ARINDA

ARINDA
Teman tapi mesra


__ADS_3

Menyusuri lorong apartemen yang sepi. Berjalan gontai menuju kamar. Mencari kunci dalam tas dan mempertemukan kembali pada pasangannya yang sempat terpisah sesaat.


Akan tetapi, baru saja mau membuka pintu. Sebuah tangan menutup matanya. Mau meronta, tetapi suara berbisik membuatnya urung melakukan.


Mengayunkan langkah perlahan dengan posisi satu tangan masih menutupi mata Arinda . Sementara, tangan lainnya menjadi pegangan sang pujaan.


Arinda mengikuti setiap instruksi. Menaiki lift menuju rooftop gedung apartemen.


Begitu pintu rooftop terbuka langsung saja angin menyeruak sekujur tubuh wanita berpakaian kebaya. Peka dengan keadaan. Sebuah jas langsung membalut untuk menghalau dinginnya udara.


Gadis itu masih menurut, melangkah maju. Mata pun masih tertutup. Tiba-tiba, suara seperti baling-baling berputar, tetapi lebih memekakkan terdengar. Namun, tak berapa lama kedua telinga itu tertutup oleh earmuff.


“Sudah siap membuka mata!” Ricko membuka sedikit penutup telinga tersebut agar Arinda mendengar.


Hanya anggukan kepala tanpa ada suara menyahut. Kedua tangan mungil Arinda memegang erat tangan kekar itu.


Perlahan, Ricko melepas tangan yang menutupi mata Arinda. Namun, kedua netra itu belum terbuka.


“Buka matamu!”


“Takut!”


“Ada aku disini! Bukalah!”


Netra cokelat itu terbuka pelan. Saat mata itu penuh menatap. Tanpa sadar kakinya justru melangkah maju, memandang takjub sesuatu di depan sana.


“Suka?!”


Arinda mengangguk tanpa menyahut. Netra itu berbinar-binar.


Sebuah helikopter melayang dengan meluruhkan sebuah banner bertuliskan 'SARJANA CANTIK, ARINDA NABILA’. Di bawah tulisan itu pun terdapat fotonya bersama Ricko. Foto sewaktu di taman bermain.


Balon-balon pun turut terbang membuat langit malam menjadi berwarna-warni. Ledakan kembang api ikut menyemarakkan dengan suara khasnya.


“Ayo!” Tangan kekar menariknya agar mengikutinya mendekat ke arah helikopter.


“Mau apa?!”


“Terbang bersamamu untuk menikmati pemandangan malam Kota Jakarta!"


Keduanya menaiki helikopter. Dan, benar saja, mereka berputar-putar menyusuri malam dengan senyuman berjuta-juta bintang di langit turut mengiringi.


Tak sepatah kata pun keluar dari bibir merah muda. Ia terlalu takjub dan masih dengan kondisi terkejut tak percaya. Tangannya menggenggam erat lengan berotot di samping tempatnya duduk.


Pria tampan itu menggeser duduknya. Kemudian, memeluk pinggang ramping sang pujaan. Mencium puncak kepalanya berkali-kali.


Satu jam berputar di atas Kota Jakarta. Mereka mendarat tepat di landasan Hotel Diamond. Sebuah mobil pun sudah membuka pintu menunggu sang tuan dan nyonya masuk.


“Rick, mau ke mana?”


“Makan malam.”


Arinda menoleh. “Aku sudah kenyang?”


Ricko menaikkan satu alisnya. ”Jadi, gagal.”


“Maaf.”


Ricko tersenyum. “Tak apa. Ada yang kamu inginkan?”


“Cinta kamu.”


Ricko mengusap lembut kepala Arinda dan menariknya masuk ke dalam mobil. “Kita ke bandara.”


“Mau apa?”


“Surabaya.”

__ADS_1


“Malam ini?”


“Iya. Barang-barangmu sudah di bagasi. Satu koper hitam di dalam kamar, 'kan?”


“Bagaimana kamu bisa masuk?”


“Lewat pintu.”


“Ricko!”


Pria itu tersenyum tanpa menyahut. Ia mendapatkan kunci saat Arinda memberikan kunci motor milik si Brown beberapa waktu lalu. Ternyata ada kunci yang Ricko duga sebagai kunci apartemen. Jadi, dengan cepat dan tentu tanpa sepengetahuan sang empunya kamar. Laki-laki itu menggandakannya.


Berpacu menyusuri jalan menuju Bandara Soekarno-Hatta. Lalu, terbang ke Surabaya dan mendarat di Bandara Juanda.


Ricko mengajak Arinda berputar-putar Kota Surabaya. Ia mengendarai sendiri mobilnya. Semua barang sudah di bawa langsung oleh anak buahnya ke Hotel. Pria itu tahu dua hari ke depan tidak akan memiliki waktu untuk melakukannya. Mengingat jadwal yang padat.


“Rick, aku mau makan kepiting yang terkenal enak itu.”


“Oke, siap. Apa pun untukmu.”


“Bohong!”


“Loh ....”


“Aku tadi minta cinta kamu, tetapi diam saja.”


“Memang kamu sudah siap mendengar apa yang akan aku ucapkan?” tanya Ricko sambil terus mengemudi dan mencari alamat tempat makan kepiting tersebut di Maps.


Bukan tak memedulikan pernyataan cinta tersebut. Ia pun selalu berpikir bagaimana caranya mengutarakan cinta tanpa mengucapkan. Ricko hanya mau menunjukkan lewat tingkah laku dan berharap Arinda paham akan perlakuannya.


Sepertinya, Ricko melupakan sesuatu. Jika tolak ukur sebagian besar wanita perihal mencintai adalah sang pria menyatakan perasaannya. Bukan sekadar perlakuan semata.


