ARINDA

ARINDA
Hal. 04.


__ADS_3

***


Pertanyaan Jihan kemarin, masih terngiang di telinga Arin. Seandainya memang benar si Kakak kelas itu menyukainya, apa yang akan dia lakukan? Mengingat ini pertama kalinya di sukai oleh laki-laki. Karena selama ini dia hanya menyukai, tapi tidak di sukai. Bagi Arin, menyukai seseorang saja sungguh amat menyenangkan. Karena bisa merasakan sensasi hebat. Jantungnya yang berdegub kencang, matanya yang berbinar ketika melihat laki-laki yang disukainya, dan senyuman yang tiba-tiba terukir dari bibirnya. Bagaimana rasanya kalau nanti orang yang disukai berbalas menyukainya. Bukankah itu akan membuat Arin semakin bahagia?


Arin merebahkan kepala diatas meja kelas setelah selesai mengumpulkan tugas, pelajaran terakhir kali ini diisi dengan tugas ringan dari guru yang sedang ijin rapat. Perempuan itu memejamkan matanya, berniat untuk tidur, tapi kegaduhan dari luar kelas membuat Arin menegakkan tubuhnya kembali dan bertanya pada Indira apa yang terjadi di luar sana.


"Ada apaan sih, Nit? Rame banget."


"Noh, pada ngeliatin Kak Ezra main basket. Biasa lah," Jawab Nita, yang fokus bermain game di handphonenya. Sedangkan Jihan terlelap dibangkunya sendiri.


"Ohh.." Arin hendak merebahkan kepalanya lagi, tapi seseorang menepuk pundaknya sehingga dia tidak jadi melanjutkan tidur.


"Gak liat Danis maen basket?" Bisiknya.


Arin menoleh dan ternyata itu Haikal. Dia tersenyum nakal saat menunjuk ke arah luar dengan dagunya. Perempuan itu malah menyuruh Haikal pergi, karena kalau meladeninya, dia akan kembali jahil seperti saat SMP.


"Awas nyesel, dia keren loh. Gak pake topi," Bisik Haikal lagi, lalu meninggalkan Arin keluar dari kelas. Beruntung Indira tidak menyadari karena fokus pada gamenya.


Mendengar pemberitahuan dari Haikal barusan, Arin jadi penasaran, karena Danis jarang membuka topinya. Dikelaspun dia masih memakai topi. Hanya saja dia akan mengganti topi Eminemnya dengan topi abu-abu putih berlambangkan tutwuri.


Tubuh Arin bergerak, dia berdiri untuk memeriksa kebenaran dari perkataan Haikal, karena memang kelasnya tepat di depan lapangan basket. Kakinya melangkah menuju ambang pintu kelas. Dari balik pintu, dia mengintip sekumpulan siswa yang berebut bola basket di bawah teriknya panas matahari.


Benar yang dikatakan Haikal tadi, Danis melepas topinya. Wajahnya terlihat segar dengan keringat yang mengucur, rambut tebal hitam yang basah karena keringatnya. Serta kostum basket berwarna merah kombinasi hitam yang dikenakan, membuatnya semakin mempesona bagi Arin.


"Ngeliatin siapa?"


Arin terkejut ketika Nita menepuk pundaknya dari belakang. Diapun berdiri tegak, mencari alasan atas pertanyaan temannya itu.


"Nyari Kiki sama Risa. Tadi kan pamitnya ke kamar mandi. Kemana tuh duo bocah?"


Nita menunjuk pada gerombolan siswi yang heboh meneriaki nama 'Ezra' dari pinggir lapangan. "Noh, disono."


"Aku manggil mereka dulu, abis itu ke kantin ya. Kamu duluan aja sama Jihan, entar aku sama yang lain nyusul," Ujar Arin.


Nita mengangguk, lalu diapun kembali ke bangkunya untuk mengambil dompet dari dalam tasnya. Sedangkan Arin berjalan menghampiri kedua temannya itu.

__ADS_1


"Duh, gusti. Ganteng banget yo mas Ezra." Seru Kiki.


"BAWA GUE KE PELAMINAN MAS, BAWA GUE!" Teriak Risa yang jauh lebih heboh daripada Kiki.


Arin menggelengkan kepalanya, melihat kebucinan kedua temannya itu. Karena dia tidak kuat dengan cuaca panas, dia menyeret kedua temannya menjauh dari lapangan sampai di depan kelasnya yang teduh.


"Apaan sih Rin, ganggu ae. Gue lagi nonton calon imam main basket," Ketus Risa.


"Tadi ngajakin ke kantin, pamitnya ke kamar mandi. Taunya ngebucin. Ayo ke kantin. Indira sama Jihan nungguin disana."


"Bentar lagi napa sih? Kak Ezra lagi keren-kerennya, Rin," Tolak Kiki.


"Ya udah, kalo gitu aku duluan aja. Nyusul aja nanti," Kata Arin.


