
Dua hari Arinda tidak keluar kamar. Bicara pun enggan. Sudah beberapa kali Ricko mengajak berbicara baik-baik. Namun, gadis itu tak menggubris.
Telepon berdering. Nama Zacky tertera di layar ponsel. Ricko menggulir tombol hijau ke atas.
“Halo, Zack.”
“Halo, Rick. Bagaimana kabar Arinda?”
“Masih merajuk.”
“Rick, jangan memarahinya lagi atau dia akan kabur.”
“Gue gak marah, Zack. Bicara pun udah baik-baik, tetapi tetap Arinda memilih diam.”
“Sepertinya, dia masih trauma dengan sikap lu dulu. Tidak mau mendengarkan, tetapi meninggalkan.”
“Iya-iya, Zack. Fine. Gue ngaku salah. Tapi, sekarang udah beda. Gue bukan anak SMA labil lagi.”
Sepertinya Ricko lupa, saat di Jogja pernah meninggalkan Arinda pulang sendiri. Walaupun ujungnya di jemput dan itu juga dengan amarah.
“Kasih bukti ke Arinda. Anggap aja sikapnya sekarang ajang pembuktian buat lu. Sesabar apa menghadapi perempuan yang tengah merajuk.”
“Oke.”
Di seberang sana Zacky tersenyum karena Ricko menurut.
“Rick, boleh gue minta tolong?”
“Sebut.”
“Tolong jaga Arinda. Jangan rusak adik gue sebelum lu berdua menikah. Please!”
“Shit! Lu pikir gue sebrengsek itu! Kalo mau merusak Arinda udah dari dulu gue sikat adek lu. Secara kesempatan banyak. Selama ini skinship gue sama Arinda hanya sebatas pelukan sama ciuman, gak lebih!”
“Emosi lu gampang banget terbakar, Rick. Itu yang buat Arinda mungkin berubah pikiran. Makanya adik gue mau pergi jauh. Dia takut sama lu.”
“Gak usah sok tahu, Zack! Mana tahu ada alasan lain.”
“Gue kan bilang mungkin. Tu liat lu emosian.”
“Iya-iya. Oke. Sorry.”
“Gue belom bisa ke Bali dalam waktu dekat. Banyak pekerjaan dan juga harus bolak-balik ke kantor polisi untuk pemeriksaan. Minggu depan udah mulai persidangan kasus penembakan dan penculikan.”
“Gue dan Arinda gak perlu jadi saksi, ‘kan?”
“Kak Shavic dan gue udah mengatur semuanya supaya lu berdua gak perlu datang.”
“Baguslah.”
“Rick, jangan bilang dulu ke Arinda kalau gue kakaknya, ya. Gue pengen mengucapkannya sendiri.”
“Oke.”
“Thanks, Rick.”
Telepon terputus.
Ricko memutuskan akan bicara empat mata dengan Arinda. Ia bertekad untuk mendapat kepercayaan wanita tercintanya.
Ricko mulai tersadar. Hanya memiliki cinta Arinda tidaklah cukup tanpa rasa percaya mengiringi.
🌺🌺🌺
Ricko memasuki kamar Arinda. Melihatnya tak ada di dalam kamar, tetapi pintu balkon terbuka.
Ricko melangkah menuju balkon dan benar saja, Arinda berada di sana tengah memandangi langit malam.
“Rin, kamu suka langit?”
Tak ada sahutan. Justru Arinda memilih pergi. Tapi, lengannya ditahan Ricko.
Tubuh Ricko meluruh di depan Arinda. Pria itu bersujud di depan kaki sang pujaan.
Otomatis Arinda tercengang dan mencoba mengangkat tubuh Ricko. “Kamu apa-apaan, sih, Rick?!”
__ADS_1
“Aku minta maaf, Rin. Aku bukan pria yang sempurna dan baik buat kamu. Bahkan, ya, aku mungkin tidak pantas untuk menjadi calon suami kamu,” lirih Ricko.
“Ricko, ih. Bangun.”
“Aku tidak ingin menjanjikan apa pun. Tapi, beri aku kesempatan, Rin.”
“Ricko, bangun atau aku benar-benar marah.”
Ricko mulai bangun dan menatap Arinda sendu. “Aku gak kuat kamu diamkan begini terus, Rin.”
“Aku gak bermaksud mendiamkanmu. Aku hanya lelah dengan jalan hidupku.”
