
“Kau memang gadis licik!”
“Licik? Aku? Kau baru menyadari?” Arinda tertawa. Kepekaan Nirwan sepertinya mulai bekerja.
Nirwan pun ikut tertawa. “Tapi, baguslah. Aku juga tidak terlalu menyukai wanita itu.”
“Kau ingin bersandar di bahuku untuk menangis?”
“Bahkan aku ingin melakukan lebih dari itu. Berikan tubuhmu dan kebahagiaan selamanya akan bersama kita.”
“Kita?”
“Ya.”
“Apakah kau barusan sedang melakukan penawaran?”
“Aku cukup tahu gadis sepertimu bisa mencerna ucapanku dengan baik.”
“Gadis sepertiku? Seperti apa menurutmu?”
“Menantang, nakal, cerdik, cantik, licin bagai belut, dan hanya dengan melihatmu saja sudah membuat gairahku terbakar.”
Arinda meringis. “Kata-katamu terdengar seperti obsesi.”
“Tentu saja aku terobsesi. Kau harus menjadi milikku. Seutuhnya!”
“Nirwan ....”
“Lihatlah! Kau sudah fasih untuk tidak lagi memanggil ‘kakak’ kepadaku.”
“Apa kau senang?”
“Tentu.”
“Sangat mudah membuatmu senang, ya.”
“Ayo! Tidak perlu banyak bicara. Kita langsung ke kamar saja.”
Arinda menghela napas berat. Ia kesal dengan alur hidupnya yang warna-warna di dalam, hanya ada satu saja yakni abu-abu.
Seharusnya, gadis seumuran gue itu kerjaannya kongkow di Mal. Minimal nongki di kafe seharga boba dua puluh rebuan, sesuai isi dompet gue. Bukan kayak sekarang, kudu mikir keras buat kabur doang. Nasib, kau benar-benar warbiasaakk! Sekali-kali, kek, gue jadi selebgram macam Anya Geraldine, gerutu Arinda dalam hati.
Pintu kamar hotel dibuka Nirwan. Penjagaan super ketat bertebaran. Mulai dari di depan lift, depan kamar, depan toilet umum, bahkan menyebar seantero gedung penginapan mewah ini.
Orang kaya memang bebas. Mengeluarkan uang untuk hal yang tak berfaedah saja mereka sanggup. Seketika jiwa miskin Arinda meronta.
Gadis berparas cantik itu pun hanya punya tiga pilihan di kepalanya.
__ADS_1
Pilihan pertama, ia melompat kemudian mati mengenaskan. Lalu, jadi setan kece penghuni tetap kamar hotel.
Pilihan kedua adalah membiarkan Nirwan menggerayangi tubuh seksinya sampai berbadan dua. Lalu, sembilan bulan kemudian melahirkan anak selucu Gempita atau Rafathar.
Dan ... atau, pilihan ketiga adalah menggetok kepala Nirwan dengan vas bunga seperti di FTV ikan terbang yang sering Mama Nita tonton. Kumenangis ....
“Arinda, aku akan mandi lebih dulu. Setelah itu, giliranmu.”
Suara Nirwan membuyarkan pikiran Arinda. Tanpa menunggu jawaban, pria itu berlalu pergi masuk ke dalam kamar mandi.
Haissshh, si bodoh! Dia pikir semudah itu membuka segel gue. Oke, tenang Arinda. Lebih baik cepat memilih. Pilihan kedua, jelas gue ogah, biar pun entaran anaknya segemes anak artis. Pilihan ketiga, mungkin aja, sih. Atau pilihan pertama aja, ya? batin Arinda bimbang.
Arinda mencoba melihat TKP pada pilihan pertama. Setidaknya, gadis itu perlu melakukan survei sebelum memutuskan.
Ia melangkah menuju balkon dan membuka pintunya. Terpaan angin langsung menyeruak masuk. Rambut yang terurai itu pun melambai-lambai.
Gadis itu hanya ingin memastikan lokasi kematiannya nyaman atau tidak. Kalau perlu strategis, biar polisi cepat mengidentifikasi mayatnya nanti. Sekaligus, untuk melihat seberapa tinggi keadaan di bawah sana.
Arinda mulai melongokkan kepala ke bawah. Ia menelan salivanya.
Saat itu juga, pilihan nomor satu dicoret dalam daftar. Gadis itu urung melompat. Tempat berpijaknya sekarang ini adalah lantai dua puluh dan itu membuatnya bergidik.
Ya, ampun! Serem banget! Lebih tinggi dari pohon di hutan. Jatohnya nanti, gue pasti langsung tewas. Tanpa sempat mengucap kata-kata terakhir kayak di sinetron, batin Arinda dengan wajah pucat pasi.