Risa dan Kiki mengangguk, lalu berlari lari menuju barisan perempuan di pinggir lapangan. Arin lagi-lagi menggeleng heran, melihat kedua temannya yang sebegitu sukanya dengan Ezra. Dia memang tampan, tapi saat pertemuan pertama di ekstrakulikuler Jurnalistik, Arin tidak merasakan kehebohan seperti kedua temannya itu. Mungkin karena dirinya sudah terdoktrin untuk mengagumi satu laki-laki saja.


*


Bel pulang telah berbunyi, semua murid bergegas untuk pulang. Sebagian kelas X kosong, karena mereka sudah berjalan menuju gerbang. Kelas Arin yang pertama kali kosong, karena memang tidak ada guru di jam terakhir. Jadi begitu bel berbunyi, seisi kelas Arin berhambur keluar sambil berseru senang.


Semua teman-teman Arin berpamitan satu persatu untuk pulang lebih dulu. Tetapi, Arin melangkah menuju kelas paling belakang yang letaknya lumayan jauh. Yah, jadi akhir-akhir ini dia memutuskan akan selalu pulang bersama dengan Kakak sepupunya, Lia. Dengan berjalan kaki, atau dengan angkutan umum.


"Udah lama Rin?" Tanya Lia yang baru saja keluar dengan tas ransel berwarna pink bermotif floral, dengan mainan berbentuk patrick star bergantung di tasnya.


"Enggak, Mbak. Baru aja," Jawab Arin.


Lia mengapit lengan Arin dan berjalan bersama menjauh dari kelas. Hari ini mereka memutuskan untuk berjalan saja, karena katanya sayang kalau sisa uang sakunya di buat untuk ongkos angkutan. Mereka rela berjalan sampai rumah yang letaknya lumayan jauh, mengumpulkan sisa uang sakunya untuk membeli merchendise patrick star dan spongebob.


Iya, jadi Arin adalah pecinta spongebob. Setiap episode yang ditayangkan di televisi tidak pernah dia lewatkan. Sampai diapun hafal beberaa kalimat yang diucapkan sepongebob di setiap episode. Sama halnya dengan Lia yang menyukai karakter patrick star. Mereka terkadang menonton bersama di pagi hari sebelum berangkat sekolah, karena rumah mereka saling berhadapan.


Peluh membasahi seragam putih abu-abu Arin begitu dia sampai di rumahnya. Ia meletakkan tasnya di sofa ruang tengah setelah tadi melepas sepatunya di luar rumah dan memberikan salam serta mencium tangan Ibunya. Dia segera menyalakan televisi karena jam menunjukkan waktu tayang spongebob.


"Ganti baju dulu lah, Mbak. Dateng-dateng langsung ngidupin tv." Ujar sang Ibu, yang sedang menyapu ruang tengah.


"Bentar lagi Buk, nunggu iklan hehe." Jawab Arin.

__ADS_1


"Kamu nanti ekskul jam berapa, Mbak?"


"Oh iya, sekarang ekskul. Untung Ibuk ngingetin. Nanti masih setengah empat buk, kenapa?"


"Gapapa, nanti Ibuk mau keluar. Kamu bawa kunci juga ya takut nanti Ibuk pulang malem."


"Emang mau kemana, Buk? Adek juga ikut?"


"Kondangan, Mbak sama Ayah. Iya ikut."


"Oh, iya udah Buk." Jawab Arin yang melanjutkan menonton acara kesukaannya itu.


Waktupun berlalu, karena keasikan menonton spongebob Arin melompat dari sofa untuk segera membersihkan diri karena jam sudah menunjukkan pukul 15:10. Dengan secepat kilat, dia bersiap-siap untuk segera melesat ke sekolah lagi.


Selesai bersiap, dia melangkah menuju rumah Lia setelah berpamitan pada Ibunya. Lia juga bergegas, menghidupkan mesin motor milik Kakaknya yang dipinjamnya untuk ke sekolah.


Karena hampir terlambat, Lia mempercepat laju kendaraannya. Dalam waktu 10 menit, mereka sampai di parkiran motor yang ada didekat lapangan basket.


Mata Arin menangkap sesosok laki-laki yang selalu mendominasi hatinya itu. Danis. Dia terlihat sedang tertawa bersama teman-teman basketnya, laki-laki itu duduk berselonjor, dengan segelas botol minuman yang ia pegang ditengah lapangan. Senyum Arin terukir seakan tawanya itu menular padanya.


"Rin ayo turun," Suruh Lia.


"O-oh, Iya Mbak." Arinpun turun dari motor dan langsung menuju ruangan pribadi milik anggota jurnalistik. Sedangkan Lia menuju kantin karena akan menemui temannya lebih dulu.


Baru saja Arin hendak masuk ke dalam ruangan, seseorang kelihatan berlari mendekatinya. "Arin," Panggilnya sambil mendekat.


Arin menghentikan langkah, menunggu laki-laki iku menghampirinya. Laki-laki itu memegang kedua lututnya, nafasnya juga sedikit tersengal. "Rin," Panggilnya, sekali lagi.


"Ya?"


"Boleh minta nomor hpnya?"


***


Cast.

__ADS_1


Diandra Aulia.



__ADS_2