“Mau berbagi cerita denganku?”
Arinda menggeleng. “Tidak ada yang perlu di ceritakan. Aku hanya mau sendiri. Biarkan aku pergi, Rick. Aku mohon.”
Ricko menggeleng. “Minta apa pun kepadaku, tetapi jangan yang satu itu. Aku gak bisa hidup tanpa kamu.”
Arinda berpaling. Netranya kembali menatap langit. Kemudian, tertawa. “Entah, kita sedang menjalani hubungan seperti apa? Bahkan, mau di bawa ke mana, aku gak tahu, Rick.”
“Rin, ada apa? Kenapa jadi meragukan hubungan kita? Aku mencintaimu. Jiwa ragaku hanya untukmu.”
Arinda tersenyum sinis. “Percuma, Rick. Lebih baik mulai sekarang lupakan perasaan masing-masing. Cinta kita cukup sampai disini saja.”
Ricko mengepalkan tangan mendengar ucapan Arinda. Wajahnya mengeras. Nyaris kemarahan menguasai. Namun, ia teringat kata-kata Zacky saat di telepon tadi.
Ricko memejamkan mata sesaat. Mencari stok kesabaran agar melimpah. Lalu, menarik napas panjang dan mengembuskannya perlahan.
“Aku akan melepasmu pergi. Tapi, aku butuh penjelasan, Rin. Beri aku alasan kuat kenapa harus melupakanmu.”
Arinda menghela napas lelah. “Kamu yakin mau mendengarkan? Bukan apa. Aku hanya khawatir saat aku belum selesai bercerita, kamu marah-marah.”
“Aku minta maaf tidak pernah mendengarkan penjelasanmu. Dan juga ... bukan pendengar yang baik. Tapi, kali ini aku akan menyimak semua ceritamu.”
“Baiklah. Jika kamu mulai bosan atau ingin marah. Katakan saja. Lakukan seperti yang sudah-sudah. Aku akan memaklumi. Ya, paling hanya menangis. Dan, tidak perlu menggubris tangisan gadis bodoh ini.”
Perkataan Arinda semakin menohok relung hati Ricko. Ia menatap sang pujaan penuh penyesalan.
“Aku akan mendengarkan.”
“Aku lelah, nyaris frustrasi. Aku bosan hidup, tetapi tidak tahu caranya mati tanpa rasa sakit. Oleh sebab itu, aku memilih pergi darimu dan semua orang. Pengecut ini mau melarikan diri."
Arinda mulai bercerita tentang hidupnya sejak kecil sampai sekarang.
Tempat prostitusi, tentang Mami Dewi, penyiksaan Erwin sampai dijual ke banyak pria. Perihal awal mula perkenalannya dengan Nirwan, sebab musabab tuduhan perselingkuhan yang dulu dilayangkan Ricko.
Bagaimana dulu Arinda terpuruk saat Ricko pergi. Hancur. Tak memiliki lagi tempat bersandar.
“Di situlah letak kesalahan terbesarku. Seharusnya, tidak terlalu banyak menaruh harapan kepadamu. Jadi, tak perlu ada obsesi untuk memilikimu.”
Arinda terdiam sejenak sebelum melanjutkan ceritanya. Sementara Ricko tak melepas sedikit pun pandangan dari Arinda. Ia masih menyimak dengan baik dengan dada seperti ada yang meremas.
Arinda menceritakan juga perihal Dito dan Zacky yang menolongnya. Oleh sebab itu, Arinda menganggap mereka seperti sahabat juga.
Memang, sedikit banyak Ricko sudah mengetahui isi cerita tersebut. Namun, ia sudah berjanji untuk mendengarkan. Jadi, memilih diam daripada sang pujaan kembali merajuk.
Arinda bercerita ketika mereka bertemu lagi untuk pertama kali. Penolakan yang menjadi cambuk untuk terus mengejar. Bahkan, sampai mengabaikan harga diri.
“Saat itu, aku ikhlas kamu memarahi dan memaki. Aku pikir, itu salah satu penebus dosa masa lalu. Juga, pengorbanan untuk mendapatkan kebahagiaan.” Arinda melirik Ricko. “Kebahagiaan untukku adalah kamu.”
Ricko menunduk dalam. “Maaf, Rin.”