Begitu pun dengan Arinda. Ia ingin mendengar pernyataan cinta dari Ricko kepadanya.


Arinda melirik sekilas kemudian menggeleng. Aku bukan tak siap, Rick. Hanya belum sanggup mendengarmu mengatakan kalau tak lagi mencintaiku, batinnya.


“Bagaimana kejutanku? Kamu senang?” tanya Ricko mengalihkan pembicaraan.


“Kapan-kapan aku yang akan mengemudikannya dan kita terbang berdua.”


“Kamu bisa?”


“Tentu saja. Itu mudah.”


“Aku akan menagihnya.”


Ricko tersenyum dan mengangguk.


🌺🌺🌺



Menghabiskan malam bersama Arinda adalah rencana Ricko. Usai memakan kepiting. Mereka kembali ke hotel. Kamar mereka bersebelahan.


Selesai mandi dan berpakaian. Arinda memeriksa sebentar pekerjaannya. Ia mau besok semuanya sudah siap.


Baru tiga puluh menit berkutat di depan laptop. Suara bel beberapa kali terdengar. Arinda menaruh laptopnya di sofa dan melangkah menuju pintu. Kemudian, ia membukanya.


Belum juga dipersilakan masuk, Ricko sudah menyelonong ke dalam.


Arinda hanya menggeleng dan tak peduli. Ia kembali duduk di sofa dan bekerja kembali.


“Ada tamu, tidak baik mengacuhkannya.”


Ricko mengambil laptop tersebut. Menaruhnya di atas meja. Kemudian, tiduran di atas sofa dengan kepala berada di atas pangkuan Arinda. Lalu, meraih tangan gadis itu dan meletakkan di kepala.


“Ricko, ih! Aku mau memeriksa pekerjaan kita untuk besok.”

__ADS_1


“Tidak usah.”


“Kamu, nih, profesional dong!” Arinda mencebik.


“Aku bilang kamu pengecualian.”


“Kita ini apa, sih? Seperti judul lagu, 'Teman tapi Mesra'.”


“Arinda, berhenti mengomel. Usap kepalaku.”


“Manja banget, sih!”


“Hanya sama kamu.”


“Apa hubungan pertemanan seperti ini? Mending juga kita nikah, yuk!” ajak Arinda seraya membelai rambut Ricko.


Ricko diam saja. Matanya menatap lurus ke depan.


Sementara tentang pernikahan, Ricko enggan berpikir ke arah sana. Setidaknya, untuk saat ini. Pasalnya, hidupnya terlampau rumit. Ia tak ingin membebankan Arinda dengan masalah.


“Rin, kamu benar mencintaiku?”


“Setiap hari aku mengatakannya, Rick.” Pertanyaan basa-basimu memuakkan! Ingin rasanya aku menampolmu? Aku kesal mendengarnya!


“Kenapa memilihku untuk menjadi orang yang kamu cinta?”


“Cinta tidak butuh alasan, Rick.” Oh, ayolah, Rick! Apakah ini sesi wawancara? Berhenti bertanya hal tak berguna. Kamu tahu betul jawaban dari setiap pertanyaanmu sendiri.


“Kamu menunggu kata cintaku?”


Rasanya benci mengatakan ini. Tapi, ya, aku menunggu kata cintamu. Namun, semua ada batas waktu, Rick. Setelah kontrak selesai adalah batas akhir itu. Seandainya, aku memiliki uang untuk membayar kompensasi dan biaya hidup. Lebih baik aku membayar agar bisa secepatnya pergi darimu. Arinda membatin.


“Kamu ingin aku menunggumu?”


“Entah.”


Bibir Arinda bergetar. Entah? Jawaban macam apa itu? Lucu! Bahkan, kamu pun tak tahu apakah ingin aku menunggumu atau tidak. Dasar brengsek! Puaskan saja sekarang mempermainkanku. Aku menerimanya. Aku memang terlahir untuk menjadi perempuan murahan. Menempel terus padamu bagai parasit. Bahkan, cinta tulus ini tak berharga. Menyedihkan! batinnya ingin rasanya menangis.


Arinda menatap lurus ke depan. Mencoba mengabaikan sesak di dada. Dan, tiba-tiba teringat barang-barangnya saat matanya ditutup tadi. Ricko mengambil semua barang tersebut.


“Rick, barang-barang yang kubawa dan boneka besar itu kamu taruh di mana?”


“Aku suruh orangku taruh di rumah. Nanti kita ambil.”


“Rick, kalau aku mati apakah kamu akan menangisi mayatku?”


“Hei-hei-hei! Apa-apaan itu?” Ricko terlonjak bangun oleh pertanyaan horor tersebut.


“Jawab saja.”


Ricko berdecak kesal. “Kamu akan terus hidup.”


“Setiap orang pasti mati.”


“Arinda, aku mau tidur. Lelah!” Ricko menaiki kasur dan menarik selimut menutupi tubuhnya.


“Ricko! Pindah sana ke kamarmu!”


“Tidak mau.”


“Ih, Ricko! Pindah!” Arinda menarik selimut Ricko dan menarik tubuh atletis itu agar keluar dari kamar. Akan tetapi, jangankan keluar, bergeser saja tidak.


Kesal dengan kelakuan Ricko. Arinda memilih mengalah. Ia meneruskan kembali pekerjaannya sampai tertidur di atas sofa.


Ricko turun dari kasur. Ia tak benar-benar tertidur. Hanya ingin menemani Arinda sampai gadis itu pulas.


Ricko memindahkan Arinda ke atas kasur. Membelai lembut rambut panjang itu.

__ADS_1


“Maaf.”


Dan, pria itu keluar dari kamar.


__ADS_2