikit kesal karena terlalu lama menunggu Arin.


Mereka hanya cengar cengir tanpa menjawab pertanyaan Arin.


"Dasar," Gumam Arin.


"Gangguan apaan tadi, Rin?" Tanya Nita yang sedang menikmati nustrisari dingin.


"Kepo!" Jawab Arin.


"Aku boleh gabung gak?" Tanya Jihan yang masih berdiri disebelah Arin.


"Ehhh, kamu Jihan kan ya? Boleh-boleh." Nita mempersilahkannya untuk duduk.


Benar saja, ternyata ketiga teman Arin itu benar-benar asik. Mereka tidak mengabaikan Jihan dan mengajaknya bergurau. Tetapi, selalu ada gangguan saat mereka sedang makan akhir-akhir ini. Beberapa Kakak kelas dari kelas XI dan XII banyak sekali yang menyapa Nita. Ada juga yang tiba-tiba membelikan makanan atau minuman, sampai Indira merasa risih.


Memang diantara mereka, Nita yang paling cantik dan berkulit putih. Tidak hanya diantara mereka berempat saja. Dikelas juga begitu. Bisa di bilang Nita adalah primadonanya Teknik Komputer. Senyumnya itu yang membuat para siswa selalu mengganggunya. Tapi Nita tidak pernah menggubris, asalkan mereka tidak melewati batas.


"Kesel gue lama-lama temenan sama lo Nit. Kuping gue panas. Yang dipanggilin nama lo doang, yang di kasih makanan cuma lo doang," Ketus Risa.


"Oh gitu? Gak mau temenan sama aku lagi nih? Ya udah PR matematika kerjain sendiri," Skak Nita.


"Ya jangan donggg. Bercanda gue, elah. Serius banget tuh muka."


Kiki juga menganggapi obrolan mereka, "Ris, kalo kamu pengen kayak si Nita, itu muka di bedakin dulu biar putih juga. Dirumah ada kapur tuh, banyak."

__ADS_1


"Wahh, baik bener lo jadi temen ye. Ngaca woy! Sendirinya kayak lumpur sawah," Omel Risa.


Kiki hanya menanggapinya dengan tawa menggelegarnya. Mungkin dia memang suka mengepang rambutnya, atau menggerai rambutnya, tapi dia itu perempuan yang tomboy. Dapat dilihat dari sepatunya yang persis seperti milik Haikal, jam tanganya yang persis dengan milik laki-laki, serta tas hitam bermotif tengkorak yang selalu ia pakai. Sifatnya yang humoris seperti Risa, membuat suasana perteman mereka semakin asik. Tidak salah Arin bersekolah disini.


"Eh, temen-temen. Tadi ya, ada yang minta nomernya Arin loh," Kata Jihan, yang membuat Kiki menutup mulutnya rapat-rapat.


"Gimana, gimana?" Tanya Nita.


"Tadi pas mau ke kantin, ada gerombolan cowok-cowok. Terus tiba-tiba ada yang minta nomernya Arin. Anak kelas X sih kayaknya," Jelas Jihan.


"Beneran?!" Tanya Risa heboh.


Jihan mengangguk yakin, "Tanya aja sama bocahnya."


"Rin, beneran?" Kali ini Kiki yang bertanya.


"Ya gitu deh," Jawab Arin, sambil menyeruput minuman milik Risa.


"Laku bener lo upil buaya," Ujar Risa.


"Iya, kemarin-kemarin Kakak kelas, sekarang beda lagi," Sahut Kiki.


"Eh, ngomong-ngomong soal Kakak kelas yang sering manggilin Arin, gue udah tau namanya," Kata Risa Bangga.


"Kakak kelas yang mana emang?" Tanya Jihan yang belum tau soal Kakak kelas itu.


"Yang tadi nyapa aku di musholla, Han," Jelas Arin.


"Oh yang itu, terus, siapa namanya, Ris?"


"Iya, siapa, siapa?" Tanya Nita yang juga sama penasarannya dengan yang lain, termasuk Arin.


"Niko Farzan Ardhani."


"Widih, cakep namanya," Jawab Kiki setelah mendengar nama laki-laki yang selalu menyapa temannya itu.


Jihan menyenggol lengan Arin pelan. "Rin, kalo dia suka sama kamu gimana?"


***


Cast.


Niko Farzan Ardhani.



Jihan Khumaira.


__ADS_1


__ADS_2