Arinda mengabaikan permintaan maaf Ricko. “Liku cinta kita rumit. Aku tidak pernah berani berterus terang tentang hidup ini. Karena, takut kamu meninggalkanku seperti dulu. Tidak mau mendengar penjelasan apa pun, tetapi pergi.”
Arinda pun berbicara secara gamblang perihal harapan pernikahan bersama Ricko.
“Tapi, aku sudah menyerah, Rick. Aku sudah tidak ingin bermimpi untuk menikah denganmu. Aku mau pergi jauh.”
Ricko menggeleng. “Aku cinta kamu, Rin.”
“Cinta saja tidak akan cukup, Rick. Aku ingin hubungan kita direstui.”
“Keluargaku merestui, Rin.”
“Pak Roni ... beliau tidak merestui kita. Sampai kapan pun tidak akan pernah memberikan restu.”
__ADS_1
“Kita belum bertemu Opa. Opa pasti merestui.”
“Aku lelah berangan-angan, Rick. Aku juga tak mau sakit hati karena penolakan lagi. Sudah cukup.”
“Rin ....”
“Aku tak akan pernah bisa memenuhi syarat mutlak dari keluargamu dan Pak Roni.”
“Apa maksudmu?”
“Mereka meminta calon menantu dari keluarga baik-baik. Sementara ...,” Arinda menggeleng. “,... aku tak tahu menahu siapa mereka. Karena, Papa Erwin dan Mama Nita bukan orangtua kandungku. Asal-usulku tak jelas, Rick.”
Ricko sempat kaget kalau ternyata Arinda sudah mengetahui siapa Erwin dan Nita. Kemudian, tersenyum penuh arti.
Sekarang aku mengerti apa yang tengah mengganggu pikiranmu. Ternyata karena restu Opa. Entah apa yang akan kamu lakukan ketika nanti mengetahui siapa Zacky. Dan, aku pastikan jika kita akan menikah. Syarat dari keluargaku secara langsung sudah terpenuhi, Rin. Kamu mempunyai keluarga yang jelas dan terhormat. Ricko membatin.
“Kenapa wajahmu tersenyum? Tu kan kamu jahat. Aku sedih, kamu senang.” Arinda kembali merajuk dan berniat meninggalkan Ricko.
Namun, Ricko segera menahannya. Ia mencubit gemas hidung bangir Arinda. “Tukang ngambek. Tapi, aku sayang.”
“Ih, Ricko. Apa, sih?” Wajah Arinda sudah memerah malu.
Ricko meraih kedua tangan Arinda. “Kesalahan kita berdua hanya satu. Kurang komunikasi. Dan, itu terjadi karena kesalahanku yang terlalu egois. Maaf.”
“Kamu tidak marah atau sedih mendengar ceritaku?”
Ricko tertawa. “Buat apa marah. Kalau sedih, ya, cukup menyentuh.”
“Rick ....”
“Rin, masa lalu memang akan selalu menjadi bayangan. Kita jadikan itu sebagai pelajaran untuk menuju masa depan yang lebih baik.”
“Aku tidak mengerti maksudmu?”
“Mungkin kamu perlu dicium agar mudah mengerti.”
“Ricko!”
“Bercanda.”
“Aku serius.”
Ricko membelai pucuk kepala Arinda. “Kita sudah sejauh ini berjuang. Sedikit lagi saja perjuangan itu akan mencapai garis finish. Bertahan, ya.”
Arinda menggeleng. “Tidak mau.”
“Rin ....”
“Aku capek.”
“Kamu diam saja. Sekarang, biarkan aku yang memperjuangkanmu. Menurut, ya, please!”
“Terakhir. Ini terakhir kali kesempatan untukmu. Jika gagal, aku pergi. Berjanjilah untuk tidak lagi menahanku!”
Ricko terdiam sesaat kemudian mengangguk. “Iya. Aku janji.”
“Aku pegang janjimu.”
Ricko mengangguk lagi. “Sudah tidak marah?”
Arinda menggeleng. “Tidak.”
“Ayo?"
“Mau ke mana?”
“Ke tempat tidur, bikin dedek bayi.”
“Ricko Bagaskara!”
“Bercanda, Rin.”
“Enggak lucu!”
Ricko tertawa kemudian meraih pinggang Arinda. “Jalan-jalan pakai motor. Kita cari angin. Mau?”
__ADS_1
“Cari makan, ya, aku laper.”
“Oke. Let’s go, My Honey Bunny Sweety!”