Egonya pun berpikir, kenapa harus dirinya juga yang terjun bebas? Bukankah, niat awal tadi saat makan ingin mendorong Nirwan.
Dan, Arinda memutuskan biar Nirwan saja yang jatuh ke bawah.
Tiba-tiba pintu kamar hotel terbuka dengan bunyi cukup keras. Beberapa orang masuk ke dalam dengan pistol kedap suara di tangan. Mereka menyebar ke seluruh kamar.
Arinda terkejut dan ketakutan. Ia mundur sampai menyentuh pagar balkon.
Ya, Tuhan. Aku berdoa kepada Engkau agar menolongku. Bukan mempercepat kematianku, batin Arinda.
❄️❄️❄️
“Donat gula melapor, Ketua. Nona masuk ke dalam perangkap. Penjagaan di medan sangat ketat.”
“Donat cokelat sudah masuk. Siapkan saja pasukanmu untuk menyerang. Jangan biarkan Nona terluka.”
“Siap, Ketua! Perintah dilaksanakan!”
Sang ketua terlihat menelepon seseorang lagi.
“Bos, sebentar lagi penyerbuan. Apakah Nona ingin di bawa ke markas atau ke mansion untuk keamanan?”
“Tidak keduanya! Pastikan saja gadis itu keluar dari hotel dengan selamat. Biarkan dia bebas. Intai saja dari kejauhan. Jangan melakukan apa pun lagi setelah Nona sudah berada di luar. Ingat! Jangan ada satu pun orang yang terbunuh, termasuk target!”
__ADS_1
“Siap, bos! Perintah dilaksanakan!”
Penyerangan pun mulai dilancarkan. Dua tim yang secara sengaja membuat kode dengan nama donat gula dan donat cokelat itu, siap melakukan aksi.
Para penjaga di beberapa titik dan di depan lift sudah berganti menjadi tim dari donat cokelat. Mereka membius dan mengumpulkannya dalam satu kamar hotel.
Sementara, donat gula sudah melumpuhkan beberapa penjaga yang berada di depan toilet umum. Tinggal menyerang mereka di depan kamar.
Terbiasa bekerja dengan rapi dan nyaris tanpa meninggalkan jejak. Membuat kelompok mereka memang sangat menakutkan dan tak tersentuh.
Kali ini, Aris dan Erwin sangat sembrono. Keduanya terlalu meremehkan lawan.
Padahal, peringatan sudah dilayangkan. Semoga saja, kematian masih bisa berkompromi dengan mereka berdua.
Setelah berhasil melumpuhkan semua penjagaan di depan kamar. Tim donat gula mulai mendobrak pintu dan merangsek masuk.
Tim mulai menyebar di dalam kamar. Salah satu di antara mereka menghampiri Arinda. Namun, gadis itu mundur perlahan.
“Nona, Anda baik-baik saja?”
Nona? Siapa? Gue? tanya Arinda dalam hati.
Gadis itu pun menoleh ke kiri dan kanan. Siapa tahu ada jin mirip nona-nona ikut nimbrung. Tapi, ternyata tidak ada.
“Nona, ikuti saya!”
Ah, ngikut elu! Mas-nya sok akrab banget, sih. Kita kenal? Arinda masih diam di tempat dan hanya berani bersuara di dalam hati saja.
“Nona, Anda mau mengikuti dengan berjalan menggunakan kaki Anda sendiri atau saya terpaksa menggendongnya?”
Duh, Mas-nya gitu aja ngambek. Gue ‘kan lagi takut, wajar dong kalo waspada. Makanya, kenalin diri dulu, kek. Minimal say ‘hai’. Ini main suruh ngikut aja. Gue, nih, capek tau! batin Arinda.
“Nona!”
Pria berbadan tegap dan memiliki tinggi mirip oppa-oppa Korea di drama itu mendekati Arinda.
“Kalian siapa? Mau niat nolong atau mau bunuh aku di tempat lain. Kali aja gitu, cari tempat yang lebih nyaman.”
“Kami mau menyelamatkan Anda, Nona.”
“Jangan bohong!”
Pria itu mulai tak sabar dan mencoba menggendong Arinda. Tapi, gadis itu menahannya.
“Oke! Aku percaya! Ayo, kita pergi!”
Arinda menarik tangan sang oppa-oppa Korea tersebut. Eh, bukan! Maksudnya mirip tinggi dan badannya saja.
__ADS_1
Akan tetapi, pria itu mengernyit heran. Sepertinya ada yang salah, pikir laki-laki itu.
Begitu sadar, ia langsung melepaskan tangan sang nona. Kemudian, berjalan di depan tanpa berpegangan tangan.